KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 138: TANDA KASIH


__ADS_3

    Sementara itu, di Pantai Laut Selatan, Yudi sudah pulih kesehatannya. Luka-luka yang dialami saat terjatuh dari jurang, sudah pulih sempurna. Bahkan kakinya yang dahulu sakit untuk dibuat berdiri, berkat diurut oleh dukun pijat terkenal dari Bantul, yaitu Mbah Marto, kini sudah pulih sempurna. Tidak terasa sakit lagi, baik untuk duduk, jongkok, maupun untuk berjalan. Bahkan untuk berlari saja tidak merasakan sakit sama sekali.


    Seperti yang pernah dijanjikan oleh Yudi, ia akan mengganti sarung warga Kampung Karang yang sudah membantunya meminjamkan sarungnya untuk menggotong dirinya. Maka, hari itu, Yudi berniat datang silaturahmi ke Kampung Karang.


    Yudi bersama Yuna, dan mengajak Bagas, berangkat agak pagi. Bagas yang menyetir. Yuna duduk di depan, di samping sopir. Sedangkan Yudi duduk di jok tengah.


    "Mampir ke Pasar Bantul dulu, Gas .... Saya akan beli sarung." kata Yudi menyuruh Bagas yang menjalankan mobil.


    "Siap, Mas Yudi ...." sahut Bagas.


    Bagas langsung menyetir ke arah utara, menuju Kota Bantul, untuk mampir ke pasar. Bagas yang sudah biasa belanja bahan-bahan batik serta perlengkapan lainnya, sudah paham tempat yang akan dituju oleh Yudi. Maka begitu sampai di parkiran Pasar Bantul, tanpa tanya-tanya, Bagas langsung mengajak Yudi dan Yuna menuju kios Bu Semi, tempat kulakan sarung dan kain jarik.


    "Ini, Mas Yudi .... Tempat grosir sarung. Monggo silakan memilih ...." kata Bagas kepada Yudi sambil menunjukkan sarung-sarung yang banyak motifnya.


    "Makasih, Gas .... Bu, mau beli sarung dewasa." kata Yudi, yang langsung menemui penjualnya.


    "Nggih, Den Mas .... Yang halus apa biasa ...?" tanya si penjual.


    "Yang halus harganya berapa, yang biasa harga berapa?" tanya Yudi.


    "Yang biasa satu kodi delapan ratus, kalau yang halus satu kodi satu juta." jawab si penjual, yang langsung memberikan contoh sarung yang halus dan biasa.


    "Yang halus harganya tidak boleh kurang?" tanya Yudi.


    "Den Mas mau ambil berapa kodi?" tanya si penjual. Ya, tentu beli banyak dan beli sedikit harganya berbeda.


    "Kira-kira seratus potong ...." jawab Yudi.


    "Berarti lima kodi ..., saya kasih harga sembilan ratus tujuh puluh lima." jawab si penjual.


    "Yudi, kamu tidak belikan sarung untuk anak-anak ...?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Memang anak-anak juga mau dibelikan?" tanya Bagas.


    "Anak-anak yang tahu kami lebih duluan. Mereka mendengar teriakan kami yang pertama." kata Yuna.


    "Oh, iya .... Hampir saja terlupakan." kata Yudi sambil menepuk jidatnya.


    "Walah ..., untung diingatkan sama Mbak Yuna ...." timpal Bagas.


    "Bu, yang sarung untuk anak-anak ada?" tanya Yudi pada si penjual.


    "Ada .... Butuh berapa kodi? Lima apa enam kodi?" kata si penjual, yang langsung memberikan contoh sarung anak-anak.


    "Kebanyakan .... Yang ini harga berapa?" tanya Yudi.


    "Ini empat ratus per kodi. Minta berapa?" kata si penjual.


    "Tiga kodi, tapi harganya dikurangi." jawab Yudi.


    "Saya hitung tiga sembilan puluh ...." jawab si penjual.


    "Ya, sudah ..., itu saja. Dah cukup." kata Yudi.


    Si ibu bakul langsung mengambil kalkulator. Mulai menghitung.


    "Jadi semuanya, sarung dewasa halus lima kodi, empat delapan tujuh lima, sarung anak tiga kodi, satu satu tujuh puluh .... jadi total semuanya, enam juta empat puluh lima ribu rupiah." kata si penjual sambil menunjukkan kalkulatornya.

__ADS_1


    "Halah ..., enam juta pas ...." kata Yudi.


    "Itu sudah murah, ya .... Yo wis bayar enam juta tiga puluh saja." kata si bakul.


    "Oke .... Bisa transfer, nggak?" tanya Yudi.


    "Bisa .... Ini nomor rekeningnya." kata si penjual yang langsung memberikan potongan kertas berisi nama dan nomor rekening si penjual.


    Yudi mentransfer uang belanja. Ibu bakul itu langsung memasukkan sarung-sarung yang dibeli Yudi ke dalam bungkusan dari kertas semen, lalu diikat dengan tali rafia. Jadi dua bungkus. Yang satu bungkus besar berisi sarung dewasa, dan yang satu bungkus kecil berisi sarung anak.


    Bagas bagian membawa bungkusan sarung itu, menjinjing dari dalam pasar menuju parkiran, diiringi Yuna yang mengikuti di belakang. Lantas menaruh bungkusan sarung tersebut di bagasi belakang. Selanjutnya, Bagas menghidupkan mobilnya, dan tentu menyalakan AC agar panasnya hilang. Yuna sudah duduk di samping Bagas.


    "Lhoh, Mas Yudi tadi mana?" tanya Bagas pada Yuna.


    "Saya tidak tahu .... Tadi di belakang kita ...." jawab Yuna.


    "Waduh .... Hilang ke mana orang ini?!" Bagas bingung, tengak-tengok mencari Yudi.


    "Nah, itu dia ...." kata Yuna sambil menunjuk keberadaan Yudi.


    "Walah ..., bawa apa lagi itu, Mas Yudi?" tanya Bagas.


    Lantas Bagas turun dari mobil, berlari menghampiri Yudi dan mau membantu membawa barang-barang Yudi.


    "Mana, Mas Yudi ..., saya bantu ...." kata Bagas.


    "Itu ..., di toko itu ..., masih ada dua dus. Tolong kamu angkat." kata Yudi meminta tolong Bagas.


    Ya, tanpa sepengetahuan Bagas dan Yuna yang membawa sarung, Yudi mampir di toko jajanan. Dia memborong banyak sekali jajanan, ada roti, ada kue-kue kering, ada permen, serta berbagai macam jajanan kemas, yang nanti akan dia bagikan kepada anak-anak di Kampung Karang. Semuanya ada tiga dus besar.


    Seperti yang dikatakan Yuna saat beli sarung, Yuna usul untuk membelikan sarung juga buat anak-anak, karena anak-anak itulah yang pertama kali didengar suaranya saat bermain. Dan tentu saat Yuna berteriak minta tolong, anak-anak pula yang mendengar lebih dahulu. Jadi menurut Yuna, anak-anak ini sangat menolong pada dirinya yang saat itu terkapar di pantai. Maka wajar kalau Yudi membelikan jajanan untuk anak-anak.


    Hampir satu jam perjalanan, mobil Avanza hitam yang disetir oleh Bagas akhirnya sampai di Kampung Karang.


    "Menepi dahulu, Gas .... Saya mau tanya dahulu ...." kata Yudi yang tentu7 belum paham rumah yang akan dituju.


    "Ndak usah, Mas ..., saya sudah tahu rumahnya Pak Kadus, kok .... Dulu kan saya sudah pernah kemari." sahut Bagas yang tetap menjalankan mobilnya.


    "Oo, ya sudah kalau kamu sudah paham." sahut Yudi.


    Beberapa meter dari gapura kampung, terlihat rumah kampung yang cukup besar, dengan pagar dicat warna hijau. Ada motor RX King yang terparkir di terasnya. Bagas langsung memasukkan mobilnya di halaman rumah tersebut. Halaman yang sangat luas, sehingga leluasa digunakan untuk parkir. Bagas parkir di depan rumah.


    Seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam rumah bersama anak kecil. Lantas keluar juga seorang laki-laki muda, yang masih diingat betul oleh Bagas, yaitu pengendara RX King yang memboncengkan Pak Kadus.


    "Pak ...! Ada tamu ...!" teriak perempuan setengah baya tadi, yang tentunya memanggil suaminya, yaitu Pak Kadus.


    Benar, Pak Kadus juga keluar dari rumah. Mereka berempat berdiri di teras, mengamati mobil yang datang.


    Bagas turun dari sopiran. Berjalan agak membungkuk, menemui orang yang pernah menyampaikan pesan dari Yudi kepadanya, yaitu Pak Kadus. Lantas Bagas menyalami Pak Kadus, istri dan anak-anaknya.


    Yudi keluar dari mobil. Juga menemui orang-orang yang sudah menunggu di teras itu. Yudi bersalaman dengan Pak Kadus, mencium tangannya, lantas memeluk Pak Kadus. Memeluk erat dan tidak mau melepas. Dan Yudi menangis sesenggukan di pundak Pak Kadus.


    "Sudah, Den .... Jangan menangis ..., malu dilihat orang ...." kata Pak Kadus yang menenangkan Yudi.


    "Tanpa pertolongan Bapak, saya mungkin sudah mati, Pak .... Terima kasih, Bapak sudah menolong kami." begitu kata Yudi, dan kembali menangis sesenggukan.


    "Itu takdir Allah, Den .... Semua sudah digariskan oleh yang kuasa. Kami orang se kampung, hanya kebetulan saja menjadi saksi kekuasaan Allah, dan sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong sesama." kata Pak Kadus yang tenang tersebut.

__ADS_1


    Demikian juga Yuna, yang masih ingat betul pada Pak Kadus yang sudah menolongnya.Yuna juga meneteskan air mata saat bersalaman dengan bapak itu, tanda haru teringat saat-saat mengalami tragedi yang sangat menyedihkan.


    "Terima kasih, Bapak .... Kami sudah ditolong orang satu kampung ...." kata Yuna sambil mengusap air mata.


    "Sama-sama Den Ayu ...." sahut Pak Kadus Kampung Karang tersebut.


    "Lho, kok pada berdiri di sini ..., ayo masuk .... Ayo, Pak ..., tamunya di ajak masuk ...." kata perempuan setengah baya itu, yang tidak lain adalah istri Pak Kadus.


    "Eh, iya .... Monggo, Den ..., masuk .... Monggo pinarak ...." kata Pak Kadus mempersilakan tamunya.


    Yudi, Yuna dan Bagas, masuk ke ruang depan rumah Pak Kadus. Ruangan yang cukup besar untuk sebuah rumah di kampung nelayan. Dan tentu, di ruangan itu ada cukup banyak kursi. Tentu, karena Pak Kadus sering menerima tamu. Mereka semua duduk di kursi ruangan besar itu.


    "Pak Kadus, kedatangan saya kemari tentu yang pertama saya ingin menyampaikan beribu-ribu terima kasih, karena sudah ditolong oleh Pak Kadus bersama warga Kampung Karang sini. Yang kedua, saya ingin mengganti sarung warga sini, yang kemarin digunakan untuk menggotong saya." kata Yudi menyampaikan maksud kedatangannya.


    "Njih, sami-sami .... Kami semua senang, Den Mas sama Den Ayu bisa selamat dari mara bahaya yang menimpa. Itu semua tentu karena pertolongan Allah Yang Maha Kuasa." sahut Pak Kadus Kampung Karang tersebut.


    "Gas, tolong ambilkan sarungnya ...." suruh Yudi pada Bagas untuk mengambil barang-barang di mobilnya.


    "O ya, Mas .... Siaap ...." sahut Bagas yang langsung beranjak dari kursi.


    Saat yang bersamaan, istri Pak Kadus juga beranjak menuju dapur. Tentu untuk membuat minuman.


    Bagas langsung membawa dua bungkusan sarung. Lantas diletakkan dilantai dekat tempat duduk Yudi. Lantas Bagas kembali ke mobil lagi, untuk mengambil jajanan yang akan dibagikan juga.


    "Pak Kadus, ini saya belikan sarung, mudah-mudahan bisa dibagikan ke seluruh warga Kampung Karang. Ini untuk bapak-bapak dan anak-anak. Yang besar ada sebanyak seratus potong, sedangkan yang untuk anak-anak ada enam puluh potong. Mohon Pak Kadus bisa membaginya, jika kurang nanti akan saya tambahi." kata Yudi menyampaikan niatnya membagi sarung kepada penduduk.


    "Wah, kalau begitu Den Mas Yudi sendiri saja yang membagikan ke warga ...." kata Pak Kadus. "Le, tolong umumkan ke warga, yang laki-laki disuruh kemari. Akan diberi sarung oleh Den Mas Yudi. Sekarang, yo ...." lanjut Pak Kadus yang menyuruh anaknya.


    Anak Pak Kadus itu menurut, langsung ke luar rumah, dan menyampaikan perintah bapaknya. Permintaan orang-orang untuk datang ke rumah Pak Kadus, menjadi pesan berantai, dari mulut ke mulut. Maka berita tentang orang yang pernah diselamatkan di pantai beberapa hari yang lalu akan membagikan sarung itu, langsung tersebar ke seluruh kampung. Begitu mendengar ada orang akan membagikan sarung, dalam waktu sekejap, rumah Pak Kadus sudah penuh sesak para warga yang akan diberi sarung. Tidak hanya laki-laki dan anak-anak saja yang datang, banyak pula kaum wanita yang ikut melihat pembagian sarung itu. Hampir warga sekampung berkumpul di rumah Pak Kadus. Tentu menambahi sesaknya halaman Pak Kadus.


    "Sedulur-sedulur ..., ini Den Mas Yudi, yang kemarin mendapat musibah, dan kebetulan kita tolong, kini sudah sehat dan bagas waras kembali. Hari ini, Den Mas Yudi mau mengganti sarung yang kemarin dipakai untuk menolongnya, tetapi tidak hanya satu atau dua saja, ini malah orang se kampung akan diberi semua. Kita berterima kasih kepada Den Mas Yudi sama Den Ayu, njih ...." kata Pak Kadus menyampaikan niatan Yudi membagikan sarung.


    "Nggih .... Maturnuwun ...." serempak orang-orang berterima kasih.


    Pak Kadus, Yudi dan Yuna berbaris di depan pintu, membagikan sarung. Sedangkan Bagas yang dibantu putranya Pak Kadus, berada agak ke samping, di dekat jendela, membagikan jajanan.


    "Yang anak-anak dahulu .... Sini maju satu-satu ...." kata Pak Kadus mengatur antrian.


    Anak-anak lantas maju satu-satu. Setiap anak yang maju lantas diberi satu sarung. Kemudian diajak bersalaman oleh Yudi dan Yuna. Tentu keduanya mengucapkan terima kasih. Lantas anak yang sudah menerima sarung tadi, berpindah ke tempatnya Bagas, mengambil jajanan yang ada di kardus. Mereka memilih sendiri sesukanya.


    Antrian anak-anak yang menerima sarung, gilir berganti. Demikian juga saat memilih jajanan, ada yang menukar, pengin mengganti jajan yang lain. Ramai dan meriah. Demikian juga orang-orang dewasa, mereka mendapat sarung semuanya. Begitu seterusnya, hingga semua orang kebagian. Tentu suasana yang menyenangkan dan menggembirakan, khususnya bagi Yudi dan Yuna yang sudah diselamatkan oleh warga kampung tersebut.


    "Lhah, yang ibu-ibu kok tidak diberi?" celetuk salah seorang ibu.


    "Waduh ...?!" Yuna kaget. demikian juga Yudi. Yuna dan Yudi saling pandang. Tentu bingung dan tidak nyaman mendengar pertanyaan itu.


    "Bagaimana, Yud ...?" tanya Yuna yang merasa kurang nyaman.


    "Kita kasih uang saja .... Saya masih ada sedikit." kata Yudi yang dapat ide.


    "Okey .... Semoga cukup." kata Yuna yang setuju dengan ide kekasihnya.


    Lantas Yudi merogoh kantongnya, bersiap memberikan uang kepada ibu-ibu, katanya, "Ibu-ibu .... Mohon maaf saya belum sempat beli kain jarik. Sebagai gantinya, ibu-ibu saya kasih uang saja, ya ...."


    "Ya ...!!!" serempak ibu-ibu pada berteriak.


    Akhirnya, Yudi membagikan uang selembar demi selembar kepada ibu-ibu yang ikut hadir di rumah Pak Kadus tersebut. Dan senangnya Yudi dan Yuna bisa berbagi kasih, bersama warga Kampung Karang.

__ADS_1


    "Ini hanya tanda kasih, tidak seberapa harganya jika dibandingkan dengan nyawa saya yang sudah diselamatkan oleh warga Kampung Karang, di sini. Sekali lagi kami berterima kasih sudah diselamatkan. Semoga nanti, Tuhan memberi rezeki yang berlebih kepada warga di Kampung Karang sini. Amin ...." kata Yudi, yang tentu sambil meneteskan air mata haru.


__ADS_2