
Pagi itu, hari Minggu, di awal bulan Oktober. Jam delapan pagi, pendopo rumah Yudi sudah tumpah ruah warga Kampung Nirwana, yang akan mengiring pengantin. Turis-turis dari manca negara, yang bule, yang negro, yang sipit, sudah pada berjajar di jalanan depan rumah Yudi. Mereka tidak hanya sekadar ingin menyaksikan adat pernikahan yang masih tradisional, tetapi juga ingin mengabadikan momen budaya yang saat ini sudah langaka ditemui. Mereka sudah bersiap dengan kamera maupun handycam, untuk merekam acara itu.
Setelah bagian soundsystem mengumandangkan alunan gending 'kebo giro', musik tradisional khas Jawa, pertanda kirab pengantin akan dimulai. Pranata cara atau pembawa acara mulai memegang mic, lantas menyampaikan rangkaian acara yang akan dilaksanakan. Juru rias dan beberapa orang yang membantu, sibuk menata pakaian maupun riasan para pengiring. Terutama riasan pengantin.
Setelah semuanya siap, pranata cara langsung memulai acara kirab pengantin, mengiring pengantin menuju singgasana pelaminan.
"Para rawuh ..., kakung saha putri ..., para sesepuh pinisepuh, para pangemban pangembating praja, para muda-mudi tarunaning negari, para anem, para kadang, para sanak, sedaya ingkang rawuh wonten pasewakan agung puniko ..., mangga-mangga kita sesarengan sami dedonga ..., mugiya adicara jatu kramaning Den Mas Bagus Yudi kanlian Den Ayu Yuna ..., pinaringan lancar, tanpa rusiku, ribito, kalis nir hing sambikala ...." kata-kata dari pembawa acara dengan bahasa Jawa yang cukup njelimet. Acara pun dimulai.
Alunan gending musik klasik terdengar. Ada delapan remaja putri dengan pakaian tari, menampilkan tarian gambyong, tarian tradisional khas Jogja, yang mengawali perjalanan pengantin, mulai dari depan pendopo agung rumah Yudi, menuju sasana singgasana pelaminan, tahta raja dan ratu sehari yang ada di tempat resepsi yang sudah ditata di lapangan. Sambil menari, para penari gambyong ini terus membuka jalan untuk kirab pengantin.
Di jalan depan rumah Yudi, turis-turis yang menyaksikan langsung ceprat-cepret memotret dan menyuting tarian gambyong tersebut. Tidak hanya para turis, warga yang menonton pun juga banyak yang memotret dengan kamera HP. Tidak ketinggalan, teman-teman Yudi.
Setelah penari gambyong berjalan, berikutnya muncul empat orang laki-laki dengan dengan pakaian keprajuritan, lengkap membawa tameng dan pedang, dengan baju prajurit yang dilengkapi topi prajurit ala Keraton Mataram. Mereka adalah pasukan bragada, yang mengawal dan menjaga perjalanan kereta pengantin. Walau hanya sekadar adat tradisi, tetapi empat orang prajurit yang dirias oleh juru rias itu terlihat sangar dan garang. Seperti prajurit-prajurit yang sangat tangguh mengawal raja dan ratunya.
Meski mereka hanya menjadi penjaga yang kaku dan diam tanpa senyum, empat orang prajurit pengawal ini pun menjadi serbuan para pemburu foto. Mereka dipotret berkali-kali. Meski para turis ceprat-cepret, pengawal itu tetap kaku, diam dan garang.
__ADS_1
Gending-gending Jawa terus mengalun. Yang dikawal oleh para prajurit itu pun muncul. Sebuah kereta kuda, dengan roda empat yang dihias bagai kereta Prabu Kresna, yang dinamakan 'Kereta Garuda Yaksa'. Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda warna putih. Kuda-kuda itu diberi pakaian yang indah dan menarik. Mulai dari kepala yang dihias, leher kuda yang diberi kalung dari roncean bunga melati, serta badan kuda yang ditutup dengan kain merah yang bersulam emas. Kaki-kaki kuda ditutup dengan pembalut kaki yang terbuat dari kulit, seakan kuda-kuda itu mengenakan celana. Semua itu menambah kegagahan dua kuda putih tersebut.
Roda kereta itu berwarna kuning mengkilap, seakan terbuat dari emas, walau hanya ditutup dengan kertas emas yang ditempelkan pada velg dan jeruji yang terbuat dari kayu. Di sisi kanan kiri bagian depan maupun belakang diberi sayap dengan warna yang indah. Seakan kereta ini adalah burung garuda raksasa. Itulah yang dimaksud garuda yaksa.
Kusir yang mengendalikan kuda, mengenakan pakaian adat Jawa, baju lurik, kain jarik dan mengenakan blangkon khas mataraman. Sang kusir menjalankan kereta seakan mengikuti irama gending.
Dan yang ditunggu-tunggu, pada bagian tengah kereta, kursi yang disebut sebagai 'dampar kencana', kursi ukir dengan hiasan warna emas, sengaja ditinggikan letaknya, seakan kursi itu berada di atas punggung garuda, sehingga terlihat sangat mentereng. Di kursi itu, ada seorang laki-laki dengan pakaian khas keraton, lengkap dengan mahkotanya, bak seorang raja dari Jawa, bersanding dengan seorang perempuan yang mengenakan pakaian tradisional kimono, lengkap dengan berbagai hiasan di rambutnya, bak seorang ratu dari Jepang. Seketika itu, seluruh mata menatap raja Jawa yang bersanding dengan ratu Jepang.
Sorak sorai ramai dari masyarakat yang menyaksikan. Kilat cahaya lampu kamera pun menyala dari segala penjuru. Foto ceprat-cepret di mana-mana. Yudi dan Yuna tersenyum bahagia, melambaikan tangan kepada orang-orang yang menyaksikannya. Lantas tangan Yudi maupun Yuna, meraih cendera mata yang sudah disiapkan pada kotak di depannya, kemudian melemparkan cendera-cendera mata itu kepada orang-orang yang berbaris di kanan kiri jalan. Tentu, orang-orang yang menonton langsung berebut cendera mata yang dilemparkan oleh Yudi maupun Yuna.
Pada bagian ekor kereta, di belakang kursi yang diduduki oleh Yudi dan Yuna, ada dua orang prajurit yang juga membawa tameng dan pedang, berdiri menghadap belakang. Tentu dua prajurit ini bertugas untuk mengamankan jika ada musuh yang datang dari bagian belakang.
Selanjutnya, di belakang kereta pengantin tersebut, ada dua mobil VW antik yang terbuka atapnya. Mobil antik ini adalah mobil wisata yang biasa digunakan untuk mengantar para turis berkeliling Kampung Nirwana. Satu mobil berwarna ungu, dan yang satunya lagi berwarna kuning. Mobil yang ada di depan, disetir oleh laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional sorjan lurik dengan blangkon. Di belakang sopir itu, ada bapak dan ibunya Yudi, yang sudah didandani dengan pakaian adat Jawa.
Sedangkan pada mobil antik yang ada di belakangnya, sang sopir juga mengenakan pakaian adat Jawa dengan sorjan lurik dan memakai blangkon. Sedangkan yang menumpang pada mobil itu ada tiga orang. Seorang laki-laki duduk di samping sopir, dan dua orang lagi, laki-laki dan perempuan duduk di jok belakang. Semuanya mengenakan kimono, pakaian adat Jepang. Mereka adalah ayah dan ibu, serta paman Yuna, yang datang dari Jepang untuk menyaksikan pernikahan anaknya. Tentu, mereka semua bahagia.
__ADS_1
Sorak sorai kembali terdengar. Penonton yang memadati jalan kembali bertepuk tangan, mana kala di belakang mobil antik itu muncul penthul tembem, seorang anak dengan mengenakan pakaian tari, mukanya ditutup topeng dengan wajah topeng yang terlihat lucu, berjingkrak menari dengan polah-polah yang lucu. Penthul tembem ini membawa pasukan anak-anak penari kuda lumping, ada sebanyak delapan orang. Tariannya tidak memakan beling, tetapi melakukan gerakan-gerakan yang lucu. Dasar anak-anak yang didandani dengan pakaian tari serta diberi gambar kumis dan jambang, menari bebas, melompat kian kemari, ditambah kelucuan dari sang penthul tembem, tentu mengundang gelak tawa para penonton.
Di belakang kuda lumping, dua orang pemuda membawa kembang manggar, yang ditancapkan pada batang bambu cukup tinggi. Berjalan di sisi kanan dan kiri. Kembang manggar inilah yang dinanti-nanti oleh para penonton. Tentu, karena pada setiap untai kembang manggar yang digunakan untuk mengiring pengantin itu diberi nomor undian, bagi yang beruntung akan mendapatkan doorprize. Setiap pembawa kembang manggar itu memiringkan tiang bambunya ke arah penonton, maka orang-orang yang ada di pinggir jalan itu langsung berloncatan untuk meraih kembang manggar. Meriah sekali.
Di belakang kembang manggar, ada barisan pemuda-pemuda yang membawa rebana. Mereka menepuk dan memukul rebana, melantunkan nada-nada mengiringi pujian-pujian. Suara rebana ini terdengar mistis, seakan ada mantera-mantera yang terucap oleh para pengiring rebana itu.
Di belakang barisan rebana, ada lagi dua pemuda yang juga membawa kembang manggar. Tetapi tentu, tidak seheboh kembang manggar yang ada di depan. Walaupun para penonton juga berebut kembang manggar tersebut. Satu penonton ada yang mendapat dua hingga lima untai kembang manggar. Tetapi, ada juga yang tidak kebagian.
Setelah kembang manggar itu, barulah barisan pengiring. Teman-teman Yudi ikut berbaris di barisan pengiring ini. Termasuk Rini bersama anak-anaknya, Alex bersama istrinya dan istri dokter Handoyo, serta teman-teman Yudi yang sudah datang dan mengikuti prosesi upacara adat pengantin Yudi dan Yuna.
Selanjutnya, barisan pengiring pengantin itu tidak berhenti. Karena orang-orang yang berjajar di sepanjang jalan, yang rata-rata memegang untaian kembang manggar, mereka tidak pulang. Tetapi langsung menyambung pada barisan yang terakhir. Mereka semua mengikuti iring-iringan pengarak pengantin, hingga sampai di tempat pesta.
Termasuk yang ikut mengarak dan memeriahkan iring-iringan ini adalah para turis yang ingin menyaksikan secara langsung. Bahkan ada wartawan yang juga ikut meliput acara pernikahan Yudi dan Yuna ini. Dan semuanya, masuk ke tenda besar, tempat dilangsungkannya pesta.
Yudi dan Yuna sudah duduk di singgasana pengantin. Di sisi kanan Yudi, sudah duduk pula, ayah dan ibu Yudi. Sedangkan di sisi kiri Yuna, sudah ada tiga orang yang juga mendampingi, yaitu ayah, ibu dan paman Yuna. Di panggung pengantin, mereka semua terlihat bahagia.
__ADS_1
"Ini bukan pestanya Yudi ataupun Yuna, tetapi pesta untuk rakyat Kampung Nirwana." kata Yudi yang didengar oleh semua orang.