KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 128: LAHIRNYA BAYI PEREMPUAN


__ADS_3

    Tengah malam di saat semua orang sudah tertidur pulas, di tempat tidur, Rini mengeluh pada suaminya, mengaduh kesakitan. Perutnya terasa kencang dan sakit.


    "Yudi ..., perutku kok terasa sakit, ya .... Apa si bayi mau lahir? Uuh ..., aduh ...." kata Rini yang mengaduh di pelukan suaminya.


    "Gimana, Sayang .... Apa kita harus ke klinik sekarang?" kata Yudi yang tentu juga ikut kebingungan.


    "Kliniknya sudah buka apa belum ...?" tanya Rini.


    "Mestinya buka dua puluh empat jam .... Itu kan klinik melahirkan. Pasti ada perawat yang jaga." jawab Yudi.


    "Tunggu sebentar, ya .... Siapa tahu bisa tahan sampai pagi ...." kata Rini yang mencoba menahan rasa sakitnya.


    "Iya, Sayang .... Tapi kalau memang terasa sakit, sebaiknya kita bawa ke klinik." sahut Yudi yang tentu sambil mengelus perut istrinya yang buncit itu.


    "Tapi mestinya belum saatnya lahir .... Menurut perhitungan dokter Laksono kemarin, bayi kita akan lahir sekitar seminggu lagi ...." kata Rini yang ingat kata-kata dokter kandungannya.


    "Iya .... Tapi itu kan perkiraan dokter. Kelahiran bayi itu kan kekuasaan Yang Maha Esa .... Siapa tahu memang bayi kita sudah pengin cepat-cepat lihat bapaknya ...." kata Yudi yang tentu ingin menenangkan istrinya.


    "Lah, kan bapaknya sudah nengok tiap malam ...." kata Rini yang sudah mulai tersenyum.


    "Itu Bapak kecil, cuma kepala doang yang tidak terlihat rambutnya .... Hehehe ...." Yudi pun mulai meledek.


    "Ih ..., tau aja ...." sahut Rini yang tentu sudah mencubit pinggang Yudi.


    "Apa perlu ditengok lagi ...?" tanya Yudi yang tentu menggoda istrinya.


    "Aduh ..., jangan, Yud .... Ampun, deh ...." kata Rini yang tentu langsung menolak kata-kata Yudi.


    "Hehehe ...." Yudi nyengenges. Namun ia tetap setia mengelus perut istrinya agar tidak sakit.


    Perut Rini sudah lumayan membaik. Sudah tidak terlalu sakit lagi. Dia sudah bisa tersenyum. Tentu Yudi juga senang. Berarti tadi kemungkinan bayi dalam perutnya bergerak, sehingga saat menendang perut ibunya jadi sakit. Tentu Rini yang kelelahan, dapat tidur nyenyak. Yudi pun bisa ikut memejamkan mata. Lumayan mengurangi rasa kantuknya.


    Namun saat menjelang subuh, Rini kembali mengaduh. Perutnya terasa sakit kembali.


    "Aduh .... Yudi ..., ayo bangun .... Perutku sakit lagi ...." kata Rini sambil membangunkan suaminya.


    "Iya ..., ya ...., ya ...." Yudi geragaban bangun.


    "Perutku, Yud .... Aduuuh .... Aduuuh ...." Rini mengaduh terus.


    "Saya mandi sebentar, terus saya antar ke klinik sekarang. Sudah, pokoknya kita ke klinik." kata Yudi yang langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan langsung menuju kamar mandi.


    Sementara Rini masih duduk di pinggir tempat tidur, masih memegangi perutnya dan terus mengaduh kesakitan.


    Yudi mandi kilat. Hanya sebentar sudah selesai. Yang penting sudah menyiram tubuhnya, menyabun dan gosok gigi. Lantas hanya membalut tubuhnya dengan handuk, ia memapah istrinya, membantu ke kamar mandi. Melepasi pakaian istrinya, kemudian membantu mandi. Bahkan Yudi juga mengusap tubuh Rini dengan sabun. Ya, Yudi memandikan istrinya dengan penuh kemesraan dan kasih sayang.


    Selanjutnya, Yudi mengelap tubuh wanita berperut buncit itu dengan handuk. Menuntun ke kursi, kemudian mengenakan daster hamilnya. Yudi juga menyisiri rambut istrinya, tentu sambil dibelai dengan mesra. Dan setelah beres mendandani istrinya, Yudi mencium kedua pipi yang berubah jadi tembem itu.


    Ya, memang Rini selama hamil tubuhnya menjadi gemuk. Tentu karena pemenuhan gizi dan makanan yang tidak pernah kekurangan. Dan Simbok yang selalu memaksa Rini untuk makan.

__ADS_1


    Setelah selesai mendandani istrinya, Yudi segera mengenakan pakaian. Celana jean dan baju kotak-kotak lengan panjang. Ditambah mengenakan jaket kulit. Lantas memasukkan beberapa daster, handuk dan peralatan mandi ke dalam tas pakaian. Tentu untuk persiapan seandainya istrinya langsung disuruh mondok di klinik melahirkan.


    Selanjutnya, sambil mencangking tas pakaian, Yudi memapah istrinya menuju mobil. Menaruh tas di jok tengah. Kemudian membuka pintu depan, membantu istrinya duduk di jok depan, menyandarkan istrinya ke posisi yang paling nyaman.


    Yudi masuk mobil, lantas menyalakan mesinnya. Perlahan mobil Yudi melaju meninggalkan garasi, berjalan menuju klinik melahirkan milik dokter Laksono. Yudi menyetir sangat halus dan hati-hati. Tentu untuk menjaga agar laju kendaraan tidak bergerak kasar alias berguncang. Walau demikian, dalam waktu sekejap mobil itu sudah sampai di depan klinik melahirkan. Yudi menghentikan mobilnya persis di depan pintu klinik. Lantas Yudi turun untuk membantu istrinya terlebih dahulu sebelum memarkirkan mobilnya di tempat yang tidak mengganggu.


    "Suster ..., tolong istri saya mau melahirkan." kata Yudi kepada suster yang kebetulan berada di teras klinik.


    Suster itu langsung mengambil kursi roda. Lantas mendudukkan Rini di kursi roda itu, dan mendorongnya ke ruang dalam. Tentu untuk pendaftaran pasien.


    Setelah Rini ditolong oleh suster, Yudi memindahkan mobilnya, untuk parkir di halaman samping klinik.


    "Ada keluhan apa, Ibu Rini ...?" tanya suster tersebut yag sudah hafal dengan pasiennya. Tentu hafal, karena Rini rutin periksa di klinik tersebut. Apalagi Rini adalah klien atau pasien hamil yang paling tua, sehingga mudah untuk dihafalkan.


    "Perut saya kok sudah sakit sekali ya, suster .... Apa saya mau melahirkan ...?" jawab Rini sambil meringis menahan sakit, tangannya pun memegangi perutnya.


    "Oo ..., sebentar ya, Ibu Rini .... Saya akan ukur tensi dan berat badan Ibu Rini terlebih dahulu ...." kata suster itu yang sudah mengeluarkan alat pengukur tensi tekanan darah.


    Bersamaan dengan itu, Yudi sudah masuk ke ruang pemeriksaan, di mana istrinya sedang diukur tensinya serta ditimbang berat badannya.


    "Bagaimana Suster ...?" tanya Yudi.


    "Baik, Bapak .... Bagus." jawab suster itu, lantas ia meminta Rini untuk berbaring di bed pasien, "Ibu Rini silakan berbaring telentang di sini. Nanti Pak dokter Laksono yang akan memeriksa Ibu Rini." kata suster itu.


    Lantas suster itu menulis hasil pemeriksaannya pada rekam medik Rini. Tentu sambil menunggu dokter Laksono datang memeriksa kandungan Rini.


    Tidak berapa lama, dokter spesialis kandungan itu sudah masuk ke ruang periksa. Lantas memeriksa Rini yang dibantu oleh suster yang sudah mengecek kondisi tensi dan berat badan. Hanya sebentar. Lantas dokter itu duduk di tempat konsultasi. Di situ Yudi sudah menunggu.


    Tentu Yudi tidak paham dengan bahasa kedokteran. Daripada bingung, maka Yudi memutuskan untuk langsung menginap di klinik, setidaknya jika Rini mengeluh kesakitan, sudah ada suster yang paham untuk membantu menangani.


    "Langsung menginap di sini saja Pak dokter ...." jawab Yudi mantap.


    "Baik, Pak Yudi .... Pak Yudi boleh pulang dahulu. Ibu di sini sudah ditunggui perawat, tidak usah khawatir. Yang penting Pak Yudi siap setiap saat untuk dihubungi." kata dokter itu.


    "Saya di sini saja, Pak dokter .... Saya menunggui istri di sini. Saya tidak punya HP kok ...." jawab Yudi yang siap menunggui istrinya. Tentu Yudi merasa khawatir dan kasihan jika meninggalkannya.


    "Lhah, zaman modern begini Pak Yudi tidak pakai HP?" tanya dokter itu yang tentu kaget mendengar jawaban Yudi.


    "Saya seniman, Pak dokter .... Saya pelukis. Butuh konsentrasi saat melukis. Makanya saya tidak mau terganggu bunyi HP." jawab Yudi yang tentu sangat dimaklumi oleh dokter Laksono.


    "Betul, Pak Yudi .... Memang terkadang HP itu mengganggu konsentrasi kita. Baik Pak Yudi, silakan tunggu di kamar Ibu atau di ruang samping, atau di mana saja. Yang penting saat kami butuh, Bapak Yudi ada." kata dokter itu kepada Yudi.


    "Baik, Pak dokter .... Terima kasih. Saya akan tunggui istri di dekatnya, untuk memberi motivasi istri saya." sahut Yudi.


    Lantas dokter kandungan itu dibantu perawatnya, menyiapkan tempat untuk Rini. Selanjutnya membawa ke kamar inap. Menata posisi pembaringan Rini, dan memasang infus. Yudi mengikuti, sambil membawa tas pakaian, untuk disimpan di ruang inapnya.


    Sebuah ruang inap klinik melahirkan yang cukup bagus. Ruangnya lumayan luas. Bersih, segar dan tenang. Dalam ruang inap itu sudah dilengkapi AC, ata televisi, ada kulkas mini, ada meja kecil yang sekaligus menjadi lemari untuk menyimpan barang, dan yang terpenting ada kursi busa yang lumayan bagus serta agak besar. Cukup lengkap.


    Rini sudah berbaring di tempat tidur pasien. Pada lengannya sudah terpasang jarum yanga terhubung dengan selang infus. Sebuah botol infus sudah tergantung pada tiang stenlis yang berdiri di bed sisi kiri Rini. Rini sudah tenang, tidak merintih kesakitan lagi. Bahkan Rini sudah terlelap tidur.

__ADS_1


    Melihat istrinya tidur, Yudi yang semula duduk di kursi busa, lama kelamaan juga terlelap. Ia ikut tertidur. Tentu karena sangat mengantuk, semalaman tidak bisa tidur karena harus menjaga istrinya.


    "Pak ..., Pak Yudi .... Bangun, Pak ...!"


    Yudi geragapan. Seorang suster membangunkan tidurnya. Yudi kaget. Istrinya hilang. Rini sudah tidak ada di hadapannya. Kamar itu kosong. Bed pasien tempat istrinya berbaring dan tidur tadi, sudah tidak ada,


    "Rini ...! Hah ...! Dimana istri saya, suster?" tanya Yudi yang masih kebingungan.


    "Ibu sudah berada di ruang VK, di rung bersalin. Silakan Bapak menunggui Ibu, sebentar lagi Ibu akan melahirkan." kata suster itu menjelaskan kepada Yudi.


    "Hah ...?! Anak saya sudah mau lahir ...?!" lagi-lagi Yudi bingung mendengar kabar dari suster itu.


    Suster itu sudah berjalan meninggalkan Yudi. Tentu suster itu akan menuju ruang VK. Suster itu akan membantu persalinan Rini.


    Tanpa bertanya lagi, Yudi langsung mengikuti suster yang membangunkan tidurnya. Hingga sampai di depan sebuah ruang, yaitu ruang VK.


    "Bapak Yudi menunggu di sini. Ibu sedang proses persalinan di dalam ruang ini." kata suster itu pada Yudi, dan selanjutnya suster itu sudah masuk ke dalam ruang VK.


    Meski ada kursi di depan ruang bersalin itu, tetapi Yudi rupanya tidak bisa duduk. Ia mondar-mandir ke sana kemari di depan ruangan itu. Tentu sangat gelisah dan khawatir. Mengingat usia Rini yang sudah tidak muda lagi. Usia Rini sudah terlalu tua untuk melahirkan. Yudi ingat betul kata-kata dokter kandungan saat pertama kali periksa, ia harus menjaga kesehatan Rini secara ekstra ketat. Dokter itu memesan agar Rini harus hati-hati, karena wanita seusia Rini sangat rentan jika hamil, apalagi saat-saat melahirkan. Kata-kata itu yang membuat Yudi resah. Pikirannya macam-macam. Namun yang pasti, Yudi berdoa, memohon kepada yang kuasa agar istrinya maupun bayinya bisa lahir selamat.


    "Aaaahhh ...!!! Aduuuhhh ...!!!" terdengar suara jeritan Rini.


    Yudi langsung kelabakan. Ingin rasanya ia membuka pintu ruang VK itu dan masuk untuk menolong Rini. Tangannya sudah menarik handel pintu. Ternyata pintunya terkunci. Ia semakin gelisah. Ingin tahu apa yang terjadi. Yudi sangat khawatir sekali dengan kondisi istrinya.


    "Aaaahhh ...!!! Aduuuhhh ...!!! Aduuuhhh ...!!! Yudiiii ....!!!" lagi-lagi, Rini menjerit lebih keras. Dan kali ini juga berteriak memanggil Yudi.


    Yudi semakin gelisah. Yudi semakin khawatir. Yudi takut dengan beyangan-bayangan yang tidak diinginkan hadir dalam angannya. Kata-kata dokter tentang kehamilan Rini di usia tua yang sangat mengkhawatirkan itu, benar-benar menghantui pikiran Yudi.


    Sesaat kemudian menjadi sunyi. Sepi, tidak ada suara apapun. Rini juga tidak menjerit lagi. Diam. Namun Yudi justru lebih khawatir lagi. Jangan-jangan .... Pikiran Yudi menjadi tidak karuan. Apa yang terjadi.


    Tiba-tiba pintu ruang VK dibuka. Bukan suster yang keluar. Tetapi dokter kandungan yang masih mengenakan pakaian operasi. Namun dokter itu terlihat tersenyum saat melihat Yudi yang tentu masih kebingungan.


    "Selamat, Pak Yudi .... Anak Bapak seorang perempuan yang cantik." kata dokter itu kapada Yudi, sambil memberi salam selamat.


    "Terima kasih Pak dokter. Lantas istri saya bagaimana, dok ...?" tanya Yudi.


    "Sehat ..., bagus .... Ibu kesehatannya sangat baik. Sangat istimewa untuk wanita yang berumur lima puluh tahun." kata dokter itu menjelaskan.


    "Alhamdulillah .... Terima kasih Pak dokter ...." Yudi menyalami dokter kandungan itu, sambil mencium tangan sang dokter.


    Bahagianya Yudi, istrinya selamat tidak mengalami kendala apa-apa, saat melahirkan bayinya. Ia pasti sangat gembira. Senyum lebar mengembang di bibirnya, menyambut Rini yang keluar dari ruang VK bersama bayi perempuannya yang mungil cantik.


    Rini yang keluar dari ruang VK, yang tergeletak dalam bed pasien, tersenyum bahagia melihat suaminya yang sudah berdiri di pintu ingin menemui istrinya.


    "Terima kasih, Sayang ...." Rini yang tersenyum bahagia, dicium Yudi yang juga bahagia.


    Tak lupa, Yudi menyentuh bayinya yang sudah dibalut dengan kain oleh suster yang merawatnya. Lantas mengikuti perawat yang mendorong bed yang ditumpangi Rini menuju ruang inapnya.


    "Maaf, sebentar ..., Suster .... Bisa minta tolong ambilkan foto kami?" kata Rini kepada perawat yang mengantarnya, sambil memberikan HP.

__ADS_1


    "Bisa, Ibu ...." jawab sang suster, yang kemudian ceprat-cepret memotret Yudi dan Rini bersama bayi perempuannya yang mungil.


__ADS_2