
Rini baru saja selesai makan siang, saat ada ada sepeda motor datang ke penginapannya. Pak Lurah. Ya, Pak Lurang datang ke rumah Rini. Setelah memarkirkan sepeda motornya di halaman, lantas turun dari sepeda motor dan masuk ke ruang kumpul terbuka di depan penginapan. Tentu Rini bergegas menemui, meski gelas dan piring kotornya masih ada di atas meja makan.
"Selamat siang, Ibu Rini ...." salam Pak Lurah kepada Rini.
"Ee ..., Pak Lurah .... Mari Pak Lurah, silakan duduk." sahut Rini yang langsung mempersilakan Pak Lurah duduk di ruang tamu terbuka.
"Terima kasih Ibu Rini." sahut Pak Lurah yang langsung duduk.
Rini langsung membuatkan minum es sirup dan menyuguhkan kepada Pak Lurah.
"Mangga, Pak Lurah ..., silakan di minum. Hanya air saja." kata Rini yang menyuguhkan minum.
"Terima kasih, Ibu Rini ...." jawab Pak Lurah yang tanpa sungkan-sungkan langsung meminum es sirup itu.
"Ada berita apa ini Pak Lurah, kok sepertinya penting sekali?" tanya Rini padaPak Lurah.
"Begini, Ibu Rini .... Saya mau minta tolong ..., saudara saya itu butuh uang mau menjual tanahnya. Tolong Ibu beli ...." kata Pak Lurah, yang tentu penuh harap pada Rini.
"Walah, Pak Lurah .... Uangnya siapa yang mau dipakai membayar?" sahut Rini tanpa beban.
"Ya, uangnya Ibu Rini .... Ibu Rini kan orang kaya, pasti uangnya banyak." kata Pak Lurah kembali.
"Ya ampun, Pak Lurah .... Kaya dari Hongkong .... Suami saya sudah meninggal, Pak Lurah. Sudah tidak ada yang cari uang." sahut Rini yang lagi-lagi berusaha mengelak.
"Murah lho, Bu .... Itu luasnya sekitar satu hektar lebih, saudara saya cuma butuh uang sekitar empat ratus juta. Per meternya tidak lebih dari empat puluh ribu rupiah, Bu ...." kata Pak Lurah yang menyampaikan harga tanah yang akan di jual tersebut.
"Walah, lha tanah seluas itu mau dibuat apa?" tanya Rini lagi, yang tentu bingung dengan luasnya lahan yang ditawarkan Pak Lurah.
"Lhah, ini ..., Ibu Rini .... Buat kebun anggrek. Ini anggrek Ibu Rini terlalu banyak kalau ditaruh di sini. Makanya, tanah milik saudara saya itu dibayar, lalu dibuat kebun anggrek. Nanti para wisatawan pasti akan lebih senang datang ke Kampung Nirwana, karena bisa beli oleh-oleh tanaman anggrek. Begitu Ibu Rini .... Hehe ...." KataPak Lurah yang tentu sambil membujuk Rini.
"Pak Lurah itu, lho .... Senangnya memaksa orang." sahut Rini yang tentu merasa sangat bingung untuk menolak.
"Seandainya Mas Yudi ada di rumah, pasti tanah ini sudah di bayar oleh Mas Yudi. Sayang Mas Yudi tidak segera pulang. Kapan ya, Mas Yudi balik ke Jogja?" kesah Pak Lurah yang tentu juga sedih kehilangan Yudi.
"Iya, Ya ..., Pak Lurah. Kalau di sini ada Yudi, semuanya terasa lebih tenteram dan makmur." timpal Rini, yang tentu merasa lebih kehilangan saat di Jogja tidak ada Yudi.
"Makanya, sebagai ganti Mas Yudi, saya minta tolong Ibu Rini yang bantu saudara saya itu." kata Pak Lurah.
"Iih, Pak Lurah itu, lho .... Dibilang saya tidak punya uang kok disuruh beli tanah. Ya sudah, begini saja, Pak Lurah ..., saya nanti tanya ke Silvy atau Yayan terlebih dahulu. Siapa tahu ada temannya yang berminat." kata Rini pada Pak Lurah.
"Waduh, jangan ditawarkan orang lain, Ibu Rini .... Apalagi orang Jakarta. Kata Mas Yudi, kawasan Kampung Nirwana ini tidak boleh dibeli investor dari luar kota, karena katanya bisa merusak tatanan yang sudah baik. Jadi, Mas Yudi tidak mengizinkan warga sini menjual tanah kepada orang dari luar Jogja." kata Pak Lurah.
"Lhah, kok saya diizinkan beli Nirwana Homestay?" kilah Rini.
"Meski Ibu Rini dan Mbak Silvy punya homestay di sini, tapi yang mengelola kan tetap bagian administrasi di Nirwana Homestay. Jadi aturannya tetap sesuai yang diterapkan di sini, Bu ...." kata Pak Lurah.
"Lhah, tapi ini Pak Lurah menawarkan tanah saudaranya kepada saya ...?!" bantah Rini.
"Hehe .... Ibu Rini sekarang kan sudah jadi warga Kampung Nirwana. Dan saya percaya kalau Ibu Rini itu baik seperti Mas Yudi." kata Pak Lurah ngeles.
"Bisa saja, Pak Lurah ...." sahut Rini yang merasa diperdaya Pak Lurah.
"Hehe .... Ibu Rini .... Tolong kami ya, Bu ...." desak Pak Lurah.
"Nanti saya bicarakan dengan anak saya lebih dahulu. Biar anak-anak saya mempelajari dahulu. Foto copy sertifikat tanahnya ada, Pak?" kata Rini yang tentu akan bicara dengan anak-anaknya lebih dahulu.
__ADS_1
"Ada, Ibu Rini. Ini foto copy sertifikatnya sudah saya bawa. Tolong ya, Bu ...." kata Pak Lurah sambil meberikan copy sertifikat tanah yang akan dijual tersebut.
Pak Lurah berpamitan pulang. Rini membawa gelas bekas minum Pak Lurah ke washtafel. Mencuci gelas dan menaruh di rak. Selanjutnya Rini membawa copy sertifikat tanah ke kamarnya. Ditaruh di meja kerja yang dulu selalu dipakai oleh suaminya.
*******
Hari Sabtu pagi, matahari baru menyebarkan sinarnya yang indah menawan. Warna oranye, adalah warna yang memberi harapan. Silvy dan Yayan berjalan dari penginapan Unit Empat menuju penginapan ibunya di penginapan Unit Tiga. Mereka baru sampai di Nirwana Homestay di tengah malam sekitar pukul dua belas. Maklum, mereka berangkat ke Jogja sepulang kerja. Tentu tubuhnya capai, maka begitu masuk penginapan mereka langsung tidur karena lelah dan mengantuk.
Sengaja Silvy dan Yayan tidak meberi tahu ibunya. Katanya untuk surprise. Biar ibunya kaget.
Banyak mobil yang parkir di penginapan. Berarti banyak wisatawan yang menginap di Nirwana Homestay. Termasuk di penginapan ibunya, ada satu mobil. Setidaknya ada yang menginap satu keluarga. Di tempat Silvy sendiri, meski tidak ada mobil yang parkir, tetapi tiga kamar sudah ditempati oleh penginap. Beruntung, Silvy dan Rini sengaja mengosongkan satu kamar sebagai ruang pribadi yang tidak boleh digunakan untuk penginapan.
Silvy dan Yayan berjalan perlahan, menuju depan kamar ibunya. Lantas mengetuk pintu ruang ibunya.
"Tok ..., tok ..., tok ...." suara ketukan pintu ruang Rini.
"Siapa, ya ...?" suara Rini menanya dari dalam.
"Tok ..., tok ..., tok ...." kembali Silvy mengetuk pintu ruang Rini. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
Bergegas Rini melangkah dari tempat tidur menuju pintu. Lantas membuka pintu dengan rasa was-was. Dan setelah pintu ruangan Rini terbuka ....
"Mamah ...!!" Silvy berteriak memeluk ibunya di depan pintu.
"Ya ampun, Silvy .... Kapan kamu datang?" tanya ibunya yang tentu terkejut melihat anaknya.
"Tadi malam. Sudah jam dua belas lebih, sampai sini." jawab Silvy.
"Kok ya tidak bilang-bilang itu lho ...." kata Rinbi yang tentu perasaannya masih hingar bingar saat melihat anaknya yang mengejutkan itu.
"Gimana kabar Mamah? Betah nggak, tinggal di sini?" tanya Silvy.
"Nyaman .... Sangat nyaman. Tenang dan tenteram. Pasti betah." jawab Rini.
"Iih ..., Mamah bikin ngiri ...." kata Silvy yang tentu iri sama ibunya.
"Sini masuk. Kita ngobrol di kamar saja. Ini akhir pekan, penginapannya penuh. Tadi sore pada berdatangan. Banyak tamu. Punya Mamah, tiga kamar diisi semua." jelas Rini pada anaknya.
"Iya, Mah .... Punya Silvy juga terisi, kok. Itu, sudah ada yang nongkrong di ruang tamu terbuka." sahut Silvy.
"Alhamdulillah .... Berarti rezeki kita lancar. Kita syukuri saja." sahut Yayan.
"Iya, Mas Yayan .... Setidaknya bisa buat makan Mamah .... Hehe ...." sahut Rini yang tentu senang.
"Mamah tidak masak?" tanya Silvy.
"Tidak usah masak. Nanti masak nasi saja, lauk dan sayurnya beli di depan. Di warung Mbok Sumi. Murah dan enak." kata Rini menceritakan warung Mbok Sumi pada anak-anaknya.
"Wah .... Mamah sudah hafal dengan tempat kuliner di sini." kata Yayan yang pasti senang ibunya sudah bisa menjadi bagian dengan masyarakat kampung.
"Sini, Mamah mau bicara dahulu." kata Rini yang sudah mengajak anak-anaknya duduk di sofa, bekas tempat duduk ruang keluarga waktu di Jakarta.
"Ada apa, Mah?" tanya anaknya yang langsung penasaran.
"Mamah ditawari tanah sama Pak Lurah. Kalau hitungannya sih murah. Luasnya satu hektar lebih, cuma mau dijual empat ratus juta." kata Rini pada anak-anaknya, tentu dengan harapan anaknya senang.
__ADS_1
"Waah, luas banget, Mah ...." kata Yayan.
"Terus, mau kita apain, Mah ..., tanah seluas itu? tanya Silvy.
"Pak Lurah bilang untuk kebun anggrek, biar objek wisatanya lebih komplit. Gitu, katanya." jelas
"Uang siapa yang akan dipakai bayar, Mah?" tanya Yayan.
"Makanya, saya pengin bicara sama kalian. Minta pendapat." kata Rini pada anak-anaknya.
Silvy membuka kulkas di ruang ibunya. Kulkas yang berisi air minum dan makanan-makanan ringan untuk berjaga-jaga memenuhi kebutuhan pribadi. Setidaknya untuk persediaan jika sewaktu-waktu perut terasa lapar. Sedangkan yang ada di dapur, kulkas besar untuk persediaan masakan. Untuk tamu yang menginap, di kamar juga tersedia kulkas kecil.
Silvy mengambil gelas, lantas menuangkan air untuk minum suaminya.
"Ada kue, di dalam. Ambil saja, bawa kemari. Untuk mengganjal perut dahulu. Sebentar lagi kita ke warung Mbok Sumi. Beli sarapan di sana." kata Rini pada anak-anaknya.
Tentu Silvy yang kelaparan langsung mengambil kue dalam kulkas itu, dan langsung menyantapnya. Demikian juga Yayan yang juga kelaparan.
"Mamah mau beli tanah itu dapat uang dari mana?" tanya Silvy yang meragukan ibunya.
"Ada .... Walau Mamah sudah tidak punya rumah warisan Papah, setidaknya masih ada tinggalan Papah untuk kita. Homestay ini sudah cukup mewah. Papah sudah membelikan atas nama Mamah dan Silvy. Ini kebaikan Papah kamu yang harus kalian syukuri." kata Rini pada anak-anaknya.
"Iya, Mah .... Kami tahu, Papah sebenarnya sangat baik. Yah, gara-gara wanita pelakor itu." kata Silvy.
"Sudah, tidak usah dibahas. Lupakan masa lalu yang tidak baik. Kita ingat yang baik saja." kata Rini mengingatkan anaknya.
"Maaf, Mah ...." kata Silvy menyesali kata-katanya.
"Mumpung kita kumpul, dan jauh dari saudara-saudara Papah kamu, saya mau sampaikan sesuatu." kata Rini yang kemudian melangkah menuju meja kerja papahnya yang dibawa oleh Rini, lantas membuka laci dan mengambil map.
"Ini ...." kata Rini sambil menunjukkan map plastik.
"Apa ini, Mah?" tanya Silvy.
"Papah kamu sudah meninggalkan deposito kepada Mamah dan Silvy. Ini surat depositonya, ada uang deposito satu miliar untuk kamu dan yang satu lagi untuk Mamah. Ini buku tabungannya atas nama Silvy dan Mamah." kata Rini sambil menunjukkan surat deposito dan buku tabungan. Langsung diberikan kepada Silvy.
"Ya ampun, Mamah .... Beneran ini, Mah?" tanya Silvy yang tentu kaget dan tercengang.
"Iya .... Besok dicek ke bank." kata Rini meminta Silvy.
"Iya, Mah .... Makasih, Mah ...." kata Silvy yang langsung memeluk dan mencium ibunya.
"Tapi itu kan deposito, Mah .... Sebaiknya jangan dicairkan. Biar saja, kalau memang kita tidak butuh mendesak." kata Yayan mengingatkan ibu mertuanya.
"Iya .... Mamah juga berfikir begitu. Saya tidak akan menyentuh deposito itu." kata ibu mertuanya.
"Kalau kita tidak boleh mencairkan deposito itu, lantas yang untuk membayar tanah, uang dari mana?" tanya Silvy.
"Mamah masih ada uang simpanan. Tinggal saya minta pertimbangan kalian, boleh tidak Mamah beli tanah itu untuk buka kebun anggrek? Yah, setidaknya untuk kesibukan saya biar ada kegiatan di sini. Biar tidak stres." kata Rini pada anak-anaknya.
"Kalau saya sih, setuju saja. Malah nanti bisa untuk usaha bisnis. Siapa tahu di kampung wisata seperti ini prospek jualan anggrek bisa laris." kata Yayan memberi pendapat.
"Iya, Mah .... Silvy juga senang. Setidaknya bunga-bunga anggrek Mamah bisa menambah keindahan nuansa Kampung Nirwana." sahut Silvy.
"Ya, sudah ..., nanti kita lihat lokasi lahannya dahulu. Bagus atau tidak, strategis apa nggak. Nanti kita minta diantar Pak Lurah. Sekarang, kita sarapan dahulu di warung Mbok Sumi." kata Rini yang senang anak-anaknya bisa menerima niatannya untuk membeli lahan yang nanti akan dibuat kebun anggrek.
__ADS_1
Angan-angan Rini untuk membangun kebun anggrek bakal terlaksana. Setidaknya, ia bisa mendapat kesibukan di usia tuanya, agar tidak melamun saja di rumah tanpa ada aktivitas. Semoga saja angan-angannya bisa terkabulkan.