
Yudi mengajak anak Jepang itu pulang ke Indonesia. Mumpung kuliah belum dimulai. Masih ada waktu satu bulan untuk menunggu perkuliahan. Terlalu lama jika menunggu di Paris. Meski Yuni sudah disewakan apartemen oleh ayahnya, dan anak Jepang itu rencananya kelak akan tinggal di asrama kampus. Namun waktu satu bulan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan karya-karya di Yudi's Gallery. Setidaknya bisa berhemat untuk makan di Prancis yang sangat mahal bila dibandingkan dengan makan di Jogja. Sekali makan di Prancis bisa dipakai untuk makan dua puluh lima kali di Jogja.
Rini tidak melarang keinginan Yudi untuk membawa anak Jepang itu. Meski jawabannya kala ditanya Yudi kurang menyenangkan. Meski begitu, Yudi tetap membawa pulang anak itu. Tentu yang paling penting adalah Yudi ingin menolong dan membantu anak itu, yang sudah mengaku tidak punya siapa-siapa. Dan yang paling mendasari alasan Yudi mengajak anak itu, karena ia berasal dari Kuil Kifune, tempat di mana Yudi pernah ditolong oleh para pendeta. Pasti anak ini tidak punya uang. Yudi tahu, di kuil itu uang bukan hal penting. Tidak ada orang yang butuh uang di kuil itu. Tidak diperlukan uang untuk kehidupan di kuil. Bahkan uang justru dianggap sebagai penghalang untuk menuju surga.
Yudi memberi pengertian itu kepada istrinya. Mamun rupanya Rini bukanlah wanita yang bisa berbuat baik begitu saja saat hatinya belum bisa menerima kenyataan. Kini, Rini lebih banyak diam. Tidak ingin membahas masalah anak itu lagi. Semuanya terserah Yudi. Apapun kemauan Yudi, Rini sudah pasrah. Rini tidak ingin mencegahnya. Yang penting Yudi tetap menjadi orang baik bagi dirinya dan keluarga. Terutama untuk anak-anaknya.
Rini tentu sadar dengan kebaikan Yudi. Sebagai seniman, Yudi tidak seperti teman-temannya. Tidak gondrong, tidak berpakaian nyentrik, tidak kotor, tidak belepotan dengan cat, bahkan hidupnya penuh dengan kerapian. Tempat kerjanya sangat rapi dan bersih. Sampai-sampai tempat tidur pun rapi, yang selalu ditata oleh Yudi. Bahkan Yudi juga sangat rajin untuk menata rumahnya. Sangat jauh berbeda dengan teman-temannya yang sering ia lihat di galeri maupun di sanggar lukis. Itulah Yudi yang Rini kenal sejak menjadi teman dan sahabatnya waktu SMA. Bahkan Rini jatuh cinta pada Yudi itu karena Yudi memang teman yang paling baik di matanya. Itulah sebabnya, Rini sempat tergila-gila.
Namun kini, ketika Rini bisa menjadi istri Yudi, jalan ceritanya berbeda dengan saat SMA dahulu. Yang jelas semuanya sudah berubah. Rini sudah pernah punya suami sebelumnya, yaitu Hamdan. Meski suaminya meninggal dengan cerita yang tragis. Demikian pula Yudi, sudah punya istri Yuna. Bahkan kala Yudi menikah dengan Rini, Yuna belum diketahui nasibnya. Kalau memang Yuna masih hidup, itu artinya Rini yang keliru, karena merebut suami orang. Apa bedanya dengan pelakor yang pernah merebut Hamdan.
Tentu Rini mulai bingung untuk berkata-kata. Semua serba salah. Setiap kali memandangi anak Jepang yang mulai akrab dengan Yuni, Rini pun merasa kasihan dengan anak laki-laki itu, yang tidak punya siapa-siapa. Anak itu masih seusia Yuni. Kalau memang benar anak itu adalah anak Yudi yang dikandung oleh Yuna, berarti usianya hanya selisih satu tahun di atasnya Yuni. Bisa dibilang kakak beradik.
Perubahan gelagat Rini itu, tentu diperhatikan anaknya. Maka saat Rini ikut-ikutan masuk kebun anggrek, Silvy langsung menanyakan masalah itu kepada ibunya.
"Mamah kenapa kelihatan sedih ...?" tanya Silvy yang tentu sudah mengamati ibunya sejak tiba dari Prancis.
"Tidak apa-apa ...." jawab Rini datar saja tanpa membantah.
"Tidak seperti biasanya, Mamah ikut-ikutan ke kebun anggrek ...? Pasti ada sesuatu." kata Silvy lagi.
"Tidak ..., Sayang .... Mamah cuman pengin lihat anggrek-anggrek kalian ...." jawab Rini lagi.
"Pasti gara-gara Papah ngajak Yunadi kemari ...." tebak Silvy mencoba membongkar rahasia ibunya.
Rini diam. Tidak berkomentar dan tidak menjawab. Dia malah pura-pura membenarkan pot anggrek yang miring. Seakan tidak mendengar yang diomongkan anaknya.
"Pasti Mamah tidak senang dengan kehadiran Yunadi .... Mamah cemburu, ya ...." kata Silvy, lagi-lagi ingin mengorek hati ibunya.
"Iih .... Cemburu apaan ...?!" kata Rini mengelak.
"Silvy tahu .... Mamah pasti cemburu, karena anak itu sebenarnya anaknya Papah Yudi sama Mis Yuna .... Makanya Mamah tidak mau menerima kehadiran Yunadi di sini." kata Silvy yang langsung mengejutkan ibunya.
"Kok kamu tahu ...?" tanya Rini.
"Ya iya, lah .... Kan Mamah cemburu .... Berarti itu ada hubungannya dengan ibunya Yunadi .... Coba Mamah eja namanya .... Yunadi, berarti Yuna dan Yudi .... Sama dengan Yuni, dari kata Yudi dan Rini ...." kata Silvy pada ibunya.
"Seperti itu, ya ...? Berarti bisa jadi Yunadi itu memang anaknya Yuna dengan Yudi ...." Rini mulai berfikir, mungkin saja itu benar.
"Coba Mamah lihat wajahnya .... Anak itu matanya mirip dengan Mis Yuna. Tapi dari hidung dan dagunya, mirip Papah Yudi." kata Silvy yang tentu membuka tabir penglihatan Rini.
__ADS_1
"Apa iya, sih ...?" Rini mencoba pura-pura tanya untuk meyakinkan.
"Coba saja Mamah perhatikan ...." Silvy menyuruh ibunya.
"Mungkinkah ...?" Rini mulai ragu-ragu.
"Harusnya, Mamah minta ke Papah Yudi untuk menyelidiki siapa orang tua Yunadi itu sebenarnya ...." Usul Silvy.
"Caranya gimana?" tanya Rini yang tentu bingung.
"Ya ..., serahkan saja pada Papah Yudi .... Saya yakin Papah Yudi sanggup mencari orang tua Yunadi .... Orang dahulu waktu mencari keberadaan Mis Yuna saja sebenarnya tahu, kok ...." kata Silvy.
"Masak, sih ...?!" Rini tidak percaya.
"Iya .... Waktu Mas Yayan disuruh bantu translate dahulu ..., itu rahasia-rahasia Mis Yuna. Jadi Papah Yudi sebenarnya tahu rahasia Mis Yuna. Tapi katanya, Papah Yudi tidak sanggup menolong, karena taruhannya nyawa." kata silvy yang menceritakan rahasia Yuna.
"Oo ..., pantesan waktu kemarin saya tanya tentang Yuna, Papah Yudi bilang tidak sanggup menolong. Bahkan orang-orang pemerintah saja tidak bisa membantu. Berarti seperti itu .... Apakah memang tidak mungkin untuk ditolong?" Rini mulai ingin tahu.
"Katanya sih, begitu ..., Mah. Masak Mamah malah tidak tahu ...?!" sahut Silvy.
"Yaa .... Papah Yudi cuman bilang kalau ia tidak sanggup menolong Yuna." jawab Rini.
"Iya .... Ceritanya kok sangat menyedihkan, ya ...." sahut Rini.
"Mah ..., seandainya memang benar anak laki-laki itu adalah anak Mis Yuna sama Papah Yudi, apakah Mamah mau menerimanya .... Kasihan, Mah .... Yunadi tinggal di kuil, tanpa tahu orang tuanya. Berarti sejak kecil anak ini tidak pernah melihat orang tuanya. Kasihan sekali, Mah ...." kata Silvy tiba-tiba yang tentu sangat sedih mengetahui kisah hidup Yunadi.
"Iya .... Mamah sebenarnya juga kasihan .... Tetapi Mamah khawatir ...." kata Rini kembali ragu-ragu.
"Khawatir apa ...?" tanya Silvy.
"Seandainya Mis Yuna masih hidup, terus nanti saya bagaimana?" kata Rini.
"Ya ampun, Mah .... Ya nggak gimana-gimana, lah .... Memang Papah Yudi itu orang jahat, yang mau njahatin Mamah, gitu .... Nggak bakal, Mah .... Papah Yudi itu orang baik .... Mau menikah dengan Mamah saja banyak pertimbangan .... Saya tahu kok, Mah .... Papah Yudi pernah cerita ke saya ...." sahut Silvy yang ingin meyakinkan ibunya.
"Iya, Silvy .... Semoga saja Papah Yudi tetap sebaik yang Mamah kebal." sahut Rini.
"Berarti Mamah mau kan, menerima Yunadi menjadi anak Mamah .... Yah ..., sekalian untuk ngibadah, Mah .... Merawat anak yatim piatu dapat pahala .... Hehe ...." kata Silvy menggugah nurani ibunya.
"Iya ya, Vy .... Kenapa Mamah tidak kepikiran seperti itu dari dahulu, ya ...? Kan kita bisa beramal, ya ...." sahut Rini yang juga mengingatkan tentang beramal.
__ADS_1
"Berarti Mamah bisa menerima kehadiran Yunadi dalam keluarga kita? Wah ..., Yuni bakalan senang punya teman bermain ...." kata Silvy yang tentu juga ikut senang.
"Iya ..., Yuni senang kok, punya teman Yunadi .... Tentu karena mereka punya hobi yang sama. Sama-sama pintar melukis .... Persis seperti bapaknya ...." kata Rini yang memuji anak dan suaminya.
"Berarti Yunadi juga menuruni kepintaran melukis dari Papah Yudi, ya Mah ...?" tanya Silvy yang tentu mencoba menggoda ibunya.
"Ih, kamu itu ...." Rini langsung mencubit dagu anaknya.
*******
"Pah ..., apa tidak sebaiknya Papah cari tahu, siapa sebenarnya orang tua Yunadi ...?" kata Rini pada Yudi saat makan malam bersama.
"Apa itu perlu ...? Kita menolong dengan ikhlas kan, Mah ...?" jawab Yudi.
"Benar .... Tapi kalau Papah bisa menolong menemukan orang tuanya, itu kan lebih baik ...." sahut Rini.
Yudi diam. Tentu karena Yudi sudah menduga, kalau Yunadi adalah anaknya. Ia khawatir jika nanti Rini tahu kalau anak itu adalah anak Yuna dengan Yudi. Setidaknya, Rini pasti akan sulit untuk menerima kenyataan.
"Kok, Papah diam ...?" tanya Rini.
Yudi tetap diam. Ia menghentikan makannya. Tentu karena rasanya menjadi tidak enak mendengar pernyataan istrinya, yang akan menjurus pada ketahuannya orang tua Yunadi. Yang pasti akan menyangkut dirinya.
"Papah ..., kami sudah bisa menerima kok .... Tidak masalah seandainya Yunadi itu ternyata anak Papah .... Kami bisa menerima, kok .... Tapi sebaiknya Papah memastikan. Makin cepat lebih baik, agar Yunadi juga tidak terlalu lama menderita ...." kata Silvy yang sudah berembug dengan ibunya.
"Iya, Pah .... Kami bisa menerima, kok ...." kata Yayan yang ikut nimbrung.
"Apakah Yuni bisa menerima?" tanya Yudi yang masih ragu-ragu.
"Yuni .... Kalau misalnya Yuni punya kakak Yunadi, mau nggak?" tanya Silvy pada adiknya.
"Mau ...." sahut Silvy cepat, dan tentu langsung merangkul Yunadi.
"Baiklah .... Besok Papah mau cari bukti. Kalian boleh menyaksikan." kata Yudi memberi kepastian.
"Caranya bagaimana, Pah ...?" tanya silvy yang ingin tahu.
"Ada .... Lihat saja besok." kata Yudi yang memulai makan lagi.
Kita lihat besok .... Bagaimana pembuktian Yudi.
__ADS_1