KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 193: TETANGGA YANG BAIK


__ADS_3

    Sudah seminggu Rini tinggal di Nirwana Homestay. Setelah beres menata rumahnya, termasuk memasang lukisannya yang dikirim oleh Yudi, dari Kampung Nirwana dikirim ke Jakarta, kini dibawa balik ke Kampung Nirwana lagi, Rini memasang lukisan itu sama seperti waktu berada di kamar Yudi. Bahkan ia juga menata tempat tidur dan meja kerja yang benar-benar sama persis dengan kamar Yudi. Tentu Rini melakukan itu semua karena ia sangat bangga dengan Yudi. Tidak hanya bangga karena lukisannya yang indah dan hidup, tetapi Yudi juga sangat baik kepada siapa saja. Walau dalam sudut hati Rini pasti masih menyimpan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Peristiwa meninggalnya suaminya sudah terjadi saat Yudi baru saja menikah dengan Yuna. Jika saja Yudi belum menikah, pasti status janda Rini akan diserahkan kepada Yudi.


    Tidak mengapa. Itu hanyalah status. Orang sudah menikah, belum menikah atau sudah janda maupun duda, itu hanyalah status. Tapi soal memendam rasa cinta, atau hanya sekadar mengagumi, ibu sah-sah saja.


    Demikian juga ketika kini Rini berstatus janda, jika ia mengagumi Yudi, pasti tidak ada yang melarang. Berbeda jika ia memaksakan diri untuk merebut Yudi. Itu namanya pelakor. Rini tidak ingin mengulang peristiwa yang dialami oleh suaminya.


    Meski Nirwana Homestay cukup ramai tamu pengunjung, namun bagi Rini yang tidak punya siapa-siapa di Jogja, mulai merasakan butuh kesibukan. Kalau hanya menyiram dan merawat anggrek, itu cuma butuh waktu tidak lebih dari satu jam. Tapi setelah merawat anggrek, Rini merasa kesepian. Meski bisa menonton TV, tapi lama-kelamaan juga membosankan. Rini butuh kesibukan yang lebih agar bisa menghibur diri.


    Ya, meski Rini sudah terbiasa menjadi nyonya rumah orang kaya, biasa hidup dalam gelimang harta dan uang, tetapi Rini bukan tipe wanita yang suka kumpul-kumpul semacam sosialita. Rini bukan wanita yang suka keluyuran di mall atau supermarket. Bahkan meski suaminya memberi kebebasan kepada Rini untuk senang-senang, tetapi Rini tidak pernah mengumbar nafsunya untuk berfoya-foya. Rini memang beda. Makanya ketika kakak dan adik-adik iparnya meminta warisan suaminya, Rini tidak keberatan ataupun sayang untuk melepas harta benda yang sangat banyak jumlahnya. Bagi Rini hidup bahagia itu apabila bisa berbagi dengan sesama, terutama bisa bersama dengan orang-orang yang ia cintai.


    Kini, saat ia berada di Nirwana Homestay, Rini jauh dari anak dan menantunya, Rini sudah tidak bersama Mak Mun, bahkan Rini juga sudah tidak lagi ditemani Mang Udel saat merawat anggrek. Rini jauh dari siapa-siapa. Bahkan orang yang paling dekat dengannya, yaitu Yudi, saat ini berada entah di mana.


    Siang itu, Rini ke pos keamanan mau meminta tolong pada Pak Min untuk dibelikan sayur dan lauk. Ia sudah menanak nasi. Hanya butuh sayur dan lauk. Tentu ingin ada variasi dalam menu makanannya.


    "Pak Min ..., saya mau minta tolong dibelikan sayur bisa?" kata Rini pada Pak Min yang masih asyik mendengarkan musik dangdut di pos keamanan.


    "Iya, Ibu Rini .... Ibu saya antar saja, biar bisa memilih sendiri yang disukai." kata Pak Min.


    "Jauh tidak, Pak Min ...?" tanya Rini.


    "Walah ..., lha itu to, Bu .... Warung depan itu lho, tinggal nyeberang jalan saja kok." kata Pak Min sambil menunjukkan warungnya yang berada tepat di depan gerbang Nirwana Homestay.


    "Ooalah .... Itu, to ...." sahut Rini setelah melihat warungnya. Rumah kampung biasa, hanya pada bagian depannya ada jendela besar yang dibuka ke atas.


    "Mari, Ibu Rini ..., saya antar dahulu, nanti saya kenalkan dengan penjualnya. Namanya Mbok Sumi." kata pak Min yang langsung menyeberangkan Rini menuju warung.

__ADS_1


    Hanya melangkah ke seberang jalan. Walau tidak terlihat sebagai rumah makan, atau tanpa tulisan warung makan, tetapi warung Mbok Sumi ini laris oleh para tetangga yang belanja masakan. Di Kampung Nirwana, orang jualan seperti MBok Sumi ini sebutannya jualan matengan. Di tempat itu biasanya juga yang makan di situ. Ya, orang-orang yang jajan biasanya hanya sekadar duduk berjejeran di sebuah dingklik kayu yang panjang, atau angkruk yang terbuat dari bambu yang berada di luar warung. Orang-orang kampung merasa asyik makan di tempat yang masih tradisional tersebut.


    "Mbok Sumi ...." sapa Pak Min yang baru saja masuk.


    "Wee ..., Pak Min .... Mau makan?" sahut Mbok Sumi sang bakul matengan tersebut.


    "Ini, mengantar Ibu Rini .... Tetangga baru kita, tinggal di Unit Tiga." kata Pak Min yang memperkenalkan Rini kepada Mbok Sumi.


    "Ibu Rini yang dari Jakarta itu, ya ...?" tanya Mbok Sumi menyambut kedatangan Rini.


    "Butul, Mbok Sumi ...." jawab Rini.


    "Alhamdulillah .... Senangnya punya tetangga dari Jakarta. Monggo, Ibu Rini .... Mau beli apa?" kata Mbok Sumi yang tentu ramah. Orang-orang kampung selalu ramah kepada siapa saja.


    "Alhamdulillah, punya tetangga dari Jakarta. Besok ajak kami piknik ke Jakarta, Bu ...." sahut orang yang sedang makan di warung itu.


    "Lha anak saya yang sekolah SMP itu kok diajak piknik ke Jakarta? Katanya objek wisata di Jakarta banyak?" sahut orang yang minta diajak piknik ke Jakarta.


    "Itu kan tempat pikniknya saja yang bagus. Mau ke Taman Mini, Dufan, atau Monas. Tapi saya melihat onjek wisatanya bagusan Jogja. Apalagi ada Taman Awang-awang. Orang-orang Jakarta saja kalau liburan pada berdatangan ke Jogja, kok ...." sahut Rini yang membandingkan objek wisata di Jakarta dan Jogja.


    "Tapi bagi kami orang Jogja, sudah bosan dengan objek wisata di sini, Bu ...." sahut orang itu.


    "Iya, karena Bapak sudah sering lihat. Gantian saya, yang rumahnya di Jakarta juga bosan melihat Monas tiap hari. Hehehe ...." kata Rini sambil tertawa, tentu untuk mengakrabkan dengan para tetangga.


    "Ini Ibu Rini mau beli apa?" tanya Mbok Sumi yang menawarkan kepada Rini.

__ADS_1


    "Sayurnya apa saja ya, Mbok?" Rini melihat-lihat masakan yang ada di meja dagangan Mbok Sumi.


    "Ini ada pecel, sayur lodeh, gudeg gori. Terus yang ini botok daun singkong, pepes ikan asin. Lauknya ada telur dadar, ayam goreng, ikan laut." kata penjual itu sambil menunjukkan menu-menunya.


    "Saya minta sayur lodeh satu porsi, telor dadar, sama pepes ikan asin. Satu-satu saja." pesan Rini kepada penjual sayur itu.


    "Kok satu saja?" tanya Mbok Sumi.


    "Anak saya belum datang. Nanti kalau sudah sampai sini gampang saya ajak kemari. Mbok Sumi buka terus, kan?" kata Rini.


    "Iya, Ibu Rini ..., saya tutupnya habis maghrib. Malum sudah sepi." jawab si penjual sayur.


    "Silakan jalan-jalan ke tempat kami, Bu .... Jalan yang arah menuju Taman Awang-awang. Di sana lebih ramai, banyak wisatawan yang berkunjung ke Taman Awang-awang. Objek wisatanya bagus lho, Bu ...." kata bapak-bapak yang nongkrong di warungnya Mbok Sumi.


    "Iya, Pak .... Terima kasih. Lain waktu saya akan jalan-jalan keliling kampung. Biar tahu semua." sahut Rini, yang sebenarnya sudah terlalu sering ke Taman Awang-awang.


    "Wah, iya betul, Bu .... Keliling kampung, biar tahu seluruh objek di kampung ini. Ada yang pusat membatik, tempat belanja, tempat kesenian .... Pokoknya macam-macam, Bu. Tidak akan bosan tinggal di Kampung Nirwana." kata laki-laki itu.


    "Iya, Pak .... Besok pasti saya akan keliling ke seluruh penjuru kampung. Biar diantar Pak Min." jawab Rini.


    "Tidak usah khawatir, Ibu Rini .... Tetangga di sini baik-baik. Yang penting Ibu Rini baik, pasti tetangga akan baik."


    Tentu orang-orang yang ada di warung Mbok Sumi itu senang sudah bisa ngobrol dengan Rini. Bagaimana tidak, Rini yang sudah berusia lima puluh tahun itu masih terlihat cantik. Bahkan sangat cantik jika disandingkan dengan orang-orang di Kampung Nirwana. Kulitnya yang putih bersih tanpa ada noda kotor, serta belum ada keriput, masih sangat terlihat muda dan mempesona. Ya, karena Rini tidak pernah ke sawah atau ladang serta kerja keras sebagai petani. Jelas beda dengan wanita-wanita di Kampung Nirwana yang harus kerja keras, sehingga kulitnya pasti terbakar terik matahari.


    Tidak masalah. Bagi Rini, yang penting warga kampung bisa menerima dirinya. Itu sudah sangat menyenangkan. Apalagi jika Rini masih dianggap sebagai orang baik. Itu akan berpengaruh pada pandangan orang tentang dirinya. Apalagi statusnya saat ini sebagai janda. Pasti harus lebih berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku.

__ADS_1


    Ya, diterima oleh para tetangga sebagai orang yang baik. Maka Rini sudah berkomitmen, di tempat yang baru ini, di Kampung Nirwana, ia ingin menjadi orang baik.


__ADS_2