KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 148: UNDANGAN PERNIKAHAN


__ADS_3

    "Bagas ...!!" Yudi memanggil Bagas.


    Di gasebo belakang rumah Yudi, Bagas yang mendengar panggilan, langsung bergegas menemui orang yang memanggil.


    "Iya, Mas Yudi ...!" jawab Bagas.


    "Saya mau minta tolong sama kamu ...." kata Yudi yang duduk berdua dengan Yuna.


    "Apa, Mas ...?" tanya Bagas.


    "Tolong WA-kan ke Mbak Rini, sampaikan undangan pernikahan saya dengan Yuna." kata Yudi.


    "Hah ...?! Yang bener ini, Mas ...?!" tanya Bagas lagi, tentu dengan rasa bingung.


    "Iya .... Yang minta saya ...." kata Yuna, yang menjawab kebingungan Bagas.


    "Oo ..., diundang to, Mbak Yuna ...?" tanya Bagas pada Yuna.


    "Iya ..., segera dikirim WA ...." sahut Yuna.


    "lha kok tidak Mas Yudi sendiri yang ngundang ...?" kata Bagas.


    "Saya tidak punya HP, Gas .... Ngece, ya ...." sahut Yudi.


    "Hahaha .... Maaf, Mas Yudi .... Tidak ngejek, tapi ngepaskan ...." sahut Bagas sambil tertawa.


    "Sudah ..., cepat, Mbak Rini dikirim undangan ...." kata Yuna yang meminta agar Bagas segera mengirim pesan ke Rini.


    "Baik, Mbak Yuna ...." kata Bagas yang langsung mengirim pesan WA ke Rini, "Sudah, Mbak Yuna .... Pesan WA sudah terkirim." lanjut Bagas setelah mengirim pesan.


    "Ya, sudah .... Terima kasih ...." kata Yuna pada Bagas.


    "Sudah, Mas ..., Mbak ...? Apa lagi yang harus saya bantu ...?" tanya Bagas.


    "Bantu Pak Lurah  mikir, yoo ...." sahut Yudi.


    "Walah ..., lha memangnya ...." Bagas menggerutu

__ADS_1


    "Kamu itu, lho .... Kok kayak gak tahu Pak Lurah ...." kata Yudi.


    "Groginan yo, Mas .... Hahaha ...." Bagas tertawa.


*******


    Sementara itu, di Jakarta, Rini menyalakan HP, membuka WA. Ada pesan dari Bagas. Ia langsung membuka dan membaca pesan Bagas.


    "Hah ...?! Undangan ...?! Yudi mau nikahan ...?!" Rini kaget. Matanya terbelalak membaca WA dari Bagas, yang memberi tahu kalau Yudi akan melaksanakan pernikahan dengan Yuna. Tentu Rini senang, bahagia, tetapi juga bingung. Apalagi keluarganya, suaminya sedang ada masalah.


    "Papah ...!! Papah ...!!" Rini berteriak memanggil suaminya, yang tentu masih malas-malasan di kamar, setelah dipensiunkan dini oleh perusahaan. Apalagi HP-nya disita oleh istrinya. Jadi Hamdan setiap hari hanya bengong, hanya bisa menyesali kesalahannya. Jadinya, ia lebih suka diam, karena takut dikatakan salah oleh istrinya bila bicara. Dan akhirnya, selalu dimarahi oleh sang istri.


    "Ada apa lagi, Mah .... Pakai teriak-teriak segala ...." kata Hamdan yang keluar dari kamar, langsung menemui istrinya yang duduk di ruang keluarga.


    "Ada berita gembira, Pah ...." kata Rini sambil menunjukkan HP kepada suaminya.


    "Ada apa, sih ...?" tanya suaminya yang kurang paham dengan kegembiraan istrinya, mirip orang dapat lotre, senangnya tidak karuan.


    "Ini, Pah .... Yudi mau menikah .... Kita diundang, Pah ...." kata Rini sambil kegirangan.


    Tapi Hamdan justru merebahkan punggungnya di sofa. Diam tidak tertarik. Bahkan juga tidak melihat HP yang diperlihatkan oleh istrinya.


    "Papah kok diem, sih .... Gak suka, ya ...?" kata Rini yang kesal melihat sikap suaminya.


    Hamdan masih diam saja. Tidak menjawab pertanyaan istrinya. Bahkan malah mengambil remot TV dan memindah saluran stasiun TV.


    "Pah ...?! Papah ngapain, sih ...?! Marah, ya ...?!" tanya Rini yang semakin jengkel melihat sikap suaminya, dan tentu kedua tangan Rini sudah memukul bahu suaminya.


    Hamdan yang dipukuli istrinya, tidak menggubris. Bahkan seolah tidak ada apa-apa. Ia diam tanpa menghiraukan istrinya.


    "Huuh .... Papah ...!! Papah kenapa, sih ...?!" Rini mulai mecucu, marah kepada suaminya.


    Setelah lama diam, dan tidak menggubris istrinya yang memukuli bahunya, begitu melihat istrinya sudah memonyongkan bibirnya, Hamdan pun angkat suara. Ketegangan antara suami istri pun mulai terjadi.


    "Mah .... Kalau saya dekat dengan Lina, Mamah langsung marah-marah .... Mamah cemburu buta, sampai HP saya saja disita. Giliran Mamah dapat berita dari Yudi ..., Mamah langsung lonjak-lonjak. Coba Mamah pikir ..., siapa yang harusnya marah, Mah ...?!" kata Hamdan yang tidak senang dengan sikap istrinya.


    "Ooo ..., jadi Papah cemburu .... Papah curiga sama saya .... Papah menuduh saya selingkuh .... Iya ...?!!" kata Rini yang tidak mau kalah.

__ADS_1


    "Tidak curiga lagi ..., ini fakta .... Saya itu sudah tahu kalau Mamah ada apa-apa sama Yudi. Tapi saya diam, Mah ...!" sahut Hamdan.


    "Ya ampun, Pah .... Yudi itu sahabat saya, teman dekat saya, teman paling baik bagi saya saat SMA .... Apanya yang dicurigai ...? Tidak ada yang perlu dicurigai, Pah ...!!" balas Rini.


    "Saya sudah tahu, Mamah sering ke Jogja, sering menemui Yudi ..., itu semua sudah saya duga sebelumnya, kalau Mamah pasti ada apa-apa dengan Yudi, iya kan ...?! Terus waktu Mamah sakit, terbaring di rumah sakit, seharian ditunggui oleh Yudi ..., ngapain laki-laki rela membolos kerja demi menemui perempuan yang bukan apa-apanya .... Terus juga, suamimu pergi ke Jerman, ngapain kamu jauh-jauh meninggalkan rumah menemui Yudi ...?! Pakai logika, Mah .... Itu pasti ada apa-apa ...!!" kata Hamdan yang mulai mengungkit masalah istrinya.


    "Papah ...! Papah jangan menuduh saya seperti perempuan sundal yang Papah simpan itu ...!!" bantah Rini pada suaminya.


    "Faktanya memang seperti itu ...! Makanya sebenarnya saya tidak setuju waktu Mamah mau ikut reuni. Reuni itu hanya alasan untuk CLBK. Saya sudah menduga itu. Dan nyatanya ..., betul, kan ...?!" ungkit Hamdan lagi pada masalah reuni yang diikuti istrinya.


    "Maaf, Pah ..., saya bukan wanita murahan. Istrimu ini tidak seperti pelakor yang kamu simpan itu. Tanya pada semua temanku, Rini itu orang baik ...!" bantah Rini.


    "Baik atau tidak, itu bisa disembunyikan. Busuk bilang baik juga bisa .... Mana ada laki-laki bujang tua tidak beristri didekati perempuan kok tidak ngiler .... Tidak ada yang percaya, Mah ...!!" kata Hamdan lagi, yang pasti menuduh Yudi dan istrinya sudah melakukan hubungan.


    "Yudi tidak seperti Papah ...! Yudi itu orang baik ...! Yudi tidak akan melakukan apapun yang tidak benar. Yudi itu orangnya lurus .... Yudi tidak pernah tergoda oleh hal-hal yang tidak benar. Saya tahu persis, Yudi itu orang baik. Tidak seperti Papah yang ngiler melihat bokong pelakor!" bantah Rini membela Yudi.


    "Hah, alasan .... Semua laki-laki itu sama!" bantah Hamdan.


    "Tidak ...! Yudi beda dengan Papah ...! Yudi orang baik ..., Papah orang jahat ...!" Rini berani membantah.


    "Kok Mamah membela Yudi ...?! Kok Mamah malah njelek-njelekin suaminya sendiri ...?!" Hamdan tentu kecewa dengan istrinya yang membela orang lain dan justru menjatuhkan suaminya sendiri.


    "Faktanya begitu ...! Papah itu tidak tahu Yudi yang sesungguhnya .... Jangan ngomong yang jelek-jelek tentang Yudi, kalau Papah belum kenal jauh dengan Yudi. Tanya dahulu sama anak-anakmu, tanya sama Silvy, tanya sama Yayan, seperti apa orang yang bernama Yudi itu." Rini mulai memanasi suaminya, dengan membandingkan kebaikan Yudi.


    "Memang seperti apa ...?! Seperti dewa ...?!" sahut suaminya.


    "Iya .... Teman-teman kami menjuluki Yudi itu manusia setengah dewa. Tidak sombong meski hebat, tidak congkak meski berbuat baik, tidak jemawa meski dia itu kaya raya .... Yudi itu perhatian dengan semua orang, suka menolong teman-temannya, suka membantu yang kesulitan, tidak mau merepotkan orang lain. Sejak sekolah dia itu sudah menerima berbagai penghargaan, bahkan waktu SMA dia sudah diundang oleh pemerintah Jerman karena lukisannya tentang misi perdamaian di tembok Berlin. Dan kalau Papah mau tahu ..., harta kekayaan Papah sekarang ini, tidak ada apa-apanya dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh Yudi, Pah .... Rumah Papah ini saja, bisa dibeli oleh Yudi. Jadi, Papah jangan sombong." jelas Rini pada Hamdan, tentu ingin menyadarkan suaminya.


    "Ah, tidak mungkin .... Itu hanya kata-kata Mamah untuk mengelabuhi saya." gumam Hamdan.


    "Kok tidak percaya ...? Tanya sama anak-anakmu. Mereka tahu semua itu. Makanya anak-anakmu menganggap Yudi sebagai ayahnya, memanggil Yudi dengan sebutan Papah. Itu karena kekaguman anak-anakmu dengan Yudi. Apa salahnya kalau mamahnya juga kagum dengan orang yang dikagumi anaknya?" jelas Rini lagi.


    Hamdan terdiam. Belum mendapat alasan untuk membalas istrinya. Selama ini memang dirinya sudah curiga pada istrinya. Tetapi memang sulit untuk mengungkap fakta tentang kecurigaan itu.


    "Kenapa Papah terdiam ...?!" kata Rini yang merasa sudah mengalahkan suaminya.


    Hamdan menunduk. Tidak sanggup menatap istrinya. Belum punya kata-kata untuk disampaikan.

__ADS_1


    "Papah tahu, yang menjodohkan Yudi dengan Yuna itu, anak-anakmu. Mau tidak mau, anak dan menantumu pasti akan berangkat ke Jogja untuk menghadiri pernikahan Papah angkatnya. Dan saya, sahabat karibnya, juga akan datang menghadiri pernikahan itu. Papah mau ikut ke Jogja silakan, tidak mau hadir juga bukan masalah buat saya. Mamah tahu, Papah cemburu dengan Yudi. Tapi cemburu Papah itu salah, karena Papah menyamakan Yudi dengan diri Papah yang sedang tergila-gila dengan pelakor itu. Bagi saya tidak masalah. Mamah sudah tua, sudah tidak bisa megol-megol ..., silakan saja kalau Papah mau melanjutkan bermesraan dengan yang bahenol." kata Rini yang sebenarnya sudah jengkel dengan suaminya.


    Kembali Hamdan terdiam. Semuanya serba salah. Membantah istrinya, keliru dan tidak punya alasan. Mau membantah tentang tuduhan istrinya, faktanya memang begitu, bahkan HP-nya sebagai bukti, sudah disita oleh istrinya. Hamdan termenung, bingung memikirkan keadaan dirinya yang serba salah.


__ADS_2