
Yuna betul-betul kecewa dengan cinta Yudi. Cinta yang mendua. Cinta yang tidak tulus. Cinta yang hanya berpura-pura. Cinta hanya sebagai pembalut luka. Bukan cinta yang sesungguhnya. Bukannya cinta yang diharapkan untuk saling mengisi dan saling memberi.
Yuna benar-benar sakit hati, mana kala ia sudah berubah pendiriannya untuk mau berdekatan dengan laki-laki. Saat ia berubah prinsip hidupnya yang semula tidak berkeinginan untuk menikah dan kini berkeinginan mau berumah tangga, ketika Yuna berkeinginan memiliki seorang suami, namun pada kenyataannya Yudi masih menyimpan wanita lain.
Siapa saja pasti akan sakit hati. Wanita manapun pasti akan cemburu jika laki-laki yang sudah berjanji, yang sudah mengungkapkan kata-kata cinta, yang sudah mengajak menikah, namun di balik itu semua, sang laki-laki masih memajang lukisan-lukisan pacar lamanya di dinding kamar, memasang foto di meja kerja yang setiap hari dipandangnya. Ini benar-benar keterlaluan.
Wajar kalau Yuna cemburu. Pantas kalau Yuna marah-marah. Meski dirinya bukan orang yang pertama mengisi hati Yudi, tetapi Yuna tidak mau dijadikan sebagai orang kedua. Yuna tidak mau masih ada nama orang lain di hati Yudi. Yuna hanya ingin, jika Yudi memang mencintai Yuna, maka cinta itu jangan dibagi-bagi lagi.
"Yuna ..., aku mohon maaf ...." kata Yudi pada Yuna, saat melihat Yuna keluar ruang.
Tetapi Yuna diam saja. Tidak menjawab, tidak membalas. Bahkan memandang atau melirik sedikit saja pada Yudi, Yuna tidak mau.Yuna sudah tidak mau diajak bicara. Yuna sudah tidak mau diberi alasan apapun. Bahkan bisa dikatakan, Yuna sudah menganggap Yudi tidak ada lagi. Sakit hati Yuna sangat sulit untuk diobati.
Yudi hanya bisa menyesal. Yudi sadar bahwa dirinya sudah keliru. Yudi tahu bahwa yang dilakukan selama ini untuk memajang lukisan-lukisan Rini adalah kesalahan besar. Tetapi jika sudah demikian, Yuna marah pada dirinya? Apa yang bisa dilakukan oleh Yudi?
Setelah Yudi berangkat ke kantor, Yuna meminta bantuan kepada Bagas untuk mengantar ke bandara. Sudah seperti biasanya, pagi-pagi Bagas datang ke rumah, entah untuk mengantar sarapan maupun menjemput Yuna untuk diantar ke puncak bukit. Bagas tidak tahu permasalahan yang terjadi antara Mas Yudi dan Mbak Yuna. Maka saat Mbak Yuna meminta tolong untuk diantar ke bandara, Bagas siap-siap saja.
"Bagas, pagi ini saya diantar ke bandara." kata Yuna kepada Bagas.
"Iya, Mbak Yuna, siaap .... Lha kok tidak bareng Mas Yudi saja tadi ...?" sahut Bagas.
"Dia sibuk." jawab Yuna singkat.
"Wealah, dengaren tenan orang ini ...." ucap Bagas.
"Ayo, berangkat sekarang ...!" kata Yuna yang sudah menenteng tas punggung.
"Lha barang-barangnya, mana?" tanya Bagas.
"Tidak ada barang .... Saya hanya membawa paspor sama HP saja." sahut Yuna.
Langsung, Bagas mengeluarkan mobil zebra yang biasa dipakai berbelanja, melintas jalan belakang, menuju bandara. Mengantar Mbak Yuna.
"Mbak Yuna mau ke mana to ini?" tanya Bagas sambil menyetir.
"Mau ke Jepang .... Apa Bagas mau ikut dengan saya?" sahut Yuna.
"Walah ..., mau-mau saja, Mbak Yuna .... Hehe ...." jawab Bagas, yang tentu akan senang seandainya memang diajak ke Jepang benaran.
"Besok kamu urus paspor, biar bisa ikut saya ke Jepang." kata Yuna.
"Waaah .... Harus pakai paspor to, Mbak Yuna?" tanya Bagas yang belum pernah melihat bentuk Paspor itu seperti apa.
"Ya iya lah, Bagas .... Paspor itu identitas bagi warga negara asing. Gantinya KTP kalau di sini." jelas Yuna.
"Oo ..., begitu ya, Mbak Yuna .... Baik kalau begitu, besok saya akan bikin paspor, tapi Mbak Yuna janji ajak Bagas ke Jepang benaran, lho ya ...." kata Bagas yang tentu sangat ingin pergi ke luar negeri. Biar punya pengalaman, tidak kuper hanya diam di kampungnya melulu.
"Bagas bantu saya, ya .... Tolong proyeknya Taman Awang-awang itu kamu awasi betul. Pekerja-pekerjanya disuruh yang rajin. Itu nanti kalau sudah selesai, jadi milik mereka. Bukan milik saya. Makanya mereka harus rajin, biar bangunannya cepat selesai dan bagus. Untungnya buat mereka semua. Kami tidak dapat apa-apa. Tolong kamu awasi betul ya, Bagas ...." pesan Yuna pada Bagas.
__ADS_1
"Iya, Mbak Yuna. Terima kasih semuanya. Mbak Yuna ini memang orang baik. Sudah sepantasnya, mestinya kami memberi penghargaan untuk Mbak Yuna." jawab Bagas.
"Tidak perlu seperti itu, Bagas .... Rakyat di sini sejahtera, saya sudah senang ...." sahut Yuna.
"Lha ini, Mbak Yuna mau ke Jepang sebentar saja kan?" tanya Bagas.
"Saya belum tahu ...." sahut Yuna.
"Walah ..., lha kok belum tahu itu, lho ...." kata Bagas.
"Saya mau bilang sebentar, kalau jadinya lama bagaimana?" sahut Yuna.
"Oo .... Tapi kalau bisa jangan lama-lama lho, Mbak Yuna ...." kata Bagas lagi.
"Memangnya ada apa ...?" tanya Yuna.
"Saya khawatir, tidak sanggup ngurususi proyek sebesar itu ...." jawab Bagas.
"Jangan khawatir .... Kan masih ada Pak Lurah dan yang lainnya. Justru ini kamu buat sebagai latihan, magang istilahnya. Besok kalau ada proyek lagi, Bagas sudah berani jadi pemborong. Hahaha ...." sahut Yuna sambil tertawa.
"Gitu, ya .... Oke, Mbak Yuna .... Siaaap ...!" kata Bagas.
Tanpa terasa, mobil sudah sampai di Bandara YIA. Bagas langsung menepikan kendaraannya di depan pintu pemberangkatan. Tanpa dibukakan pintu, Yuna langsung turun.
"Hati-hati, Mbak Yuna ...!" teriak Bagas dari belakang setir mobil.
"Iya, Bagas .... Terima kasih. Sampai jumpa lagi ...." kata Yuna yang langsung berjalan menuju pintu keberangkatan.
Di kantor, Yudi merasa tidak jenak. Selalu kepikiran dengan Yuna yang sedang marah pada dirinya. Jika demikian, tentu segala sesuatunya tidak konsen, tidak fokus. Apa-apa serba salah, begini begitu serba keliru. Emosinya naik, inginnya marah-marah melulu. Jika ada teman kantor yang kurang pas, maka langsung dibentak oleh Yudi. Tidak pandang bulu, siapa saja yang mengganggu akan dilahap mentah-mentah.
Yudi tidak betah duduk di kantor. Daripada emosinya bertambah tinggi, maka Yudi memutuskan untuk pulang saja. Setidaknya bisa lebih tenang. Atau kalau bisa, ia akan meminta maaf lagi kepada Yuna.
Yudi pun keluar ruang, menyetir kendaraan dan pulang.
Namun sesampai di rumah, ia hanya mendapati sepi. Ya, jam-jam pagi di rumah Yudi tidak ada orang. Hanya ibunya yang duduk-duduk sambil nonton TV.
"Sepi, Mbok?" tanya Yudi pada ibunya.
"Ee ..., Le .... Kamu to .... Jam segini kok sudah pulang?" jawab ibunya.
"Iya, Mbok .... Nggak jenak di kantor ...." sahut Yudi.
"Mau makan, apa minum?" tanya ibunya.
"Tidak usah, Mbok .... Nanti saja. Itu mobilnya Bagas kok tidak ada, ke mana?" tanya Yudi.
"Lhah, katanya ke bandara, ngantar Non Yuna ...." jawab ibunya.
__ADS_1
"Lhoh, ada apa? Mau ke mana?" tanya Yudi.
"Simbok tidak tahu, Le ...." jawab ibunya.
Yudi terkejut mendengar Yuna pergi ke bandara. Pikirannya sudah tidak karuan. Yuna benar-benar marah pada dirinya. Pasti Yuna akan meninggalkan dirinya.
Yudi langsung mengangkat teleponnya. Menelepon Yuna. HP sudah tidak aktif. HP sudah dimatikan. Pasti Yuna sudah naik pesawat. Mau ke mana orang ini .... Begitu pikir Yudi.
Lantas Yudi menghubungi Bagas.
"Halo, Bagas .... Di mana kamu?" tanya Yudi menelepon Bagas.
"Halo, Mas Yudi .... Ini saya di puncak bukit, mengawasi tukang." jawab Bagas.
"Lha Mbak Yuna di mana?" tanya Yudi.
"Lho ..., apa belum pamitan sama Mas Yudi?" sahut Bagas.
"Belum itu ...?! Lha memang pergi ke mana?" tanya Yudi.
"Pulang ke Jepang, Mas Yudi .... Kata Mbak Yuna, sudah kangen dengan orang tuanya di Jepang." jawab Bagas.
"Waduh ...! Mati aku ...!" sahut Yudi.
"Lha bagaimana to, Mas Yudi ...?" tanya Bagas.
"Lha ini bangunan belum selesai, terus yang akan melanjutkan siapa?" kata Yudi.
"Tadi Mbak Yuna sudah pesan saya, agar mengawasi semua pekerjaan. Begitu, Mas Yudi ...!" jawab Bagas.
"Bagas bisa ngawasi pekerja ..., tapi yang membayar upah pekerja siapa? Pakai uangnya Bagas?" sahut Yudi.
"Waduh .... Lha saya tidak tahu itu, Mas .... Lha kalau saya disuruh membayari tukang, ya jelas tidak sanggup to, Mas .... uangnya siapa yang akan saya pakai mbayar?!" jawab Bagas.
"Nah, kan ... Tahu sekarang, kalau Mbak Yuna pergi, proyek ini gagal, Gas ...." sahut Yudi.
"Waduh ..., gawat ini .... Blais .... Terus, bagaimana ini, Mas?" Bagas yang mulai khawatir.
"Ya sudah, kamu awasi pekerja, tetap jalan. Saya akan usahakan cari uang untuk membayar pekerja." sahut Yudi menenangkan Bagas.
Setelah Yudi menutup panggilan telepon dengan Bagas, kembali ia menelepon Yuna. Berkali-kali. Tetapi HP Yuna benar-benar tidak aktif. Mungkin saja sengaja dimatikan.
Lantas Yudi menulis pesan pada WA. Isi pesannya, ia meminta maaf, menyesal dengan semuanya, memohon agar Yuna memaafkan dan akan memulai lembaran baru. yang semuanya hanya ada Yudi dan Yuna. Tidak ada orang lain.
"Jika Yuna membaca pesan saya, saya berharap Yuna akan paham dan maklum, lantas memaafkan saya, dan memulai lembaran hidup baru. Semoga Yuna segera membaca dan membalasnya." begitu gumam Yudi.
Yudi masuk ke ruangnya. Memandang ruangan kamar itu dengan penuh penyesalan. Lantas menanggalkan lukisan-lukisan yang tergantung di dinding kamarnya. Melepas wajah-wajah Rini yang selalu dipandangnya saat tidur. mengangkat foto yang terpampang di meja kerja. Lukisan-lukisan itu diikat, dan dimasukkan ke dalam kardus.
__ADS_1
"Yah, ini kesalahan besar diriku. Jika saya sudah mencintai Yuna, mengapa masih ada Rini di ruanganku? Dan kini, aku sudah kehilangan Yuna. Ya ampun .... Bodohnya diriku ini." gumam Yudi saat mengemas lukisan-lukisan Rini.
Kini, Yuna sudah kembali ke Jepang. Tinggal Yudi sendiri dalam sepi, menanti kekasih yang telah pergi.