
Mas Jo sudah keluar dari pintu gerbang tol Boyolali. Selanjutnya menlintas di jalan alternatif Boyolali - Klaten - Jogja. Tentu pemandangan yang beda bagi Hamdan dan Rini, ketika melintasi jalan provinsi antara Boyolali - Klaten. Suasana jalan yang berbeda dengan Jakarta yang selalu ramai dan padat. Apalagi di daerah Boyolali, begitu keluar dari jalan tol, mereka bisa menyaksikan penjual hasil bumi yang menjajakan dagangannya di depan rumah. Ada pepaya yang besar-besar dan kuning ranum menggiurkan. Ada juga yang menjajakan labu kuning dengan berbagai jenis dan ukuran. Hamdan langsung terngungun saat melihat labu atau waluh yang sangat besar ukurannya, melebihi besarnya dandang.
"Mah, lihat Mah .... Ada labu besarnya gak karuan ..., besar sekali, Mah." kata Hamdan menunjukkan kepada istrinya.
"Ya ampun, Pah .... Itu bisa dimakan untuk orang sekampung, Pah." sahut Rini.
"Mas Jo, pelan-pelan saja nyopirnya, sambil lihat-lihat." Hamdan meminta pada Mas Jo.
"Ya, Pak ...." jawab Mas Jo yang langsung memperlambat laju kendaraannya.
"Pepayanya juga besar-besar, Pah ...." kata Rini sambil menunjuk pepaya yang banyak dijajakan di pinggir jalan.
"Nanti kita beli, Mah." kata Hamdan.
"Besok pas pulangnya saja, Pak. Biar tidak kelamaan." Kata Mas Jo yang menimpali majikannya.
"O, iya .... Besok pulangnya kita mampir beli." sahut Hamdan.
"Iya, Pah ..., sekalian untuk oleh-oleh." kata Rini.
"Okey, Mas Jo ..., kita ke Jogja dulu." kata Hamdan pada Mas Jo.
"Ya, Pak." jawab Mas Jo yang langsung kembali mempercepat nyetirnya.
Sebentar saja Mas Jo sudah melintasi jalanan yang mulai ramai dengan truk pengangkut pasir. Ya, tentu pasir dari Gunung Merapi yang bagus untuk bahan bangunan. Setiap hari ratusan bahkan ribuan truk melintas, mengangkut pasir dan dijual ke berbagai daerah.
"Pah, saya lapar." kata Rini pada suaminya.
"Ya, sabar sebentar, Mah. Mas Jo, sambil cari warung makan ya ...." kata Hamdan.
"Baik, Pak. Kalau sop ayam pecok, bagaimana, Pak?" tanya Mas Jo.
"Ya ..., ya .... Biar segar." Rini langsung menyaut.
"Ya, Mas Jo .... Sekalian mencoba rasa sop ayam pecok yang terkenal di Klaten." kata Hamdan.
Mas Jo memperlambat laju kendaraannya. Di tengah persawahan, terlihat ada sederetan warung, semacam pujasera. Mas Jo langsung membelokkan mobilnya ke kanan, masuk ke area parkir. Pujasera kampung yang lumayan bagus. Cukup luas serta ada berbagai pilihan jenis makanan. Seperti yang dipinta Rini, serta yang diingini Hamdan, mereka bertiga masuk di warung sop ayam pecok Klaten.
"Monggo, Pak, Bu .... Pinarak." sambut wanita penjual.
Hamdan dan Rini mungkin tidak tahu arti kata-kata si penjual, tapi dikira-kira paling suruh duduk dulu. Maka mereka terus duduk. Hamdan dan Rini duduk di satu meja, saling berhadapan. Sedangkan Mas Jo duduk di meja yang lain. Sudah biasa, menghormati tuannya.
"Bade ngersaaken dahar menopo, njih?" tanya si penjual.
"E ..., e ..., maaf, artinya apa, Bu?" tanya Hamdan.
"Eh, maaf .... Mau makan apa? Walah Piyayi Jakarta kok tak tanyai pakai bahasa Jawa kromo. Maaf, ya, Den ...." kata si penjual.
"Oo .... Saya makan sop ayam pecok, Bu." kata Hamdan.
"Pakai paha apa dada?" tanya si penjual.
"Paha, pilihkan yang besar, ya, Bu." sahut Hamdan.
"Saya dada." sahut Rini.
"Mas Jo, apa?" tanya Hamdan pada sopirnya.
"Paha, Bu. Minumnya es teh." jawab Mas Jo.
"Saya minum teh hangat tanpa gula." pesan Hamdan
"Saya jeruk hangat, ya, Bu." kata Rini.
Dengan cekatan sang juru masak langsung menyiapkan pesanan pembelinya. Dalam waktu sekejap hidangan sop ayam pecok khas Klaten sudah tersaji. Nasi tiga piring, sop tiga mangkuk, teh, es teh dan jeruk hangat.
Hamdan menikmati enaknya sop ayam pecok. Demikian juga Rini. Mas Jo menghabiskan nasi satu piring dan semangkuk sop ayam pecok hanya dalam waktu sekejap.
"Nambah, Mas Jo." kata Hamdan yang melihat Mas Jo sudah selesai.
"Sudah, Pak. Sudah kenyang." jawab Mas Jo.
"Enak ya, Pah .... Segar dan nikmat." kata Rini.
Mereka pun menghabiskan makanan tanpa sisa. Terasa nikmat, makan dengan suasana persawaan dan pemandangan Gunung Merapi.
"Sudah, Bu .... Berapa habisnya?" tanya Hamdan.
"Lima puluh dua ribu." kata si penjual.
__ADS_1
"Haah .... Murah banget?!" Rini yang membayar jadi keheranan murahnya.
Di Klaten makan bertiga habis lima puluh ribu itu sudah istimewa. Bayangkan kalau di Jakarta, habis berapa itu tadi.
Mas Jo langsung menancap gas menuju Jogja. Perut sudah kenyang, tentu sudah nyaman. Nyopir pun jadi tenang.
"Ke Bantul arah Pantai Parangtritis, Mas Jo." kata Rini memberi arah jalan.
"Ya, Bu ...." jawab Mas Jo yang langsung mengarahkan mobilnya melintas di jalur lingkar selatan Jogja. Melaju menuju Jalan Paris. Jalan Parangtritis, bagi masyarakat Bantul biasa disingkat Jalan Paris.
"Setelah jembatan, pelan-pelan. Nanti belok ke kiri." kata Rini yang memandu sopirnya.
"Ya, Bu." jawab Mas Jo.
"Nah, itu, pelan saja, terus masuk ke lapangan dulu. Itu di tempat parkiran." kata Rini lagi.
Mas Jo membelokkan mobilnya, masuk ke lapangan parkir. Di lapangan terparkir beberapa mobil pribadi, ada satu bus besar dan satu bus kecil. Pasti itu milik para wisatawan.
"Wao, banyak sekali VW kuno di sini. Keren. Rumah Yudi di sini, Mah?" tanya Hamdan pada istrinya.
"Sebentar, Pah, kita tanya dulu. Aku agak lupa rumahnya Yudi." jawab Rini.
Lantas Rini dan Hamdan turun dari mobil. Salah seorang sopir VW wisata menghampiri.
"Mau keliling Kampung Nirwana, Pak, Bu?" tanya orang itu.
"Maaf, Mas, Apakah kenal sama Yudi ..., Pak Yudi? Saya temannya." kata Rini menanyakan.
"Oo ..., Ibu dan Bapak ini teman Pak Yudi?" tanya orang itu.
"Eh, iya, saya ingat Ibu ini temannya Mas Yudi, yang tempo hari saya antar." kata sopir VW lain yang ingat dengan Rini waktu mengantar ke rumah Yudi.
"Eh, iya, Mas. Masih ingat dengan saya, ya?" tanya Rini.
"Ingat, Bu .... Ada yang bisa kami bantu?" tanya orang itu.
"Begini, Mas ..., kami ini kemari mau ketemu Mas Yudi, tapi lupa rumahnya." kata Rini.
"Oo ..., nanti saya antar, Bu, Pak. Tapi kelihatannya Mas Yudi ke Jakarta belum pulang." kata sang sopir VW wisata.
"Sejak kapan ke Jakarta?" tanya Hamdan.
"Sudah hampir satu mingguan, Pak. Katanya mau ngurus proyek." kata sopir VW wisata itu lagi.
"O, ya, Bu. Siap. Sebentar, Pak, Bu ...." kata sang sopir VW itu lantas mengambil sepeda motor yang terparkir di lapangan, lantas menyetarter motor tersebut, untuk menunjukkan arah jalan ke rumah Yudi.
"Mari, Pak, Bu .... Ngikuti motor saya." kata orang itu.
Mas Jo langsung mengikuti laju motor yang ada di depannya. Tidak melintas di depan rumah Yudi, tetapi membelok ke kiri, memutar lewat pintu belakang.
"Ini rumahnya, Bu, Pak ..., sudah sampai." kata orang tadi yang langsung memutar motornya dan kembali ke lapangan parkir.
"Terimakasih, Mas ...!" teriak Rini berterimakasih.
Tahu ada suara kendaraan berhenti, dua anak perempuan keluar menengok, ingin tahu siapa yang datang.
Rini turun dari mobil. Demikian juga Hamdan.
"Oo ..., Ibu yang temannya Mas Yudi kemarin dulu itu, ya?" tanya anak yang membuka pintu.
"Iya .... Masih ingat saya, ya?" tanya Rini sambil mengelus pipi dua anak itu.
"Hehe ..., ingat, Bu." jawab kedua anak itu.
"Boleh saya masuk?" tanya Rini.
"Boleh, Bu. Mari silakan ...." kata dua anak perempuan itu yang langsung mendorong pintu pagar.
Rini dan Hamdan langsung masuk. Di garasi ada Avanza, mobilnya Yudi, dan mobil Espass yang katanya dipakai Bagas untuk operasional kampung. Dari garasi langsung ke ruang gasebo belakang, banyak anak yang belajar di situ.
"Mah, ini rumahnya Yudi, teman Mamah itu?" bisik Hamdan pada Rini.
"Iya, Pah. Rumah-rumah di kampung ini arsiteknya Yudi semua." sahut Rini.
"Silakan duduk dulu. Bapak dan Ibu mau minum apa?" tanya salah satu anak perempuan yang tadi membuka pintu.
"Tidak usah repot-repot, Nak Cantik .... Air putih saja, ya." jawab Rini.
Lantas Rini dan Hamdan duduk di kursi dekat dengan anak-anak yang sedang belajar di rumah Yudi.
__ADS_1
"Mah, mereka ini siapa?" tanya Hamdan berbisik pada istrinya.
"Anak asuhnya Yudi. Termasuk sopir-sopir mobil wisata itu tadi, semua binaan Yudi, Pah." kata Rini.
"Ini minumnya, silakan diminum, Bapak, Ibu." kata anak perempuan tadi.
"Terimakasih, Cantik. Eh, ibu mau tanya, Mas Yudi ada di rumah tidak?" tanya Rini pada anak yang menyuguhkan minuman.
"Mas Yudi ke Jakarta, belum pulang." jawab anak itu.
Hati Rini bergemuruh. Rasa khawatir itu muncul lagi. Takut terjadi apa-apa pada Yudi. Tapi ia tetap menahan rasa yang bergejolak itu, agar suaminya yang sudah mengantar tidak kecewa.
"Mah, aku penasaran dengan kampung ini. Juga penasaran dengan proyek yang ditawarkan teman Mamah itu." kata Hamdan pada Rini.
"Mumpung sampai di sini, Papah keliling, biar gak nyesal. Orang lain saja pada berdatangan kemari pengin piknik, masak Papah yang sudah sampai sini tidak pengin lihat-lihat. Nanti Papah bisa belanja aneka kerajinan sama kain-kain batik. Papah mau keliling wisata?" kata Rini.
"Iya, Mah .... Penasaran." jawab Hamdan.
Sebenarnya rasa penasaran Hamdan sudah bergejolak dari tadi saat masuk lapangan. Apalagi saat melintas di perkampungan menuju rumah Yudi, yang menyaksikan indahnya bangunan-bangunan rumah warga. Apalagi setelah masuk rumah Yudi. Diam-diam Hamdan memuji kehebatan orang yang pernah presentasi di depannya. Pantas paparannya bagus. Ternyata Yudi tidak berbohong.
"Sebentar ya, Pah." kata Rini, "Cantik ..., sini sebentar sayang ...." Rini memanggil anak perempuan tadi.
Dua anak sekaligus datang menghampiri Rini.
"Iya, Ibu ..., ada apa, ya?" tanya salah satu dari anak itu.
"Punya nomor teleponnya Mas Bagas, tidak?" tanya Rini.
"Yang punya HP Mas Dito, itu. Mungkin ada." jawab anak itu, yang langsung memanggil temannya, "Dito .... Sini!"
Anak laki-laki yang dipanggil Dito itupun datang, "Ya, ada apa?" tanya Dito.
"Mau minta tolong, punya nomor WA Mas Bagas?" tanya Rini pada anak laki-laki itu.
"Punya. Sebentar saya panggilkan, Bu." jawab anak yang bernama Dito.
Lantas anak laki-laki itu membuka HP dan memanggil Mas Bagas. Tentu anak-anak yang belajar di rumah Yudi ini sudah diajari cara-cara berkomunikasi, dan tentu jika ada tamu atau siapa saja yang butuh sesuatu, anak-anak juga sudah diajari cara menyelesaikannya. Yudi mengajarkan ini dengan istilah "Manajemen Konflik". Termasuk ketika ada tamu yang mencari Mas Yudi, ingin ketemu Mas Bagas, anak-anak sudah siap untuk meladeni tamunya.
Dalam waktu sekejap, Mas Bagas yang dihubungi Dito, langsung sampai di rumah Yudi.
"Oo ..., Ibu Rini .... Bersama Bapak, Ya?" tanya Bagas.
"Iya, Mas Bagas. Sebenarnya mau ketemu Mas Yudi, tapi kok tidak ada?" kata Rini.
"Mas Yudi ke Jakarta, Bu .... Katanya mau mengurus proyek, begitu." jawab Bagas.
"Iya, tapi kok saya telepon tidak bisa, ya? Apa Mas Bagas bisa menghubungi Mas Yudi?" tanya Rini lagi.
"Kami tidak berani telepon, Bu. Mas Yudi selalu pesan kepada kami, untuk tidak menghubungi jika tidak penting. Anak-anak di sini semua begitu, Bu .... Tidak mau mengganggu privasi Mas Yudi. Takut dimarahi." jawab Bagas.
"Memangnya Mas Yudi suka marah?" tanya Rini yang penasaran.
"Ya, enggak, sih. Tapi kaminya yang takut." jawab Bagas.
"Ooo .... Ya, sudah kalau begitu. Boleh kami minta tolong, Mas Bagas? Ini Bapak mau lihat rancangan Taman Awang-awang, sekalian diajak keliling Kampung Nirwana. Hehe ...." pinta Rini.
"Bisa, Bu .... Tapi pakai mobilnya Mas Yudi, gak enak kalau pakai mobil Bapak pakai plat B, nyalahi aturan paguyuban di sini. Hehe ...." kata Bagas.
"Ooo .... Gitu, ya. Jadi kalau orang luar keliling wisata di sini harus parkir di lapangan tadi, ya? Ya oke, tidak apa-apa." kata Hamdan yang tersenyum, tahu paguyuban yang bagus di kampung wisata. Ia ingat dengan paparan Yudi tempo hari yang mengatakan wisata kerakyatan. Ini rupanya.
"Baik, Pak. Sebentar, saya keluarkan mobil dulu, nanti mobil Bapak di parkir saja ke garasi." kata Bagas.
"Saya tidak ikut, Pah. Saya mau istirahat dulu di sini, sambil cari info." kata Rini.
"O, ya, nanti Ibu dan Bapak menginap di sini, kan? Kamarnya tamu yang di situ. Ibu bisa istirahat di situ dulu." kata Bagas yang menunjukkan kamar.
Setelah Bagas mengeluarkan mobil ke jalan, dan Mas Jo memasukkan mobil Hamdan ke garasi, mereka bersiap berangkat. Tentu Bagas dengan suka rela akan mengantarkan tamunya.
"Mas Jo ikut sekalian. Sekali-sekali piknik, refresing." kata Hamdan.
Tiga orang berangkat untuk keliling kampung. Terutama menuju Taman Awang-awang yang digagas oleh Yudi.
*******
Sepeninggal suaminya bersama Mas Jo dan Bagas, Rini langsung menuju bangunan peristirahatan. Meski sudah ditunjukkan oleh Bagas, bangunan kamar tempat tidur tamu, dan tentu Rini juga sudah tahu kamar yang diperuntukkan tamu, tapi Rini tidak masuk ke ruang tempat tidur tamu itu. Ia melangkah menuju bangunan ujung depan. Mana lagi kalau bukan bangunan utama milik Yudi, dimana Rini pernah tidur dua malam di ruangan itu.
Perlahan Rini melangkah, setelah sampai di depan pintu. Lantas tangannya menarik handel pintu, dan ternyata seperti yang dulu. Pintu itu tidak dikunci. Rini menekan handel dengan hati-hati. Begitu terbuka, Rini langsung masuk menyelinap. Lantas segera ia menutup kembali pintu itu, agar-anak-anak tidak ada yang tahu.
Berdiri di balik pintu, Rini langsung mengamati kamar Yudi. Masih utuh. Tidak ada yang berubah. Lantas ia melihat tempat tidur. Rini tersenyum .... Di tempat tidur itu, dua malam Rini dan Yudi saling bercerita, berkhayal, dan tentu mengungkap janji-janji. Rini pun melangkahkan kakinya, mendekati tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya sambil mengenang kembali indahnya dua malam bersama orang yang dicintai.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ....
"Ya ampun, Yudi ...!!" Rini menjerit.