
Setelah mengantarkan Hamdan dan Rini ke hotel, Yudi yang ditemani Yuna langsung melajukan mobilnya menuju Pantai Parang Tritis. Tidak jauh dari hotel tempat Hamdan dan Rini menginap. Hanya sekitar sepeluh menit.
Malam Minggu, Pantai Parang Tritis sangat ramai. Terutama penuh oleh muda-mudi yang berpacaran. Mobil maupun motor ramai memenuhi area parkir kawasan wisata Pantai Parang Tritis, berjajar dari barat ke timur. Banyak muda mudi yang tetap duduk di jok motornya, tentu tetap dengan kondisi mesra. Demikian juga yang ada di dalam mobil. Katanya mau melihat pantai, tetapi mereka justru berada di dalam mobil dan menutup semua pintu mobilnya rapat-rapat. Jika seperti ini, apa yang mau dilihat?
Yudi tidak masuk ke area parkir, melainkan membelokkan mobilnya ke gumuk pasir, yaitu timbunan pasir laut yang menumpuk cukup tinggi di pinggir pantai. Dari tempat itu, mereka berdua bisa merasakan desir angin pantai yang sepoi basah memercikkan air laut, serta melihat ombak Laut Selatan yang bergulung. Karena Yudi penduduk daerah situ, maka dia paham tempat-tempat yang asyik untuk bermesraan di malam Minggu.
Yudi menghentikan mobilnya, menghadap ke arah Laut Selatan. Sehingga tidak harus turun dari mobil, mereka berdua bisa menyaksikan keindahan Pantai Parang Tritis. Meski begitu, mereka tetap membuka pintu mobilnya, untuk menikmati udara pantai malam hari yang sejuk dan segar.
"Yuna, saya minta maaf atas percakapan tadi di ruang makan." kata Yudi mengawali pembicaraan.
"Tidak apa-apa, Yudi. Tidak perlu dipikirkan." jawab Yuna kalem.
"Saya tidak tahu, kenapa Rini bisa berkata seperti itu." lanjut Yudi.
"Itu tanda cinta. Rini sangat perhatian sama Yudi. Be grateful for what she gave." sahut Rini yang tetap enjoi.
"Saya heran, kenapa Rini dan keluarganya memaksa kita menikah ...." kata Yudi lagi.
"Yudi mesti berterima kasih. Mereka keluarga yang baik. Sangat memikirkan nasib Yudi. Like family." sahut Yuna.
"Iya ..., Rini dulu teman baik saya saat SMA. Sangat dekat. Best friend." lanjut Yudi.
"Hehem .... So much fun." kata Yuna.
"Dulu kami berempat bersahabat. Friendly. Saya, Rini, Alex, dan Handoyo. Sampai sekarang kami masih bersahabat, meski kami berjauhan. Rini ada di Jakarta, Alex jadi pengusaha di Tangerang dekat Jakarta, sedangkan Handoyo jadi dokter di Nusa Tenggara." kata Yudi.
"Persahabatan yang bagus sekali, Yudi. Tentu mereka orang baik semua." timpal Yuna.
"Sebenarnya tidak hanya Rini yang menyuruh saya menikah. Tetapi Alex maupun Handoyo juga pernah bilang begitu. Mereka ingin saya punya istri." kata Yudi lagi.
__ADS_1
"Tapi kenapa Yudi tidak mau menikah?" tanya Yuna.
"Dari dulu saya pendiam. Tidak berani mengutarakan isi hati. Bahkan tidak berani mengatakan cinta. Saya takut cinta saya ditolak." jawab Yudi.
"Ooh, Yudi .... You are so scared. Afraid to say love. Kamu ternyata tidak jantan .... Haha ...." ejek Yuna.
"No ..., not like that. Kata-kata saya yang tidak sampai keluar. Walau hati ini sudah bergelora untuk mencintai gadis, tetapi mulut saya terkunci untuk mengutarakannya." tegas Yudi.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Yuna.
"Aku takut ditolak." jawab Yudi jujur.
"Aah ..., Yudi ...." desah Yuna, yang langsung merebahkan kepalanya di pundak Yudi. Tangannya menggenggam jemari Yudi. *******-***** dengan mesra.
"Yuna, boleh saya bertanya?" kata Yudi menanyai Yuna.
"Hehemm .... Tentang apa?" sahut Yuna.
"Kata-kata cinta itu terkadang menyakitkan, Yudi. Love is painful. If we are not wise with love, then we will be miserable." jelas Yuna.
"Apa Yuna pernah tersakiti oleh cinta?" tanya Yudi lagi.
"Tidak, Yudi. Tetapi Yuna takut sakit karena cinta. Kata orang cinta itu bisa membahagiakan, tetapi yang saya tahu cinta itu akan menyakitkan. " jawab Yuna.
"Ternyata kita sama-sama penakut ...." kata Yudi.
"Bukan, Yudi .... Kehidupan di Jepang lebih keras jika dibandingkan di Jogja yang santai dan enjoi. Terkadang saya iri dengan masyarakat di sini. Mereka tidak harus bekerja keras, masih saja bisa menikmati hidup. Tentu karena di sini daerahnya subur dan makmur. Alam sudah memanjakan mereka. Tetapi bagi kami yang setiap hari dituntut kerja keras, tidak mungkin sanggup seperti mereka di sini. Tentu jika orang tidak siap berumah tangga, maka akan terjadi perceraian. Dan perceraian itu akan menghancurkan keluarga. Anak-anak yang akan menjadi korban. Saya ini salah satu korban, Yudi .... Saya tidak ingin terjadi hal yang seperti itu lagi." jelas Yuna.
"I'm sorry .... Bukan maksud saya mengingatkan Yuna. Saya paham yang dirasakan Yuna." kata Yudi meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Yudi .... Itu hanya masa lalu." sahut Yuna.
"Tapi akankah Yuna terus bertahan dengan masa lalu seperti itu? Apakah Yuna tidak ingin mengubah sejarah?" tanya Yudi yang ingin memancing.
"Yudi ..., kamu saksikan ombak yang bergulung-gulung di pantai itu? Pernahkah ombak itu mengeluh dan meminta berhenti untuk istirahat? Sampai akhir masa, ombak itu akan terus datang menghampiri pantai. Walau terkadang besar, terkadang pula landai. Tetapi mereka tak pernah bosan untuk menyapa daratan dengan meninggalkan butiran-butiran pasir yang lembut. Sama seperti rasa cinta. Ada dan terus ada di dalam hati kita. Meskipun kita tidak berani menyampaikan karena takut, cinta itu tetap akan tumbuh dan berkembang di hati kita. Hanya antara kita, yang sanggup menerima ombak-ombak cinta itu, atau dihancurkan oleh gelombang abrasi yang terus menerus menghantam." kata Yuna yang terus menyaksikan ombak Pantai Parang Tritis.
"Saya tidak paham maksud Yuna?" Yudi bingung.
"Yudi .... saya yakin, gelombang cintamu sudah sering membentur dinding karang ketidak beranian dirimu untuk mengutarakan perasaanmu. Hancurkan saja dinding-dinding karang yang menghalangi. Maka ombak cinta yang menuju pantai tempat tambatan kasih sayang tidak akan terhalang lagi." jelas Yuna.
Tentu Yudi masih bingung dengan perumpamaan yang disampaikan oleh Yuna. Karena permasalahan mereka berdua berbeda. Sama-sama takut untuk menikah, tetapi penyebabnya tidak sama.
"Yuna ..., apakah dirimu juga akan menghancurkan tebing-tebing karang yang mengganggu perjalanan gelombang cintamu menuju pantai?" tanya Yudi.
"Sudah, Yudi. Sejak pertama Yuna datang di Jogja, saya melihat kehidupan yang berbeda. Kebersamaan dan rasa kekeluargaan di sini sungguh mengubah pendirianku. Saya sudah menghacurkan tebing karang penghalang itu. Sejak saya berangkat dari Jepang untuk meminta membangun proyek ini, saya sudah memulai mengikisnya, hanya untuk mengalunkan gelombang cinta di pantai asmara laki-laki yang aku dambakan. Dan laki-laki yang memiliki pantai asmara itu adalah dirimu, Yudi. Saya ingin melabuhkan ombak-ombak cintaku di pantai asmaramu." jawab Yuna.
"Jadi ..., Yuna mau menerima diriku untuk mengubah kehidupan kita?" tanya Yudi.
"Tentu. Itu jika memang Yudi berani mengatakan cinta kepada saya ...." tantang Yuna.
"Yach .... Aku berani .... I love you .... Ai shi teru .... Aku mencintaimu, Yuna ...." kata Yudi dengan penuh rasa bahagia. Gembira karena Yuna mau menerima cintanya.
"Aku tresno sliramu, Yudi ...." sahut Yuna yang membalas dengan bahasa Jawa. Kata-kata yang sudah diajarkan oleh para bakul di Taman Awang-awang.
Lantas Yuna memeluk Yudi. Mencium laki-laki yang diharapkan bisa menjadi pelabuhan bagi cintanya.
Yudi merasa lega. Apa yang diharapkan sudah tersampaikan melalui jawaban wanita yang diam-diam ia gandrungi. Walau Yuna tidak memberikan jawaban saat ditanya Rini, Hamdan, Silvy maupun suami Silvy, tetapi kata-kata ini adalah jawaban khusus bagi Yudi. Jawaban yang tidak perlu diketahui orang lain.
Yudi membalas ciuman Yuna. Mesra dan penuh kasih sayang, yang disaksikan oleh ombak Pantai Parang Tritis. Dua insan di dalam mobil itu sedang membuktikan cintanya. Tidak perlu dengan kata-kata, cukup menggunakan bahasa perasaan. Bahasa cinta yang penuh kemesraan.
__ADS_1
Gelombang Laut Selatan semakin malam semakin meninggi. Ada gaya tarik bulan yang membuat gelombang itu bertambah tinggi. Akibatnya terjadi pasang naik. Berkali-kali ombak besar menghantam pantai menuju daratan, melemparkan buih, menyapu lembut pasir pantai. Seperti halnya Yudi dan Yuna, gelombang cinta dua insan dalam mobil itu sedang meninggi. Asmaranya sedang mengalami pasang naik yang setinggi-tingginya, mengakibatkan gerakan yang tidak terkendali. Hingga di tengah malam, di atas gundukan pasir Parang Tritis, mobil hitam yang ditumpangi Yudi dan Yuna bergoyang-goyang, dihantam gelombang cinta yang tidak terkendali.