
Kemeriahan pesta pernikahan Yudi masih berlangsung. Tamu terus berdatangan, baik dari para tetangga, maupun dari teman-teman Yudi. Dan yang paling banyak mendapat perhatian adalah, saat teman-teman Yudi dari kelompok seniman Jogja. Mereka adalah orang-orang dari kelompok studi seni Jogja yang diprakarsai oleh Pak Profesor, guru besar dari Institut Seni Indonesia. Ada pula teman-teman Yudi yang biasa mangkal atau nongkrong di Gedung Kesenian, kelompok Dewan Kesenian Jogja, termasuk dalam rombongan ini adalah kelompok Ana dan Imah, pelukis wanita yang nyentrik. Dan yang paling banyak adalah para seniman jalanan yang sering mangkal di Malioboro, Tugu, maupun Kridasana, serta para pekerja seni dari berbagai galeri yang ada di Jogja.
Melihat para seniman yang berdatangan di pesta Yudi, tentu orang-orang yang ada di tempat pesta pernikahan itu pada terkesima, menyaksikan orang-orang dengan pakaian aneh, celana jean robek-robek, baju klemprot, jaket kulit dengan berbagai asesoris yang tidak keruan, rambutnya gondrong tidak pernah diurus, sepatu jungle model tentara, pakai gelang dan kalung berenteng banyak sekali entah terbuat dari apa, kuping ditindik beberapa tempat, bahkan ada juga yang menindik hidungnya yang diberi anting-anting. Tentu, para tamu banyak yang merasa ngeri, terutama para wanita. Tapi ada juga yang terpesona menyaksikan penampilan para seniman.
Walau orang lain merasa ngeri menyaksikan para seniman yang berdatangan itu, namun bagi Yudi maupun Yuna tamu-tamu para seniman ini justru memberi semangat tersendiri. Ada spirit yang muncul dari teman-teman seniman, untuk membangkitkan semangat hidup Yudi dan Yuna, terutama dalam berkesenian. Maka tanpa ragu, Yudi dan Yuna berpelukan kepada para tamunya tersebut. Terutama saat Pak Profesor, yang berada paling depan, Yudi memeluk Pak Profesor sangat lama. Tentu banyak ucapan, petuah dan nasihat dari Pak Profesor yang diberikan kepada Yudi.
Di panggung hiburan, para pemain kethoprak sudah bersiap. Kelompok kethoprak dari 'Wargo Budoyo', salah satu grup kesenian tradisional asal Jogja yang cukup terkenal, akan melakonkan 'Warok Suromenggolo'.
Pembawa acara kembali bertutur, kali ini sudah tidak menggunakan bahasa kawi seperti saat acara kirab, melainkan sudah bercampur antara bahasa Jawa dan Indonesia. Maklum, tamunya Yudi kini berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Nusa Tenggara, Sumatra, Kalimantan, Jakarta, dan berbagai daerah di Indonesia. Tentu kalau menggunakan bahasa Jawa kuno, banyak yang tidak paham.
"Para hadirin, tamu undangan semuanya .... Saatnya kami akan membuka doorprize ...." kata pembawa acara.
"Horeee ...." sorak sore dari para tamu, terutama warga Kampung Nirwana yang sudah siap-siap menunggu doorprize.
Di sebelah kanan panggung pengantin, terdapat tumpukan hadiah doorprize. Ada banyak payung, berbagai peralatan dapur, ada kipas angin, ada kompor gas, ada setrika, rice cooker, bahkan ada handphone, televisi, kulkas dan mesin cuci. Wah, ini memang pesta pengantin gila-gilaan. Yudi terlalu royal untuk membagi-bagikan rezekinya. Padahal ia tidak mau disumbang, tetapi malah membagi-bagi doorprize. Tentu warga Kampung Nirwana semakin senang dengan Yudi. Apalagi ditambah dengan istrinya Yudi, yaitu Yuna, yang oleh warga Kampung Nirwana sangat disayangi karena kecantikan dan kebaikannya. Bagi warga Kampung Nirwana, Yuna sudah dianggap sebagai 'Dewi Penolong' yang sudah membangunkan Taman Awang-awang, menjadi obyek wisata yang sangat megah dan bertaraf internasional.
"Mohon perhatiannya ..., untuk para tamu yang sudah memegang atau mendapat untaian kembang manggar, mohon bagian ujung lidi kembang manggar tersebut diamati. Ada kertas warna putih berbentuk segi tiga. Pada kertas tersebut ada nomornya, ada tulisan angka. Nah, nomor atau angka yang terdapat pada ujung kembang manggar itu yang akan dicocokkan dengan nomor undian. Untuk undian pertama ..., lima orang akan mendapatkan payung cantik .... Yaitu nomor ..., sembilan, lima belas, tujuh, tiga puluh, lima lima ...." kata sang pembawa acara menyampaikan undian.
"Horeee ...." tepuk tangan dan sorak ramai menyambut orang-orang yang mendapat hadiah. Lima orang tamu maju, menerima doorprize berupa payung cantik. Tentu yang mendapat hadiah ini merasa senang.
Begitu seterusnya, sudah banyak tamu yang mendapatkan doorprize. Namun pembagian dihentikan dahulu. Selanjutnya, kesenian kethoprak akan dimulai. Kata si pembawa acara, pembagian doorprize nanti akan diteruskan oleh pemain kethoprak, pada saat keluar acara dagelan, dan akhir pertunjukan. Ya, tentunya itu dilakukan agar para tamu tetap berada di tempat pesta sampai selesainya pertunjukan kethoprak. Tentu doorprize yang harganya mahal dibagikan paling akhir.
"Eh ..., ayo kita kumpul di sini ...!" kata Alex mengajak teman-teman SMA untuk bergabung menjadi satu.
"Ya ..., ya .... Ayo, teman-teman kita duduk bersama di sini." sahut teman SMA yang lain.
Sambil menyaksikan kethoprak, dan tentu menikmati hidangan makan yang masih berlimpah, para alumni SMA, teman-teman SMA yang datang ke pesta pernikahan Yudi, mereka berkumpul menjadi satu. Meja ditata berjajar, lantas kursinya ditata melingkari meja. Cukup banyak teman SMA Yudi yang hadir. Sambil menyaksikan kethoprak, mereka ngobrol bersama.
"Kamu dapat kembang manggar, nggak ...?" tanya Anik pada teman-temannya.
"Dapat, lah .... Saya dapat satu, istri saya juga dapat satu, istrinya dokter Handoyo dapat satu juga ...." jawab Alex yang langsung pamer kembang manggar yang didapat saat berebut waktu mengiring pengantin.
"Saya dapat empat .... Hahaha ...." kata Jojon yang langsung tertawa sambil menunjukkan kembang manggarnya.
"Uwih .... Serakah .... Sini, aku dikasih satu ...!" kata Anik yang langsung menyadongkan tangannya.
"Eh ..., gak bisa .... Ini yang dua punya Rini sama anaknya ...." sahut Jojon yang langsung menarik kembang manggarnya.
__ADS_1
"Eh ..., Rini mana tadi ...?!" tanya Anik yang merasa sudah tidak melihat Rini lagi.
"Lhoh ..., iya .... Rini kok tidak ada?!" sahut Jojon sambil menoleh ke kanan kiri, mencari Rini.
"Iya ..., kok tiba-tiba Rini menghilang ...." kata teman-temannya.
"Mungkin masih ke belakang ...." kata teman yang lain.
"Tapi, anak dan menantunya kok juga tidak kelihatan ...?!" kata Jojon lagi yang sudah paham dengan anak dan menantu Rini, semalam sudah ketemu.
"Iya ..., ya .... Kok tidak kelihatan, ya ...?!" kata Alex yang juga mencari dari tadi.
"Jangan-jangan ...." kata salah satu teman.
"Jangan-jangan, apa ...?" tanya Anik yang penasaran.
"Pasti Rini menangis ..., terus bersembunyi agar tidak terlihat kita-kita ...." kata Jojon yang menduga Rini bersembunyi dan menangis.
"Memangnya kenapa?" tanya Anik yang penasaran, karena datangnya terlambat, sehingga tidak tahu apa yang terjadi.
"Tadi waktu memberi ucapan selamat, Rini dipeluk Yudi. Rini menangis." kata Jojon yang saat memberi ucapan selamat berada di belakang anak-anak Rini.
"Lhoh ..., memangnya kamu tidak tahu?" tanya Jojon.
"Aku tadi kan datang terlambat, yang tidak melihat, lah ...." sahut Anik.
"Bukan .... Maksudku, Anik tidak tahu kalau waktu SMA, Rini itu pacarnya Yudi ...." jelas Jojo.
"Hah ...?! Yang benar ...?! Kok aku tidak tahu ...?!" kata Anik yang malah kebingungan.
Tidak hanya Anik, tentu teman-teman yang lain juga penasaran dengan kata-kata Jojon. Masalahnya waktu SMA, Yudi itu pendiam, tidak pernah kelihatan kalau pacaran dengan Rini. Jangan-jangan Jojon hanya mengarang berita bohong.
"Hoaks .... Jangan suka bohong, Jon .... Sukanya kok bikin sensasi." sahut yang lain.
"Kalau gak percaya, tanya Alex itu ..., yang sahabat karibnya." jawab Jojon.
"Apa benar, seperti itu, Lex ...?" Anik langsung mencecar Alex.
__ADS_1
"Bukan .... Yang benar, kami itu dahulu bersahabat .... Tidak ada percintaan. Istriku juga tahu, kok ...." jawab Alex, yang tentu memberi jawaban yang tidak mengada-ada.
"Ah, yang benar Lex ...? Tapi kenapa Rini malah menangis, tidak ikut bahagia?" Anik masih kurang percaya.
"Iya ..., betul .... Jadi, dulu itu kami berempat, Handoyo, saya, Rini dan Yudi, itu bersahabat, dan diantara kami sudah bersepakat tidak ada kata cinta ..., yang ada sahabat. Makanya dahulu kan kami ini ke sana kemari selalu berempat. Seperti itu. Kalau gak percaya, tanya istriku, dia juga tahu hubungan kami, kok." jelas Alex.
"Tapi kenapa Rini menangis ...?" Anik masih penasaran, karena tadi memang tidak menyaksikan sendiri.
"Ya ..., menangisnya kan karena bahagia, sahabatnya sudah menikah." jawab Alex meyakinkan.
"Tapi, sekarang Rini ada di mana?" tanya teman-teman yang lain.
"Iya ..., ya .... Di mana ini, Rini ...." kata Alex yang tentu juga bingung mencari Rini.
"Coba ditelepon ...!" Jojon menyuruh Alex untuk menelepon Rini.
Alex mengambil HP dari kantongnya. Lantas menghubungi nomor Rini. Menelepon Rini.
"Halo .... Halo .... Halo, Rini ...." Alex memanggil dalam telepon.
Telepon Rini sudah dibuka. Panggilan sudah diterima. Tetapi Rini belum fokus bicara ke HP. Ada suara Rini, tapi itu bukan jawaban untuk telepon Alex.
Alex menekan tombol handsfree, agar temannya ikut mendengar.
"Halo, Rini .... Halo, Rini ...!" kata Alex yang masih berhalo-halo.
"Eh, Alex .... Maaf lex ...." akhirnya suara Rini terdengar di telepon.
"Halo, Rini .... Ini Rini ada di mana?" tanya Alex.
"Maaf, Lex .... Ini saya sudah di penginapan, rencananya saya akan pulang duluan." jawab Rini.
"Lhoh ..., tidak jadi pulang sore?" tanya Alex.
"Tidak jadi .... Ada yang penting di Jakarta, saya disuruh segera pulang. Tolong sampaikan ke teman-teman, mohon maaf tidak bisa ikut kumpul-kumpul." jawab Rini.
"Oh, ya .... Hati-hati, ya ...." jawab Alex, yang selanjutnya mematikan HP.
__ADS_1
"Oo ...." teman-temannya melongo.
"Jelas, kan .... Walau ibu rumah tangga, Rini itu sibuk .... Jadi harus bagi waktu ke sana kemari. Teman-teman paham, kan .... Jadi, kita jangan suka berprasangka, tidak baik ...." kata Alex menjelaskan ke teman-temannya.