
Rini langsung turun dari mobil, setelah Yayan, menantunya menghentikan mobil yang ditumpangi, yang berhenti di pinggir jalan, karena tidak bisa masuk terhalang oleh mobil polisi. Di depan rumahnya ada dua mobil polisi yang parkir. Selain itu, para tetangga dan banyak orang lain yang pada berdiri di kanan kiri dan depan rumah Rini, seperti menyaksikan tontonan. Tentu Rini mulai was-was, ada apa sebenarnya yang terjadi.
Setelah turun dari mobil, Rini terburu berlari ke rumah. Mak Mun yang tahu majikannya datang, langsung berlari keluar menemui Rini, sambil menangis.
"Ada apa, Mak Mun ...?" tanya Rini yang tentu sangat khawatir.
"Ibu .... Bapak ..., Ibu ...." Mak Mun langsung menubruk majikannya, dan tangisnya semakin jadi.
"Iya ..., Bapak ada apa ...?!" tanya Rini lagi, sambil mengelus pundak pembantunya itu.
"Ibu Rini ...?" Seorang Polisi datang menghampiri Rini.
"Iya, Pak .... Ada apa, ya?" tanya Rini pada petugas Polisi yang menemuinya.
"Maaf, Ibu Rini .... Apa benar Pak Hamdan suami Ibu?" tanya petugas Kepolisian yang menemui Rini.
"Benar, Pak .... Ada apa dengan suami saya, Pak ...?!" Rini semakin khawatir.
Silvy dan Yayan yang baru masuk rumah, langsung nimbrung bersama ibunya. Dan tentu ingin tahu yang terjadi pada ayahnya.
"Papah saya kenapa, Pak?" tanya Silvy pada petugas polisi yang sedang bicara dengan ibunya.
"Saudara ini siapa? Apa hubungannya dengan Pak Hamdan?" tanya polisi yang sedang bicara dengan ibunya.
"Saya anaknya ..., dan ini suami saya." jawab Silvy yang menggandeng tangan suaminya.
"Bapak Hamdan sedang mengalami luka parah. Beliau sudah dirawat di rumah sakit ...." kata polisi itu.
"Papah saya kenapa? Ada apa? Di mana?! Kami mau ketemu .... Kami mau ke rumah sakit ...!" sahut Silvy yang ingin segera tahu kondisi ayahnya.
"Tenang .... Saya mohon Ibu, Saudara ..., tenang dahulu ...." sahut polisi itu.
Seorang polisi yang lain datang menghampiri, lantas berbisik ke polisi yang bicara dengan Rini. Lantas polisi itu menyampaikan sesuatu kepada beberapa petugas yang lain. Ada yang tukang foto, ada yang membawa kotak entah berisi apa.
"Maaf ..., Ibu, Mas dan Mbak .... Bisa ikut kami ...." kata polisi itu mengajak Rini bersama anak dan menantunya.
"Iya ...." tiga orang itu mengikuti para petugas polisi yang mengajaknya.
Rini bergandengan tangan dengan Silvy. Tangan Silvy yang satunya menggandeng tangan suaminya. Tiga orang itu berjalan beriringan.
Petugas Kepolisian mengajak tiga orang itu menuju kamar Rini. Rini dan anak-anaknya ditunjukkan kamar yang sudah acak-acakan.
"Ini kamar Ibu?" tanya polisi itu.
__ADS_1
"Benar, Pak .... Tapi kenapa bisa acak-acakan seperti ini? Ada apa ini?" tanya Rini.
"Apa saat Ibu meninggalkan kamar tidak seperti ini?" tanya polisi membalik pertanyaan Rini.
"Tidak. Saya selalu rapi. Saya selalu menata kamar sampai benar-benar rapi. Bahkan pembantu saya kalah rapinya dengan tatanan saya." kilah Rini.
"Ibu meninggalkan kamar ini kapan?" tanya polisi itu lagi.
"Kami berangkat ke Jogja hari Sabtu pagi. Kami menghadiri pesta pernikahan sahabat, yang acaranya mulai Sabtu sore hingga Minggu siang. Kami naik mobil. Menantu saya yang menyetir." jawab Rini.
"Kenapa Pak Hamdan tidak ikut ke tempat pernikahan?" tanya polisi itu lagi.
"Suami saya tidak mau diajak. Mulai dari terima undangan, suami saya sudah menolak untuk diajak kondangan. Dia memilih tinggal di rumah. Dia tidak mau ikut." jawab Rini.
"Ada apa dengan Papah saya, Pak?!" tanya Silvy yang sudah tidak sabar mengetahui keadaan ayahnya.
Rini dan Silvy ingin masuk ke kamar itu. Tetapi tim dari Kepolisian mencegah. Mereka tidak boleh masuk, hanya melihat dari luar. Rini dan anak-anaknya menyaksikan kamar yang acak-acakan, mawut tidak keruan. Mereka juga melihat ada bekas bercak darah yang membasahi lantai dan bantal yang tergeletak di lantai. Mereka juga melihat bekas darah yang menempel pada dinding. Rini juga melihat ada bercak darah yang menodai meja rias. Dan Rini terkejut, saat ia menatap gunting yang biasa ia gunakan untuk merapikan rambut, bahkan kadang-kadang untuk memotong benang pada pakaian, gunting itu sudah tergeletak di meja rias dengan bekas darah yang sudah mengering di gunting tersebut.
"Apa suami saya bunuh diri, Pak ...?!!" teriak Rini sambil memegangi bahu polisi yang mendanginya. Dan tentu, Rini sudah menangis.
"Tidak, Ibu .... Suami Ibu, ayah Saudara ..., mengalami percobaan pembunuhan. Mengalami luka dan pendarahan serius. Tetapi masih bisa diselamatkan. Sekarang Pak Hamdan sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit. Suami Ibu masih dalam pengawasan." tutur petugas Kepolisian tersebut.
"Saya mau ke rumah sakit .... Saya mau lihat suami saya .... Saya harus segera ke sana .... Hu ..., hu ..., hu ...." Rini langsung menangis sejadi-jadinya, dan meronta ingin segera tahu keadaan suaminya.
Demikian juga Silvy, yang sudah menangis dalam pelukan suaminya. Yayan hanya bisa pasrah. Tidak mampu melakukan apa-apa.
Tentu Rini tidak menjawab, karena dia masih menangis. Demikian juga Silvy, yang ikut menangis. Bagaimana mungkin orang yang baru datang, belum tahu kondisi suaminya, tidak tahu permasalahannya, tiba-tiba ditanyai hal yang belum jelas. Tidak mungkin akan terjawab dengan baik. Kurang cerdas menyelidikinya.
"Maaf, Pak ..... Kenapa Bapak tidak tanya kepada pembantu keluarga kami yang ada di rumah? Mestinya mereka lebih tahu daripada kami ...." tiba-tiba Yayan berkata, mengeluarkan pendapat, agar petugasnya bernalar.
"Yang punya rumah kan Ibu Anda .... Wajar kalau saya bertanya kepada Ibu Anda ...." sahut petugas itu.
"Maaf, Pak .... Jika Bapak saat ini berada di tempat ini, apakah Bapak tahu apa yang terjadi di rumah Bapak?" Yayan membalik logika.
Polisi itu diam, tidak menjawab.
"Mestinya, bapak-bapak memberikan kesempatan Ibu bersama kami terlebih dahulu untuk menengok Papah kami di rumah sakit, agar kami bisa menyaksikan kondisi Papah yang sebenarnya. Kami mohon, ijinkan kami lebih dahulu untuk ke rumah sakit, biarkan kami menengok Papah ...." kata Yayan yang sedikit protes.
Para polisi itu saling berbisik, mungkin berdiskusi untuk menentukan langkah. Setelah beberapa saat, akhirnya yang mungkin memimpin penanganan kasus Hamdan, menemui Rini lagi.
"Terima kasih masukannya. Kami akan mengajak Ibu bersama anak Ibu, untuk menjenguk suami Ibu di rumah sakit kami. Namun kami juga membawa serta dua orang pembantu rumah Ibu, bersama dengan Ibu dan keluarga yang lain, nanti langsung kami ajak ke Kantor Polisi, untuk memberikan keterangan lebih lanjut." kata petugas itu kepada Rini.
"Iya, Pak ...." sahut Rini yang pasrah.
__ADS_1
"Seorang petugas dari kami ikut di mobil Ibu, dua orang pembantu Ibu ikut bersama kami di mobil lain." kata petugas yang mengatur.
"Iya, Pak ...." lagi-lagi Rini menyahut.
Mobil polisi yang pertama berjalan. Sirene berbunyi. para tetangga Rini, langsung terbelalak mengamati mobil yang mulai melaju tersebut.
Yayan menjalankan mobilnya, mengikuti di bagian tengah. Sedangkan di belakang, mobil Yayan dibuntuti oleh mobil polisi yang lain, yang di dalamnya ada Mak Man dan Mang Udel. Tentu Mak Mun dan Mang Udel ketakutan di dalam mobil polisi diawasi terus oleh para petugas itu.
Meski dua mobil poilsi sudah meninggalkan rumah Rini, tetapi masih ada dua petugas yang ditinggal di rumah Rini. Tentu mereka masih mencari bukti-bukti di rumah Rini. Salah satu diantara mereka adalah tukang mengambil foto. Itu terlihat dari kamera foto yang dicangklong oleh petugas tersebut.
Tiga mobil yang beriringan tersebut, terus melaju secara leluasa melintasi jalan ibu kota. Tentu karena yang paling depan menyalakan sirene untuk membuka jalan. Maka dalam waktu sebentar, tiga mobil itu sudah sampai di rumah sakit tempat Hamdan dirawat.
Satu orang polisi turun dari mobil yang pertama. Yayan menghentikan mobilnya, persis mepet dengan mobil polisi yang ada di depannya. Lantas polisi yang tadi duduk di samping Yayan, langsung membuka pintu dan turun, serta meminta Rini dan Silvy juga ikut turun. Lantas dua orang polisi yang sudah turun itu mengajak Rini dan Silvy masuk ke rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya, Yayan bergegas mengejar istri dan mertuanya yang sudah masuk ke rumah sakit lebih dahulu. Tetapi saat menoleh ke mobil yang ada di belakangnya, tidak ada yang turun. Berarti Mak Mun dan Mang Udel tidak diijinkan turun. Yayan tidak mempedulikannya. Yang jelas ia ingin segera menyusul istri dan ibu mertuanya, untuk menjenguk ayah mertuanya.
Dan sesaat menyusul, Yayan melihat istri dan ibu mertuanya yang didampingi oleh dua orang polisi, berdiri di depan ruang ICU, hanya mengintip ke dalam dari kaca. Sesampai di tempat itu, Yayan pun ikut mengintip. Mereka tidak boleh masuk ke dalam ruangan intensif.
Di dalam ruang ICU, terlihat Hamdan yang tergeletak tanpa ada gerakan. Hanya selang infus, selang pernafasan, serta kabel-kabel elektrik yang menempel dari berbagai bagian tubuh Hamdan, yang kemudian memunculkan data di layar monitor, berupa grafik-grafik yang terus berjalan. Tentu Rini, Silvy dan Yayan, tidak bisa membaca artinya.
Rini menangis, berpelukan dengan Silvy yang juga menangis. Yayan memeluk istrinya. Walau tidak menangis, namun kesedihan Yayan tetap terlihat dari wajahnya.
"Ya ampun ..., Pah .... Nasib sial apa lagi ini, Pah ...?!" ucap Rini di sela isak tangisnya.
"Papah ..., mengapa Papah kok apes melulu ...?!" ucap Silvy, juga masih dalam isak tangis.
"Papah kami kenapa, Pak?" tanya Yayan pada petugas Kepolisian.
"Pak Hamdan ditusuk gunting pada bagian perutnya. Lukanya parah dan mengalami pendarahan yang cukup banyak. Ususnya terluka di beberapa bagian. Semoga bisa diselamatkan." kata petugas yang mendampingi mereka.
"Ya ampun ..., Pah .... Kok bisa seperti ini ...." Rini kembali mengeluh.
"Ya ampun ..., Pah .... Kok cari gara-gara terus ...." keluh Silvy.
"Siapa yang melakukan ini Pak?" tanya Yayan pada petugas.
"Pak Hamdan masih belum sadar. Kami belum bisa mengatakan. Keterangan Ibu Rini dan keluarga yang akan membantu kami untuk menemukan pelakunya. Oleh sebab itu, kami mohon Mas, Mbak dan Ibu untuk pro aktif membantu kami." kata polisi itu.
"Siap, Pak .... Kami siap membantu." kata Yayan yang tanpa ragu, langsung merespon.
"Terima kasih." sahut polisi itu sambil menepuk pundak Yayan.
"Bagaimana dengan pembantu kami?" tanya Rini.
__ADS_1
"Kami sudah memperoleh informasi dari mereka. Tapi pasti akan ada informasi lain. Oleh sebab itu, malam ini kami mohon keterangan yang bisa kami simpulkan. Agar pelakunya bisa cepat kami tangkap." kata polisi itu.
"Ya ampun ..., Pah ...." kembali mereka menyesali nasib Hamdan.