
Yuna tentu masih sangat sibuk dengan pekerjaannya di puncak bukit, yang sedang dibangun obyek wisata Taman Awang-awang. Sehingga setiap pulang kantor, atau bahkan jam istirahat siang, Yudi harus menyempatkan diri untuk menengok ke proyek Taman Awang-awang, menemui Yuna. Tentu, jika ada kesulitan masalah komunikasi antara Yuna dengan para pekerja, Yudi yang menjadi penerjemahnya, Yudi yang ikut menjelaskan.
Bagas sudah diperintah oleh Yudi, untuk sering mendampingi Yuna, jika tidak pergi belanja. Dan Bagas pun selalu siap sedia. Toh Mas Yudi orangnya baik, nanti pasti akan diberi tambahan bayaran. Namun bila sore hari, saat para pekerja sudah pulang, Bagas ikut-ikutan pulang. Karena Bagas sudah yakin, Mbak Yuna pasti akan dijemput oleh Mas Yudi. Dan lagi, Mbak Yuna setiap para pekerja pulang, selalu mengecek pekerjaan satu persatu. Sehingga pulangnya hingga malam.
Yudi paham tentang pekerjaan Yuna. Maka ia pun sabar untuk menunggui dan menemani Yuna hingga gelap, bahkan pernah sampai larut malam, hanya sekedar menyalakan sinar laser, mengecek lurusnya bangunan, mengecek sikunya penarikan benang. Satu per satu disorot dengan laser. Jika ada yang tidak lurus atau melenceng, Yuna langsung memberi tanda pada bagian yang keliru. Besok paginya harus dibongkar, untuk dibenarkan. Begitu sistem kerja Yuna.
Pada awalnya, banyak tukang yang protes. Bahkan ada yang ngambek tidak mau kerja lagi. Tetapi ketika ditunjukkan kesalahannya, dan akibat yang nanti akan ditimbulkan, para tukang akhirnya meminta maaf, menyadari kesalahannya. Itulah bedanya bidikan pandangan mata manusia dengan pengukuran yang menggunakan alat modern. Ya, tukang-tukang di Kampung Nirwana masih konvensional. Tukang dengan teori-teori kuno. Padahal zaman sudah berubah, namun mereka masih menggunakan cara kuno. Begitu peralatan modern yang digunakan untuk mengecek bangunan, ketahuan kalau yang dikerjakan dengan cara kuno itu banyak yang keliru.
Satu minggu pertama, para tukang banyak yang mengeluh dengan aturan Yuna. Tetapi setelah diberi pengertian oleh Pak Lurah dan Yudi, yang bisa memahami bahasa Yuna, maka mereka pun sekarang justru mengalami kemajuan yang pesat. Ada tukang yang meminta alat Yuna, yaitu waterpass digital dan laser, untuk dipakai sebagai alat ukur lurus dan siku. Yuna senang, mereka mau menerima. Setelah diajari cara penggunaannya, tukang-tukang itu pun bisa dan mahir. Ya, itulah kemajuan teknolgi yang harus kita ikuti.
Bahkan kini, ada beberapa tukang yang sering berlama tidak pulang, ikut mendampingi Yuna untuk melakukan pengecekan. Alasannya, dia ingin mengerti cara kerja orang Jepang dan setidaknya bertanya jika ada yang tidak diketahui. Tidak hanya beberapa tukang, sekarang semua tukang maupun kuli, baik dan ramah kepada Yuna. Kedekatannya sudah terjalin. Yuna sudah dianggap sebagai penduduk asli Kampung Nirwana, bukan lagi orang Jepang yang diidentikkan dengan keras dan galak. Itu semua keliru. Kalau disiplin, itu baru benar. Dan tentu semuanya demi kebaikan.
*******
Sabtu siang, di rumah Yudi kedatangan tamu seorang wanita dewasa. Masih cantikn mengenakan pakaian seperti orang kantoran. Ingin bertemu Yudi. Ibunya Yudi yang keluar menemui tamu itu.
"Mau ketemu siapa, ya?" tanya ibunya Yudi.
"Mau ketemu Yudi. Apa Yudi ada di rumah?" tanya tamu wanita itu.
"Waduh, ini Mas Yudi masih bekerja, belum pulang." jawab ibunya Yudi.
"Apa bisa saya tunggu di sini?" tanya tamu wanita itu lagi.
"Waduh, biasanya Mas Yudi pulang sampai malam. Ada lemburan. Dan setelah makan, biasanya Mas Yudi langsung tidur, karena capai seharian bekerja." jawab ibunya Yudi.
"Kalau hari Minggu libur, kan?" tanya tamu wanita itu lagi.
"Ya libur .... Orang kerja ya ada istirahatnya. Masak, hari libur kok disuruh lembur, bisa ajur ...." jawab ibunya Yudi meyakinkan.
"O ya, sudah .... Tolong sampaikan kepada Yudi, besok pagi saya akan datang kemari lagi, untuk menemui Yudi." kata sang tamu.
"Lhah, ibu ini siapa? Nanti saya sampaikan ke Mas Yudi ...." tanya ibunya Yudi.
"Oh ya ..., tolong sampaikan ke Yudi, nama saya Yayuk dari Palembang, teman dekat Yudi. Yudi sudah tahu. Besok pagi saya akan kembali kemari untuk menemui Yudi." kata wanita yang menyebut namanya Yayuk.
Tanpa berpamitan, wanita itu sudah pergi begitu saja. Tentu dengan wajah agak kecewa.
Saat makan malam bersama, Simbok menceritakan semua kepada Yudi, tentang tamu wanita yang mencarinya. Bahkan Simbok juga mengatakan, kalau tamu wanita itu agak kecewa setelah tidak ketemu yang dicari. Dan wanita itu akan datang kembali besok pagi.
"Siapa tamunya, Mbok?" tanya Yudi pada ibunya.
"Siapa ya ..., saya kok agak lupa .... Yuk ..., Yuk ..., gitu lho, namanya." jawab ibunya.
"Cantik, Simbok?" tanya Yuna yang meledek Yudi.
__ADS_1
"Cantik .... Tapi sudah kelihatan tua." jawab Simbok.
"Yuna cemburu, ya ...?!" ledek Yudi.
"Iih .... I'm prettier than her. Of course. Hehe ...." Yuna mengejek Yudi.
"More beautiful, but afraid to be competed .... Hehe ...." sahut Yudi yang juga meledek.
"No ..., no ..., Yudi. I'll leave it if Yudi want to take that woman...!" teriak Yuna sambil mencubit pinggang Yudi.
"Ini pada ngomong apa to, Yud?" Simbok bingung, tidak paham yang dibicarakan anaknya.
Dua orang itu, Yudi dan Yuna bergurau di depan ibu dan bapaknya Yudi. Ramai, seperti kucing kejar-kejaran dengan tikus. Hingga mereka capai sendiri. Berhenti .... Tidur pulas.
Hari Minggu pagi, seperti biasa, Yudi membersihkan kolam koi dan tanaman di taman yang ada di pendopo depan. Kesibukan yang menyenangkan. Setidaknya untuk menghibur diri di saat ia sendirian. Meskipun keasrian dan keindahan ikan-ikan koi dalam kolamnya itu, banyak orang yang senang dan tertarik.
"Tok .... Tok .... Tok ...."
Ada tamu yang datang, mengetuk pintu dengan gantungan yang menempel di daun pintu. Yudi bergegas menuju gerbang, lantas membuka pintu itu. Terlihat wanita yang ada di depan pintu. Seperti yang sudah diduga, Yayuk, temannya SMA yang beberapa minggu lalu sudah pernah datang untuk menawarkan cintanya.
Hari ini pun, Yudi berpikir, Yayuk pasti akan menagih cinta yang sudah pernah ditawarkan.
"Hai, Yayuk .... Ayo, silakan masuk." sambut Yudi pada tamunya.
"Terima kasih, Yudi .... Kemarin saya sudah datang kemari, tapi kata pembantu Yudi, kamu kerja lembur sampai malam. Makanya saya datang lagi pagi ini." kata Yayuk, tentu dengan senyum yang manis.
"Apa saja terserah Yudi. Yang penting manis seperti diriku ...." sahut Yayuk dengan senyum menggoda.
"Sebentar, ya ...." lantas Yudi masuk untuk menyiapkan suguhan.
Hanya sebentar, kemudian Yudi keluar menemani Yayuk yang sudah duduk di bangku tengah pendopo.
"Ada kabar apa, ini?" tanya Yudi pada Yayuk.
"Yudi .... Aku rindu sama kamu." jawab Yayuk dengan senyum manisnya. Tentu menggoda Yudi.
"Yayuk .... Mimpi apa aku semalam?" kata Yudi yang masih basa-basi.
"Pasti mimpi ketemu diriku. Iya kan, Yud ...?!" kata Yayuk lagi, yang tetap terus menggoda.
Beberapa saat kemudian, seperti yang lalu saat pertama kali Yayuk datang ke rumah Yudi ....
"Pah ..., ini minumannya ...." seorang gadis kecil yang cantik membawa baki berisi minuman dua gelas es sirup merah.
"Iya, sayang .... Terima kasih .... Kasih salim sama tante." kata Yudi yang menerima baki berisi dua gelas minuman.
__ADS_1
Lantas gadis kecil itu memberi salam kepada Yayuk. Tentu Yayuk terheran. Gadis ini selalu menyuguhkan minuman saat ia ke rumah Yudi. Apa benar ini anaknya Yudi. Memanggil Yudi juga pakai kata pah ....
"Ini anakmu, Yud?" tanya Yayuk pada Yudi yang mulai curiga.
"Lhah, ini kan anak yang dulu pernah ngasih minum dan jajanan itu. Saya kan sudah bilang, aku punya banyak anak. Waktu itu sudah saya sampaikan ke Yayuk, kan." kata Yudi.
Yayuk terlihat agak kecewa. Tentu karena ada anak di rumah Yudi. Bagaimana mungkin. Semua temannya mengatakan kalau Yudi belum menikah ....
"Itu anak siapa? Kan Yudi belum menikah ...?!" tanya Yayuk.
Yudi diam, tapi tersenyum. Senyum yang membingungkan Yayuk. Mana yang benar, cerita teman-temannya atau kata-kata Yudi? Padahal hampir semua temannya mendukung dan memberi restu. Tinggal menunggu kepastian dari Yudi, langsung menentukan tanggal pesta pernikahannya. Yayuk mulai galau.
Belum selesai Yayuk berfikir, tiba-tiba muncul wanita cantik dari dalam, membawa piring berisi aneka jajanan pasar. Wanita itu menaruh piring jajanan di meja besar. Tetapi setelah menaruh piring, ia tidak membalik ke dalam rumah, tapi justru duduk di samping Yudi. Bahkan menempel di tubuh Yudi. Wanita itu tidak lain adalah Yuna.
"Mari, silakan dinikmati. Ini jajan dari Simbok. Enak." kata Yuna menawarkan suguhan.
Tentu Yayuk heran. Ada wanita cantik dengan wajah orang asing, bahasa Indonesia-nya juga tidak fasih. Siapa wanita ini.
"Ayo, silakan di minum dan dinikmati jajanannya. Monggo, Yayuk." kata Yudi mempersilakan tamunya.
Yayuk mengangkat gelas, meneguk minuman yang disuguhkan.
"Ini minum kamu, sayang?" Yuna mengambil gelas yang satunya, lantas memberikan minum ke bibir Yudi.
Yayuk mengamati itu. Tentu hatinya menjadi panas, saat mengamati Yudi disuapi wanita lain. Bahkan wanita itu memakai kata-kata sayang .... Kurang ajar. Begitu gemuruh hati Yayuk.
Belum sempat Yayuk berkedip mengamati wanita asing itu, tiba-tiba dari dalam datang lagi wanita tua yang kemarin menemui dirinya. Wanita tua yang oleh Yayuk dianggap sebagai pembantu Yudi itu, yang tidak lain adalah ibunya Yudi, justru ikut nimbrung duduk di samping wanita asing. Satu bangku diduduki tiga orang. Yudi, wanita asing dan pembantunya. Sehingga duduknya berhimpit.
"Nah, ini ..., Yudi .... Orang yang kemarin datang mencari kamu." kata Simbok
"Iya, Yudi .... Orang tua ini yang kemarin menemui saya." kata Yayuk mulai keder. Agak bingung. Galau.
"Nah, ini ..., Yudi itu anak saya .... Lha ini, yang cantik ini istrinya Yudi, asalnya dari Jepang ...." kata Simbok.
Seperti disambar petir, jantung Yayuk hampir copot, mendengar perkataan wanita tua itu. Bagaimana tidak kaget, setelah dikenalkan ternyata wanita yang dibilang sebagai pembantu itu adalah ibunya Yudi. Dan wanita asing itu ternyata adalah istrinya Yudi. Kepala Yayuk langsung pening. Jika tidak karena menahan malu, pasti Yayuk sudah menjerit dan pingsan.
Yayuk tidak mau dipermalukan. Hanya sekejap bertemu Yudi. Setelah menghabiskan minumannya, Yayuk langsung berpamitan pulang. Tentu malu tidak terkira. Yayuk hanya berharap, semoga Yudi tidak menceritakan tujuan kedatangannya kepada orang-orang.
"Maaf, Yudi .... Saya tergesa pulang. Karena harus kembali ke Palembang."
Tanpa bersalaman, tanpa memberi hormat untuk berpamitan, Yayuk sudah berjalan keluar. Pulang. Meski begitu, Yudi masih mau berdiri menghormati tamunya yang pulang begitu saja.
Sekepergiannya Yayuk, Simbok dan Yuna tertawa. Sandiwara yang ditampilkan berjalan sukses.
Yudi tersenyum, menghampiri Yuna dan Simbok. Lantas menciwel kedua pipi Yuna.
__ADS_1
Tiga orang itu saling berpelukan, dan tertawa riang.
Sementara yang berjalan pulang, membawa hati yang galau.