KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 100: TAMAN BINTANG


__ADS_3

    "Saudara-saudaraku, malam ini saya ingin mengajak kita semua ke Taman Awang-awang. Kita makan malam di sana, dan saya ingin menunjukkan sesuatu yang indah di taman yang kami bangun." ajak Yudi.


    "Apaan, Yud ...?" tanya Alex dan teman-teman yang lain.


    "Nanti kalian akan tahu .... Ada keagungan Tuhan yang harus kita syukuri." sahut Yudi.


    "Ya, ayo .... Kita segera ke sana ...!" ajak dokter Handoyo.


    "Ayo ...!" sahut yang lain.


    "Aku ikut Alex, ingin merasakan naik mobil alphard. Hehe ...." Kata Handoyo yang menggoda Alex.


    "Siap ...!" sahut Alex.


    Tiga mobil melaju keluar dari penginapan Nirwana Homestay. Mobil Hamdan yang dikendarai Yayan, Mobil Alex, dan yang paling depan sebagai penunjuk jalan tentu mobil Yudi yang ditumpangi bersama yuna sang kekasih. Mereka berangkat bersama menuju puncak bukit, di Taman Awang-awang. Untuk menikmati malam yang indah di bulan Juli. Hanya dalam waktu sekejap, tiga mobil sudah sampai di puncak bukit. Jarak yang tidak jauh antara penginapan Nirwana Homestay dengan Taman Awang-awang. Ini memang konsep konektifitas antar jejaring wisata.


    Sesampai di puncak bukit, di Taman Awang-awang, suasana sangat menarik. Hanya pada ruang food hall yang lampunya masih menyala. Laninya, hanya pada sudut obyek yang diberi beberapa lapmu temaram. Tentu ini konsep penggelapan obyek agar tidak mengganggu gelap malam. Ya, tentu karena malam itu Yudi ingin mengajak para sahabatnya untuk menyaksikan langit malam. Ada beberapa remaja yang bermesraan, tentu sambil menikmati indahnya suasana malam di puncak bukit.


    Setelah memarkirkan mobil di halaman dekat bangunan food hall, yang diberi nama "Loka Boga", mereka langsung masuk ke ruang kuliner, bangunan semi terbuka dengan tembok bata super setinggi pinggang, sehingga masih bisa menyaksikan pemandangan di luar. Mereka akan  menikmati makan malam.


    "Wao .... Keren banget, Yud ...." kata Alex yang terkagum menyaksikan megahnya Loka Boga yang dibangun oleh Yudi bersama Yuna.


    "Kenapa namanya Loka Boga?" tanya Rini.


    "Loka Boga itu bahasa Jawa, artinya ruang tempat makan." jawab Yudi.


    "Oo .... Begitu, to .... Ini sungguh luar biasa, Yudi .... Kamu bisa menyaingi Insinyur Alex kalau seperti ini." sahut Handoyo.


    "Bukan saya .... Ini karya Yuna." kilah Yudi.


    "Wao .... Amazing .... You are great woman. I am very sympathetic to you." kata Alex memuji Yuna.


    "Arigatogozaimasu ...." jawab Yuna berterima kasih sambil membungkukkan badannya.


    "Ayo masuk .... Kita segera makan ...." kata Yudi yang mengajak teman-temannya masuk ke Loka Boga.


    Ya, Loka Boga di malam hari, terlihat sangat nyaman dengan temaram lampu yang redup. Seakan menyajikan hidangan cinta yang penuh kemesraan. Tentu teman-teman Yudi terkagum dengan indahnya Taman Awang-awang, yang jauh berbeda saat tujuh bulan yang lalu mereka datang ke tempat itu, yang masih gersang dan belum tertata.


    Yudi langsung menyeret empat meja yang digabungkan menjadi satu, serta menata kursi-kursi yang melingkari meja tersebut, sebagai tempat makan bersama dengan para sahabat dan keluarganya. Mereka duduk melingkar saling berhadapan.


    Seorang pelayan mendekat sambil membawa buku menu, memberikan buku-buku menu kepada tamunya. Lantas mencatat pesanan yang diinginkan oleh pelanggan.


    "Saya pesan ayam geprek Jogja satu, nasi putih separo, minumnya jeruh hangat." kata dokter Handoyo memesan menu.


    "Saya sama .... Jangan lupa lalapannya." lanjut istrinya.


    "Saya udang bumbu saus, cumi goreng tepung, sama ikan bakar. Nasinya tiga, lemon tea tiga. Ditambah lalapan dan timunnya yang banyak." pesan Alex.


    "Pak Hamdan mau pesan apa?" tanya Yudi.

__ADS_1


    "Ikan bakar, sama ca kangkung." jawab Hamdan.


    "Aku ikan bumbu acar. Nasinya satu untuk berdua. Sama Papah, ya ...." tambah Rini.


    "Saya nasi goreng khas Jogja. Minumnya es jeruk." pesan Yayan, menantu Rini.


    "Aku bakso saja. Minumnya es jeruk." pesan Silvy.


    "Saya sama Yuna pesan bakmi jowo satu porsi saja, ditambah piring kosong satu. Minumnya lemon tea." kata Yudi memesan satu untuk berdua.


    "Wah ..., wah ..., wah .... Kalau sedang pacaran, makannya sepiring berdua .... Hehehe ...." Ledek Alex. Yang tentu orang-orang lainnya pada tertawa.


    Sang pelayan sudah mencatat pesanan. Lantas para penjual langsung menyiapakan pesanan. Dalam waktu sebentar, masakan sudah terhidangkan di meja. Mereka pun makan malam bersama dengan penuh kemesraan. Menikmati makan malam dengan canda tawa yang menyenangkan.


    Ya, inilah konsep sentuhan cinta yang pernah dipesankan oleh ayahnya Yuna, calon mertua Yudi. Menikmati makan malam dengan hembusan angin dari Samudera Hindia yang sepoi-sepoi, serta suara deburan ombak Pantai Selatan yang silih berganti sangat mengesankan. Enak masakannya, nikmat rasanya, indah suasananya.


    Setelah selesai menikmati makan malam, Yudi mengajak para sahabat bersama keluarganya, berjalan menuju tangga berundak yang berada tepat di depan bangunan Loka Boga. Yudi ingin menunjukkan keindahan Taman Awang-awang di malam hari.


    "Nah, ini kebanggaan kami. Tangga berundak ini kami namakan 'Papan Kamulyan' dalam bahasa Jawa yang berarti tempat paling menyenangkan. Di setiap tangga, kami beri tempat duduk, yang dipakai untuk bersantai para pengunjung dalam menikmati indahnya alam raya. Mari, kita duduk di sini." kata Yudi yang mengajak teman-temannya duduk di Papan Kamulyan.


    "Asyik juga ...." sahut teman-temannya.


    "Kalau siang, dari tempat ini kita bisa menyaksikan alunan gelombang Laut Selatan. Kalau Pagi hari, kita bisa menyaksikan matahari terbit. Dan kalau sore hari, kita bisa menyaksikan matahari terbenam. Semuanya tampak indah dari tempat ini. Makanya, tempat ini dinamakan Papan Kamulyan." jelas Yudi pada teman-temannya.


    "Lhah, kalau malam hari?" tanya dokter Handoyo.


    "Inilah yang ingin kami tunjukkan pada kalian. Menengadahlah ke atas. Pandanglah langit. Saksikan keagungan Tuhan." kata Yudi menyuruh teman-temannya.


    "Langit yang indah ...."


    "Hmm .... Bintang-bintang yang gemerlap ...."


    "Sungguh mengagumkan ...."


    "Sangat mempesona ...."


    Semua teman dan keluarga yang diajak Yudi ke Taman Awang-awang, berdecak kagum menyaksikan lagit dengan tebaran bintang-bintang.


    "Ya, kenapa saya tertarik dengan tempat ini? Dahulu, suatu hari saya mencari obyek gambar untuk lukisan saya. Saya menemukan puncak bukit ini, masih belantara yang dipenuhi semak belukar. Lantas saya kemalaman, tidak bisa turun untuk pulang. Karena gelap gulita, tidak ada jalan. Lantas saya bermalam di sini. Saya menyaksikan indahnya langit malam di tempat ini. Maka, saya pun berusaha untuk mendapatkan tempat ini sebagai obyek saya, tempat untuk melukis pemandangan. Saya membeli bukit ini. Setiap malam saya datang ke tempat ini. Saya bercumbu dengan gelapnya malam. Dan saya merasa, saat berada di puncak bukit ini seperti berada di atas langit, tempat ini bagaikan di angkasa, karena saya bisa mengamati banyak bintang yang ada di bawah kaki saya. Orang Jawa bilang seperti di awang-awang. Makanya, tempat ini saya namakan Taman Awang-awang . Namun lama-kelamaan banyak warga yang ikut-ikutan dengan saya kemari. Maka tempat ini jadi ramai." jelas Yudi mengenai sejarah Taman Awang-awang ini.


    "Dan sekarang, berkat Mis Yuna, Taman Awang-awang menjadi sebuah obyek wisata yang sangat menakjubkan." sahut Rini.


    "Wao .... Saya sungguh terkesan, Yud .... Kamu memang manusia setengah dewa, Yud ...." puji Alex sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


    "Aah ..., jangan seperti itu ...." kata Yudi yang malu terlalu disanjung.


    "Iya, Yud .... Kamu memang hebat." sambung Rini.


    "Nah, Ini bulan Juli. Sudah di pertengahan bulan. Kebetulan bulan pas tanggal tua. Langit cerah tanpa awan. Ini waktu yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep, pengambilan foto-foto bintang. memotret langit malam yang bertaburan bintang. Ini merupakan waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit. Kita akan mengamati semua bintang yang terpampang di langit. Ini kalau di Jakarta, hanya ada di Planetarium, kita hanya menyaksikan filem langit malam, bukan yang sesungguhnya. Tapi malam ini, kita akan melihat keagungan Tuhan yang sesungguhnya. Lihatlah kabut putih yang membentang dari Timur Laut ke Barat Daya, yang seperti semprotan tumpahan air susu itu. Dia adalah gugusan Galaksi Bima Sakti, atau yang dikenal dengan sebutan Milkyway Galaxy, dalam bahasa Jepang dinamakan Amanogawa Ginga." jelas Yudi sambil menunjukkan gugusan bintang Bima Sakti.

__ADS_1


    "Wah, sekarang kamu juga pintar bahasa Jepang ya, Yud .... Hehe ...." ledek Alex.


    "Ya iya, lah .... calon istrinya kan orang Jepang ...." sahut Rini.


    "Ya, belajar lah .... Nah, saat ini yang akan saya tunjukkan adalah fenomena alam hujan meteor." kata Yudi lagi.


    "Hah ..., hujan meteor ...?!" Silvy langsung terkejut. Demikian juga istri Alex, putrinya, maupun istri Handoyo.


    "Yang benar, Yud ...?!" kata dokter Handoyo yang tidak paham tentang dunia perbintangan.


    "Iya .... Betul. Pada bulan Juli, di langit akan terjadi hujan meteor. Yang terbesar biasanya terjadi sekitar pertengahan bulan Juli hingga awal Agustus. Makanya, kalian saya ajak kemari malam hari untuk menyaksikan peristiwa hujan meteor itu. Tapi puncaknya, nanti terjadi antara jam dua hingga jam empat pagi. Namun sekarang pun sudah ada. Coba kita lihat ke langit arah selatan. Perhatikan saja, jangan berpindah mengamatinya. Nanti pasti akan ada cahaya melintas. Orang bilang itu bintang jatuh atau bintang berpindah." kata Yudi sambil menunjuk ke langit arah selatan.


    "Oh, iya .... Itu ada bintang yang jatuh!" kata istrinya Handoyo.


    "Mana ...?!" tanya yang lain.


    "Di sana ...!" istri Handoyo menunjukkan arah.


    "Ya ..., ya ..., ya .... Saya juga melihat." sahut yang lain. Mereka pun asyik mengamati bintang jatuh.


    "Eh, katanya kalau ada bintang jatuh begitu, kita disuruh meminta sesuatu, dan nanti akan dikabulkan .... Benar nggak sih?" tanya putrinya Alex yang baru saja naik kelas dua SMA.


    "Iya, minta saja ...." sahut maminya.


    "Minta apa, Mi ...?" tanya putrinya.


    "Minta Papi bisa beli penginapan Nirwana Homestay ...." dokter Handoyo menimpali jawaban.


    "Ada lagi, tidak ..., bintang jatuhnya?" tanya yang lain.


    "Masih ada, dan sangat banyak .... Hujan meteor bulan Juli ini lebih dikenal dengan nama hujan meteor Piscis Austrinid, karena meteor-meteor yang berjatuhan berasal dari rasi bintang Piscis Austrinus, atau kalau dalam istilah astrologi dinamakan bintang Pisces. Lihat saja ke langit selatan, nanti akan terlihat metor-meteor yang berjatuhan. Masih banyak. Jeda waktu sebentar saja akan ada lagi bintang yang jatuh." kata Yudi.


    "Eh, iya .... Itu ada lagi." kata putrinya Alex yang melihat bintang jatuh.


    "Ya, betul itu .... Ada yang panjang ...." sahut yang lain.


    "Iya, saya melihat ...." sahut yang lain lagi.


    "Sebenarnya, di pertengahan bulan Juli begini, kita bisa menyaksikan keindahan langit mulai dari sore hari. Setelah Matahari terbenam, kita bisa menyaksikan banyak bintang. Ada bintang Regulus yang berada di rasi Leo, bintang Spica di rasi Virgo, bintang Crux, Rigel Kentaurus dan Hadar yang berada di rasi Centaurus, dan bintang Arcturus di rasi Bootes yang bisa diamati sampai jelang tengah malam. Ada juga bintang Antares di rasi Scorpius. Sebenarnya kalau kita datang lebih awal tadi, kita bisa melihat planet Venus atau si Bintang Kejora, dan planet Mars atau yang disebut Planet Merah. Dua planet ini muncul sesaat setelah matahari terbenam. Nah, sedangkan besok pagi, sebelum matahari terbit, kita bisa menyaksikan planet Merkurius." jelas Yudi yang menerangkan keadaan bintang-bintang di langit.


    "Wao .... Kamu hebat sekali, Yud .... Sejak kapan dirimu menjadi ahli perbintangan?" tanya dokter Handoyo.


    "Ya, karena dahulu setiap malam saya berada di sini. Saya menikmati alam ini." jawab Yudi.


    "Masih ada lagi nggak, yang terkait fenomena langit malam ini?" tanya Alex.


    "Sebenarnya di bulan Juli ini, posisi bumi berada pada titik terjauh dengan matahari. Dalam istilah astronomi disebut dengan nama titik apelium. Puncaknya nanti terjadi pada tanggal dua puluh satu Juli. Maka suhu udara di bumi akan mengalami masa paling dingin. Makanya saat ini kita merasakan dingin kan?" kata Yudi.


    "Wah, kamu memang benar-benar sahabat saya yang hebat, Yud. Tidak cuman tahu masalah lukisan, tetapi ternyata dirimu juga menguasai rahasia alam raya semesta ini. Hebat .... Aku benar-benar kagum padamu." kata dokter Handoyo sambil menepuk-tepuk pundak Yudi.

__ADS_1


    Mereka pun terhanyut menyaksikan keindahan langit malam dari Papan Kamulyan di Taman Awang-awang. Taman yang berada di puncak bukit, yang seakan membawa mereka berada di atas awang-awang, berbaur bersama bintang-bintang. Semua bermimpi untuk memetik bintang.


    Sungguh maha kuasanya Sang Pencipta, yang telah memberikan karyanya yang sangat agung. Senangnya menyaksikan keindahan langit malam dari Taman Bintang.


__ADS_2