
Yuna masih penasaran dengan keindahan ombak yang selalu menghempas memukul tebing bukit. Setiap hari ia melihat dari puncak bukit, kerasnya hantaman gelombang, yang menimbulkan suara menggelegar silih berganti. Ada yang aneh di bawah sana. Meski terlihat indah, namun seakan ada misteri yang sulit untuk diungkapkan. Ada rahasia yang belum sanggup diurai oleh para ahli oceanografi. Misteri samudera biru dari Laut Selatan.
Yudi yang tahu tunangannya sedang berfikir tentang sesuatu, ia langsung mendekati Yuna yang berdiri mematung di pagar pinggir tebing, yang biasa digunakan berswafoto oleh para pelancong.
"Hai, Sayang .... What are you thinking now?" tanya Yudi yang tiba-tiba memeluk Yuna dari belakang.
Tentu Yuna terkejut saat tiba-tiba sudah dipeluk oleh Yudi.
"Ah, I'm surprised. You've surprised me, Yudi ...." kata Yuna yang terkejut.
"I'm sorry, my love. Ada apa kok terlihat seperti masih bingung?" sahut Yudi, sambil mengelus derai rambut Yuna yang diterpa angin laut.
"Yudi .... Saya merasa aneh setiap kali berada di tepi tebing ini." kata Yuna yang penasaran.
"Merasa aneh bagaimana?" tanya Yudi yang jadi ikut penasaran.
"Entahlah .... Tetapi seakan ada sesuatu di bawah sana." kata Yuna.
"Sayang ..., di bawah sana hanya ada ombak yang menghantam tebing pantai. Tentu suara-suara deburan ombak itu yang mungkin kamu dengar aneh." jelas Yudi.
"Tidak, Yudi. Ada sesuatu yang berbeda dari suara-suara ombak itu. Saya yakin, di bawah sana ada rahasia alam yang belum kita ketahui." kata Yuna yang masih yakin tentang keanehan di bawah bukit.
"Yuna ..., saya sudah bertahun-tahun di puncak bukit ini. Bahkan saya sering tidur sendirian di sini. Belum pernah aku rasakan hal yang aneh-aneh. Ratusan lukisanku yang aku gambar di sini, semua natural, tidak ada yang aneh." kata Yudi pada Yuna.
"Yudi ..., ini bukan yang pertama kali hatiku merasa seperti demikian. Ini sudah berkali-kali, setiap saya ke tempat ini, di pagar ini, di tebing ini, di atas pantai ini, hati saya selalu bergetar. Apakah itu hanya perasaan?" tanya Yuna.
"Yuna ..., coba dengar saya. Gemuruh ombak yang menderu, berlomba menuju pantai, dia tidak akan berhenti sepanjang masa. Terkadang indah dilihat, namun suatu saat akan menakutkan karena tingginya gelombang. Terkadang beralun lemah seperti penari, terkadang juga ganas seperti raksasa yang mengamuk. Semenjak alam tercipta, mereka sudah ditakdirkan seperti ini. Itulah kuasa alam. Kita tidak bisa mengaturnya. Hanya Sang Khalik yang sanggup menghentikannya. Di sini, kita hanya bisa menikmati keindahannya. Itulah sebabnya, saya melukis keindahan alam ini, untuk dinikmati oleh para pembeli lukisan-lukisan saya." jelas Yudi yang masih memeluk kekasihnya, tentu sambil menyaksikan indahnya gelombang Laut Selatan yang terus berlomba menuju pantai.
"Hhhhh ...." Yuna menghela nafas panjang. Untuk membuang penat yang ada dalam dadanya. puas dengan penjelasan Yudi. Hatinya masih gusar. Pikirannya masih diselimuti berbagai pertanyaan. Dan tentu, ia ingin tahu misteri yang ada di bawah sana.
__ADS_1
"Yudi ..., bisakah kita turun ke bawah bukit ini?" tanya Yuna.
"Untuk apa, Sayang ...? Terlalu berbahaya." jawab Yudi.
"Yudi ..., kamu tahu kalau saya itu orangnya selalu penasaran. Apalagi jika yang ingin saya ungkap itu ha-hal aneh. Itulah sebabnya, saya ingin mencari bukti, ada apa di bawah sana sehingga memberi suara anaeh kepada saya." kata Yuna yang tentu ingin tahu benar tentang sesuatu yang mengusik nuraninya.
"Baiklah, Sayang .... Demi cintaku padamu, mari kita coba untuk turun bersama." kata Yudi yang akhirnya pasrah dengan permintaan tunangannya.
"Yudi mau mengajak aku turun ke bawah bukit?" tanya Yuna yang sudah mulai tersenyum.
"Ya .... Terus terang saya sudah bertahun-tahun berada di sini, tetapi saya belum pernah menuruni bukit ini. Tetapi cinta, yach ..., demi cintaku padamu, saya siap mengajak dirimu menuruni bukit ini." kata Yudi sambil mencium kening Yuna.
"Terima kasih, Sayang ...." balas Yuna yang langsung mencium dua pipi Yudi.
Lantas Yudi menggandeng tangan Yuna, mengajak melangkah, akan menuruni bukit, menuju bawah tebing yang selalu dihantam oleh gelombang samudera.
Dua orang itu berjalan menuruni bukit, memutar melintas di sisi timur bukit, yang berupa lembah dengan rerimbunan hutan kayu keras. Tanaman pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi, dengan daun yang lebat, sehingga membuat dasar lembah itu tidak bisa diterobos cahaya matahari. Agak gelap. Melintasi lereng lembah tanpa ada bekas tapak kaki. Hanya rerumputan dan perdu yang menutup lahan, menghalangi langkah kaki. Tentu agak sulit untuk menyibak belukar penuh duri.
"Iya, pelan-pelan saja .... Jalannya agak licin." jawab Yuna.
"Awas ..., ada rumput duri ...!" teriak Yudi memberitahu Yuna.
"Aduh ...!" Yuna mengaduh, lengannya sudah terkena duri putri malu.
"Ih ..., Sayang .... Sakit, ya ...?" Yudi langsung mengelus lengan Yuna, mencabut beberapa duri yang menempel pada kulit halus mulus itu.Tentu, kulit Yuna yang terkena duri, langsung berdarah.
"Aduh ..., lenganku keluar darahnya ..., Yudi ...." desah Yuna yang kesakitan.
"Sabar, Sayang .... Sini, aku bersihkan dulu ...." Yudi menarik ke atas lengan Yuna, lantas menjilat lengan Yuna yang berdarah. Satu per satu, bekas tusukan diri itu dijilati oleh Yudi, dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iih ..., geli ah ...." desah Yuna yang merasa geli saat lengannya dijilati oleh Yudi.
"Biar cepat sembuh, Sayang ...." jawab Yudi yang masih menjilati luka pada lengan Yuna.
Yuna memejamkan mata. Ada kenikmatan dari jilatan yang dilakukan oleh Yudi. Ia pasrah. Lantas Yuna menjatuhkan kepalanya di pundak Yudi.
Yudi memeluk tubuh langsing yang sudah merebah ke bahunya. Ia menatap wajah ayu yang pasrah tersebut. Memandangi mata yang terpejam, memandangi bibir mungil indah bagai anggur merah yang minta untuk digigit. Perlahan Yudi menundukkan mukanya, mendekat ke wajah cantik yang putih halus seperti boneka itu. Lengannya yang memapah tubuh langsing dan seakan ringan itu, segera menarik ke atas. Lantas, bibir Yudi sudah bertemu dengan bibir Yuna.
Yuna tidak menolak. Yuna tidak melawan. Bahkan gadis Jepang yang cantik itu sudah ikut hanyut dalam perasaannya. Menikmati kemesraan cinta yang luar biasa.
Tanpa sadar, Yudi mulai meronta, ingin melakukan hal lain. Demikian juga Yuna, yang sudah didekap erat oleh laki-laki perkasa itu, membalas kelakuan Yudi. Tangan Yuna mulai bergerak tidak karuan. Dua insan berlainan jenis itu sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya. Membiarkan gerakan kekasihnya yang mulai saling meronta.
Dan saat mereka mulai bertingkah aneh, tiba-tiba kaki Yudi menginjak batu bulat sebesar kepala bayi. Yudi yang harus menopang tubuh kekasihnya, tidak sanggup mengendalikan tubuhnya, saat batu bulat yang diinjaknya berputar menggelinding. Yudi terpelanting, jatuh.
Reflek laki-laki perkasa itu langsung memeluk kekasihnya. Memeluk erat. Sehingga dua orang berlainan jenis itu jatuh bersamaan. Yudi berada di bawah, sambil mengamankan tubuh kekasihnya, meluncur di lereng bukit, mengikuti luncuran batu yang diinjaknya tadi. Terus meluncur dan meluncur.
"Tolooong ...!!" Yuna berteriak keras, berharap ada orang yang mendengar.
"Tidak ada orang yang mendengar, Sayang ...." sahut Yudi.
"Awas, Yudi ...!!" Yuna yang berada di atas tubuh Yudi hanya bisa berteriak, sambil memeluk erat leher kekasihnya.
"Pegangan yang kuat ...!! Pejamkan mata, tidak usah melihat ...!!" Yudi juga berteriak menyuruh Yuna mengamankan diri.
"Aku takut, Yudi ...!!" teriak Yuna lagi yang semakin ketakutan.
"Pegang erat tubuhku ...!!" Yudi berkali-kali memerintah Yuna untuk berpegangan.
Dua orang itu terus meluncur di lereng bukit, seperti luncuran tanah longsor dari atas bukit menuju bawah. Lereng yang cukup terjal dan tinggi. Kaki Yudi yang berusaha mengamankan tubuhnya, dan tentu juga tubuh kekasihnya, menendang berbagai benda yang ada di bawahnya. Tentu batu-batu yang tertendang, ikut meluncur bersama dirinya. Tangannya berusaha menggapai rerumputan yang dilalui, namun rumput-rumput itu ikut tercabut dan terbawa tubuhnya yang terus meluncur. Semua yang ditarik maupun yang tertendang kakinya, meluncur bersamaan, hingga menimbulkan suara bergemuruh. Hingga akhirnya, sampai di tebing tanpa tepi ..., dan ....
__ADS_1
"Byuuur ...!!"
Batu-batu yang berguguran, rumput dan semak yang tercabut, terjun bersama dua tubuh manusia itu, jatuh ke dalam samudera biru. Yuna yang memeluk erat kekasihnya, tenggelam bersama dalam pelukan Yudi.