
Setelah mengetahui seluruh permasalahan yang dialamai oleh Yudi maupun istrinya, Yuna, Sang Pendeta dari Kuil Shinto Yasaka, melarang Yudi untuk pulang. Bahkan Sang Pendeta juga melarang Yudi untuk keluar dari kuil terlebih dahulu. Yudi dilarang ke tempat pemujaan, tempat sembahyang orang-orang secara umum. Pendeta itu khawatir, Yudi juga dicari oleh orang-orang yang menangap istrinya.
Pada malam hari, pendeta itu justru mengajak Yudi pergi dari Kuil Shinto Yasaka, dengan naik taksi menuju arah utara, menuju daerah Sakyo, Kyoto bagian utara, pada sebuah lembah yang masih terlihat asri. Taksi itu masuk dan berhenti di depan Kuil Shinto Kifune.Sang Pendeta mengajak Yudi turun, lantas menuju gergang kuil tersebut. Ya, Sang Pendeta mengajak Yudi masuk ke kuil yang cukup besar dan megah tersebut, walau bagunannya terlihat kuno.
Seorang pendeta atau Shinshoku yang sudah terlihat tua, datang menghampiri dua tamu yang baru datang, yaitu Yudi dan Pendeta Yasaka. Dia adalah seorang Guji, yaitu kepala pendeta Kuil Shinto Kifune. Lantas Pendeta Yasaka mengajang berbisik kepada pendeta tua yang menyambutnya tersebut. Cukup lama mereka berbincang berbisik. Yudi tidak mau tahu apa yang dibicarakan. Yang penting untuk saat ini dirinya bisa selamat.
Setelah bicara cukup lama, akhirnya Yudi diajak masuk ke dalam kuil tersebut. Tidak masuk ke dalam ruang pemujaan, tetapi Yudi diajak melintasi jalan kecil di tepi sungai, menyusur ke dalam, jauh dari tempat yang biasa digunakan oleh para penduduk untuk bersembahyang. Yudi diajak masuk ke bagian dalam di Kuli Shinto Kifune.
Kuil Shinto Kifune merupakan kuil tua yang menjadi pusat dari kuil-kuil kecil di sekitar Kyoto. Ibaratnya sebagai kuil induk. Kuil ini terletak di lembah pegunungan yang terdapat di Sungai Kibune. Sungai ini merupakan sumber air bagi masyarakat Sakyo di Kyoto. Bahkan ada yang menyebut, Kuil Kifune ini dibangun untuk menghormati Dewa Naga Air, yang sudah bermurah hati memancarkan sumber air untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat.
Ada beberapa tempat dalam Kuil Kifune yang dikeramatkan, antara lain yang terkenal adalah Okumiya, yaitu tempat suci di area dalam kuil di sepanjang sungai Kibune. Sungai dalam kuil ini dianggap keramat. Pada pinggir sungai, diberi lampion-lampion yang menghias tepian sungai Kibune. Sangat indah dan artistik. Ibarat kata, jika para wisatawan boleh berkunjung malam hari, maka tempat ini akan menjadi destinasi wisata yang sangat menarik.
Yudi masih terus diajak melangkah melintasi sungai itu, hingga sampai pada tempat yang terdapat air terjun. Air terjun ini diberi nama Amagoi no taki, yaitu air terjun yang cukup indah yang berada di dalam kawasan kuil tersebut. Air terjun ini dianggap sebagai tempat suci yang memancarkan air kehidupan, yang diturunkan oleh dewa dari tempatnya yang suci. Air terjun Amagoi ini juga dikeramatkan oleh masyarakat Kyoto. Di tempat air terjun ini juga ada lampion yang menyala, menerangi tempat tersebut. Tentu suara gemericik air dan percikan-percikan air terjen tersebut menjadi daya tarik bagi orang yang menyaksikannya.
Ada satu lagi tempat yang dikeramatkan dalam kuil itu, yaitu Funaishi, merupakan batu yang berbentuk menyerupai kapal. Konon batu kapal ini yang dipercaya sebagai kendaraan yang dinaiki Dewa Naga Air. Orang-orang sering melakukan pemujaan di tempat batu kapal tersebut.
"Koko de yasunde kudasai ...." kata Sang Pendeta dari Kuil Shinto Yasaka, yang menyuruh Yudi untuk beristirahat.
Yudi menuruti apa yang dikatakan oleh Sang Pendeta tersebut. Ia masuk di ruang kecil yang ditunjukkan oleh Sang Pendeta. Semacam kamar pembantu kalau di rumah orang mampu. Tapi ruang itu hanya berdinding ram-ram kayu, semacam jendela kertas. Di kamar kecil itu tidak terdapat tempat tidur atau kasur. Hanya ada "tatami" di lantai ruang kecil itu.
Tatami adalah sebuah tikar tradisional yang berasal dari Jepang dan sangat populer untuk digunakan di rumah-rumah di Jepang. Setiap keluarga di Jepang, pasti punya tikar tatami. Tikar tatami ini sendiri memiliki arti harfiah yakni lipat dan tumpuk, yang artinya tatami ini jika tidak digunakan biasanya dilipat dan ditumpuk di tempat penyimpanan. Tatami terbuat dari jerami yang sudah di proses cukup lama, yang selanjutnya menyerupai membuat tenun. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini sudah banyak tatami yang terbuat dari styrofoam atau dakron, sehingga menjadi lebih empuk dan nyaman untuk digunakan duduk maupun alas tidur.
Ya, seperti di Indonesia, dahulu orang membuat kasur dari kapuk. Sekarang kasur-kasur banyak terbuat dari busa. Itulah perkembangan zaman yang mengakibatkan bergesernya teknologi tradisional.
__ADS_1
Yudi yang memang sudah kecapaian, menurut oleh apa yang diperintahkan Sang Pendeta tadi. Akhirnya ia masuk ke ruang kecil itu, dan merebahkan diri. Dalam sekejap, Yudi sudah mendengkur tertidur nyenyak.
Sementara Yudi tertidur, Sang Pendeta dari Kuil Shinto Yasaka bercakap dengan Sang Pendeta dari Kuil Shinto Kifune yang ditemuinya itu. Mereka berdua berbincang di altar, saling berhadapan bersila di atas tatami yang menjadi alas duduknya.
Perbincangan antar shinshoku itu sangat lama. Dan tentu sangat serius. Bahkan seperti terjadi perdebatan antara dua pendeta itu. Dan yang lebih pasti, perbincangan itu membahas permasalahan Yudi dan istrinya.
Hingga hari menjelang pagi, saat para kannushi mulai melakukan tugas-tugas mengelola kuil. Ada yang memadamkan lampion, ada yang bersih-bersih, ada pula yang sudah melaksanakan berbagai upacara ritual. Bahkan ada pula para 'miko', yaitu wanita asisten kannushi atau pembantu pendeta, yang mulai sibuk di dapur. Dahulu sebutan miko dipakai untuk wanita yang memiliki kekuatan magis untuk menerima ramalan. Biasanya wanita miko itu akan dirasuki oleh ruh dari para arwah. Kemudian perempuan miko itu saat kerasukan, dia berbicara dalam keadaan dirinya dirasuki arwah yang biasa disebut "Kami".
Yudi kaget dan terbangun, saat pintu ruangnya digeser oleh para pembantu pendeta yang bersih-bersih. Lanstas Yudi berdiri dan membungkukkan badannya, tanda menghormat kepada orang yang membuka pintu ruangnya itu, sambil katanya, "Watashi o yurushite ...." Yudi memohon maaf kepada para pekerja.
Lantas pekerja yang tahu di ruang itu ada orang, ia pun membalas membungkukkan badannya, dan juga berkata "Watashi o yurushite ...." yang tentu meminta maaf sudah mengganggu kenyamanan.
Ya, ruang yang ditempati Yudi untuk beristirahat, memang biasa digunakan untuk istirahat tamu. Namun biasanya tamu yang datang ke kuil adalah orang-orang yang punya keperluan dengan masalah keagamaan. Misalnya pendeta atau utusan dari suatu kuil yang akan membahas masalah yang berkaitan dengan kuilnya. Sehingga, biasanya tamu yang ada di ruang itu, adalah orang-orang yang mengenakan pakaian khas pekerja kuil.
Namun kali ini, yang tidur di tempat tersebut hanyalah oramh biasa, yang hanya mengenakan celana jin dan jaket, bahkan wajahnya tidak nampak sebagai orang Jepang. Tentu para pekerja bertanya-tanya, siapa orang ini dan mau apa berada di tempat ini.
Pimpinan shinshoku atau tetua pendeta itu hanya mengatakan, "Hanatte oki nasai." kata Sang Pendeta yang meminta agar orang yang ada di kamar itu tidak diganggu, membiarkan Yudi biar tetap berada di tempat itu lebih dahulu. Pimpinan pendeta itu akan membahasnya nanti setelah acara pemujaan selesai. Tentu agar para pembantu pendeta yang sedang bekerja tidak terganggu dalam melaksanakan tugasnya.
Pekerja itu membungkukkan badannya, lantas meninggalkan pimpinannya, dan kembali untuk melanjutkan pekerjaannya, yaitu membersihkan halaman kuil.
Namun, setelah sampai di depan ruang tempat Yudi semalam tertidur, pekerja pembantu para kannushi menjadi bingung, karena laki-laki yang tidur di ruang tadi, yaitu Yudi, sudah berada di halaman dan menyapu seluruh halaman tersebut. Tentu orang itu bingung untuk meminta sapunya kembali.
"Sumimasen ..., Anata wa koko no gesutodesu, sono shigoto o shinaide kudasai. Ikenai ...." kata pembantu pendeta tersebut, yang melarang Yudi menyapu.
__ADS_1
Yudi menghentikan sapunya, diam sejenak. Setelah melihat orang itu, lantas ia menyapu halaman kembali.
"Shinaide kudasai ...." lagi-lagi orang itu melarang Yudi, kali ini dengan memperagakan tangannya sebagai larangan tidak boleh menyapu.
Yudi tersenyum pada laki-laki yang sudah mendekat pada dirinya itu. Senyum yang lebar dan sangat ramah. Lantas katanya, "Shinpai suru na .... Naretemasu ...." Yudi bilang pada orang itu agar tidak khawatir, karena ia sudah biasa bekerja.
Laki-laki yang merupakan pembantu pendeta itu, akhirnya mengambil sapu lagi, dan bersama-sama dengan Yudi membersihkan halaman kuil.
Setelah pekerja-pekerja yang lain sudah menyelesaikan pekerjaannya, setelah para miko selesai menyiapkan sarapan pagi, maka seperti biasanya, para pendeta, pembantu-pembantu dan orang-orang yang ada di Kuil Shinto Kifune, mereka menikmati makan pagi yang disediakan oleh para miko di aula tempat makan bersama.
Pembantu yang tadi menyapu halaman, serta merta mengajak Yudi yang sudah ikut menyapu, untuk sarapan bersama di aula tempat makan. Tentu pembantu itu merasa bahwa Yudi sudah ikut membantu bekerja, maka wajar kalau diajak ikut makan. Apalagi tadi saat ia menyampaikan ke pimpinan pendeta, laki-laki itu adalah tamu.
Yudi yang diajak untuk sarapan, tentu malu dan merasa kurang nyaman. Karena semua yang makan di ruang aula, adalah para pekerja kuil.
"Watashi ni sa sete, koko de matteimasu ...." akhirnya, Yudimemutuskan untuk menunggu di ruang itu saja terlebih dahulu.
Namun, hanya sebentar ditinggal pergi, ternyata ada dua orang pekerja kuil datang menemui Yudi. Mereka disuruh oleh Sang Pendeta, untuk mengajak Yudi makan bersama di ruang tempat makan.
Ruang itu sudah penuh dengan para pendeta muda, para pekerja dan tentu juru masak yang selalu menyiapkan makanan. Begitu Yudi yang diajak bersama dua pekerja sampai di ruang itu, seluruh orang yang ada di ruang itu membungkukkan badannya, tanda menghormati Yudi.
"Apakah kamu berasal dari Indonesia?" tiba-tiba ada seorang pekerja, pembantu pendeta yang datang menghampiri, bertanya kepada Yudi. Orang itu berkulit sama seperti Yudi. Pasti ia bukan orang Jepang asli.
"Benar .... Saya dari Indonesia." jawab Yudi sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
Begitu mendengar jawaban Yudi, laki-laki itu langsung memeluk Yudi. Memeluk dengan penuh kehangatan, ibarat orang yang sudah lama rindu tidak bertemu.
Siapa orang yang memeluk Yudi ini?