KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 239: UNDANGAN BEASISWA


__ADS_3

    Siang itu, ada pegawai jasa pengiriman yang mengantarkan surat ke Yudi's Gallery. Surat itu untuk Yuni Kartika, dengan alamat Yudi's Galllery, Kampung Nirwana, Yogjakarta - Indonesia. Pasti ini surat untuk Yuni. Surat itu diterima oleh pegawai front office yang berjaga di ruang masuk galeri.


    Amplop coklat berukuran tujuh belas kali dua puluh empat senti, bagian pojok atasnya terdapat logo entah gambar apa sulit untuk dipahami. Sedangkan di sebelah logo itu ada tulisan memanjang sepanjang amplop. Kira-kira tulisan itu menunjukkan identitas dari lembaga yang mengirim. Tetapi apa artinya, pegawai front office yang menerima itu tidak tahu artinya. Bahasanya sangat asing. Yang jelas bukan bahasa Inggris. Di bagian kiri agak ke atas terdapat cap tinta ungu dengan tulisan dalam kotak yang terbaca "IMPORTANT", yang artinya penting.  Sedangkan di bagian tengah agak ke kanan, terdapat tulisan hasil print yang menyebutkan nama serta alamat yang dituju, yaitu bertuliskan:


    À l'enfant bien-aimé


    YUNI KARTIKA


    à la Yudi's Gallery


    Kampung Nirwana


    Yogjakarta - Indonésie.


    Tentu pegawai galeri itu tidak paham dengan bahasa yang tertera pada sampul surat tersebut, karena bahasanya belum dipahami. Ya, karena tulisan-tulisan yang tertera di sampul depan itu menggunakan bahasa Perancis. Pegawai itu langsung menyerahkan surat tersebut kepada Yuni.


    "Neng Yuni .... Ada surat penting untuk Neng Yuni .... Ini ...." kata pegawai itu yang menyerahkan suratnya kepada Yuni.


    "Dari mana, Mbak ...?" tanya Yuni saat menerima surat itu.


    "Tidak tahu, Neng .... Saya tidak paham bahasanya." sahut pegawai itu.


    Yuni mencoba membaca tulisan yang ada pada sampul surat itu. Tetapi Yuni juga tidak paham dengan bahasanya. Maka Yuni segera berlari menemui ayahnya yang sedang asyik melukis di ruang belakang.


    "Papah ...! Papah ...!" Yuni berteriak memanggil ayahnya. Tentu karena Yuni ingin segera tahu apa isi surat itu.


    "Ada apa ..., Sayang .... Kok pakai teriak-teriak segala ...." tanya ayahnya yang tentu kaget dengan sikap anaknya yang aneh itu.


    "Pah ..., saya dapat surat, tetapi saya tidak tahu artinya. Surat apa ini, Pah ...?" kata Yuni yang sudah menunjukkan surat itu kepada ayahnya.


    "Ah ..., ini bahasa Perancis, Sayang .... Ini kop lembaga pengirim, dari École des Beaux-Arts dari Paris, Perancis, Sayang. Wah, ini sekolah seni paling hebat di Perancis, Sayang ...." kata Yudi setelah melihat kop surat itu.


    "Isinya apa ya, Pah ...?" tanya Yuni yang masih ragu-ragu dengan surat itu.


    "Mungkin terkait lukisan anggrek hitam Yuni yang kemarin dibawa kolektor untuk dipersembahkan ke Luvre Museum. Coba saja di buka .... Kalau itu surat internasional, biasanya menggunakan bahasa Inggris, meskipun di situ ada bahasa asli negara pengirim." kata Yudi pada anaknya. Pastinya Yudi juga penasaran dengan surat itu.


    "Ya, Pah .... Mau saya buka ...." kata Yuni yang langsung menggunting bagian pinggir sampul surat, untuk mengambil isinya.


    Ada dua lembar kertas dalam sampul itu. Yuni langsung membuka lipatannya. Lantas melihat surat itu. Bagian atas ada kop lagi, yang sama persis seperti yang terdapat pada kok atas sampul. Itu menunjukkan identitas pengirim, yaitu dari lembaga Perguruan Tinggi Seni École des Beaux-Arts yang berada di Paris Perancis.


    Lembar yang pertama mulai dilihat oleh Yuni. Benar seperti yang dikatakan ayahnya, pada surat tersebut ada dua bahasa. Baris tulisan yang atas menggunakan bahasa Perancis, namun di bawahnya ada tulisan dengan font lebih kecil dan tercetak miring, menggunakan bahasa Inggris. Yuni bisa membacanya dan tahu artinya. Makanya setelah tahu isi surat tersebut, ia langsung berteriak pada ayahnya.


    "Pah ...! Pah ...! Lihat Pah ...!" kata Rini yang tentu sangat antusias dan ingin agar ayahnya segera tahu.


    "Apa, sih ...?!" tanya Yudi pada anaknya.


    Yuni langsung menunjukkan isi surat itu pada ayahnya, "Ini, Pah .... Saya dapat undangan untuk bersekolah di  Paris, Perancis ...."


    "Yang benar ...?!" Yudi langsung meminta surat itu, lantas membaca berkali-kali untuk meyakinkan kebenarannya.


    "Gimana, Pah ...?" tanya Yuni yang pasti ingin tahu kebenarannya.


    "Iya ..., benar .... Ini undangan beasiswa .... Kamu dapat beasiswa kuliah di Perancis, Sayang ...." kata Yudi yang tentu langsung memeluk anaknya karena saking senangnya.

__ADS_1


    "Beanr, Pah ...?!" tanya Yuni lagi.


    "Benar, Sayang .... Ayo kita pulang, kasih tahu Mamah ...." kata Yudi yang langsung menggandeng anaknya, menyusuri jalan kecil dari belakang galeri menuju rumahnya di Taman Anggrek Nirwana.  Pasti dengan rasa senang dan gembira.


    "Mamah ...! Mamah ...!" Yuni berteriak memanggil ibunya.


    "Iya, Sayang .... Ada apa ...?!" Rini yang masih sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang anak-anaknya, langsung menyahut, meski masih tetap di dapur.


    Yuni langsung menemui ibunya yang masih masak. Lalu katanya, "Mah ..., Yuni dapat undangan beasiswa ke Perancis ...."


    "Hah ..., yang benar ...?!" Rini kaget mendengar kata-kata anaknya tersebut.


    "Benar, Mah .... Itu suratnya dibawa Papah ...." jawab Yuni yang langsung menunjuk ayahnya.


    "Syukurlah, Sayang .... Kalau begitu, ayo ..., Mamah di bantu .... Bawain ini ke meja makan. Kita bicara sambil makan siang sekalian." kata Rini yang tentu tersenyum lebar, tanda senang anaknya bisa sekolah.


    Yuni langsung membantu ibunya. Mengusung piring, sendok dan gelas ke meja makan. Tentu sambil tersenyum riang.


    Yayan yang masih sibuk di laboratorium, ketika melihat adiknya yang berada di dapur, ia langsung menghentikan pekerjaannya. Pasti heran, ada apa Yuni tumben ikut-ikutan membantu ibunya. Pasti ada sesuatu yang aneh. Maka Yayan langsung melepas jas praktikumnya, lantas keluar dari ruang laboratorium.


    "Kok tumben, si cantik masuk dapur membantu Mamah ...? Pasti ada sesuatu ...." kata Yayan yang tentu mencoba menyelidik adiknya.


    "Iya, Kak .... Pengin membantu Mamah, biar masaknya cepat selesai. Kasihan Mamah sudah tua masih sibuk masak terus buat kita ...." kilah si Yuni.


    "Ah, biasanya Mamah juga sibuk sendirian di dapur ...." sahut Yayan.


    "Masalahnya, Mamah kalau mau dibantu tidak mau ...." kata Yuni.


    "Sudah ..., tidak usah ribut .... Ini, sayurnya dibawa ke meja makan ...." kata Rini menyuruh Yuni.


    "Yayan ..., kamu panggil Silvy untuk makan siang ...." suruh Rini pada menantunya.


    "Iya, Mah .... Tapi ini kan belum jam dua belas, Mah ...." kata Yayan yang agak ragu.


    "Ndak apa-apa .... Nemani Papah yang mau bicara ...." sahut ibunya.


    "O, iya ..., Mah .... Ada masalah apa sih, Mah ...?" tanya Yayan lagi.


    "Nanti, biar Papah yang bicara sendiri ...." sahut ibunya yang tentu tidak ingin menjawab.


    Yayan pun bergegas menuju kebun anggrek, mencari istrinya yang tentu sibuk ngurusi anggrek-anggreknya bersama para pegawainya. Sekarang Taman Anggrek Nirwana sudah punya empat orang karyawan. Tentu karena jumlah tanaman anggrek Silvy dan Yayan itu sudah amat sangat terlalu banyak. Ya, menjadi petani anggrek kalau ditekuni dan sungguh-sungguh, pasti juga menghasilkan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan sebenarnya, Silvy mestinya harus sudah punya pegawai yang menangani administrasi secara khusus. Jadi, tidak harus Silvy yang mengelolan administrasi dan keuangan sendirian. Masalahnya sekarang juga banyak yang beli secara online.


    "Sayang ..., kita diajak makan siang sekarang ...." kata Yayan saat menemui istrinya di tengah kebun anggrek.


    "Lhoh, kok terburu ngajak makan siang ...?" kata Silvy.


    "Katanya Papah mau bicara ...." sahut Yayan.


    "O, Papah sudah di rumah, to ...?" tanya Silvy.


    "Iya ..., itu sudah di tempat makan." sahut Yayan.


    "Ya, oke .... Siap ...." Rini langsung bergegas meninggalkan kebun anggrek.

__ADS_1


    Di ruang makan, Yudi dan Rini sudah duduk bersanding, tentu menunggu anak-anaknya. Selanjutnya Yayan yang datang, lantas duduk berhadapan dengan ayahnya. Tentu ia ingin tahu apa yang akan disampaikan oleh ayahnya. Selanjutnya Yuni yang datang, dan langsung duduk di samping kanan ayahnya. Tentu sambil tersenyum riang.


    Silvy yang baru keluar dari kebun, langsung mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu. Selanjutnya, duduk di di sisi kanan Yayan.


    "Ada apa sih, Pah ...? Tumben makan siangnya terlalu awal ...?" tanya Silvy yang tentu ingin tahu.


    "Iya .... Ini lho, adikmu dapat surat, penawaran beasiswa untuk kuliah di École des Beaux-Arts dari Paris, Perancis. Salah satu pendidikan tinggi terbesar dan terkenal di Perancis." kata Yudi sambil menunjukkan suratnya.


    "Wao .... Keren ..., Yuni ...." kata Silvy yang tentu ikut gembira mendengar kabar adiknya akan mendapat beasiswa ke luar negeri.


    "Tapi ..., selama ini kan Yuni belum pernah sekolah formal, Pah? Apa bisa?" tanya Yayan.


    "Iya, ya .... Kan Yuni belum punya ijazah SMA, apa bisa kuliah?" Rini juga ikut ragu-ragu.


    "Mungkin nanti dimulai dari sekolah dasar dahulu ...." sahut Silvy mengira-ira.


    "Mungkin tidak masalah .... Di suratnya sudah dinyatakan kalau Yuni, nantinya masuk di perguruan tinggi seni di Paris tersebut melalui program RVA, atau yang biasa disebut Rekognisi, Validasi dan Akreditasi." kata Yudi.


    "Apa itu, Pah ...?" tanya Yayan yang memang sangat penasaran.


    "Sebenarnya program RVA itu dikembangkan oleh UNESCO. Sejak disahkannya Kerangka Aksi Belem, negara-negara anggota UNESCO mengembangkan mekanisme pengakuan pendidikan bagi masyarakat yang telah belajar melalui jalur pendidikan nonformal dan informal yang disebut dengan Rekognisi, Validasi dan Akreditasi atau RVA itu. Lhah, salah satu pengakuan RVA itu adalah dibuktikan dengan hasil karya. Adikmu, Yuni ..., hasil karyanya sudah terpajang di Louvre Museum .... Lukisan itu bisa jadi bukti bahwa Yuni punya keahlian dalam kompetensi melukis. Itu sudah biasa terjadi di negara maju, anak-anak yang punya bakat dan kecerdasan istimewa, mereka akan diberi kesempatan untuk belajar secara khusus. Itulah sebabnya, di negara maju sering kita lihat ada sarjana yang masih berusia sangat muda, bahkan boleh dikatakan masih anak-anak." kata Yudi menceritakan tentang sistempendidikan di beberapa negara yang mengikuti program rekognisi untuk anak-anak berbakat.


    "Oo ..., begitu ya, Pah .... Jadi tidak perlu sekolah SD atau lulus SMA lebih dahulu, ya ...." kata Rini yang tentu sangat senang dengan kabar itu.


    "Jadi seorang anak hanya diukur hasil karyanya, dia bisa ke jenjang sekolah yang tinggi ya, Pah .... Wah, enak sekali ...." sahut Yayan yang tentu juga bangga dengan prestasi adiknya.


    "Iya .... Kalau di negara-negara yang pendidikannya sudah maju, biasanya di akhir tahun, anak diminta menyelesaikan projeknya. Itulah karya siswa yang menjadi hasil penilaian. Tentu tidak semua anak punya kecerdasan atau bakat istimewa .... Kalau kemampuannya biasa-biasa saja, ya mereka sekolahnya biasa ...." jelas Yudi lagi.


    "Sekolahnya gak kayak di kita, ya Pah .... Masak anak cerdas seperti Yuni kok malah dikeluarkan dari sekolah, katanya anak berkebutuhan khusus .... Aneh itu gurunya ...." timpal Silvy yang tentu masih jengkel saat adiknya dikeluarkan dari sekolah.


    "Ya ..., dimaklumi .... Tidak semua guru itu paham dikdaktik maupun perkembangan anak. Mereka membuat keputusan tanpa dilakukan pengamatan dan penelitian. Tentu guru-guru yang begitu itu tidak mau ribet ..., tidak mau rekoso .... Itulah bedanya dengan negara maju. Waktu Papah di Perancis dulu, yang namanya guru itu bertanggung jawab pada muridnya hingga jam delapan malam. Jadi ..., guru di sana benar-benar pengabdian." jelas Yudi pada istri dan anak-anaknya.


    "Berarti ..., Yuni besok kuliah di Perancis?" tanya Silvy yang tentu senang, tetapi juga khawatir rumahnya bakal sepi.


    "Yuni ..., kamu mau kuliah di Perancis?" tanya Yayan pada Yuni.


    "Ya pasti mau lah ...." sahut Yuni yang tentu senang karena dirinya akan bisa bersekolah. bahkan kuliah di perguruan tinggi seni yang sangat terkenal di Perancis.


    "Aduh ..., Mamah besok kesepian, ini ...." sahut Rini yang tentu sudah merasa akan ditinggal oleh anaknya.


    "Itu ..., besok saat mau masuk ke École des Beaux-Arts, kemampuan melukis Yuni harus dites atau diuji lebih dahulu, memastikan kelayakan untuk diterima atau tidak. Ini lho, yang dihalaman ke dua, disebutkan yang diundang ada lebih dari seratus anak, tetapi nanti yang diterima hanya sepuluh anak, dari seluruh dunia. Jadi persaingannya sangat ketat." jelas Yudi lagi.


    "Oo .... Jadi belum tentu diterima ya, Pah ...." kata Yuni yang tentu juga mulai ragu-ragu.


    "Saya yakin, anak Papah Yudi pasti diterima." kata Yudi memberi motivasi kepada anaknya.


    "Semangat, Yun .... Tunjukkan kehebatanmu ...." kata Silvy yang juga ikut menyemangati adiknya.


    "Tunjukkan lukisan terbaik kamu, Yun .... Pasti kamu bisa ...." Yayan juga ikut menyemangati.


    "Iya, Kak .... Terima kasih dukungannya." kata Yuni pada kakak-kakaknya.


    "Kita berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kemudahan dan meloloskan cita-cita Yuni ...." Rini juga ikut mendukung putri kesayangannya.

__ADS_1


    "Terima kasih, Mah .... Saya akan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan mimpi .... Semoga keinginan saya untuk mendapatkan beasiswa itu dikabulkan oleh Tuhan." kata Yuni yang tentu penuh harap bisa sekolah.


    "Aamiiin ...." sahut ibu, ayah dan kakak-kakaknya.


__ADS_2