KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 240: BERSIAP KE PERANCIS


__ADS_3

    Yudi senang saat semua anggota keluarga mendukung Yuni untuk menerima beasiswa kuliah di Beaux-Arts de Paris di Perancis. Pasti Yuni juga bersemangat untuk mengikuti seleksi beasiswa di Perancis tersebut. Namin pastinya banyak yang harus disiapkan dalam mengikuti studi di perguruan tinggi seni yang paling baik di Perancis tersebut.


    "Pah, Yuni kan cuma bisa bahasa Inggris, belum bisa bahasa Perancis .... Bagaimana di sana nanti?" tanya Rini pada suaminya.


    "Masih ada waktu satu bulan. Sembari kita ngurus semua persiapannya, Yuni harus kita kursuskan bahasa Perancis, Mah ...." jawab Yudi yang tentu ingin anaknya bisa berkomunikasi dengan mudah di kampusnya nanti.


    "Yuni ...!" Rini langsung memanggil anaknya.


    "Iya, Mah ...." sahut Yuni yang langsung menemui ibunya yang masih duduk bersama ayahnya di sofa keluarga, dekat teras yang bawahnya ada kolam ikan terapi.


    "Sini, Papah mau bicara ...." kata Rini.


    "Ada apa, Pah ...?" tanya Yuni yang sudah duduk di samping ayahnya.


    "Begini, Sayang .... Yuni kan mau kuliah di Perancis .... Padahal Yuni belum bisa bahasa Perancis .... Bagaimana kalau sisa waktu yang masih ada ini, Yuni ikut kursus bahasa Perancis? Biar nanti kamunikasimu di Perancis lebih gampang. Terus terang, Yuni ..., orang-orang Perancis itu jarang yang pakai bahasa Inggris. Mereka banyak yang tidak mau memakai bahasa Inggris. Papah khawatir nanti di kampus, Yuni ada kendala ngomong sama orang Perancis asli." kata Yudi menasehati anaknya.


    "Memang kenapa, Pah ...?" tanya Rini yang ingin tahu alasan orang Perancis tidak mau menggunakan bahasa Inggris.


    "Perancis dahulu pernah dikalahkan Inggris .... Makanya sampai sekarang banyak yang antipati tidak mau menggunakan bahasa Inggris." jawab Yudi.


    "Lha, waktu Papah ke Perancis, ngomongnya bagaimana?" tanya Rini yang mencoba ingin tahu.


    "Ya .... Pokoknya bilang bonjour, bon après-midi monsieur, bonjour maman .... Itu untuk mengucap salam saat Papah dulu di sana. Bisa memahami maksudnya, tetapi saya kesulitan untuk bicara. Makanya, Yuni jangan sampai tidak mudeng saat diajak bicara orang sana ...." kata Yudimengenang kisahnya saat di Perancis.


    "Iya, Pah .... Tadi saya juga kepikiran begitu, mau kursus bahasa Perancis. Ee ..., Papah sudah bilang duluan." sahut Yuni yang tentu senang juga disuruh kursus bahasa Perancis.


    "Tapi tempat kursusnya di mana, Pah?" tanya Rini.


    "Coba Yuni ..., kamu cari les privat bahasa Perancis di internet. Kalau ada yang gurunya mau datang ke rumah." kata Yudi pada anaknya.


    "Iya, Pah ...." sahut Yuni, yang tentu langsung browsing di HP.


    "Papah besok yang ngantar Yuni ke Perancis, kan ...?" tanya Rini, yang tentu khawatir kalau Yuni berangkat sendirian. Maklum, Yuni memang jarang pergi ke luar daerah, bahkan hampir tidak pernah bepergian sendiri.


    "Iya .... Mamah ikut sekalian, ya .... Sambil piknik ke Paris." kata Yudi mengajak istrinya.


    "Mau, Pah ...." sahut Rini cepat. Pasti senang diajak jalan-jalan ke Paris, walau sambil mengantar anaknya yang akan mendaftar kuliah.


    "Asyik .... Mamah ikut juga .... Makasih ya, Mah ...." kata Yuni yang tentu senang akan didampingi ayah dan ibunya saat berada di Perancis besok.


    "Yah ..., kalau begitu, besok kita ngurus paspor bersama." kata Yudi, yang tentu harus mengurus paspor istri dan anaknya.


    "Paspor Papah masih berlaku?" tanya Rini.


    "Hanya perpanjangan saja." sahut Yudi.


    "Gimana, Yun? sudah dapat belum guru les Perancis?" tanya ibunya pada Yuni.


    "Ada, Mah .... Siap datang ke rumah." sahut Yuni yang sudah menemukan.


    "Coba ditelepon .... Besok langsung suruh kemari. Kita ikut kursus semua, biar di Perancis nanti gak seperti munyuk ditulup ...." kata Yudi.


    "Munyuk ditulup ...? Apa itu, Pah?" tanya Yuni yang bingung.


    "Noleh kanan noleh kiri, tidak tahu apa-apa .... Habis gak mudeng sama yang diomongkan orang-orang di sekelilingnya ...." jelas Yudi yang mengibaratkan orang tidak tahu apa apa sama seperti munyuk ditulup atau kera di lempar kerikil.


    Yuni langsung menghubungi guru les privat bahasa Perancis yang memasang iklan tersebut. Tentu langsung direspon oleh guru les. Dan pasti terjadi kesepakatan. Setiap siang hingga sore, guru les tersebut siap memberikan kursus privat kepada Yuni, yang juga diikuti oleh ayah dan ibunya.

__ADS_1


    Rini mulai sibuk menata pakaian yang akan dibawa ke Perancis. Dua koper besar disiapkan. Yang satu koper, khusus untuk pakaian-pakaian Yuni. Jika besok langsung diterima menjadi mahasiswa di Beaux-Arts de Paris di Perancis, maka kemungkinan besar Yuni langsung kuliah di perguruan tinggi seni terbesar di Perancis tersebut. Maka ibunya sudah menyiapkan pakaian cukup banyak. Sedangkan koper yang satu lagi, untuk mengemas pakaian Rini dan Yudi. Pastinya sekitar seminggu mereka akan menemani anaknya yang ikut seleksi beasiswa itu.


    Demikian juga dengan pengurusan paspor. Sekarang zamannya online. Pendafttaran pembuatan paspor pun juga sudah menggunakan aplikasi. Maka Yudi juga melakukan pendaftaran secara online agar bisa cepat. Lantas Yudi mengumpulkan berkas persyaratan. Terutama untuk Yuni. Karena nantinya paspor Yuni adalah tugas belajar. Paspornya berbeda dengan kunjungan wisata. Maka dibutuhkan surat-surat terkait perjalanan dinas. Apalagi Yuni masih berusia sembilan tahun, belum punya KTP. Tentunya akan butuh beberapa hari untuk menyelesaikan pengurusan paspor tersebut. Setelah berkas terkumpul, Yudi mengajak anak dan istrinya ke Kantor Imigrasi, untuk foto paspor.


    "Pak Yudi pekerjaannya apa?" tanya petugas kantor imigrasi yang mengecek persyaratan pengajuan paspor Yudi.


    "Ee ..., saya seniman, Pak ...." jawab Yudi yang berdiri dibalik dinding kaca penyekat petugas dengan pendaftar tersebut.


    Lantas petugas itu memasukkan data pribadi Yudi ke dalam komputer. Tentu itu sebagai data utama dalam identitas paspor.


    "Mau pergi ke mana, Pak Yudi ...?" tanya petugas itu lagi.


    "Mengantar anak mau mendaftar sekolah di Perancis." jawab Yudi.


    "Oke .... Silakan duduk di kursi tunggu itu, Pak .... Nanti tunggu dipanggil untuk foto." kata petugas itu yang menyuruh Yudi untuk menunggu foto.


    "Ibu Rini ...." petugas itu memanggil Rini.


    "Iya, saya, Mas ...." jawab Rini yang sudah berdiri di depan petugas.


    "Ibu istrinya Pak Yudi ...?" tanya petugas itu.


    "Betul, Mas ...." sahut Rini.


    "Ikut mengantar putrinya daftar sekolah?" tanya petugas itu.


    "Bettul, Mas ...." jawab Rini.


    "Kok, sekolahnya jauh-jauh ke Perancis, Bu ...?" tanya petugas itu yang tentu merasa hebat ibu itu mampu menyekolahkan anak ke luar negeri.


    "Anak saya dapat beasiswa di Perancis, Mas ...." jawab Rini sambil tersenyum.


    Rini langsung menepi, tapi masih di depan petugas itu, tentu untuk menunggui anaknya.


    "Nona Yuni Kartika ...." panggil petugas tersebut.


    "Iya, Pak .... Saya Yuni Kartika." kata Yuni yang sudah berdiri di depan petugas itu.


    "Mau sekolah ke Perancis, ya ...? Yang pintar ya ...." tanya petugas imigrasi tersebut.


    "Iya, Pak ...." jawab Yuni.


    "Oke .... Ditunggu dulu, ya .... Nanti akan dipanggil untuk foto." kata petugas itu.


    "Terima kasih, Pak ...." jawab Yuni yang langsung menggandeng lengan ibunya, munyusul bapaknya duduk di kursi tunggu.


    Tidak lama menunggu. Hanya beberapa menit mereka duduk di ruang tunggu, mereka sudah di panggil. Ketiganya dipanggil bersama. Lantas Yudi, Rini dan Yuni masuk untuk melakukan foto serta pengecekan lainnya.


    "Sudah, silakan tunggu seminggu lagi, mudah-mudahan paspor sudah jadi." begitu kata petugas imigrasi tersebut.


    "Terima kasih, Pak ...." kata Yudi, yang dilanjutkan Rini dan Yuni.


    Paspor sudah beres. Tapi masih ada satu hal lagi yang ingin dilakukan Yudi. Yaitu mau membelikan gaun indah untuk anaknya. Tentu Yudi ingin anaknya tampil cantik saat seleksi di Perancis nanti. Yudi ingin anaknya seperti layaknya seorang profesiaonal seni. Yudi ingin Yuni terlihat memukau bagi para juri penilainya. Yudi ingin anaknya menjadi pusat perhatian bagi para dosen yang menyeleksi. Maka, Yudi mau membelikan gaun istimewa untuk Yuni.


    "Kita mampir ke butik dahulu ...." kata Yudi.


    "Mau ngapain, Pah ...?" tanya Rini.

__ADS_1


    "Saya mau belikan gaun untuk Yuni ...." jawab Yudi.


    "Lhoh ..., kok pakai gaun ...?" tanya Yuni yang kaget.


    "Besok itu di Beaux-Arts de Paris di Perancis, kamu seleksi dahulu, Sayang .... Tidak serta merta langsung diterima. Biasanya nanti yang diterima hanya dua atau tiga anak. Itu pun yang memenuhi kriteria penguji. Kalau sampai tidak ada yang layak, ya semuanya tidak diterima. Itu sudah biasa dalam placement test sebuah rekognisi. Jadi yang bisa lolos hanya siswa yang benar-benar punya kemampuan luar biasa. Papah ingin membelikan gaun, nanti Yuni kenakan saat seleksi, biar dirimu terlihat cantik dan memukau para dosen penguji." jelas Yudi pada anak dan istrinya.


    "Oo ..., begitu ya, Pah .... Yuni kira pelukis itu modelnya kayak Tanta Ana sama Tante Imah itu .... Tomboi." sahut Yuni yang tentu membandingkan teman-teman pelukis papahnya.


    "Tante Ana sama Tante Imah itu kan pengin eksis .... Biar dianggap pelukis hebat .... Tapi saat seleksi itu, Yuni akan dinilai segalanya. Bukan hasil lukisannya saja, tetapi juga penampilan pelukisnya ...." jelas Yudi.


    "Iya, Pah .... Siap ...." sahut Yuni yang tentu paham dengan penjelasan ayahnya.


    Maka, Yudi mengajak anak dan istrinya ke Kota Jogja. Membeli gaun yang paling bagus untuk Yuni. Tujuan pertamanya, di Jl. Urip Sumoharjo, kawasan pertokoan kain, toko pakaian, setelan jas, dan aneka gaun-gaun indah. Tinggal pilih, atau kalau kurang cocok bisa pesan. Di sepanjang kawasan Tugu Jogka ke arah timur itulah, berbagai macam pilihan ada di sana.


    Yudi parkir di depan toko yang pada dinding kaca terlihat boneka manekin yang dikenai gaun indah warna putih. Yudi mengajak anak dan istrinya masuk ke toko gaun tersebut. Ia langsung disambut oleh pelayan toko. Lantas setelah menyebutkan kebutuhannya, Yudi bersama Yuni dan Rini langsung di ajak ke ruang bagian belakang. Di sana banyak pilihan gaun dengan corak dan warna yang banyak. Termasuk modelnya juga banyak pilihan.


    "Tolong carikan gaun untuk anak saya ini, buat pentas. Minta dicarikan yang bagus." kata Yudi pada pelayan yang mendapingi.


    "Mau warna yang apa, Pak?" tanya pelayan itu.


    "Coba yang pink atau biru muda ...." sahut Ynui.


    Lantas pelayan itu mengambilkan dua warna yang berbeda, dan tentu modelnya juga berbeda.


    "Boleh dicoba ...." kata sang pelayan.


    Rini mengangkat gaun yang biru muda, lantas ditempelkan di tubuh Yuni. Lantas dilihat kepantasannya.


    "Cakep ...." kata Yudi yang melihat.


    Lantas Rini ganti menempelkan yang warna merah jambu.


    "Ini juga cakep ...." kata Yudi lagi.


    "Yang mana, Pah ...?" tanya Rini.


    "Yuni pengin yang mana?" tanya Yudi.


    "Bagus semua sih, Pah ...." jawab Yuni.


    "Di coba dahulu .... Silakan ke ruang coba, itu ...." kata sang pelayan sambil menunjukkan ruang mencoba.


    Rini mengajak Yuni ke ruang ganti, sambil membawa gaunnya. Lantas Yuni yang dibantu oleh ibunya mencoba gaun-gaun itu. Tentu ada yang pas dan ada yang kurang pas.


    "Mas ..., tolong yang biru ini dicarikan yang agak besar lagi. Ini pinggangya terlalu sembit." kata Rini meminta ganti.


    Lantas pelayan itu mencarikan ukuran yang lebih besar. Kemudian diberikan ke Yuni untuk dicoba lagi.


    "Pas, Mah .... Ini nyaman." kata Yuni yang keluar dari kamar coba dan menunjukkan gaun yang dikenakan kepada ibu dan ayahnya.


    "Wao .... Cantik sekali ...." kata Yudi yang tentu sambil acung jempol.


    "Terus ..., pilih yang mana?" tanya Rini.


    Yuni tersenyum lebar, sambil memeluk kedua gaun yang dicobanya itu.


    "Ya udah ..., kita bayar dua-duanya." kata Yudi pada anak dan istrinya.

__ADS_1


    "Asyik .... Terima aksih, Pah ...." kata Yuni, yang tentu sambil memeluk ayahnya.


    Yuni senang bisa memiliki gaun-gaun yang indah itu. Besok akan dia pakai di Perancis. Semoga dengan gaun yang indah itu, akan menambah kecantikan penampilan Yuni, dan harapannya, saat seleksi kelak, lukisan Yuni juga akan terlihat indah dan bisa lolos untuk mendapatkan beasiswa di universitas Beaux-Arts de Paris di Perancis.


__ADS_2