KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 21: RESAH DAN GELISAH


__ADS_3

    RINI masih berada diantara akar vanda yang bergelantungan di tamannya, menikmati indahnya bunga anggrek yang bermekaran, saat mobil suaminya masuk halaman rumah. Suaminya pulang dari kantor. Rini bergegas keluar dari taman, langsung menemui suaminya. Tentu ia ingin segera tahu tentang paparan rancangan pengembangan Taman Awang-awang yang diusulkan oleh Yudi.


    "Eh ..., Papah sudah pulang. Bagaimana, Pah? Sukses, Pah? Berhasil, nggak?" tanya Rini pada suaminya yang baru saja sampai.


    Hamdan masuk rumah dan duduk di ruang keluarga, setelah menaruh tas dan melepas sepatunya.


    "Pah, cuci tangan dan kaki dulu. Ganti pakaian. Bajunya biar dicuci Mak Mun. Baru nyampai kok langsung berselonjor di sofa. Bersihkan kuman dulu." kata Rini sambil mengangkat tas kerja suaminya untuk di taruh di ruang kerjanya.


    "Lah, Mamah juga begitu. Tahu suaminya baru nyampai, sudah dicecar pertanyaan. Buatkan teh hangat, kek ..., siapkan makan, kek ..., dipijitin, kek .... Ee ..., malah dicecar pertanyaan." kata Hamdan.


    "Maaf, Pah .... Namanya juga wanita, banyak keponya. Hehe ...." sahut Rini.


    Hamdan menuruti kata-kata istrinya. Ia masuk kamar, langsung ke kamar mandi. Tidak hanya cuci tangan dan kaki, tetapi langsung mandi. Sementara Rini ke dapur meminta Mak Mun untuk membuatkan teh, tanpa gula. Maklum, usia di atas lima puluh tahun harus mengurangi gula. Lantas menyiapkan secangkir teh di meja ruang keluarga.


    Rini duduk di sofa, menunggu suaminya, sambil menyalakan TV, menonton siaran berita sore. Tidak lama kemudian, Hamdan keluar, duduk di samping istrinya.


    "Nah, gitu kan segar .... Ini, teh hangat, Pah. Tanpa gula, baik untuk melarutkan lemak tubuh." kata Rini pada suaminya.


    "Iya, Mah. Terimakasih." Sahut Hamdan setelah duduk, yang langsung meneguk teh hangat.


    "Gimana tadi hasilnya, Pah?" tanya Rini pada suaminya.


    "Yaaah ..., tim evaluasi belum bisa merekomendasikan usulan teman Mamah itu." jawab Hamdan.


    "Lah, gagal?! Kok bisa?! Gimana sih, Pah? Apa paparannya kurang bagus? Apa rancangannya kurang menarik? Apa obyeknya tidak menjanjikan? Kenapa, Pah ...?" cecar Rini yang muali kecewa.


    "Paparannya bagus. Ide gagasannya juga bagus." kata Hamdan.


    "Lantas?!" sergah Rini.


    "Teman Mamah itu cerdas. Pintar. Baik dan penuh semangat." lanjut Hamdan.


    "Lantas, kenapa tidak direkomendasikan? Papah ..., kenapa, Pah ...?" Rini merajuk ke suaminya.


    "Yaaah ..., namanya juga usulan. Tim evaluasi lebih tahu layak dan tidaknya." jawab Hamdan.


    "Lho, kok gitu ...? Alasannya apa?" taya Rini yang kecewa. Ya, tentu Rini kecewa, karena harapannya untuk bisa selalu ke Jogja menjadi gagal. bererti gagal pula untuk bisa dekat kembali dengan Yudi.


    "Eeeemmh ..., uch ..., uch .... Papah ...!" Rini memukuli bahu suaminya, melampiasakan kekecewaannya.


    Hamdan maklum. Istrinya selalu begitu jika niatan dan kemauannya tidak keturutan, pasti langsung ngambek. Ia membiarkan istrinya mukul-mukul bahunya. Toh mukulnya bukan kekerasan, tapi enak, anggap saja seperti dipijit-pijit.


    "Yah ..., temanmu itu terlalu baik, Mah. Orang yang idealis dengan kebaikan-kebaikan." kata Hamdan.


    "Memang, Pah .... Waktu sekolah, dia itu pintar, tapi tidak sombong. Suka membantu, baik kepada semua teman." sahut Rini, yang tentu hatinya berbunga saat orang yang diidamkan itu disanjung oleh suaminya.

__ADS_1


    "Iya, Mah. Tapi justru karena kebaikannya itu, proyeknya tidak bisa masuk ke kriteria perusahaan." jelas Hamdan.


    "Lah, kok aneh? Masak proyek orang baik untuk kebaikan, kok malah ditolak? Gimana sih, Pah? Aku kok jadi bingung?!" tanya Rini.


    "Yang namanya perusahaan itu kan cari untug, Mah .... Gagasan teman Mamah itu tidak mau mencari keuntungan. Dia memikirkan kesejahteraan rakyat, tetapi tidak menghitung bagaimana profit yang dihasilkan. Lah perusahaan Papah kan tidak bisa kalau tidak ada hitung-hitungan rugi laba. Saat ditawarkan proyeknya akan diambil alih perusahaan, dia tidak setuju, katanya obyek wisata itu basisnya kerakyatan, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Sosialis sekali, dia. Padahal, itu kalau dikelola sungguh-sungguh, menurut para evaluator, bisa menghasilkan pendapatan yang besar. Tapi berkali-kali dia menolak tawaran perusahaan untuk mengelola. Begitu, Mamah ku yang suka bawel ...." jelas Hamdan sambil mencubit dagu istrinya.


    "Terus, Yudi sekarang mana?" tanya Rini pada suaminya.


    "Sudah pulang." jawab Hamdan.


    "lhoh, Pah ..., kok tidak diajak kemari?" tanya Rini yang kecewa.


    "Habis penyampaian keputusan, dia langsung berpamitan pulang." jawab Hamdan.


    "Papah, gimana, sih?! Harusnya kan diajak ke rumah kita dulu, Pah. Mampir sini .... Saya kan juga pengin ketemu." kata Rini yang terlihat kecewa.


    "Kelihatannya tadi dia agak kecewa saat usulannya tidak lolos. Maka ia langsung pulang. Saya juga lupa untuk menawari menginap di sini, karena tadi memang sibuk. Setelah saya keluar, ternyata teman Mamah itu sudah tidak ada. Saya tanya ke security, dia sudah pulang. Memang tidak menghubungi Mamah?" jelas Hamdan.


    Rini langsung mengangkat HP-nya, menyeret nomor, menghubungi Yudi.


    "Tuuut .... Tuuut .... Tuuut ...." bunyi HP Rini.


    Hanya tertulis "Menghubungi" berarti HP Yudi tidak aktif. Lantas Rini memanggil dengan nomor seluler. Juga tidak Aktif. Dua kali, tiga kali, berkali-kali, Rini menghubungi Yudi. Tetap tidak ada respon. HP sudah dimatikan.


    "Pah, gimana ini, Pah ...? HP nya tidak aktif ...." tanya Rini pada suaminya.


    Masuk akal juga. Seharian Yudi di Jakarta, pasti baterai ponselnya habis. Lantas Rini menulis chat di WA, meninggalkan pesan kepada Yudi. Tentu isi pesan itu menanyakan posisi Yudi, dan minta agar menelepon Rini. Jika nanti Yudi membuka HP, pesan akan dibaca dan membalas.


    "Pah ..., aku khawatir ...." kata Rini pada suaminya.


    "Gak usah terlalu khawatir, teman Mamah itu orangnya gagah. Tenang saja." bujuk Hamdan.


    "Kemarin itu, dia bilang mau mampir kemari, ke rumah kita. Kok sekarang pulang gak bilang." kata Rini.


    "Mungkin ada kegiatan lain." Hamdan berusaha menghibur istrinya.


    "Dia itu culun Pah .... Gak tahu seluk beluk Jakarta .... Saya khawatir terjadi sesuatu pada Yudi, Pah ...." kata Rini yang sangat khawatir. Terlihat dari sikapnya, terutama mulai takut kehilangan.


    "Sabar, Mah .... Semoga tidak terjadi apa-apa." Hamdan mengelus pundak istrinya yang mulai seperti akan menangis.


*******


    Sudah hampir satu pekan, setiap bangun pagi, Rini langsung membuka HP. Mencari pesan dari Yudi. Tetapi tidak ada pesan apapun. Pesan-pesan yang dikirim oleh Rini setiap hari, belum juga dibuka atupun dibaca oleh Yudi. Setiap hari Rini menghubungi Yudi, tetapi tidak ada hasilnya. Panggilan selalu tidak tersambung. Tidak juga ada tanda-tanda HP Yudi aktif.


    "Huhft ...!" Rini mulai kesal. Tetapi juga khawatir. Lantas melempar HP-nya di meja rias.

__ADS_1


    "Mak Mun .... Tolong aku dibuatkan kopi pahit dikasih garam sedikit, ya." kata Rini di dapur.


    "Ya, Ibu .... Akan saya siapkan." jawab Mak Mun yang langsung berbgegas membuat kopi pesanan tuannya.


    "Ini, Ibu ..., kopi pahitnya. Semoga bisa menyegarkan badan Ibu." kata Mak Mun yang menyajikan kopi pesanan Rini di depannya.


    Rini yang duduk di kursi ruang makan, diam tidak menjawab. Tampak kusut, tidak bergairah. Tidak seperti biasanya yang selalu membantu Mak Mun menyiapkan sarapan. Sampai suaminya mau berangkat ke kantor saja, tidak diurusi lagi. Beruntung Hamdan orangnya sabar.


    "Mah ...." Hamdan yang tiba-tiba berada di samping Rini, mengagetkan istrinya.


    "Eh, maaf, Pah." kata Rini yang terkejut dengan kehadiran suaminya.


    "Mamah ini kenapa, sih ...?!" tanya Hamdan, yang sebenarnya sudah tahu permasalahannya.


    "Mamah khawatir banget, Pah, sama Yudi .... Sudah hampir sepekan tidak ada kabar berita. Saya coba tanya ke teman-teman, katanya juga tidak bisa menghubungi Yudi. HP-nya tidak aktif. Saya takut terjadi apa-apa pada Yudi, Pah ...." tanpa sadar, Rini sudah menangis di pelukan Hamdan.


    Hamdan tahu persis sifat istrinya. Rini orangnya penyayang, dan penuh belas kasihan. Hamdan maklum, jika temannya, yang baru saja ketemu saat reuni, dan Rini mencoba berbuat baik, tetapi kenyataan hasilnya tidak memuaskan, tentu ia sangat kecewa. Dan kini, orang itu hilang tanpa kabar berita.


    "Mamah sudah hubungi keluarganya?" tanya Hamdan.


    "Ibu bapaknya sudah tua, tinggal di Magelang, tidak mau pegang HP." jawab Rini.


    "Sabar, ya, Mah .... Tuhan pasti menunjukkan jalan." hibur Hamdan.


    "Iya, Pah .... Tapi aku merasa bersalah, karena sudah menyuruh dia untuk berangkat ke Jakarta." kata Rini lagi.


    "Saya tahu, Mah .... Tapi itu adalah jalan, yang harus dilalui. Apa tidak ada saudara lain yang tinggal di kampungnya?" tanya Hamdan mencoba mencari informasi.


    "Orang satu kampung semua sudah menganggap saudara sama Yudi, Pah .... Tapi saya tidak punya nomor yang bisa dihubungi. Teman-teman juga tidak ada yang tahu. Bahkan kemarin, teman-teman alumnus katanya sudah menghubungi kantor tempat Yudi bekerja, katanya Yudi ijin ke Jakarta belum pulang .... Makanya saya khawatir, Pah, dia itu orang baik ...." jawab Rini.


    "Aduh, Mah .... Aku jadi ikutan bingung, ini." sahut Hamdan.


    "Uh, Papah .... Pah, besok akhir pekan kita ke Jogja, ya .... Cari tahu kabar Yudi. Saya benar-benar khawatir, Pah ...." pinta Rini pada suaminya.


    "Coba Mamah bilang ke Mas Jo, sanggup mengantar kita ke Jogja apa tidak?" jawab Hamdan.


    Rini langsung beranjak dari kursi makan, hatinya mulai sedikit lega mendengar jawaban suaminya. Ia bergegas menemui Mas Jo yang masih memanasi mobil, menyampaikan pesan untuk mengantar tuannya ke Jogja dengan mengendarai mobil pribadi.


    Mas Jo yang hanya seorang sopir, tentu tidak berani untuk menolak apa yang disampaikan oleh tuannya. Bisa maupun tidak bisa, tetap harus sanggup. Itu komitmen sopir yang baik.


*******


    Mobil Fortuner putih melaju di jalan tol dari Jakarta menuju Solo. Mas Jo menyetir dengan kecepatan normal, walau terkadang agak kencang sedikit. Hamdan yang duduk di depan, di samping sopir, asyik menikmati suasana kanan kiri jalan, tentunya sambil menemani Mas Jo. Sedangkan Rini yang duduk di belakang suaminya, sudah tidur sejak mobil masuk Tol Cipali.


    Sengaja Hamdan membawa mobil pribadi, agar leluasa untuk bepergian ke tempat tujuan. Dan tentunya lebih nyaman untuk beristirahat. Mereka menuju Yogyakarta.

__ADS_1


    "Santai saja, Mas Jo .... Jogja masih jauh ...."


__ADS_2