KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 13: CERITA-CERITA YANG TIDAK TERUNGKAP


__ADS_3

    KASIH SAYANG seorang ibu pada anaknya, itu sangat tulus. Harapan ibu pada anaknya, hanya terucap lewat doa-doa. Semua pinta seorang ibu adalah kesuksesan anaknya, kebahagiaan anaknya. Seorang ibu tidak pernah mengucap hal-hal tabu untuk anaknya, tidak mau berkata yang jelek-jelek untuk anaknya. Tetapi selalu hal yang baik, yang bisa membuat anaknya berhasil dan hidup bahagia. Demikian juga Ibu Yudi, ia selalu mendoakan yang baik-baik untuk anaknya. Hanya Tuhanlah tambatan keluh kesahnya, demi anak yang ia sayang, yaitu Yudi. Tetapi jika Tuhan belum mengabulkan doa-doanya, ibunya Yudi tetap bersyukur, ia yakin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik dari apa yang dia minta. Ibu Yudi pasrah sama kekuasaan Tuhan, meski ia kasihan melihat anaknya yang belum menikah.


    Di meja makan, Rini masih duduk sendiri. Sambil menyaksikan polah tingkah anak-anak yang bermain, ia menikmati oseng-oseng bunga pepaya, yang dimasak oleh ibunya Yudi. Rasanya nikmat. Baru kali ini ia mencicipi masakan seperti itu.


    "Jangan melamun .... Nanti dipatuk ayam." tiba-tiba ibu tua itu memegang pundak Rini, ibunya Yudi.


    "Eh, Ibu .... Tidak kok, Bu ..., ini menikmati masakan Ibu." Rini yang terkagetkan langsung menjawab.


    "Itu oseng-oseng bunga pepaya." jawab Ibu Yudi.


    "Enak, Bu .... Saya habiskan ya, Bu." kata Rini, yang menunjukkan piring isi oseng-oseng.


    "Tidak apa-apa. Kalau mau, nanti ibu masakkan lagi." kata Ibu Yudi.


    "Sudah, Bu ..., sudah kenyang." sahut Rini.


    "Tidak apa-apa .... Ibu senang kok, ada Nak Rini di sini." kata Ibu Yudi.


    "Bapak ada di mana, Bu?" tanya Rini yang sejak datang belum melihat bapaknya Yudi.


    "Biasa, bapaknya Yudi itu, kalau datang kemari, langsung keliling. Paling-paling nunggui anak-anak pada menari di Panggung Teater." jawab Ibu Yudi.


    "Panggung Teater?" Rini bingung.


    "Iya, itu panggung yang dibangun untuk pentas anak-anak." jelas Ibu Yudi.


    "Ooo ...." Rini mengangguk-anggukkan kepalanya.


    "Bapaknya Yudi itu senang kalau nonton pentas-pentas kayak gitu. Makanya setiap kemari, seharian dia duduk di sana." jelas Ibu Yudi lagi.


    "Lah, kalau anak-anak ini, Bu?" tanya Rini sambil menunjuk anak-anak yang bermain.


    "Itulah Yudi. Saya sendiri bingung. Anak orang sekampung dia urusi semua. Ngurusi dirinya sendiri saja tidak sanggup, kok malah ngurusi orang lain." kesah Ibu Yudi.


    "Ooo ..., jadi mereka pada tinggal di sini?" tanya Rini lagi.


    "Tidak. Mereka hanya pada belajar. Nanti kalau sore, mereka pulang ke rumah masing-masing. Kalau saya dan bapaknya Yudi tidak kemari, rumah ini ya kosong. Ramainya kalau siang, anak-anak pada main di sini." jelas Ibu Yudi.


    "Waduh, Bu ..., rumah sebesar ini dibiarkan kosong?" tanya Rini.


    "Iya. Kalau Yudi ditanya, bangun rumah besar ini untuk siapa ..., Yudi-nya jawab, untuk permaisuri." kata Ibu Yudi.


    "Lah, permaisurinya ada di mana, Bu?" tanya Rini lagi.


    "Lah, ya belum ada, lah .... Orang disuruh nikah juga tidak pernah mau." kesah Ibu Yudi yang kesal.


    "Memang katanya kenapa, Bu, Yudi tidak mau nikah?" Rini mulai menelisik.


    "Tidak tahu. Bilangnya belum ketemu jodoh. Kalau dibilang, ya cari jodohmu to, Yud ..., dia jawab, jodohku sudah diambil orang. Ah, dasar anak bandel." jawab Ibu Yudi.


    Dada Rini bergetar, saat ibunya Yudi mengatakan "jodohku sudah diambil orang". Itu berarti yang dimaksud Yudi adalah dirinya yang sudah menikah dengan orang lain. Benarkah demikian?


    "Eeh ..., Ibu ..., Yudi pernah cerita apa tentang Rini?" Rini yang sudah berniat untuk mencari tahu cerita tentang Yudi dari ibunya, kini mencoba menanyakan itu.


    "Lah, itu ..., kalau saya tanya, Yudi kapan permaisurimu datang ngurusi istanamu? Dia bilang begini, nanti kalau ada wanita yang bernama Rini datang kemari, dialah yang akan mengurusi istanaku ini. Begitu katanya. Makanya, begitu saya ketemu Nak Rini, menyebut nama Rini, hatiku mak plong. Pasti kamu yang akan menjadi permaisuri di sini." kata Ibu Yudi.

__ADS_1


    "Hihihi .... Ibu, mungkin bukan Rini saya, ada Rini lain yang lebih pantas jadi permaisuri di sini. Saya kan sudah tua, Bu .... Sudah hampir lima puluh tahun. Tidak cantik, sudah keriput semua, tidak pantas jadi permaisuri." kata Rini, yang sebenarnya hatinya berdebar mendengar semua cerita itu. Ternyata Yudi sangat mengharapkan kehadirannya.


    "Nak Rini sudah punya anak?" tanya Ibu Yudi.


    "Sudah, Ibu ..., anak saya sudah menikah, tapi belum dikaruniai momongan." jawab Rini.


    "Ooo .... Kok masih cantik." sahut Ibu Yudi.


    "Ah, Ibu .... jadi malu saya." kata Rini yang tersipu. Tentu hati Rini jadi berbunga, merasa dipuji oleh calon mertua yang gagal.


    "Nak Rini, kalau mau istirahat di ruang yang sana, ya .... Itu bangunan untuk tamu." kata Ibu Yudi sambil menunjuk bangunan yang ada di seberang ruang makan.


    "Iya, Ibu. Terimakasih. Kalau Yudi tidurnya di bangunan yang mana, Bu?" tanya Rini mencoba menyelidik.


    "Itu, bangunan yang paling depan itu." jawab Ibu Yudi.


    "Terimakasih, Ibu. Silakan Ibu istirahat, saya masih pengin melihat-lihat keindahan di sini." kata Rini yang mempersilakan ibunya Yudi untuk istirahat.


    Walau sudah tua, ibunya Yudi masih sehat dan gesit. Masih terlihat cantik. Pantaslah, anaknya juga ganteng kok, itu kata hati Rini.


    Rini berkeliling, menyaksikan keindahan rumah Yudi. Menyaksikan taman dengan bunga-bunganya yang indah. Meskipun Rini punya rumah di Jakarta yang besar seperti istana, tetapi Rini merasakan kenyamanan dan kedamaian di rumah Yudi. Entah apa, ada sesuatu yang menarik di rumah ini. Rini benar-benar betah dan rasanya tidak ingin pulang. Apakah ini daya magnet cinta?


    Rini berhenti di gedung yang ditunjuk oleh ibunya Yudi, yang katanya sebagai tempat tidur Yudi. Rini berdiri di depan pintu. Tangannya mencoba menarik handel pintu. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Mata Rini menoleh ke arah dapur, menengok ke bangunan kamar di seberangnya, tidak ada orang. Pelan-pelan Rini membuka pintunya. Terbuka. Rini langsung masuk menyelinap dan menutup kembali pintu itu. Jantungnya berdegup kencang, takut ketahuan orang, nanti dikira pencuri.


    "Aman ...." begitu batinnya.


    Rini berdiri di dekat pintu. Matanya memandangi setiap jengkal kamar itu. Kamar seorang perjaka tua. Tetapi Rini sangat kagum, kamar itu tertata rapi dan bersih. Bahkan seprai tempat tidurnya, tidak ada yang kusut sedikitpun. Bantal dan gulingnya juga rapi. Betul-betul anak yang baik, pikir Rini.


    Lantas Rini melihat hiasan dinding. Ada banyak pigura yang terpajang. Ruangan agak gelap, sehingga Rini harus mendekat untuk mengamati secara seksama. Betapa kagetnya ia, saat menyaksikan gambar yang terpampang di pigura adalah lukisan tentang wajahnya saat masih SMA, ya gambar wajah Rini yang sedang tersenyum, terlihat cantik, sangat natural, bahkan lukisan itu seolah-olah hidup. Rini mencermati lukisan itu hingga detail. Ada tulisan di bagian bawah, "Ijinkan aku membuka pintu hatimu, Magelang '88," begitu tulisannya. Hati Rini berdebar. Perasaannya tidak karuan. Pikirannya diselimuti berbagai macam tanda tanya, mengapa Yudi melakukan ini? Mengapa Yudi memajang wajahku di kamarnya? Dia sudah melukis diriku sejak kelas 2 SMA. Apakah setelah aku mencium dia? Apakah memang cintanya kepadaku tidak mau tergantikan, sehingga dia tidak mau menikah? Tapi mengapa semua ini terlambat. Mengapa dulu tidak pernah tersampaikan? Semua itu berkecamuk dalam pikiran Rini.


    Rini melihat lukisan yang ke tiga. Tetapi lukisannya abstrak. Sulit untuk diamati. Maklum, Rini bukan pecinta seni, sehingga tidak paham dengan lukisan abstrak. Seperti halnya lukisan Affandi yang terkenal, Potret Diri dan Topeng-topeng Kehidupan, itu sulit untuk diterjemahkan oleh orang yang tidak paham karya seni. Rini menggeser-geser kepalanya, juga berpindah-pindah arah untuk mencermati lukisan itu. Setelah beberapa saat, Rini baru bisa melihat goresan-goresan, baru bisa menerjemahkan apa yang ada dalam lukisan itu. Ada dua wajah, laki-laki dan perempuan. Seperti lukisan pengantin. Apakah ini juga lukisan tentang diriku? Apakah ini masih ada sangkut pautnya dengan cintanya? Apakah Yudi sengaja membuat lukisan abstrak biar tidak ada yang bisa menyaksikan? Apakah ia ingin menutupi rahasia? Atau karena kejengkelan Yudi yang aku tinggal nikah? Begitu pikir Rini. Ia gelisah, jangan-jangan ini juga lukisan dirinya. Lantas Rini mencari tulisan di sudut lukisan. Tidak ditemukan tulisan. Rini mencoba menyingkap lukisan, untuk menengok bagian belakangnya. Ternyata betul dugaan Rini, ada tulisan dibelakang kanvas. Lantas Rini mengangkat lukisan itu, melepas dari paku yang menempel di dinding. Selanjutnya ia membaca tulisan yang terpampang di kanvas.


    "Hangatnya api unggun di malam sepi,


    Mengingatkanku pada hangatnya ciumanmu


    Sejuknya air di sungai nirwana,


    mengingatkanku pada manisnya senyumanmu


    Kau bilang mencintaiku,


    Kau bilang setia,


    Kau bilang sampai mati ....


    Mana kata-katamu itu?


    Semua ternyata palsu


    Kau sudah menipuku ...."


    Selesai membaca tulisan itu, jantung Rini berhenti berdetak. Ia pingsan.


    "Grobyak ...!!" lukisan besar itu jatuh menimpa tubuh Rini.

__ADS_1


    Suara itu terdengar di telinga ibunya Yudi. Ia mendengar ada sesuatu yang jatuh, langsung keluar dari kamar, ingin tahu apa yang terjadi.


    "Le, Nang ..., ada apa tadi yang jatuh?" tanya ibunya Yudi pada anak-anak yang belajar di gasebo belakang.


    "Tidak tahu, Mbah. Tadi suaranya dari sana." jawab anak laki-laki yang menunjuk asal suara itu, yaitu bangunan tempat tidur Yudi.


    "Coba dicari!" kata ibunya Yudi, yang juga berjalan menuju tempat tidur Yudi.


    "Nah, itu, Mbah. Ada yang jatuh!" jawab anak laki-laki yang membuka kamar Yudi dan melihat ada orang yang tergeletak di lantai bawah tempat tidur tertimpa lukisan.


    "Waduh, Nak Rini .... Piye iki jal?!" kata ibunya Yudi yang kebingungan, begitu melihat Rini pingsan di kamar anaknya.


    "Tak telpon mas Yudi ya, Mbah." kata anak laki-laki itu.


    "Iya, Le ..., cepat ya!" sahut ibunya Yudi.


    Lantas anak laki-laki itu mengangkat handphone-nya, menelpon Yudi.


    "Halo, Mas Yudi ..., ini ada yang pingsan di kamar Mas Yudi!" kata anak itu.


    "Hah, siapa?" tanya Yudi yang masih mengantar teman-temannya di Taman Awang-awang.


    "Anu ..., Mas Yudi bicara saja sama Simbah, dia yang tahu." lantas anak itu menyerahkan HP nya kepada ibunya Yudi.


    "Halo, Bu ..., gimana? Ada apa?" tanya Yudi.


    "Anu, Le, Yudi .... Ini, Nak Rini pingsan di kamarmu!" jawab ibunya.


    "Waduh ...! Ya sudah, Bu ..., saya segera pulang!" sahut Yudi yang langsung mematikan HP nya.


    "Sudah, Le .... Mas Yudi sudah mau pulang. Sana kamu belajar lagi, biar simbah yang nunggui." kata ibunya Yudi pada anak laki-laki tadi.


    "Ya, Mbah." jawab anak itu yang langsung berlari ke teman-temannya lagi.


*******


    "Rini ..., Rini .... Mengapa juga kamu masuk ke kamarku?" kata Yudi yang sudah mengangkat tubuh Rini dan membaringkan di atas tempat tidurnya.


    "Kamu nakal ...." sahut Rini sambil mencubit hidung Yudi.


    "Yang nakal itu kamu, masuk ke kamar orang sembarangan!" balas Yudi.


    "Mmm ...." Rini memanja, dua tangannya menjulur ke Yudi, minta diangkat.


    "Istirahat dulu .... Biar tenaganya pulih." kata Yudi yang membiarkan tangan Rini.


    "Aku mau tidur di sini terus ...." kembali Rini memanja. Kedua tangan yang tadi diangkat, sudah melingkar di leher Yudi.


    "Dasar, wanita manja." kata Yudi sambil melepaskan tangan Rini.


    "Jangan dilepas .... Gendong ...." kata Rini sambil menarik kepala Yudi.


    Rini masih saja memanja, bahkan kini tangan halus wanita itu sudah menarik leher Yudi. Tentu Yudi terjatuh. Beruntung tidak menimpa tubuh Rini.


    "Yudi ..., aku sudah tahu rahasia-rahasiamu. Aku tahu cerita-cerita kamu yang tersembunyi." kata Rini yang tersenyum lebar, lantas mencium kedua pipi Yudi.

__ADS_1


__ADS_2