KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 116: BERDOALAH


__ADS_3

    Hari masih terang, matahari belum tenggelam, saat Rini dan anak-anaknya sampai di rumah. Hamdan masih bekerja menyelesaikan berkas-berkasnya yang akan dibawa ke Jerman. Meski mendengar suara pintu garasi dibuka, serta mendengar suara mobil yang dimasukkan ke garasi, bahkan juga mendengar suara anak-anaknya yang ramai di ruang keluarga, Hamdan tetap sibuk di ruang kerjanya. Ia tidak bergeming dari kursi putar yang didudukinya. Hamdan diam, dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


    Rini yang masuk ke kamar, menyempatkan membuka pintu, menengok suaminya di ruang kerja.


    "Mat sore, Pah ...." ucap Rini.


    Tetapi Hamdan diam, tidak menoleh saat ada orang membuka pintu kamar.


    "Halo, Pah ...." sapa Rini lagi.


    Bahkan saat Rini mencoba menyapa suaminya, Hamdan tetap diam. Tidak menoleh sama sekali. Akhirnya Rini mengalah, tidak mau mengganggu suaminya yang kelihatan sibuk. Rini masuk kamar dan pergi mandi.


    Rini yang kesal dengan suaminya, setelah mandi dan berganti pakaian, ia lebih memilih berdiam diri di kamar. Hanya merebahkan tubuh di tempat tidurnya. Kali ini Rini benar-benar kesal dengan suaminya. Alasannya, suaminya benar-benar mendiamkan dirinya. Tidak mau menegur, bicara, bahkan memandang atau melirik istrinya saja tidak. Hamdan benar-benar acuh dan cuek.


    "Tahu begini, mendingan tidak usah pulang saja." gumam Rini sendiri, yang merasa kecewa ketika sudah pulang tetapi tidak dianggap oleh suaminya.


    Sementara itu, di dapur, Mak Mun sibuk menyiapkan makan malam. Tidak hanya untuk majikannya, tetapi juga untuk anak dan menantunya, yang rencananya akan pulang malam. Kali ini tidak dibantu oleh Rini, Mak Mun memasak sendirian di dapur. Tidak ada yang membantu. Walau begitu, Mak Mun sudah biasa masak cepat. Maka dalam waktu sekejap, masakan sudah siap di meja makan.


    "Bapak ..., Ibu ..., Mas Yayan ..., Neng Silvy ..., makan malam sudah siap ...." kata Mak Mun yang memberi tahu majikannya agar segera makan malam.


    "Iya, Mak Mun .... Terima kasih." sahut Silvy yang kamarnya paling dekat dengan ruang makan.


    Silvy bersama Yayan langsung keluar dari kamar, menuju ruang makan.


    "Mamah ..., Papah ..., Ayo kita makan malam .... Silvy sudah lapar ...." kata Silvy yang memanggil ibu dan ayahnya, mengajak makan malam.


    Rini keluar kamar, lantas membuka pintu ruang kerja suaminya yang gadeng dengan kamarnya, mengajak suaminya makan malam.


    "Pah ..., kita makan malam dulu, yuk ...." begitu Rini mengajak suaminya.


    Tanpa jawaban, tanpa kata-kata, Hamdan hanya diam. Meski akhirnya Hamdan berdiri dari kursi dan keluar ruang kerja untuk menuju ruang makan. Tentu Hamdan tidak akan menunjukkan jengkelnya dengan Rini di hadapan anak-anaknya. Ya, untuk anak perlu bersandiwara gar selalu terlihat haromnis. Jangan sampai ada masalah orang tua yang diketahui anak. Hamdan memang ayah yang bijak.


    Sesampai di ruang makan, Hamdan langsung membaur dengan anak dan menantunya. Mengambil minum, dan makan seperti biasa. Seakan memang tidak ada apa-apa pada diri papahnya. Sangat santai dan enak. Seperti enaknya menikmati masakan Mak Mun.


    "Papah kapan berangkat ke Jerman?" tanya Silvy pada ayahnya.


    "Rencana besok Rabu. Kalau tidak ada perubahan jadwal penerbangan." jawab ayahnya.


    "Kalau penerbangan internasional biasanya jadwalnya tepat, Pah ...." sahut Silvy.


    "Ya ..., semoga saja lancar." jawab ayahnya.


    "Jangan lupa oleh-olehnya, Pah ...." pesan Silvy.


    "Ya .... Mau minta oleh-oleh apa?" tanya ayahnya.

__ADS_1


    "Dari Jerman banyak macamnya, Pah .... Ada cokelat, parfum, ada permen gummy bear, buddy bear maskot Kota Berlin, banyak Pah ...." pesan Silvy.


    "Yang khas dari Berlin, itu serpihan tembok Berlin." sahut Yayan yang memberi tahu istrinya.


    "Memang tembok Berlin dijual?" tanya papahnya.


    "Iya, itu dijual sebagai kenang-kenangan. Hanya sebagai cendera mata, karena warnanya yang unik dan nilai historikalnya yang tinggi." sahut Yayan yang paham kebudayaan dari berbagai negara.


    "Kenangan yang khas dari Jerman, ada lagi gak, Mas?" tanya Silvy pada suaminya.


    "Lonceng kecil khas Jerman, banyak dijajakan di sepanjang jalan di tempat-tempat wisata. Lonceng dengan ornamen ala Jerman, bentuknya unik, ukurannya kecil, mudah dibawa pulang, dimasukkan kantong saja bisa. Dan yang paling khas ya ..., miniatur mobil VW klasik. Itu sangat bagus." jelas Yayan lagi.


    "Lhah, seperti yang di Kampung Nirwana itu?" tanya Silvy.


    "Iya ..., tapi ini miniaturnya. Sangat bagus dan sempurna, seperti aslinya." jelas Yayan.


    "Wao .... Belikan ya, Pah ...." rajuk Silvy pada papahnya.


    "Lhah, di lapangan parkir Kampung Nirwana mobil VW kuno kan banyak .... Eh, kabar Mas Yudi bagaimana?" tanya Hamdan yang tiba-tiba menanyakan keadaan Yudi.


    Silvy diam memandangi ayahnya. Demikian juga Yayan, suami Silvy, yang tentu juga khawatir. Tidak berani menjawab. Mereka tahu jika tadi pagi, ayahnya pasti marah pada ibunya gara-gara ingin tetap menunggui Yudi. Rini langsung meletakkan sendok garpunya. Langsung berhenti makan. Pertanda hatinya terusik.


    "Lhah, ditanya kondisinya Mas Yudi kok malah pada bengong ...?!" kata ayahnya.


    "Papah nggak marah, kalau kami cerita?" tanya Silvy yang agak takut.


    "Belum ketemu, Pah ...." jawab Silvy sambil menunduk sedih.


    "Kok bisa ...? Katanya sudah dicari oleh tim SAR?!" kata Hamdan yang juga ikut penasaran.


    "Kemarain Mas Yayan yang ikut mencari." kata Silvy lagi.


    "Terus ..., bagaimana hasilnya, Mas Yayan?" tanya mertuanya.


    "Iya, Pah .... Kemarin saya ikut turun. Papah Yudi terperosok di lereng jurang, ada bekasnya, lantas jatuh ke dasar jurang. Tempat jatuhnya cukup tinggi, pasti akan mengalami luka yang parah. Di dasar jurang sudah ada tanda permintaan tolong, tetapi Papah Yudi tidak ditemukan. Hanya sobekan kain baju. Bahkan pada malam hari ditemukan bajunya yang sudah sobek semua dan berlumuran darah. Sampai malam tim SAR belum menemukan." jelas Yayan pada ayah mertuanya.


    "Terus ..., sekarang bagaimana?" tanya ayahnya.


    "Mas Bagas belum kasih kabar." sahut Yayan.


    Mendengar percakapan suami dan anak-anaknya, Rini hanya diam saja. Tidak bereaksi apa-apa. Tidak mau menimbrung pembicaraan suami dan anak-anaknya. Mungkin Rini sedang jengkel. Setidaknya kecewa karena suaminya melarang dirinya untuk menunggu ditemukannya Yudi. Sebenarnya tidak melarang, tetapi membentak. Jika teringat itu, rasa hati Rini masih sakit seperti ditusuk duri.


    Sebenarnya, memang Hamdan kasihan mendengar musibah yang dialami oleh Yudi. Tetapi dirinya akan berangkat ke luar negeri, yang tentu butuh banyak persiapan. Karena keberangkatannya ke Jerman bukan jalan-jalan atau wisata, melainkan untuk kerja, mengevaluasi proyek perusahaannya yang dikerjakan di Jerman. Dan itu sangat penting dan tidak bisa ditunda. Maka saat istrinya mengatakan lebih memilih menunggu Yudi ditemukan, jelas Hamdan akan marah karena menganggap istrinya tidak tahu kerepotan suaminya.


    Rini masih diam, saat makan malam sudah selesai. Bahkan saat anak-anaknya berpamitan akan pulang. Rini hanya mengatakan, "Ya," begitu saja, tanpa beranjak dari tempat duduknya. Yah, itulah wanita. Tidak bisa bersandiwara di depan anak-anaknya.

__ADS_1


    Setelah makan malam, dan setelah anak-anaknya berpamitan pulang, Hamdan kembali ke ruang kerja. Tentu untuk melanjutkan pekerjaannya, menyiapkan berkas-berkas yang harus dibawa ke Jerman. Hamdan melangkah dari ruang makan tanpa bicara dengan Rini. Bahkan juga tidak memerhatikan maupun melirik. Hamdan benar-benar terlihat acuh dengan istrinya.


    Rini yang dicueki, tidak mempermasalahkan. Ia tahu kalau suaminya masih jengkel dengan dirinya. Maka ia pun tidak mau berusaha merayu suaminya, malah membiarkan begitu saja.


    Selesai makan malam, Rini duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi. Meski tidak fokus menonton acara TV. Rini justru mengangkat HP, menelepon Bagas, menanyakan berita tentang pencarian Yudi.


    "Halo, Mas Bagas .... Bagaimana hasilnya, Mas?" tanya Rini saat menelepon Bagas.


    "Iya, Ibu Rini .... Mohon maaf belum mengabari .... Ini pencarian dari tim SAR masih berlanjut." jawab Bagas.


    "Lhah, terus hasilnya bagaimana?" tanya Rini yang sudah sangat khawatir.


    "Maaf, Ibu Rini ....Mas Yudi belum ditemukan ...." jawab Bagas dengan nada sedih.


    "Ya ampun ..., Mas Bagas ...." Rini kembali kecewa, tim SAR belum juga membuahkan hasil.


    Rini meninggalkan ruang keluarga, melangkah menuju tempat kerja suaminya. Tentu sambil mewek, karena mendengar berita dari Bagas yang kurang menyenangkan.


    "Pah .... Papah ...!" kata Rini sambil memukul-pukul pundak suaminya dari belakang.


    "Mamah ini kenapa, sih ...." kata Hamdan menanyai istrinya.


    "Pah .... Yudi, Pah ....!" kata Rini lagi yang belum berhenti memukuli pundak suaminya.


    "Yudi kenapa ...?!" tanya Hamdan.


    "Pah .... Yudi belum ketemu .... SAR tidak menemukan ...." kata Rini yang sambil menangis.


    "Mamah .... Mamah lihat Papah lagi kerja apa tidak?! Tadi pagi kan saya sudah katakan, kalau Mamah tidak mau pulang ke Jakarta, saya tidak apa-apa .... Mamah tahu nggak, sih ...?! Saya ini mau berangkat ke Jerman. Besok Rabu saya mau berangkat. Mamah tidak membantu saya, kok malah bikin ribut. Kalau memang Mamah ingin menunggui Yudi ..., silakan .... Saya mending sendiri, tidak direcokin!" kata Hamdan yang bernada agak tinggi.


    Tentu suami manapun akan marah jika istrinya seperti Rini. Tidak membantu suaminya, tapi malah menambahi beban pikiran.


    "Papah kok begitu, sih?!" kata Rini yang kecewa dengan suaminya.


    "Mamah itu mestinya bantu Papah menata pakaian yang akan saya bawa ke Jerman. Bukan malah menambahi beban pikiran seperti ini." jawab Hamdan.


    "Papah tidak kasihan sama Yudi ...?!" kata Rini yang masih kecewa.


    "Mah ..., tolong lihat pekerjaan saya yang banyak ini lho .... Kalau Mamah di Jogja, apa yang Mamah lakukan untuk menolong Yudi? Mamah bisa apa di sana? Paling hanya menangis, kan?! Terus ngapain Mamah ribut melulu .... Lebih baik Mamah diam, berdoa, memohon kepada Tuhan agar Yudi terselamatkan. Jangan ngributi seperti ini .... Malah bikin pusing." kata Hamdan menasehati istrinya.


    "Maaf, Pah .... Saya terlalu emosional. Saya sangat khawatir, Pah ...." kembali Rini menangis.


    Hamdan merasa kasihan pada istrinya. Lantas ia memeluk Rini yang menangis sesenggukan, sambil mengelus punggungnya.


    "Semoga Yudi medapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pasti semuanya ada rencana-rencana yang terbaik dari Tuhan. Berdoa saja, Mah .... Memohon bantuan pada Tuhan." kata Hamdan menenangkan istrinya.

__ADS_1


    Rini pasrah. Memohon kepada Yang Kuasa, agar Yudi diselamatkan.


__ADS_2