
Lagi-lagi, adik-adik Hamdan serta kakak iparnya, masih menanyakan masalah simpanan uang dan harta kekayaan Hamdan. Berkali-kali Rini ditelepon oleh adik-adik iparnya. Masih ditambah telepon dari istri kakak iparnya yang juga menambah masalah. Tentu adik-adik ipar dan istri dari kakak iparnya itu menuntut bagian harta kekayaan dari Hamdan.
Yah, itulah jika manusia hanya mengabdi pada harta benda dan kekayaan. Apa-apa selalu dihitung. Bahkan kekayaan orang lain juga ikut dihitung. Jadi sikap serakah, lagi-lagi yang membuat orang selalu kurang, kurang dan kurang. Tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa cukup. Dan orang-orang seperti ini biasanya tidak pernah mau berbagi, tidak mau memberi, tidak mau bersedekah, maunya cuma menerima dan minta-minta. Itulah mental bobrok orang-orang serakah. Padahal sebenarnya, jika kita amati, orang-orang yang mengaku dirinya kurang, mengaku tidak mampu, itu akan terjadi sungguh. Mereka akan dimiskinkan oleh Yang Kuasa.
Rini juga heran merasakan sifat dan sikap saudara-saudara dari suaminya. Bahkan iparnya saja juga ikut-ikutan ketularan. Ikut jadi ngiri, minta-minta sama seperti adik-adik iparnya. Padahal kalau dipikir, istri dari kakaknya Hamdan, mestinyatidak ada hubungan darah dengan Hamdan. Tetapi kenapa perempuan yang sering dipanggil Bude itu juga serakah, pengin memiliki harta orang lain?
Iya, kalau difikir, Pakde Hamzah dan istrinya, itu sudah sangat mapan dan berlebih. Tetapi mengapa mereka masih ngoyok untuk minta-minta bagian dari harta Hamdan? Yah, tidak usah jauh-jauh, kalau lebaran saja, setiap idul fitri, Hamdan selalu bingung memberikan bagian kepada adik-adiknya dan kakaknya kalau pulang kampung. Sudah dikasih uang, oleh-oleh, macam-macam makanan serta pakaian, secara terang-terangan masih minta uang lagi yang katanya untuk memperbaiki rumah, ganti atap ..., macam-macam alasannya. Termasuk istri kakaknya. Bude itu yang blak-blakan tidak tahu malu. Kalau minta terus terang dan menyebutkan nominalnya. Masak sampai membelikan motor anaknya harus minta uang ke Hamdan. Padahal mestinya, justru Pakde yang bagi-bagi THR. Silvy saja, setiap kali diajak mudik, tidak pernah disangoni sama Pakde. Apalagi yang lainnya.
Sangat beda dengan orang-orang pada umumnya. Biasanya, yang namanya acara mudik itu enak, mengasyikkan, menyenangkan. Tapi menurut Rini, itu menghambur-hamburkan uang. Seratus juta lebih, Hamdan harus keluar uang, hanya untuk saudara-saudaranya. Sedangkan istri dan anaknya, justru tidak pernah merasakan bagusnya mengenakan baju baru saat lebaran. Bagi Rini dan Silvy, lebaran atau tidak, ya sama saja. Tidak ada kata baju lebaran.
Pernah ada tetangganya yang cerita, kalau mudik itu enak. Nanti kalau sampai di kampung, oleh saudara-saudaranya dikasih macam-macam. Ada kelapa, ya disuruh bawa kelapa. Saudaranya panen padi, dikasih beras. Saudaranya punya pisang, disuruh membawa pisang. Bahkan ayam pun disuruh membawa. Ibarat kata, kalau mudik itu membawa truk, maka saat pulang ke Jakarta, truknya penuh barang bawaan dari kampung. Itu kata para tetangga.
Tapi kalau di keluarga Hamdan, kebalikannya. Ibarat kata bawa apa-apa, pasti habis diminta oleh sudara-saudaranya Hamdan. Itulah saudaranya Hamdan, yang sudah terbiasa apa-apa minta ke Hamdan.
Tapi, kini Hamdan sudah tidak ada. Hamdan sudah meninggal. Sudah tidak ada lagi orang yang diandalkan penghasilannya. Mengapa mereka masih menelepon Rini untuk minta-minta lagi? Apa mereka tidak tahu kalau Rini itu tidak bekerja? Apa sih yang mereka inginkan? Tega-teganya mereka sampai meneror Rini, kakak iparnya yang sudah tidak punya suami.
Setelah berkali-kali ditelepon oleh adik-adik iparnya, dan juga istri dari kakak iparnya, Rini sudah sangat jengkel sekali. Emosi Rini meningkat seratus delapan puluh derajat. Tensinya pasti juga tinggi. Dan yang paling tidak mengenakkan adalah dituduh ingin menguasai harta suaminya. Sungguh keterlaluan. Maka dengan sangat terpaksa, Rini menelepon kakak Hamdan, yaitu Pakde Hamzah. Orang tertua di keluarga Hamdan.
"Halo, Pakde Hamzah .... Ini Rini, Pakde ..., ingin bicara sebentar." kata Rini saat menelepon kakak iparnya.
"Iya, Dik Rini .... Ada apa, ya ...?" tanya kakak iparnya.
"Pakde ..., besok sebentar lagi kan ada acara selamatan empat puluh hari meninggalnya Mas Hamdan .... Kami mohon Pakde, Bude, Tante dan Om serta suami istrinya, datang ke Jakarta semua." kata Rini mengawali pembicaraannya. Tentu tidak enak jika langsung menyampaikan masalah yang sebenarnya, nanti dikira lapor. Jika mengundang di acara seperti itu, akan lebih etis dan memang harus diundang.
"Oh, sudah mau empat puluh hari ya, kematian Hamdan. Kalau saya sendiri bisa, tapi bagaimana dengan adik-adikmu .... Saya harus tanyakan dahulu." jawab kakak iparnya.
"Harus datang semua, Pakde Hamzah .... Pakde, Bude, Tante dan Om serta suami istrinya, harus datang ke Jakarta semua. Pokoknya harus datang." kata Rini menekankan.
"Ya, tapi ke Jakarta kan butuh uang, Dik Rini ...." sahut kakak iparnya.
"Pakde kan punya mobil .... Enam orang berangkat ke Jakarta dalam satu mobil kan bisa ...!" kata Rini yang memaksa.
"Iya, Dik .... Tapi apa adik-adik kamu mau?" kilah kakak iparnya.
"Ya harus mau lah .... Masak kirim doa untuk kakaknya sendiri kok tidak mau. Kalau ada butuhnya saja minta merengek-rengek sama Mas Hamdan. Giliran mendoakan kakaknya banyak alasan. Saudara macam apa itu?" kata Rini menyindir.
"Dik Rini jangan begitu ...." kakak iparnya mulai tersinggung.
"Faktanya begitu, Pakde .... Pokoknya besok untuk acara empat puluh hari kirim doa ke Mas Hamdan, saya minta semua adik dan kakak Mas Hamdan harus datang. Saya tidak mau alasan apapun!" tegas Rini.
*******
Acara kirim doa dalam rangka memperingati empat puluh hari meninggalnya Hamdan sudah disiapkan. Rini tidak menyuruh Mak Mun untuk masak. Mak Mun dan Mang Udel hanya diminta untuk menata tempat. Semua masakan sudah diserahkan kepada tukang catering. Mulai dari makanan kecil hidangan makan besar serta minuman, semua sudah diborong oleh catering. Termasuk dus yang akan dibawa pulang oleh para tamu yang ikut mendoakan.
Menjelang maghrib, mobil station milik Pakde Hamzah datang, dan parkir di depan rumah Rini. Enam orang turun dari mobil warna hijau tersebut. Lantas masuk ke rumah Rini.
__ADS_1
"Ee ..., Pakde ...." Silvy yang tahu pakdenya datang, langsung menyambut menyalaminya. Lantas juga menyalami bude, om dan tantenya, serta istri dan suami dari om dan tantenya.
"Silvy .... Sudah punya momongan belum?" tanya Pakde Hamzah.
"Belum, Pakde .... Besok saja kalau sudah lebih mapan." sahut Silvy polos.
"Ee ..., jangan besok-besok .... Secepatnya punya anak, biar rumahnya ramai." kata pakdenya lagi.
"Iya, Pakde .... Silakan duduk dulu, Pakde ..., Bude ..., Om ..., Tante ...." kata Silvy yang langsung masuk, tentu untuk menemui ibunya, memberi tahu kalau keluarga dari ayahnya sudah datang.
Benar juga, dalam sekejap Rini sudah keluar menyambut saudara-saudara iparnya.
"Ee .... Pakde, Bude, Om, Tante ..., sudah nyampai. Duduk di dalam saja, nanti yang sini untuk para tetangga." kata Rini menyambut saudara suaminya.
Setelah menyalami, Rini mengajak saudara-saudara iparnya itu masuk ke ruang keluarga. Tentu agar lebih nyaman, tidak terganggu tamu-tamu yang datang.
"Mak Mun ...! Ambilkan minum untuk Pakde, Bude, Om, Tante ...." kata Rini menyuruh Mak Mun.
Mak Mun yang selalu sigap, dalam waktu sekejap sudah membawa baki berisi minuman. Lantas menyuguhkan kepada saudara-saudara Hamdan yang tentu haus karena perjalanan jauh. Setelah membagikan minuman, Mak Mun tanpa diperintah majikannya, sudah balik lagi, datang membawa hidangan makanan kecil.
"Mangga, Pakde, Bude .... Ini teh hangatnya, silakan diminum ...." kata Mak Mun kepada tamunya.
"Maaf, Pakde .... Saya sambil tata-tata, ya ...." kata Rini yang tentu masih sibuk menyiapkan acara.
"Habis maghrib, Pakde ...." jawab Rini, yang tentu sambil lalu, karena pekerjaan masih banyak.
"Ee .... Pakde, Bude, Om, Tante ..., sudah nyampai ya ...." kata Yayan yang langsung menyalami saudara-saudara dari istrinya tersebut.
"Ini siapa, ya ...? Kok saya pangling ...?!" kata Pakde Hamzah.
"Yayan, Pakde .... Suaminya Silvy." jawab Yayan.
"Oh, Mas Yayan .... Menantu Hamdan. Walah, saya sampai lupa ...." kata Pakde Hamzah.
"Iya, Pakde .... Silakan dicicipi jajanannya, Pakde, Bude, Om, Tante ..., saya mau bantu menata tikar dahulu." kata Yayan yang langsung keluar untuk menata tempat para tamu yang akan ikut kirim doa selamatan buat mertuanya.
Satu persatu tamu berdatangan. Terutama para tetangga dan orang-orang yang sehabis pulang dari masjid langsung menuju rumah Rini. Mereka mulai memenuhi ruang dalam, kemudian memenuhi ruang tengah, serta memenuhi teras rumah. Tamunya cukup banyak. Semuanya ingin mendoakan arwah Hamdan. Acara selamatan kirim doa untuk almarhum Hamdan, dilaksanakan secara khidmat hingga selesai. Semuanya lancar. Semuanya khidmat.
Dan acara kirim doa itu diakhiri dengan makan bersama. Tentu meriah untuk keakraban, antara para tetangga dan keluarga Rini. Apalagi saat pulang, para tamu yang ikut mendoakan arwah Hamdan, masih membawa oleh-oleh untuk keluarganya yang ada di rumah. Rini, Silvy dan Yayan yang berdiri di depan, menyalami semua tamu yang berpamitan pulang. Itulah keakraban yang ingin dibangun oleh Rini bersama para tetangganya.
Setelah semua selesai, Rini baru menemui secara leluasa kepada saudara-saudara iparnya. Tentu ada beban yang ingin ditumpahkan disitu.
"Pakde, Bude, Om, Tante ..., pulang besok kan ...?" tanya Rini yang sudah duduk bersama saudara iparnya di ruang keluarga.
"Rencananya saya mau pulang malam ini ...." jawab kakak iparnya.
__ADS_1
"Maaf, Pakde, Bude, Om, dan Tante ..., sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan. Makanya kalau bisa pulang besok saja." kata Rini lagi, yang tentu ingin membahas masalah keluarga Hamdan.
"Menyampaikan apa ...? Kalau sekarang bisa, sampaikan saja sekarang." kata kakak iparnya.
"Ini terkait masalah keluarga. Masalah Bude, Om, dan Tante ...." kata Rini.
Tentu mendengar kata-kata Rini, saudara-saudara suaminya itu mulai menunduk. Terlihat khawatir.
"Masalah apa?" tanya Pakde Hamzah.
"Begini Pakde ..., Mas Hamdan kan sudah tidak ada. Baru saja kita memanjatkan doa untuk empat puluh harinya. Semoga Mas Hamdan tenang di alam baka. Tapi terus terang saja, saya tidak nyaman dengan Bude, Om, Tante ..., yang selalu menelepon saya menanyakan minta bagian harta kekayaan Mas Hamdan." Rini belum selesai bicara, tapi sudah terpotong.
"Kok bisa begitu ...?!" Pakde Hamzah yang kaget dengan kata-kata Rini, langsung bertanya.
"Tanya sendiri sama istri Pakde dan adik-adik Pakde Hamzah." jawab Rini sinis.
Tentu mendengar itu, tiga orang yang disebut bersama suami dan istrinya langsung menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya.
"Benar begitu ...?!" Pakde Hamzah menanyai istri dan adik-adiknya. Tentu dengan rasa ingin marah.
"Maaf, Pakde Hamzah .... Pakde adalah saudara tertua Mas Hamdan. Saya tidak akan mengatakan apa yang sudah diterorkan oleh saudara-saudara saya sendiri. Tapi saya hanya mau menyampaikan, terus terang dengan meninggalnya Mas Hamdan, tentu kami tidak punya penghasilan lagi. Saya tidak punya sumber penghasilan. Tetapi saya tidak mau ribut dengan saudara. Juga tidak mau diteror oleh saudara sendiri. Saya ingin hidup tenang, tenteram dan nyaman. Oleh sebab itu, saya mohon rumah peninggalan Mas Hamdan ini, malam ini akan saya serahkan kepada kakak dan adik-adik Mas Hamdan. Toh saya tidak mungkin sanggup untuk mengurus rumah sebesar ini. Saya mau tinggal di rumah menantu saya. Tinggal bersama anak dan menantu." kata Rini yang tentu sangat menusuk perasaan saudara-saudaranya. Terutama kakak iparnya, yang tiba-tiba saja dilimpahi masalah adik-adiknya.
"Kok begitu, Dik ...?" tanya Pakde Hamzah.
"Saya sudah berfikir panjang, Pakde .... Saya tidak ingin di teror terus. Anak saya masih sanggup memberi makan saya, kok ...." kata Rini sambil tersenyum, tentu senyum yang mengejek saudara-saudaranya.
Rini tahu, walau mereka pada menunduk, tetapi ketika mendengar kata-kata Rini yang menyerahkan rumah mewah dan besar itu, pasti hatinya gembira, senang, bahagia, terornya berhasil.
"Coba masalah ini kita bicarakan lagi .... Mungkin ada jalan lain yang lebih baik." kata kakak iparnya.
"Tidak perlu, Pakde .... Saya sudah ikhlas kok. Tidak perlu dibahas lagi. Kami hanya mohon izin untuk mengangakati barang-barang, itu pun hanya barang yang penting saja. Beri kami waktu beberapa hari untuk mengambil barang." kata Rini yang sangat tenang dan tidak sedih sama sekali.
"Iya, Om, Tante, Pakde, Bude .... Rumah ini sekarang menjadi hak dari keluarga almarhum Papah. Mamah tidak punya hak. Saya juga tidak punya hak, karena saya hanyalah anak angkat. Tidak ada ikatan darah apapun. Jadi kami ikhlas. Mamah akan tinggal bersama kami." timpal Silvy yang ternyata juga tidak mau diributkan oleh masalah saudara-saudara ayahnya.
"Tapi kan ini kan tidak benar .... Kamu itu istri dan anak Hamdan. Mestinya yang punya hak itu kamu, Dik Rini ...." kakak iparnya masih belum bisa menerima alasan Rini.
"Sudahlah, Pakde .... Saya benar-benar ikhlas ...." sahut Rini sambil menepuk pundak kakak iparnya.
Kakak ipar Rini terdiam. Ikut menundukkan kepala. Tetapi ini benar merasakan bingung dan sedih. Ingin marah kepada istri dan adik-adiknya, tentu juga tidak enak, karena berada di rumah orang. Tidak baik kalau didengar tetangga. Tetapi apa yang dilakukan oleh istri dan adik-adiknya itu adalah perbuatan yang sangat memalukan dan tidak pantas. Mengapa istri dan adik-adiknya tega seperti itu. Ini namanya merampas harta orang. Tentu nanti ada hukuman dari Yang Maha Adil.
"Baiklah, Dik Rini ..., jika memang seperti itu yang diniati Dik Rini bersama anak-anak. Kami berterima kasih untuk itu semua. Namun malam ini kami tetap pulang. Urusan harta benda, biarlah besok saja. Kami mohon pamit." kata Pakde Hamzah yang langsung bergegas mengajak istri dan adik-adiknya pulang.
Rini tersenyum sambil memeluk anak perempuannya. Tentu ada rasa penat yang sudah terlepas. Beban itu sudah hilang.
Yayan bersyukur dan tersenyum, menyaksikan ibu mertuanya dan istrinya yang ternyata sangat bijak dan benar-benar bisa melepas hidupnya dari masalah kebendaan. Tidak gampang menemukan istri yang baik seperti ini.
__ADS_1