KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 81: GODAAN


__ADS_3

    Pagi belum juga sempurna, Yudi langsung mengangkat telepon, melihat pesan-pesan dalam HP-nya. Tentu mengharap ada balasan pesan dari Yuna. Pesan WA ke Yuna sudah centang hijau, artinya pesan yang ia kirim sudah dibaca oleh Yuna. Namun Yuna belum juga membalas.


    Yudi mencoba menghubungi Yuna melalui panggilan telepon. Panggilan berdering, namun tidak diangkat oleh Yuna. Yudi mengulangi panggilan lagi. Hal yang sama, notifikasi berdering, namun Yuna tetap tidak mengangkat panggilan dari Yudi. Lantas Yudi mencoba lagi. Hal yang sama, tidak diangkat. Selanjutnya, Yudi menulis pesan di WA, yang isinya ia meminta maaf atas segala kesalahan, dan memohon agar Yuna segera kembali ke Jogja. Tentu karena cintanya belum diselesaikan. Tidak lupa, pada chat yang terakhir, Yudi menulis "ai shi teru".


    Yudi masih pasrah. Ia mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Ia harus menebus kesalahan itu, dengan cara menyingkirkan semua lukisan Rini. Yah, Yudi tidak ingin Yuna melihat lagi lukisan-lukisan itu ada dalam kamarnya. Namun Yudi juga tidak ingin membuang lukisan itu begitu saja. Bahkan ia juga tidak ingin menjualnya ke galeri. Terlalu naif untuk menjual atau membuang lukisan orang yang sangat dicintainya. Yang jelas, lukisan itu harus tersingkir dari kamarnya.


    Kini Yudi bermaksud untuk memberikan lukisan-lukisan itu kepada yang berhak, yaitu Rini.


    "Halo, Rini .... Maaf jika mengganggu." Yudi menelepon Rini. Tentu ia sudah memperkirakan jika suaminya sudah berangkat kerja, sehingga teleponnya kepada Rini tidak mengganggu privasinya.


    "Hai, Yudi .... Tidak apa-apa .... Saya sudah seesai beres-beres, kok. Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?" sahut Rini dalam menjawab telepon Yudi.


    "Terima kasih, Rini .... Sebelumnya saya minta maaf soal telepon tempo hari. Bukan maksud saya untuk tidak menghargai Rini, tetapi kebetulan saja saya sedang ada masalah dengan pekerjaan." kata Yudi pada Rini di telepon.


    "Tidak apa-apa, Yudi .... Saya paham saat Yudi menyampaikan itu. Tapi Yudi sudah baik-baik saja, kan?" tanya Rini yang tentu mengkhawatirkan Yudi. Bagaimanapun juga, hati Rini tidak bisa begitu saja melepas kasih sayang Yudi. Apalagi jika Rini ingat saat ia terbarig di rumah sakit, seharian Yudi memijit sekujur tubuhnya, pijatan yang penuh kasih sayang.


    "Iya, Rini .... Saya sudah mulai bisa berfikir. Waktu itu saya betul-betul drop. Kacau balau. Tidak bisa berfikir apa-apa ...." sahut Yudi, yang tentu mengundang simpati dari Rini.


    "Memangnya ada apa, Yud? Coba cerita ke saya ..., siapa tahu ada yang bisa Rini bantu ...." Rini menawarkan bantuan untuk mengurai masalah Yudi.


    "Terima kasih, Rini .... Saya merasa senang punya Rini yang bisa memahami kesulitanku." sahut Yudi.


    "Yaah ..., itu kalau bisa. Jika saya tidak sanggup?! Yah, sekedar usul saja sebagai masukan. Bukankah saya tetap memikirkan dirimu, Yud? Yudi tahu, kan ..., bagaimanapun juga rasa cinta dalam hatiku tetap tergores nama Yudi." sahut Rini.


    "Begitu ya, Rin?!" kata Yudi.


    "Ya iya, lah .... Katamu, cita itu tidak harus memiliki .... Jadi, boleh kan aku tetap mencintai Yudi?!" sahut Rini.


    "Iya, Rini .... Hatiku juga begitu, kok ...." balas Yudi.


    "Eh, iya .... Memang ada masalah apa denganmu?!" Rini mengulangi pertannyaan yang tadi ditanyakan.


    "Bagaimana ya, Rin ...?! Terlalu berat untuk menyampaikannya ...." Yudi masing bingung untuk mengatakan.

__ADS_1


    "Ya ampun, Yudi .... Kayak sama siapa saja .... Apa sih yang aku tutupi untuk Yudi? Apa Yudi masih tidak percaya dengan saya?" tanya Rini yang tentu penasaran dengan sikap Yudi.


    "Saya percaya, Rin .... Bahkan sampai isi hatimu pun, saya percaya. Tetapi justru rasa percayaku terhadap cintamu ..., cintaku ..., cinta kita ..., ii yang membuat diriku bingung ...."kata Yudi yang takut untuk mengatakan sesuatu pada Rini.


    "Iya, Yudi .... Aku paham .... Cobalah Yudi katakan tanpa rasa takut. Ceploskan saja masalahmu. Jika memang itu terkait dengan diri saya, aku siap mendengar ..., meski harus merasakan kepedihan dalam hatiku." kata Rini menegaskan Yudi.


    "Iya, Rini .... Ini memang terkait dengan Rini .... Terkait dengan cinta kita .... Terkait dengan hatiku .... Dan tentu ini terkait dengan goresan-goresan perasaanku." kata Yudi yang masih berupa kiasan. Tentu masih membingungkan Rini.


    "Maksud Yudi ...?!" tanya Rini yang bingung.


    "Rini ..., sejak kemarin lusa, tiga hari yang lalu, Yuna pulang ke Jepang ...." kata Yudi mencoba memulai cerita.


    "Yuna pulang ke Jepang?! Terus?!" tanya Rini.


    "Ya ..., saya bingung .... Pulangnya diantar Bagas, tidak bilang saya. Bahkan sudah saya kirimi pesan di WA juga tidak membalas. Saya telepon berkali-kali juga tidak diangkat .... Saya sedih, Rin ..., proyeknya belum selesai." keluh Yudi pada Rini.


    "Ya ampun, Yudi .... Memang ada masalah apa ...?" tanya Rini.


    "Maaf, Rini ..., mungkin karena lukisan yang ada di dalam ruangku." kata Yudi.


    "Iya, Rini .... Lukisan-lukisan tentang Rini. Kelihatannya Yuna masuk ke kamar, membersihakan ruanganku, dan menyaksikan lukisan-lukisan itu. Lantas Yuna menangis di kamarnya, tidak mau bicara dengan saya." lanjut Yudi menceritakan masalahnya.


    "Ya ampun, Yudi .... Itu Yuna cemburu, Yud ...!" sahut Rini.


    "Iya .... Saya juga berfikir begitu. Yuna cemburu melihat lukisanmu." kata Yudi.


    "Yudi ..., kamu harus bangga, Yud .... Itu artinya Yuna mencintai kamu, Yud!" kata Rini yang justru menyenangkan hati Yudi.


    "Terus ...?!" tanya Yudi.


    "Ya, Yudi harus senang. Ayo segera lamar. Cepetan nikah!" kata Rini memotivasi Yudi.


    "Nikah bagaimana?! Yuna saja menghilang ...!!" Yudi memprotes.

__ADS_1


    "Ya ..., nanti tunggu .... Paling sebentar lagi juga pulang." sahut Rini.


    "Tapi, masalahnya ..., lukisanmu bagaimana, Rin? Ini yang jadi penyebabnya lukisan Rini." tanya Yudi.


    "Kenapa Yudi tidak berikan ke aku saja ...?!" tanya Rini.


    "Maunya begitu, Rin .... Tapi bagaimana dengan cintaku, Rin?" tanya Yudi pada Rini.


    "Ya ampun, Yudi .... Cobalah Yudi ikhlas mengganti cinta itu .... Kamu jangan begitu, Yudi ...!" kata Rini menasehati Yudi.


    "Rini ..., kamu tahu diriku .... Rini tahu seperti apa cintaku padamu. Sampai setua ini aku tidak menikah, itu bukti cintaku padamu, Rin .... Lukisan-lukisan yang aku buat, itu goresan cintaku, Rin ...." kata Yudi ingin meyakinkan cintanya keada wanita yang ia cintai.


    "Ya ampun, Yudi .... Kamu keterlaluan, Yud!  Coba Yudi pikir dengan logika, kalau Yuna itu cemburu, itu artinya Yuna cinta sama kamu. Sekarang saya mau tanya, Yudi cinta apa tidak sama Yuna?!" tanya Rini ingin menegaskan.


    "Ya ..., sebenarnya hatiku sulit berpaling darimu, Rin ...." kata Yudi yang masih bingung.


    "Yudi ...! Coba dengar kata-kata saya! Maaf kalau saya agak kasar .... Saya itu wanita sudah bersuami, saya sudah berkeluarga. Tolong Yudi pahami itu. Dan saya tidak mungkin meninggalkan suami dan keluarga saya hanya karena Yudi. Maaf, Yudi ..., ini harus saya tegaskan!" Rini mulai jengkel dengan sikap Yudi yang seperti anak kecil.


    "Rini tidak percaya dengan isi hatiku?" kilah Yudi yang ingin meyakinkan cintanya pada Rini.


    "Yudi .... Aku percaya .... Tapi lihatlah diriku sekarang ini seperti apa? Lantas lihat Yuna yang sudah menunggu dirimu .... Cobalah Yudi sadar hal itu. Saya sudah berkeluarga, sudah punya suami, sudah punya anak .... Diriku sudah tua, bahkan sudah bukan perawan. Tapi bagi Yuna ...?! Dia lebih segala-galanya, Yudi .... Orangnya masih muda, cerdas, masih gadis dan sangat cantik .... Masih kurang apa dirimu menemukan Yuna?! Dia itu seperti mutiara dari lautan dalam, Yudi ...!" Rini yang semakin jengkel, membandingkan segala kelebihan yang dimiliki Yuna.


    "Rini ..., cinta itu bukan karena usia, bukan karena kecantikan wajah, bukan karena apa-apa .... Tetapi cinta itu karena rasa, Rini .... Perasaan hatiku kepadamu ...." Yudi ikut-ikutan berargumentasi.


    "Yudi .... Saya ini sudah bersuami .... Tolong jangan hancurkan keluargaku. Saya mohon Yudi paham itu." kata Rini sudah lemas menghadapi sanggahan-sanggahan dari Yudi, si raja ngeyel itu.


    "Apapun dirimu, aku tidak bisa menghapus namamu dari lubuk hatiku, Rini." kata Yudi lagi.


    "Kamu gila, Yud .... Kamu gak punya nalar. Logikamu tidak jalan. Cintamu tak beralasan." sahut Rini.


    "Aku tidak peduli apapun. Yang aku peduli, Rini pernah menggoreskan cinta dalam hatiku." sahut Yudi.


    "Terserah kamu, Yudi .... Aku sudah malas berdebat dengan dirimu. Jika mau saya sarankan, cepatlah jemput Yuna ke Jepang, cintai dia sepenuhnya. Kirim segera lukisan-lukisan diriku ke rumahku .... Maaf, saya harus menutup telepon Yudi. Saya sudah tidak sanggup berdebat dengan dirimu." kata Rini yang langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


    Yudi terdiam. Merenungi semua ucapan Rini. Jika ia menjemput Yuna, itu berarti harus melupakan cintanya kepada Rini. Tetapi jika ia tetap mempertahankan cintanya yang tidak mau digantikan itu, maka selamanya dia tidak akan pernah menikah.


    Apakah Yudi sanggup mengubah falsafah cintanya? Apakah Yudi sanggup melepas cinta begitu saja seperti yang diminta oleh Rini? Akankah Yudi sanggup melelehkan goresan-goresan lama dengan cat lukis cinta yang baru?


__ADS_2