KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 128: HARUSKAH CEMBURU?


__ADS_3

    Seharian Rini mencoba menghubungi suaminya, Hamdan, yang masih berada di Jerman, tetapi panggilan Rini tidak pernah diangkat, apalagi dijawab. Demikian juga chating di WA yang sengaja ditinggalkan oleh Rini, jangankan dibalas, dibuka saja tidak. Kelihatannya Hamdan sedang marah besar pada istrinya. Mungkin karena Rini sudah melanggar nasehat Hamdan, ia datang ke rumah Yudi, saat ditinggal pergi ke Jerman oleh suaminya. Padahal Hamdan sudah berpesan pada Rini untuk tidak pergi meninggalkan rumah.


    Tetapi rasa khawatir Rini pada Yudi, dan terlebih lagi rasa kangen Rini kepada Yudi, maka Rini melanggar omongan suaminya, ia tetap pergi ke rumah Yudi. Dan itu ketahuan oleh suaminya saat ia ditelepon melalui video call. Bahkan saat itu, Hamdan langsung mematikan panggilannya. Berarti suaminya tidak senang dengan yang dilakukan istrinya.


    Tetapi bagi Rini yang berprasangka kurang baik, tidak berfikir bahwa di Jerman suaminya sedang bekerja. Di Jerman suaminya sedang memeras otak. Di Jerman suaminya sedang bertaruh reputasi nama dan hasil kerja. Namun Rini justru berpikiran kalau suaminya sedang sibuk meladeni dua karyawati yang diajak oleh suaminya. Dasar yang diajak Hamdan adalah perempuan-perempuan muda yang masih single, cantik-cantik, dan dandanannya menor, masih ditambah sifatnya yang sok akrab, lendat-lendot pada setiap laki-laki. Pasti Hamdan akan tergoda melihat wanita-wanita itu. Apalagi saat mau berangkat, Hamdan tidak seperti biasanya, tidak minta jatah kepada Rini, malah marah-marah. Terus, pelampiasannya bagaimana lagi kalau tidak kepada dua wanita yang diajak itu.


    Rini mulai berfikir jelek. Menganggap suaminya sudah tidak setia lagi. Ditelepon tidak diangkat, di WA tidak dibalas. Sungguh keterlaluan. Padahal istrinya baru ke rumah Yudi saja, dia sudah marah. Berarti tidak adil. Masak suaminya jeng-jeng ke luar negeri bersama wanita-wanita cantik, gantian istrinya mau pergi menjenguk sahabatnya yang sedang terkena musibah, ee ..., tidak boleh, dilarang, dimarahi. Dasar suami maunya menang sendiri.


    Rini mencoba lagi menelepon pada saat di Jakarta jam dua belas, berarti di Jerman masih pukul tujuh pagi. Selisih waktu Jakarta dan Jerman adalah lima jam lebih awal di Jakarta. Jam tujuh pagi di Jerman, mungkin saja suaminya sedang sarapan pagi. Semoga saja teleponnya diangkat. Namun sia-sia. Rini menelepon suaminya hampir lima kali, tetapi Hamdan sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


    "Ah, kenapa sih ditelepon kok tidak pernah diangkat?" gerutu Rini.


    Rini berusaha untuk bisa menahan kejengkelannya. Lantas Rini mencoba untuk melakukan panggilan pada malam hari, tentu menunggu saat orang-orang sudah berhenti bekerja. Seperti halnya kalau pas di Jakarta, Hamdan sering pulang hingga jam sembilan malam. Kini Rini juga berusaha akan menelepon suaminya saat di Jerman sudah jam sembilan malam. Berarti di Jakarta sudah jam dua dini hari. Rini sengaja menunggu begadang hingga jam dua dini hari, hanya sekadar ingin mengetahui respon suaminya jika ditelepon tengah malam. Sekali telepon, tidak diangkat. Dua kali, tiga kali, empat kali .... Berkali-kali Rini menelepon, namun suaminya tetap tidak mengangkat panggilannya.


    Rini jengkel. HP dilempar ke meja rias. Lantas ia membanting tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya ditutupi bantal. Lantas ia menangis sesenggukan. Rini menangisi nasibnya yang dicuekin suaminya. Menangisi dirinya yang berkali-kali memanggil suaminya tetapi tidak digapai, tidak dijawab. Menangisi dirinya yang berkali-kali mengirim WA pada suaminya, tetapi tidak juga dibalas, bahkan tidak dibaca. Kini Rini merasakan kejengkelan yang teramat sangat kepada suaminya. Batinnya menderita. Nelangsa, sedih, menderita, tersiksa oleh sikap suaminya yang cuek terhadap dirinya.


    Semalaman Rini tidak bisa tidur. Pikirannya tidak karu-karuan. Tentu karena memikirkan suaminya. Lagi-lagi, pikiran negatif Rini yang muncul di saat-saat ia merasakan kegalauan yang luar biasa. Tentu Rini beranggapan, suaminya sudah tidak perhatian lagi terhadap istrinya. Lantas Rini berkaca di depan meja rias. Berkali-kali mengamati wajahnya yang ada di cermin. Melihat sisi kiri, lantas sisi kanan. Bahkan ia juga mengerutkan dahinya berkali-kali. Lantas juga melihat bagian dagu dan leher. Setelah itu kembali melihat kedua pipinya. Jemari tangannya menekan kedua pipi itu.


    "Ah .... Ternyata gue memang sudah tua. Rini ..., kulit mukamu sudah penuh bercak, sudah banyak noda hitam yang menempel, sudah tidak mulus seperti waktu SMA. Coba kamu lihat lebih dekat, tuh ..., kan ..., lobang pori-porimu besar-besar, terlihat jelas itu .... Coba kamu lihat dahimu ..., kerutannya sudah banyak, demikian juga lehermu ..., sudah berkerut semua .... Pipimu sudah tidak kenyal seperti dulu .... Kamu sudah tidak cantik, Rini ...."


    Cermin itu seakan menjelaskan semua tentang kecantikan Rini yang mulai memudar. Usianya yang sudah masuk lima puluh tahun, sudah tidak bisa mengatakan lagi kalau dirinya masih cantik. Bahkan kata cermin yang ia lihat, dirinya benar-benar sudah menjadi wanita tua yang jelek kayak nenek sihir.


    "Yah, Rin ..., kalau wajahmu kayak nenek sihir ..., mana mau suamimu mendekati ...?! Hamdan itu laki-laki kaya, uangnya banyak, mau apa saja bisa .... Kalau dirimu mirip nenek sihir, suami kamu pasti akan pergi mencari wanita muda yang lebih cantik." Rini kembali berkhayal, mengkhawatirkan suaminya.


    "Setidaknya dua minggu, Mas Hamdan berada di Jerman, bersama dua wanita bahenol. Pasti ada apa-apa ...." pikiran Rini kembali mencurigai suaminya.


    Bagaimana tidak curiga, dua minggu kumpul dengan wanita-wanita muda yang bahenol, tanpa ada istri yang mengawasi, bahkan melihat istrinya saja sudah bosan, ditelepon saja tidak mau, pasti ada apa-apa.


    "Pasti Mas Hamdan mau membuat perangkap untuk gue. Nanti kalau gue yang melakukan kesalahan, pasti dia akan mencak-mencak, marah-marah, lantas mau menceraikan gue .... Uh, enak banget, memang gue ini wanita bodoh yang mudah dijebak apa?" kembali Rini menggerutu sendiri, yang tentu masih mencurigai suaminya.

__ADS_1


    "Gue sudah kena satu kali. Kenapa juga kemarin lusa saya pergi ke rumah Yudi? Eh, ketahuan lagi. Ya udah, biarlah itu menjadi peringatan gue. Sekarang, jebaklah gue, Pah ..., kamu tidak bakalan bisa mencari kesalahan lagi. Beruntung Yudi HP-nya hilang, kalau tidak, itu bisa jadi jebakan berkali-kali. Iya, lah ..., pasti kalau Yudi punya HP, gue sudah telepon berkali-kali. Setidaknya gue sudah kirim pesan WA berkali-kali. Yah, biarlah saya memendam rindu dengan Yudi untuk sesaat. Nanti kalau Papah pulang ..., awas ...!" gerutu Rini lagi.


    Tentu Rini jadi resah, karena seakan gerak-geriknya selalu diawasi oleh suaminya. Dan akhir-akhir ini, suaminya sering mendiamkan dirinya. Sangat jarang mengajak bicara, dan kalau mau bicara atau menjawab pertanyaan Rini, pastilah suaminya berkata agak keras dan kasar. Bahkan selalu menyalahkan. Dan yang paling menjengkelkan Rini adalah suaminya mulai tidak senang kalau Rini bercerita atau membahas Yudi. Hamdan langsung diam atau bahkan membentak marah kepada Rini. Mungkinkah itu pertanda Hamdan cemburu? Ataukah Hamdan mengingatkan istrinya agar tidak terlalu dekat dengan Yudi?


    Tetapi bagi Rini, kemarahan Hamdan hanyalah alasan agar istrinya mulai membenci suaminya. Suara-suara keras Hamdan hanyalah cara agar Rini menjadi jengkel dengan suaminya. Larangan-larangan Hamdan adalah cara agar Rini merasa terkekang. Perlakuan Hamdan yang membatasi Rini untuk tidak bepergian hanyalah cara menyakiti dirinya. Lantas kalau Rini sudah jengkel, kalau Rini sudah merasa terkekang dan tersakiti, terus nanti Rini minta cerai ..., pasti suaminya akan senang, lantas akan menikah lagi.


    "Uh ..., dasar laki-laki tak tahu diri ..., memang kalau gue dicerai takut .... Masih ada Yudi yang lebih kaya, Pah ...." gerutu Rini lagi yang semakin jengkel.


    Memang Rini merasa jengkel. Bahkan teramat jengkel. Bagaimana tidak, telepon saja tidak diangkat, kirim WA juga tidak dibaca. Ini kan sangat keterlaluan. Apalagi Rini tidak boleh bepergian .... Bahkan hanya menjenguk sahabat karib yang sangat ia cintai saja, suaminya sudah marah-marah. Ini betul-betul keterlaluan. Kok ya tega seorang suami memperlakukan istrinya seperti itu.


    Hari itu, Rini menghubungi anak perempuannya, Silvy. Ia meminta saat pulang kerja agar Silvy mau mampir ke rumah ibunya. Setidaknya untuk menjenguk ibunya yang sendirian di rumah. Dan Silvy pun bersedia mampir menjenguk ibunya.


    "Hai, Mamah ...." kata Silvy yang langsung masuk ke kamar ibunya.


    "Hai, Sayang .... Uchm .... Mamah kangen, tau ...?!" sambut Rini yang langsung mencium anaknya.


    "Silvy mandi dulu .... Nanti kita makan malam bersama." kata Rini menyuruh anaknya mandi.


    Ya, seperti kebiasaan dari kecil, setiap habis bepergian harus membersihkan badan, agar tidak ada kuman yang menempel. Silvy langsung ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian.


    Rini sudah menunggu anaknya di ruang keluarga. Tentu sambil menyaksikan siaran televisi. Biasa, sinetron kegemaran para wanita.


    "Ada apa, Mah ...?" tanya Silvy yang langsung duduk mendekati ibunya.


    "Eh, Silvy ..., Mamah mau tanya .... Itu karyawan Papah kamu yang diajak ke Jerman, masih single apa sudah berkeluarga?" tanya Rini pada anaknya.


    "Ih, Mamah ...?! Memang kalau masih single kenapa?" kata Silvy sambil memegang dua lengan ibunya.


    "Ya ..., tidak apa-apa ...." jawab Rini.

__ADS_1


    "Iih ..., Mamah cemburu, ya ...?" kata Silvy.


    "Enggak .... Ngapain cemburu? Papah kamu sudah tua, sebentar lagi pensiun ...." sahut Rini yang berpura-pura biasa.


    "Tapi, tuh ..., Mamah terlihat gelisah .... Pasti Mamah cemburu." kata Silvy lagi.


    "Tidak, sayang .... Mamah cuman tanya ...." sahut Rini.


    "Itu dua-duanya masih jomblo, Mah .... Belum punya pacar. Memang kenapa ...?" kata Silvy pada ibunya.


    "Benar seperti itu?" tanya Rini menegaskan.


    "Iya, Mah .... Silvy tahu kok sama karyawan-karyawannya Papah." jawab Silvy lagi.


    "Pantesan ...." Rini bergumam sendiri. Walau perlahan, tetapi Silvy mendengar suara mamahnya.


    "Apa, Mah ...? Memang kenapa?" tanya Silvy.


    "Saya khawatir ...." kata Rini.


    "Iih ..., Mamah cemburu .... Silvy yakin, pasti Mamah cemburu .... Iya, kan ...?! Hayo ...." kata Silvy lagi yang langsung mencecar ibunya.


    "Tidak, Silvy .... Cuman perasaan Mamah saja ...." jawab Rini.


    "Perasaan Mamah mengatakan kalau Papah akan tergila-gila dengan karyawannya yang jomblo itu, kan?! Eh, Mah ..., denger-denger karyawan Papah yang diajak ke Jerman itu sok suka godain laki-laki, lho ...." tebak Silvy lagi.


    "Ih, jangan suka berburuk sangka begitu .... Bikin keder saja ...." sahut Rini.


    Ya, bagaimana hati Rini tidak semakin gelisah, inginnya dihibur oleh anaknya, tetapi malah ditakut-takuti. Dasar anak kurang ajar, sukanya bikin orang tua tidak tenang. Tentu Rini semakin khawatir. Rasa cemburunya semakin bertambah. Tetapi mengapa harus cemburu? Toh Hamdan sudah tua. Apa sanggup meladeni perempuan-perempuan bahenol itu. Paling-paling kalah sebelum bertanding.

__ADS_1


__ADS_2