KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 49: KEBERSAMAAN YANG MESRA


__ADS_3

    Yudi masih menunggui Rini di ruang perawatan rumah sakit. Sudah sampai siang. Jika tidak ada Yudi, Rini hanya sendirian tidak ada yang menunggui di rumah sakit. Beruntung ada Yudi yang tulus ikhlas menunggui. Tentu Rini merasa sangat senang ditunggui oleh Yudi. Orang yang didambakan, orang yang dirindukan, juga orang yang telah membuat dirinya sakit dan jatuh pingsan, kini berada di sisinya.


    "Yudi, kamu tidak berangkat kerja hari ini?" tanya Rini.


    "Demi permaisuri yang sedang sakit, saya harus menunggui agar cepat sehat." jawab Yudi sambil memijit-mijit kaki Rini.


    "Yudi ..., kamu baik sekali. Aku menyesal, Yud ...." kata Rini yang terus memandangi Yudi.


    "Tidak ada yang perlu disesali. Sumua sudah terjadi. Sekarang Rini harus kuat, harus semangat, agar cepat sembuh." kata Yudi menyemangati Rini.


    "Iya, Yud ..., terima kasih ya." sahut Rini.


    "Tidak usah dipikirin." kata Yudi.


    Yudi masih memijit-mijit kaki Rini. Biar darah mengalir lancar. Memijit dengan mesra. Tentu Rini menjadi tersanjung, punya tukang pijat pribadi yang hebat dan pijatannya nikmat. Rasa bahagia Rini pun kembali muncul, yang pasti akan menjadi obat penyembuh sakitnya. Maka senyum manis dari wanita cantik itu pun mulai mengembang.


    Hingga sore, Yudi menunggui kesendirian Rini di ruang inap. Semua Yudi lakukan untuk membantu Rini. Mulai dari menyuapi makan, mengupas buah, membetulkan selimut, bahkan membantu Rini jika mau ke kamar mandi. Rini benar-benar menjadi permausuri yang dilayani oleh tuan raja.


    Dan sesaat kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Ada laki-laki gagah dengan pakaian necis masuk ke ruang Rini. Hamdan, suami Rini. Pak direktur yang baru pulang dari kantor, langsung menjenguk istrinya. Bahkan sebenarnya Hamdan belum saatnya pulang. Biasanya hingga larut malam. Tetapi karena istrinya sakit, maka ia menyempatkan diri untuk mengurus istrinya lebih dulu.


    "Ee ..., ada Mas Yudi. Bagaimana kabarnya, Mas Yudi?" ucap Hamdan saat masuk.


    "Baik, Pak Hamdan. Pak Hamdan sehat, kan?" kata Yudi membalas sapaan Hamdan.


    "Syukur alhamdulillah, Mas Yudi. Kapan sampai?" tanya Hamdan lagi.


    "Tadi pagi, Pak .... Naik kereta malam." jawab Yudi.


    "Pah ..., itu ada jajanan dari Yudi. Bakpia patuk kesukaan Papah." kata Rini menunjukkan jajan kepada suaminya.


    Tentu Hamdan langsung menuju meja tempat jajanan, dan mengambil sebutir bakpia. Lantas memakan bakpia isi kacang hijau.


    "Hmm .... Enak. Lha ini lho, Mah ..., bakpia yang seperti ini yang enak. Kemarin yang Mamah beli itu keras dan kurang lembut." kata Hamdan sambil mengunyak bakpia.


    "Lhah, Yudi kan orang Jogja, ya tahu tempat pembuat bakpia yang enak. Saya kan belinya asal, Pah .... Tidak tahu bakpia yang asli ...." sahut Rini yang protes.


    "Semua bakpia di Jogja itu asli, Rini .... Tapi ada yang buatnya dengan resep yang baik, dan ada yang buatnya asal jadi. Nah, home industri yang baik akan membuat bakpia yang baik juga." Yudi menengahi.


    "Makanya, besok kalau ke Jogja belinya langsung ke pabrik yang bonafit." sahut Yudi.

__ADS_1


    "Kalau beli bakpia, saya mau minta dibelikan oleh Yudi saja .... Hehehe ...." ledek Rini.


    "Mas Yudi, terima kasih ya, sudah ditunggui mamahnya Silvy. Maklum, kami tidak bisa menunggui secara maksimal. Kerjaan, Mas Yudi." kata Hamdan pada Yudi.


    "Iya, Pak Hamdan. Tidak apa-apa, Pak Hamdan. Memang Bu Rini sakit apa, Pak?" kata Yudi.


    "Kata dokter sih, detak jantungnya agak kurang stabil, karena kelelahan. Ya, semoga saja cepat sembuh." jawab Hamdan.


    Hingga sore mereka mengobrol. Asyik bercerita ke sana kemari, dengan berbagai topik. Rini senang melihat suami dan mantan calon itu saling menceritakan kisahnya masing-masing. Tentu dengan bumbu-bumbu kisah suka duka masing-masing. Bahkan Hamdan juga sempat menanyakan rancangan proyek yang akan ditopang dana dari Jepang. Tetapi Yudi hanya mengatakan, "Mohon doanya, semoga berhasi" begitu saja.


    Sampai terdengar pintu diketuk. Silvy dan suaminya masuk.


    "Halo Mamah ..., halo Papah ..., halo Pah Yudi ...." kata Silvy yang langsung menyalami mamah dan papahnya, sambil mencium tangan. Demikian pula pada Yudi.


    Demikian juga suaminya, yang ikut menyalami orang-orang yang ada di ruang kamar inap ibu mertuanya. Suasana pun menjadi ramai. Tentu yang paling bikin ramai adalah Silvy.


    "Pah, lihat ini .... Bagus, kan?" kata Silvy yang memamerkan lukisannya kepada papahnya.


    "Wao .... Seperti foto. Bagus banget ...! Pesan dimana ini?" tanya papahnya.


    "Pesan di Jogja .... Dilukis oleh seniman hebat. Hehehe ...." jawab Silvy sambil mengacungkan jempolnya ke Yudi.


    "Wao .... Ternyata Mas Yudi ini pelukis hebat. Wah, pasti karya-karyanya banyak diminati pemesan." puji Hamdan pada Yudi.


    "Papah Yudi harus segera buka galeri. Biar karya-karya Papah Yudi punya tempat yang istimewa, sekalian sebagai ruang pamer. Pasti menarik, Pah." kata suami Silvy.


    "Iya, Pah .... Aku setuju." kata Silvy menyaut suaminya.


    "Eh ..., eh ..., eh .... Kalian ini kok panggil papah-papah pada Mas Yudi, maksud kalian apa?" taya Hamdan, ayahnya.


    "Hehehe .... Kami sudah menganggap Mas Yudi ini sebagai papah kami, Pah .... Soalnya, orangnya baik seperti Papah .... Boleh kan, Pah?!" kata Silvy sambil melendot ayahnya.


    "Ah, kalian ini .... Kasihan Mas Yudi .... Kan Mas Yudi masih muda, kok dipanggil papah, itu namanya menjatuhkan martabat. Betul kan, Mas Yudi?" kata Hamdan.


    "Biar saja, Pak Hamdan .... Saya tidak mempersoalkan panggilan itu kok. Kalau di rumah, anak-anak yang pada bermain dan belajar di sana juga memanggil saya seperti itu, kok." jawab Yudi yang santai.


    "Wee .... Mas Yudi itu kok terlalu mengalah. Ya sudah kalau maunya anak-anak begitu. Tapi mohon dimaafkan ya, Mas Yudi." akhirnya Hamdan kalah oleh anak-anaknya.


    "Tidak apa-apa, Pak Hamdan. Kalau galeri seni, dalam rancangan proyek kami, sudah ada pasar seni. Nanti di sana diperuntukkan pameran dan penjualan karya-karya seni. Tapi kalau galeri khusus, nanti akan saya pertimbangkan. Doakan saya bisa mewujudkannya." sahut Yudi.

__ADS_1


    "Eh, Silvy ..., ngomong-ngomong makan malamnya mana ini?" tanya Hamdan pada anaknya, Silvy.


    "Iya, Pah .... Ini sudah Silvy belikan nasi Padang pakai rendang. Yang punya Silvy pakai kikil, hehe ...." kata Silvy yang lantas menyiapkan piring dan sendok serta menata makan malam.


    "Mamah mau makan apa?" tanya Hamdan pada Rini, istrinya.


    "Rini, tolong Mamah diambilkan gudeg yang dibawa Papah Yudi kamu .... Itu yang di kaleng. Dibuka kalengnya, lantas tuang ke mangkuk. Masukkan microwave sebentar, biar hangat." kata Rini menyuruh Silvy.


    "Iya, Mah ...." jawab Silvy.


    "Lah, memang ada gudeg?" tanya Hamdan yang heran.


    "Ada, Pah .... Sekarang itu orang Jogja sudah mengemas gudeg dalam kaleng, kemudian di ekspor ke luar negeri. Keren, kan ...." sahut Rini menjelaskan pada suaminya.


    "Waaah .... Kemajuan besar ini. Berarti sayur gudeg itu sudah menjadi komoditas ekspor. Hebat." kata Hamdan lagi.


    Mereka pun makan bersama. Ada kehangatan dalam keluarga Hamdan, terutama ditambah kehadiran Yudi. Silvy duduk di samping ibunya, sambil menyuapi mamahnya.


    "Mas Yudi, rencana untuk pemesanan homestay, saya tetap ambil tiga unit. Besok Senin deposit awal akan saya transfer, minta tolong pembangunannya diawasi Mas Yudi dulu. Nanti kalau mamahnya Silvy sudah sehat, kami akan bersama-sama ke Jogja untuk melihat progresnya." kata Hamdan pada Yudi.


    "Iya, Pak Hamdan. Ini sudah dimulai membangun dua unit, milik paguyuban sopir wisata dan para pengrajin. Malah kebetulan kalau Pak Hamdan tidak tergesa ke Jogja, biar besok bisa menyaksikan progres yang sudap akan jadi." balas Yudi.


    "Ngomong-ngomong, Mas Yudi akan balik ke Jogja kapan?" tanya Hamdan.


    "Rencana malam ini, Pak .... Kereta jam sepuluh. Besok pagi langsung kerja." jawab Yudi.


    "Yah ..., kok pulang?! Jangan dong, Pah .... Masih kangen .... Pulangnya besok saja ...." kata Silvy yang kecewa.


    "Tunggu mamah sehat dulu, Pah." sahut suami Silvy.


    "Iya, Mas Yudi .... Pulangnya besok saja .... Tunggu Rini biar sehat dulu." kata Hamdan yang menimpali anak-anaknya.


    "Mas Yudi kan harus kerja, kok tidak boleh pulang. Apa Mas Yudi disuruh membolos terus? Nanti kantornya bagaimana? Bisa dihukum disiplin. Mas Yudi ini kan pegawai negeri." kata Rini yang memberi pengertian pada suami dan anak-anaknya.


    "Eh, iya-ya ...." kata Hamdan yang keliru.


    "Iya, Pak .... Hari ini saya sudah ijin, tidak enak kalau diiri oleh teman-teman." sahut Yudi.


    "Ya udah, tidak usah khawatir. Nanti malam biar diantar Mas Jo ke Stasiun Gambir." kata Hamdan selanjutnya.

__ADS_1


    Mereka pun menikmati makan bersama dengan penuh rasa senang. Terutama Rini, satu keluarga kumpul semua, ditambah hadirnya Yudi. Tentu itu akan memberikan semangat dalam hidupnya, sehingga sakitnya akan cepat sembuh. Terlebih lagi, suami dan anak-anaknya sangat akrab dengan Yudi, itu menambah senangnya hati Rini. Benar-benar kebersamaan yang sangat mesra. Hati Rini berbunga-bunga, dengan kedatangan Yudi, ternyata keakraban keluarganya benar-benar ternikmati. Benar-benar kebersamaan yang mesra.


    Jam sembilan malam, Mas Jo mengantar Yudi ke Stasiun Gambir, untuk pulang ke Jogja.


__ADS_2