KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 234: LUKISAN TAK DIJUAL


__ADS_3

    Memang nilai uang bagi orang Eropa sangat jauh dengan bangsa kita. Artinya, bagi mereka membeli harga lukisan hingga tujuh ratus lima puluh juta adalah hal yang biasa. Tetapi, bagi orang-orang Indonesia, uang sebegitu banyak itu tentu sangat sayang jika dibuat beli lukisan. Setidaknya uang sebegitu banyak bisa dibuat beli mobil.


    Bagi orang yang belum mengenal nilai seni, pasti akan menilai sesuatu itu dengan jumlah nominal uang. Tetapi bagi pencinta seni, harga sebuah lukisan tidak dinilai oleh banyaknya uang, melainkan nilai karya seni yang ada dalam lukisan itu. Contohnya saja lukisan Salvator Mundi atau Monalisa karya Leonardo Da Vinci, harga lukisan itu mencapai enam setengah triliun rupiah. Wao ..., sungguh harga lukisan yang sangat fantastis.


    Yudi langsung menelepon istrinya, tentu rasa bangga dan senangnya ingin segera menghubungi Rini, menyampaikan berita tentang kesuksesan anaknya.


    "Halo, Mah ...." kata Yudi saat menelepon Rini, dengan video call.


    "Ee ..., Papah .... Ada apa, Pah?" tanya Rini yang tentu kaget. Tidak seperti biasanya suaminya menelepon. Meski sudah dibelikan HP oleh menantunya, sebagai ucapan terima kasih sudah dibelikan motor kala itu, yang kata Yayan fiturnya sangat lengkap, toh Yudi juga jarang menggunakan HP itu. Paling-paling hanya digunakan untuk memotret Yuni yang selalu asyik menemani papahnya melukis di galeri. Atau saat butuh sesuatu agar Rini cepat ke galeri. Tapi ini seakan ada sesuatu yang penting.


    "Mamah ke galeri sebentar ..., tapi dandan yang cantik ya ...." kata Yudi meminta istrinya menyusul ke galeri.


    "Memang ada apa, Pah ...?" tanya Rini yang agak bingung.


    "Bantu Yuni, anakmu jadi pusat perhatian para pengunjung .... Lihat itu ...." kata Yudi yang langsung mengarahkan kameranya ke Yuni yang masih dikerumuni banyak orang.


    "Ya, Pah ...." jawab Rini yang langsung mematikan video call, dan segera berganti pakaian.


    Tidak lama Rini berdandan. Ia langsung menyusul suami dan anaknya yang terlihat sibuk di galeri. Rini lewat pintu belakang, ruangan tempat Yudi dan anaknya biasa melukis. Kemudian melintasi ruang tabung, selanjutnya masuk ke ruangan di khusus koleksi lukisan Yudi dan Yuni.


    Rini tengak-tengok, lantas setelah melihat kerumunan orang banyak, ia menuju ke tempat itu. Benar, anak dan suaminya ada di antara kerumunan tersebut. Rini pun menyusup untuk menemui anak dan suaminya.


    Yudi tersenyum saat tahu Rini sudah datang. Ia langsung menarik lengan istrinya. Lantas ia membisikkan kata-kata pada istrinya, "Lukisan anakmu laku lima puluh ribu euro .... Kalau di rupiahkan sekitar tujuh ratus lima puluh juta."


    "Hah ...?! Yang benar, Pah ...!!" tentu Rini terkejut mendengar bisikan suaminya itu.


    Tentu Rini sangat senang mendengar berita itu. Ia langsung berjongkok, memeluk Yuni dan mencium anaknya berkali-kali.


    "Mr. Judi, are there any special paintings for us to see?" tanya orang Eropa itu kepada Yudi, tentu ingin menyaksikan lukisan istimewa milik Yudi.


    "I have my painting, but I don't sell it." kata Yudi pada orang-orang Eropa itu.


    "Can I see it?" tentu orang-orang Eropa itu pengin melihatnya.


    "Yes, it's on the second floor. Come on, please come with us ...." ajak Yudi pada tamu-tamunya.


    Yudi yang tak lupa mengajak Rini dan Yuni, bersama tiga orang tamu dari Eropa yang tadi sudah membeli lukisan Yuni dengan harga fantastis, naik ke lantai atas, melintasi ruang pameran utama, kemudian masuk ke ruang khusus milik Yudi. Hanya Yudi yang membawa kunci ruangan itu, karena memang ruangan itu menyimpan lukisan Yudi yang tidak untuk dipamerkan kepada pengunjung. Pantas ruang itu sangat tertutup.


    "Please come in ...." setelah membuka pintu dan menyalakan lampu serta AC, Yudi mempersilakan masuk pengunjungnya yang pasti seorang pencinta karya seni tersebut.


    Rini dan Yuni sudah masuk duluan. Tiga orang Eropa itu masuk ke ruangan.


    "These are my private collections." kata Yudi kepada para tamunya, sambil menunjukkan lukisan-lukisan yang terpampang di dinding ruangan itu.


    "Wao…. This is really amazing ...." tiga orang dari Eropa itu geleng-geleng kepala saat menyaksikan lukisan-lukisan yang disembunyikan Yudi di ruang pribadinya.

__ADS_1


    Tentu tiga orang itu melihat secara detail lukisan Yudi. Tidak hanya sekadar melihat, tetapi salah satu dari orang itu membuka tas, lantas mengambil baterai dan kaca pembesar. Lantas orang itu menyoroti lukisan dengan baterainya, kemudian diamati menggunakan lup yang dipegangnya. Seakan orang itu sedang meneliti lukisan. Ia mengamati lukisan raksasa yang diberi judul "Historical Yudi - Yuna" itu.


    "Wow…. It's original and very detailed ...." kata orang yang mengamati lukisan Yudi menggunakan alat pembesar tersebut.


    "This is really a very special painting ...." sahut bule yang satunya.


    "I will buy this painting for one hundred thousand Euros." kata laki-laki Eropa yang tadi sudah membayar lukisan Yuni, kini ia menawar lukisan raksasa milik Yudi, tentu dengan harga yang lebih fantastis, yaitu seratus ribu Euro.


    "Thank you sir, but I'm not selling it." kata Yudi yang bilang kalau lukisan itu tidak akan dijual.


    Rini yang mendengar penawaran itu, pikirannya langsung menghitung. Seratus ribu Euro, senilai dengan satu setengah miliar. Tentu Rini sangat tergiur dengan penawaran orang itu. Maka ia menyenggol siku suaminya, ingin mengatakan suruh menjual saja lukisan itu.


    "Yud ..., kenapa tidak diberikan?" bisik Rini pada suaminya.


    "Bukan jumlah uangnya, Sayang .... Tapi nilai historisnya sangat tinggi. Termasuk dua lukisan yang ada di sana itu." kata Yudi sambil menunjuk lukisan Rini.


    "Iih ..., yang itu jangan di jual ...." tentu Rini keberatan jika lukisan dirinya akan dibeli oleh orang-orang bule tersebut.


    Dan benar apa yang diduga oleh Yudi. Pasti kolektor itu akan melihat lukisan Rini, dan pasti tertarik untuk membelinya.


    "How about this painting? I dare to pay fifty thousand euros." kata kolektor asal Eropa itu menawar lukisan Rini. Dua lukisan itu, baik yang wajah Rini maupun Rini yang berada di pantai, diamati secara detail oleh sang kolektor.


    "No ..., no ..., no ...." Rini langsung berteriak menolak. Tentu ia tidak mengizinkan lukisannya dibawa orang, meski harganya sangat menggiurkan.


    "Nah, Rini paham kan, kenapa lukisan raksasa itu tidak boleh dibeli?" kata Yudi menyadarkan Rini tentang sebuah kenangan yang tidak mungkin untuk diganti dengan uang.


    "Which painting can I buy?" tanya tiga orang kolektor dari Eropa tersebut.


    "Apart from those three paintings, you can buy all of them. Roro Jonggrang, Nyai Roro Kidul, as well as other paintings." Yudi menunjukkan semua lukisan yang bisa dibeli, tetapi tidak akan menjual tiga lukisan yang menjadi kenangan hidupnya.


    "Oh, I love this painting ...." kata salah seorang pencinta lukisan dari Eropa itu, sambil menunjuk lukisan Rini yang membopong Yuni dalam ayunan petarangan.


    Tentu bule yang melihat lukisan itu langsung menoleh ke Rini. Lalu katanya, "Is this a portrait of Madame? So pretty ...."


    Rini tersenyum, senang dipuji oleh calon kolektor lukisannya.


    "Yes, that's a painting of me and my daughter when she was a baby." kata Rini yang langsung mengelus kepala Yuni, menunjukkan Yuni yang ada dalam lukisan itu. Rini sudah lancar bahasa Inggris, karena ikut diajari oleh guru les bahasa Inggris Yuni.


    "It's me with Mama ...." Yuni langsung menimbrung ikut menjelaskan lukisan ayunan itu.


    "Wow, beautiful baby .... I love you, Juni ...." kata laki-laki itu yang sudah berjongkok di depan Yuni dan menciwel pipi Yuni yang menggemaskan tersebut.


    "Thank you sir ...." kata Yuni pada laki-laki itu.


    "What grade are you in school?" tanya laki-laki itu pada Yuni.

__ADS_1


    Yuni memandangi ayahnya, karena tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh orang itu. Tentu karena Yuni memang tidak bersekolah di sekolah formal. Yuni pun tanya pada ayahnya, "Pah ..., grade in school itu apa?"


    "Yuni doesn't go to school, we teach in the family ...." jawab Yudi berterus terang, memang Yuni tidak sekolah.


    "Ha ..., like Leo Nardo Davinci.... Very good.... Not school but smart. I am proud of the way you raised your daughter." kata tiga laki-laki itu, tentu sambil bertepuk tangan memberi apresiasi kepada Yudi.


    "Thank you sir ...." kata Yudi berterima kasih pada laki-laki itu.


*******


    Malam itu, di ruang makan saat makan malam, Rini bercerita kepada Silvy dan Yayan.


    "Adik kamu sudah jadi jutawan ...." kata Rini membuka cerita.


    "Jutawan ..., bagaimana, Mah ...?" tanya Silvy yang ingin tahu.


    "Lukisan adikmu, tadi siang terjual dengan harga tujuh ratus lima puluh juta ...." kata Rini yang sangat menggebu.


    "Haah ...??? Yang benar, Mah ...?!" tentu Silvy dan Yayan langsung menghentikan sendoknya yang akan masuk mulut. Mereka terkejut dengan berita mamahnya itu.


    "Benar .... Ada tiga orang Eropa kolektor lukisan yang sengaja datang ke galeri Papah kamu, memborong lukisan. Dua lukisan adik kamu dihargai lima puluh ribu Euro." kata Rini yang meyakinkan.


    "Iya .... Lukisan saya ada yang dibeli orang asing ...." timpal Yuni.


    "Benar, Pah ...?" tanya Silvy kepada ayahnya.


    Yudi tersenyum lebar, lantas mengangguk. Tanda membenarkan kata-kata ibunya.


    "Wao .... Yuni ..., kamu hebat ...!!!" dua orang kakaknya itu langsung menciumi Yuni. Tentu Silvy dan Yayan sangat bangga dengan karya adiknya yang luar biasa, dan akan di pajang di negeri asing.


    "Lukisan Papah Yudi juga banyak yang dibeli. Bahkan ada yang ditawar sampai seratus ribu Euro." kata Rini yang memamerkan penawaran para kolektor tadi siang.


    "Wao .... Keren, Pah .... Berarti Papah sama Yuni punya uang banyak ini ...." kata Yayan yang tentu sangat tergiur cerita ibu mertuanya.


    "Tapi tidak jadi ...." sahut Rini.


    "Lhoh ..., memang kenapa?" tanya Silvy.


    "Lukisan itu tidak dijual .... Itu lukisan istimewa ...." sahut Yudi pada anak-anaknya.


    "Kok begitu ...?!" tentu Silvy agak kecewa, saat mendengar uang seratus ribu Euro, tetapi malah ditolak.


    "Ada hal-hal dalam hidup kita yang tidak dapat dinilai dengan uang. Waktu di Kuil Kifune di Kyoto, saya melukis Pendeta Agung. Lukisan itu sangat bagus, dan memang saya buat semaksimal mungkin. Bahkan saya merasa itu lukisan terbaik saya. Tapi lukisan itu tidak saya jual. Tidak saya nilai dengan uang. Itu lukisan untuk sebuah kenangan dalam hidup saya yang sudah diselamatkan oleh Sang Pendeta Agung. Jadi, nilai lukisan itu adalah nyawa. Demikian juga dengan lukisan cinta dalam hidup saya. Hanya ada tiga lukisan cinta itu. Maka meski akan dibeli orang dengan harga miliaran, saya tidak bakal melepaskannya. Karena jika itu saya serahkan pada kolektor, berarti saya sudah menjual cinta saya. Tanya sama Mamah kamu, apakah lukisan cintanya boleh saya jual?" kata Yudi menjelaskan pada anak-anaknya.


    "Oo .... Begitu ya, Pah ...." dua anaknya bengong mendengar penuturan ayahnya.

__ADS_1


    Yah, hidup bukanlah sekadar uang. Tetapi banyak nilai-nilai yang lebih berharga dari uang, yaitu nilai-nilai yang ada dalam hati sanubari, yang tidak mungkin tergantikan oleh uang. Uang hanyalah sementara. Tetapi nurani, abadi meski tubuh sudah mati.


__ADS_2