KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 57: LAGI-LAGI, GRUP WA BIKIN HEBOH


__ADS_3

    Pagi itu, hari Minggu. Yayuk sudah memosting fotonya bersama Yudi di pintu gerbang rumah Yudi, di grup WA alumni SMA. Spontan mengundang berbagai reaksi dari teman-temannya.


    "Wuah ..., keren banget ...! Yayuk ..., kamu keren!" chat pertama yang mengomentari postingan Yayuk.


    "Keren banget .... Yang perempuan cantik, yang laki-laki gagah, latar belakangnya bangunan antik. Wao ...." komentar teman yang lain.


    "Lhoh, Yayuk ..., kapan kamu ke rumah Yudi?" temannya ada yang bertanya.


    "Halah, Yayuk .... Ke Jogja kok gak ajak-ajak ...." protes temannya.


    "Eh ..., ya jelas gak ngajak temen, lah .... Nanti terganggu." komen yang lain.


    "Walah, sudah jadian to ini?"


    "Undangannya jangan lupa."


    "Berarti besok kita jadi reunian ke Jogja lagi, ya ...."


    "Yayuk ..., kapan sih, kamu ke Jogja lagi? Kok gak bilang-bilang."


    "Maaf, teman-teman .... Itu acara spontan. Kemarin dari Palembang saya langsung ke Jogja. Jadi gak ada rencana sebelumnya." Yayuk menulis chat, membalas pertanyaan teman-temannya.


    "Ooo .... Dari Palembang bawa empek-empek, nggak? Oleh-oleh khusus buat Yudi." balasan chat temannya.


    "Aduh, aku lupa .... Kemarin tergesa, lupa aku bawakan empek-empek untuk Yudi." Yayuk membalas.


    "Hah ...?! Jauh-jauh dari Palembang ke Jogja tidak bawa oleh-oleh? Ya ampun Yayuk, pelit amat, sih."


    "Kan sudah dibawakan empek-empek khusus .... Pempek kapal selam."


    "Empek-empek basah, ya .... Hahaha ...." ada teman yang bergurau.


    "Selamat ya, Yuk .... Yayuk sudah siap jadi permaisuri di kerajaan, apa nama kampungnya Yudi, kemarin itu?"


    "Kampung Nirwana ...."


    "Eh, iya .... Kerajaan Kampung Nirwana."


    "Kapan ramai-ramainya, Yuk?"


    "Sabar .... Nanti kalau sudah siap, kita undang lagi untuk reuni ulangan."


    "Eh ..., eh ..., eh .... Jangan ngegosip, ya ...!" Yayuk mencoba protes pada obrolan teman-temannya.


    "Aku doakan, Yuk ...."


    "Lha terus nanti gimana? Masak yang satu di Jogja, yang satunya lagi di Palembang?"


    "Nah, kan .... Makanya jangan suka gosip." Yayuk pura-pura meredam temannya, padahal hatinya senang jika digosipkan.


    "Ini dirimu masih di Jogja, Yuk?" ada chat yang bertanya.


    "Baru kemarin siang saya sampai Jogja. Capai, nih badan saya." Yayuk menjawab pertanyaan temannya.


    "Walah ..., semalam ngapain saja kok sampai capai semua?" komen temannya mulai menggoda.

__ADS_1


    "Hayoo .... Pasti semalaman gituan, ya ...." komen yang lain menggoda.


    "Aku gak bisa tidur, ya ...." Yayuk menjawab chat.


    "Ya, iya lah .... Baru ketemu kok ditinggal tidur, sayang kan .... Wkwkwk ...."


    "Ya ampun .... Sampai semalaman, Yuk?"


    "Berapa kali, Yuk?"


    "Nambah teruuuss ...."


    "Sampai pagi ...."


    Obrolan itu semakin memanas. Yayuk yang digoda merasa semakin senang. Begitu juga teman-temannya, yang menggoda Yayuk juga semakin ramai.


    Sayangnya, Yudi sudah tidak aktif di grup WA alumni itu, gegara HP yang hilang. Jika Yudi masih ada dalam grup, pasti ceritanya jadi lain. Bisa semakin seru, atau bahkan jadi terhenti.


    Yang jelas, grup alumni SMA pagi itu sangat ramai dengan beragam komentar obrolan yang membahas Yayuk. Jadi yang menjadi lakon saat itu adalah Yayuk. Tentu, Yayuk tidak sedih, melainkan malah menjadi senang. Pokoknya Yayuk ge er duluan.


    Ya, terus terang saja saat menerima jawaban Yudi seperti itu, bagi Yayuk itu adalah sinyal. Jika Yayuk harus berusaha untuk bisa seperti apa yang disampaikan oleh Yudi, tentu jika itu semua bisa diterima atau dilakukan oleh Yayuk, Yudi setuju untuk diajak menikah. Tapi, dirasakan juga agak berat yang dikatakan oleh Yudi. Karena Yayuk harus bisa menerima anak-anak yang ada di rumah Yudi. Selain itu, kalau memang mau menikah dengan Yudi, berarti ia harus berhenti bekerja, karena harus tinggal bersama Yudi di Jogja. Kalau minta pindah mutasi kerja ke Jogja? Yah, itu bisa jadi menjadi jalan untuk mendekatkan diri dengan Yudi. Yang lain pasti tidak masalah. Itu hanya urusan waktu untuk bisa memahami sikap dan kebiasaan Yudi. Yang penting bisa menikah dulu.


    Yayuk memang suka dengan Yudi, saat teman-temannya pada memosting rumah Yudi yang seperti istana. Apalagi posisi dirinya yang sendirian, tahu jika Yudi juga belum menikah, tentu ada hasrat untuk bisa mendekati Yudi. Paling tidak, bisa menundukkan keperjakaan Yudi yang bertahan sampai hampir lima puluh tahun.


    Maka saat Yayuk memosting fotonya bersama Yudi, kemudian mendapat komentar dari teman-temannya yang ramai seperti itu, Yayuk merasa mendapat angin segar. Mendapat dukungan. Tinggal menunggu suport dari teman-temannya itu juga sampai kepada Yudi. Paling tidak lama, Yudi akan berubah pikiran. Begitu bayangan Yayuk.


*******


    Sementara itu, di Jakarta. Seperti biasa, di minggu pagi Rini menyibukkan diri berolah raga bersama suaminya. Walau hanya sekadar jalan-jalan melemaskan kaki, setidaknya ada setetes atau dua tetes keringat yang keluar dari tubuhnya, untuk membakar lemak yang tertimbun. Apalagi Hamdan, yang usianya sudah hampir enam puluh tahun, yang kalau di kantor lebih banyak duduk, yang terkadang makannya kurang terkontrol, gerak badan sangat penting. Setidaknya bisa untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Kali ini, Rini diajak suaminya jalan kaki di Senayan. Sekalian refresing.


    Bersama dengan banyak orang yang berolah raga di Senayan, suasananya berbeda dengan olah raga sendirian di rumah. Ya, setiap Minggu pagi, Senayan selalu ramai, penuh sesak orang-orang yang berolah raga. Ada yang jalan kaki, berlari, bahkan ada juga yang hanya sekadar duduk-duduk melihat orang lewat.


    "Kalau capai, istirahat ya, Mah." kata Hamdan pada istrinya.


    "Iya, Pah .... Saya pelan-pelan saja. Papah kalau mau lari-lari, gak papa." jawab Rini.


    "Iya .... Yang penting tubuh Mamah jadi segar, pikirannya juga bisa fres, senang melihat orang banyak pada berolah raga." sahut Hamdan.


    "Benar, Pah .... Bisa cuci mata. Hehehe ...." kata Rini.


    Kembali, Hamdan melakukan lari-lari kecil meninggalkan istrinya. Tapi sebentar saja, kemudian balik lagi ke tempat istrinya. Begitu berkali-kali dilakukan oleh Hamdan.


    Rini terlihat senang melihat suaminya yang juga gembira. Meski lari-lari kecilnya Hamdan tidak maksimal. Tapi setidaknya mereka berdua sudah berolah raga.


    Tiba-tiba, HP Rini berdering. Rini mengangkat HP yang tersimpan dalam kantong jaket olah raga yang dikenakannya. Panggilan dari Anik. Teman SMA-nya.


    "Ah, Anik .... Ngapain lagi orang ini." gumam Rini yang bosan dengan panggilan-panggilan dari Anik, karena yang dibicarakan selalu tidak mutu. Tapi Rini pun masih mau mengangkat panggilan itu.


    "Telepon dari siapa, Mah?" tanya Hamdan.


    "Anik, teman SMA saya." jawab Rini.


    "Ya udah, Mamah terima telepon sambil istirahat di di sini dulu. Papah mau berlari kencang memutar Senayan. Hehe ...." Kata Hamdan yang langsung berlari kecil.


    "Ya, Pah .... Mamah duduk di sini saja dulu, ya .... Papah hati-hati, gak usah terlalu kencang berlarinya. Sudah tua .... Hehe ...." kata Rini yang kemudian duduk dan mengangkat telepon dari Anik.

__ADS_1


    "Halo, Rin .... Lagi ngapain?" suara Anik dari dalam telepon.


    "Hain Anik .... Ini masih jalan-jalan di Senayan. Olah raga, biar sehat." jawab Rini.


    "Wah, keren, Rin .... Enak ya tinggal di Jakarta. Olah raganya saja di Senayan. Kalau diriku olah raganya di sawah .... Hahaha ...." balas Anik.


    "Eh, ada berita apa, Nik ..., kok tumben telepon pagi-pagi?" tanya Rini.


    "Rini sudah baca WA grup alumni, belum?" tanya Anik.


    "Belon .... Emang ada apa, Nik?" sahut Rini.


    "Pokoknya baca dulu. Cepetan ...!" kata Anik.


    "Ya, ya ...." sahut Rini yang langsung mematikan panggilan Anik.


    Lantas Rini membuka WA grup alumni. Sudah sangat banyak obrolan yang belum terbaca. Dan Rini langsung melihat postingan Yayuk. Foto selfie Yayuk bersama Yudi. Rini tidak lupa, latar belakang tempat foto Yayuk bersama Yudi adalah gapura pintu gerbang rumah Yudi. Ya, tempat Rini pernah beswafoto dengan Alex, Handoyo dan Yudi saat pertama kali tiba di rumah Yudi.


    Lantas Rini menggeser naik. Kembali terlihat lagi postingan foto dari Yayuk. Kali ini Yayuk merangkul Yudi saat berfoto selfie. Yayuk tersenyum lebar, hingga terlihat giginya. Yayuk tampak gembira.


    "Iiih ..., dasar perempuan gatel .... Pakai peluk-peluk orang segala." gerutu Rini yang tentu cemburu melihat Yudi dirangkul orang lain. Ingin rasanya Rini mau membanting HP-nya.


    Rini jadi penasaran. Ada apa sebenarnya Yayuk datang ke rumah Yudi. Ingin tahu penasarannya itu, lantas Rini menggeser lagi obrolan yang tertulis di WA grup alumni. Satu persatu dibaca. Baru kali ini Rini membaca jeli, teliti dan menafsirkan makna dari setiap obrolan teman-temannya yang ada di grup alumni SMA itu. Ya, tentu karena rasa penasarannya yang sangat besar. Penasaran dengan kehadiran Yayuk di rumah Yudi.


    Lantas Rini membaca tulisan-tulisan dari temannya yang intinya menganggap seakan Yayuk sudah berpacaran dengan Yudi. Bahkan sudah ada yang menanyakan kapan pesta pernikahannya.


    "Iih ..., keterlaluan!" umpat Rini dalam batinnya.


    Tentu Rini marah membaca WA itu. Bagaimana tidak, saat Rini meminta Yudi menikah dengan Yuna saja, Yudi menolak dengan alasan tidak mungkin bisa melupakan dirinya. Tapi kenyataannya sekarang? Ee ..., malah peluk-pelukan dengan Yayuk. Kurang ajar.


    Rini masih melanjutkan membaca satu persatu chat yang ditulis teman-temannya. Dan saat membaca chat dari Yayuk, Rini merasa kaget jika hari ini Yayuk masih berada di Jogja, di rumah Yudi. Bahkan Rini merasa terusik dengan obrolan teman-temannya yang menggoda Yayuk, semalaman tidak tidur bersama Yudi .... Ngapain saja dua orang ini. Masak semalaman sampai tidak bisa tidur.


    "Uch .... Dasar Yudi ..., laki-laki playboy kampungan. Kurang ajar!" Rini kembali mengumpat, kali ini terucap lirih.


    Ingin rasanya Rini langsung menelepon Yudi untuk marah-marah pada laki-laki yang sok suci pada dirinya itu. Rini jengkel pada Yudi. Ternyata Yudi sudah main belakang. Ingin rasanya ia memaki-maki lelaki itu. Namun belum sempat menelepon ....


    "Sudah, Mah ...?!" tiba-tiba suaminya sudah muncul di depannya.


    Suara suaminya itu sudah meredam emosinya. Beruntung si Yudi, tidak jadi kena semprot.


    "Sudah, Pah. Kita pulang, Pah?" sahut Rini.


    "Iya .... Tapi sebelum pulang, kita sarapan soto dahulu. Panas-panas, diberi perasan jeruk nipis sama sambal, minumnya teh hangat. Wah .... Segar, Mah. Keringatnya bisa keluar semua." kata Hamdan yang ingin mengajak istrinya makan soto.


    "Sip, Pah .... Aku juga sudah lapar dari tadi, kok. Hehe ...." sahut Rini.


    Hamdan mengajak Rini ke rumah makan soto di Sudirman, tidak jauh dari Senayan, tinggal menyeberang di JPO. Menikmati soto dan ayam goreng. Segar dan nikmat. Rini habis soto satu porsi mangkuk kecil. Sedangkan Hamdan habis soto satu mangkuk besar ditambah satu mangkuk kecil. Keringat keluar dari setiap pori-pori.


    "Sudah, Mah. Kita pulang, yuk ...." kata Hamdan mengajak pulang istrinya.


    "Iya, Pah. Sudah terlalu kenyang. Sebentar, ini mana pelayannya ..., Mamah bayar dulu." kata Rini yang membawa uang.


    "Mas ..., sudah, Mas .... Tolong dihitung." kata Hamdan pada pelayan.


    Pelayan menghitung yang dimakan mereka berdua. Lantas Rini, bagian bendahara khusus, membayar nota yang diberikan pelayan.

__ADS_1


    Setelah selesai membayar, Hamdan dan Rini pulang. Hamdan menyetir sendiri mobilnya. Hari Minggu Mas Jo, sopirnya, diberi kesempatan untuk libur bersama keluarga. Tidak jauh, dari Komplek Gelora Bung Karno Senayan ke rumahnya hanya sekitar dua puluh menit. Kalau hari Minggu jalanan Jakarta tidak macet.


    Rini yang duduk di samping suaminya, walau matanya memandangi jalan, tapi pikirannya masih jengkel dengan WA grup alumni SMA. Chatingan teman-temannya itu kembali mengusik emosi jiwanya. Membuat hatinya jengkel dan ingin marah.


__ADS_2