KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 117: THE POWER OF GOD IS INCREDIBLE


__ADS_3

    Sementara itu, Saat Yudi dan Yuna terjatuh dari lereng bukit, dan meluncur turun hingga sampai tebing curam, mereka berdua terjun ke dasar jurang yang di bawahnya berbatasan langsung dengan samudera. Tentu pada dasar jurang itu penuh batu-batu karang yang tajam dan keras. Sehingga jika ada orang terjatuh dari atas tebing,  dan membentur batu-batu karang tersebut, bisa dipastikan, tubuhnya bisa hancur atau setidaknya ia akan terluka.


    Beruntung, Yudi dan Yuna masih dilindungi oleh Yang Maha Penyayang. Saat tubuh dua orang itu terjatuh dari atas bukit bersamaan dengan berbagai semak perdu, termasuk pohon-pohon pisang yang ikut diterjang tubuhnya, sesampai di dasar jurang, saat itu bersamaan dengan datangnya gelombang besar yang menghempas dinding tebing jurang. Yudi dan Yuna terjatuh di atas gelombang besar. Dan mereka berdua langsung terbawa arus, dari gelombang yang besar setinggi rumah itu. Ada keanehan yang terjadi, seakan oleh gelombang Laut Selatan itu, Yudi dan Yuna diletakkan di atas batu karang yang cukup besar, lantas ditinggalkan oleh gelombang tersebut.


    Mungkin ini sebuah kebetulan. Tetapi Yudi percaya, bahwa ini adalah pertolongan Kanjeng Ratu Laut Selatan. Demikian Juga Yuna, yang mengatakan, "The power of God is incredible."


    Ya, memang seakan ada campur tangan di luar kekuasaan manusia yang sangat luar biasa. Seakan Sang Penguasa tidak rela kalau Yudi dan Yuna mati gara-gara terjatuh di batuan-batuan besar yang ada di dasar jurang. Seakan Sang Maha Kuasa mengirimkan telapak tangan raksasa yang berbentuk gelombang besar Laut Selatan, kemudian telapak tangan raksasa itu menangkap tubuh Yudi dan Yuna. Jika tidak ada telapak tangan Sang Maha Kuasa yang berwujud gelombang besar itu, pastilah tubuh Yudi dan Yuna akan terbanting di batu karang. Dan entah apa yang akan terjadi. Pasti tubuh dua orang itu akan hancur.


    Dan yang lebih aneh lagi, ombak besar yang menangkap Yudi dan Yuna, tidak menyeret dua orang itu ke tengah lautan. Melainkan justru meletakkan dua orang yang masih berpelukan erat itu di atas batu karang yang jarang diterjang ombak. Batu karang yang berbentuk seperti pulau kecil. Batu karang yang terletak jauh dari dasar jurang. Batu karang yang cukup aman untuk meletakkan orang-orang yang kesakitan. Menyingkirkan dua tubuh yang menjadi satu itu aman dari terpaan gelombang Laut Selatan. Sungguh sangat ajaib. Namun mereka berdua tidak tahu, saat ini mereka ada di mana, yang jelas sudah cukup jauh dari bukit Taman Awang-awang.


    Yudi terkulai lemas. Tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya. Letih dan perih. Bahkan juga sulit untuk bicara. Ada sok yang teramat mengagetkan. Mengalami guncangan batin. Yudi hanya bisa merintih kesakitan.


    Yuna yang tahu kalau Yudi sudah sangat kesakitan, ia bergegas menggelindingkan tubuhnya dari atas tubuh Yudi, yang sudah ia tindih sejak pertama jatuh di lereng bukit. Yuna yang juga sok, menelentangkan tubuhnya di atas karang, yang sesekali terpercik oleh air laut dari pecahan gelombang yang menghampirinya. Yuna benar-benar menyesal sudah meminta kepada Yudi untuk mengajak turun ke dasar jurang, yang akhirnya terjadi kecelakaan seperti ini. Ia merentangkan tangannya yang sakit terkena berbagai ranting, belukar dan batu-batu kecil saat meluncur bersama Yudi. Walau Yuna hanya berdiam menindih tubuh Yudi, tetapi ia juga berusaha untuk menghentikan dirinya. Tubuhnya terasa ngilu semua, terbentur berbagai benda. Apalagi saat terjun dari puncak bukit ke dasar jurang, ia merasa ngeri membayangkannya. Pasti bagai terjun tanpa parasut.


    Yudi tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Perlahan Yuna menggerakkan tubuhnya. Kemudian ia duduk di sisi Yudi yang masih tergeletak dan merintih kesakitan.


    "Yudi ..., wake up .... Wake up, Yudi ...!" kata Yuna menyuruh Yudi untuk bangun.


    "I can not .... I can't wake up! Aduuuh ...!" kata Yudi tanpa bergerak, hanya merintih kesakitan.


    "Why ...?!" Yuna mendekati tubuh Yudi, perlahan menyentuh kekasihnya itu.


    Betapa kagetnya Yuna, saat tangannya menyentuh tubuh Yudi, telapak tangan mungil itu menjadi merah, jari-jari lentik itu basah terkena darah. Yuna melihat ada banyak darah yang berlumuran di tubuh Yudi.

__ADS_1


    "Yudiiii ...!!!" Yuna menjerit sekeras-kerasnya. Lantas menangis kebingungan. Tersungkur di dekat wajah Yudi. Lantas menciumi Yudi berkali-kali, dan menangis sejadi-jadinya.


    Yudi benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Untung tangannya masih bisa bergerak, meski juga terasa sakit. Lebih beruntung lagi, Yudi masih bisa bicara.


    Tangan perkasa Yudi, yang kini juga lemas, masih bisa berusaha untuk mengelus rambut Yuna yang terjuntai di wajahnya.


    "Sabar, Sayang .... Tenanglah, memohonlah kepada Yang Maha Kuasa, agar kita mendapat pertolongan." kata Yudi menyadarkan Yuna.


    Yudi merogoh kantong baju. HP-nya sudah tidak ada. Beberapa barang yang ia masukkan ke kantong baju sudah hilang. Mungkin terjatuh di laut bersama tubuhnya yang terjun dalam gelombang besar. Namun saat tangan Yudi meraba saku celana jean yang ia kenakan, bersyukur dompet yang ia kantongi tidak ikut hilang, walau tentu basah semua karena tercebur ke laut.


    Demikian juga Yuna, ia mencari HP yang ada di saku celananya, ternyata HP Yuna juga sudah tidak ada. Entah jatuh di mana, mereka tidak tahu. Beruntung, nyawanya tidak ikut hilang, itu sudah ia syukuri.


    Tahu kondisinya yang berada di tengah laut, Yuna lantas berdiri, ia berteriak, "Tolooong ...!! Tolooong ...!!!" Ia meminta tolong.


    "Yuna .... Help me, please ...." kata Yudi yang dengan menggunakan isyarat tangannya, meminta tolong agar tubuhnya dimiringkan. Karena Yudi merasa punggungnya sangat kesakitan.


    "Yudi ...?! Hik ..., hik ..., hik ...." kembali Yuna menangis, kasihan melihat Yudi yang terluka parah.


    "Don't cry ..., Yuna .... make me calm. Give me hope ...." kata Yudi lirih di telinga Yuna.


Ya, memang tidak ada gunanya menangis dan menjerit. Untuk saat-saat genting seperti itu, yang dibutuhkan adalah mencari cara, bagaimana agar bisa selamat, bagaimana agar bisa kembali, setidaknya bagaimana agar bisa mendapat pertolongan.


    "Yudi, saya bingung .... Saya sedih .... Saya merasa bersalah ..., Yudi ...." kata Yuna yang duduk bersimpuh di depan wajah Yudi, masih sesenggukan menangis.

__ADS_1


    "Yuna ..., mungkin saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh saya tidak bisa digerakkan sama sekali. Semuanya sakit. Nyeri sekali. Saya hanya menunggu keajaiban. Semoga Tuhan memberikan keajaiban kepada kita." kata Yudi yang terlihat pasrah.


    "Yudi ..., apapun yang terjadi, kita tetap berdua. Saya mencintaimu, saya menyayangimu. Saya tidak akan meninggalkan dirimu. Ini salah saya, Yudi .... Uhuk ..., huk ..., huk ...." kembali Yuna menangis, menyesali kekeliruannya.


    "Don't cry ..., my love .... There must be hope. Give me hope, my love ...."kata Yudi lirih di telinga Yuna.


    "How do we get out of this place, Yudi ...?" kata Yuna yang tentu kebingungan. Jangankan untuk membawa tubuh Yudi yang sangat berat, menolong dirinya sendiri saja ia tidak mungkin bisa.


    "Yuna ..., tolong kumpulkan batang-batang pisang yang ada di pinggir karang itu. Yuna buka pelepahnya sedikit-sedikit, lantas buatlah huruf membentuk tulisan untuk meminta pertolongan. Huruf-hurufnya diikat, agar tidak terbawa arus." kata Yudi meminta Yuna untuk membuat tanda meminta pertolongan.


    "Bagaimana caranya, Yudi ...?" tanya Yuna yang tentu masih bingung, belum paham dengan apa yang dimaksud oleh Yudi.


    "Ambilkan saya satu batang pisang .... Yang kecil saja. Jangan yang terlalu besar, nanti berat." kata Yudi lagi menyuruh Yuna mengangkatkan batang pisang.


    Ya, saat Yudi terjatuh, kakinya, tangan dan tubuhnya berkali-kali menghantam pohon-pohon pisang yang berada di lereng bukit. Sebenarnya Yudi berharap pohon pisang yang ia injak maupun ia tarik, bisa menghentikan dirinya yang terjatuh dan terus meluncur. Tetapi ternyata, pohon-pohon pisang itu tidak kuat untuk dijadikan tumpuan dirinya yang terus meluncur bersama Yuna. Pohon-pohon pisang itu roboh dan patah. Justru pohon-pohon pisang itu ikut terjun bersama dirinya.


    Yuna melangkah ke tepi batu karang, lantas mengambil salah satu batang pisang yang ringan dan mudah ia bawa. Selanjutnya batang pisang yang tidak terlalu besar itu diberikan kepada Yudi.


    Yudi yang tidak bisa bergerak, hanya tangannya yang bisa membuka pelepah pisang, satu persatu. Hingga di situ sudah ada banyak pelepah pisang yang terbuka, menjadi lembaran-lembaran yang tipis dan ringan.


    "Yuna ..., buatlah huruf-huruf dari pelepah pisang ini. Lantas diikat dengan sobekan pelepah ini. Nah, seperti ini." kata Yudi yang memberi contoh cara membuat huruf dari pelepah pisang.


    "Ya, Yudi .... Saya bisa. It's, okey. Don't worry, I will do." kata Yuna yang langsung membuat huruf-huruf dari pelepah pisang.

__ADS_1


    Bukan hanya sekadar pelepah pisang saja,  tetapi oleh Yuna juga diisi rerumputan yang mengambang di sekitarnya.Jadilah sebuah tulisan yang berbunyi 'HELP', yang berarti minta tolong. Tulisan itu diikat secara rapi. Tidak hanya diikat antar hurufnya, tetapi juga ditarik tali cukup panjang, sehingga bisa terbawa ombak ke tengah laut. Dan tentu tali itu diikatkan ke batu karang, agar tidak hilang maupun terbawa arus terlalu jauh.


    Itulah kecerdasan otak Yudi dan Yuna, yang bisa memanfaatkan apapun menjadi sebuah kesempatan, sebuah peluang kemungkinan, sebuah harapan. Tentu harapan Yuna dan Yudi, ada orang yang melihat tanda itu dan akan menolong dirinya.


__ADS_2