
Yudi sudah berada di depan pintu penjemputan, saat Rini keluar Bandara YIA. Yudi langsung meminta koper yang diseret Rini. Selanjutnya berjalan berdua menuju gedung parkir. Tentu, Rini langsung menggandeng, memegang erat lengan Yudi. Ada rindu yang menggebu. Tak berapa lama, mereka pun sampai di ruang parkir. Yudi memencet remot pintu, lantas membuka pintu bagasi dan menaruh koper pakaian Rini di belakang.
Rini langsung masuk dan duduk di jok depan. Lantas Yudi juga masuk mobil. Dengan senyum berbinar saat memandangi wajah Yudi yang menstarter mobilnya, tubuh Rini lansung bergerak menuju tempat duduk sang sopir istimewa, hidungnya langsung mencium Yudi sepuas-puasnya.
"Aku rindu berat, tahu?!" kata Rini yang menciumi Yudi.
"Iya ..., iya .... Aku tahu." sahut Yudi yang membiarkan wajahnya diciumi oleh Rini.
"Nanti, malam Minggu, aku diajak jalan-jalan keliling Jogja, ya." pinta Rini pada Yudi.
"Iya .... " jawab Yudi ringan.
Yudi langsung menjalankan mobil Avanza hitam di jalanan lintas selatan. Perlahan tapi pasti. Maklum, di sampingnya ada wanita yang sedang melepas rindunya. Jadi harus hati-hati, karena sesuatu bisa saja terjadi dari tingkah orang yang mengalami kasmaran. Sepanjang jalan itu pun, Rini menyandarkan kepalanya di pundak Yudi yang sedang menyetir. Tentu ini akan mengganggu konsentrasi. Tetapi Yudi yang maklum dengan wanita pujaannya itu, ia tetap fokus untuk menyetir.
"Sudah pesan hotel?" tanya Yudi menggoda Rini.
"Uuch ..., uch ..., uuch ...!" Rini memukuli pundak Yudi.
"Lah, kenapa, ini?!" Yudi pura-pura tanya.
"Hotelku, ya di kamarmu, lah .... Kok nanya. Uch!" Rini yang ngambek masih saja memukul bahu Yudi.
"Ooo .... Aku kira ...." Yudi masih berpura-pura.
"O, o, apa? Dasar laki-laki! Semua jahat!" bentak Rini yang bawel.
"Kecuali diriku, ya .... Haha ...." sahut Yudi sambil tertawa.
"Uch .... Maunya!"
Kedua tangan Rini langsung merangkul leher Yudi, yang tentu hidungnya langsung mencium bujang tua yang tidak mau menikah itu.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Yudi bersama Rini, sudah sampai di Kampung Nirwana. Tetapi Yudi tidak langsung menuju rumah. Ia berhenti di lapangan. Tentu langsung didatangi para sopir VW wisata.
"Gimana, Mas Yudi? Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu diantara sopir-sopir yang menghampiri.
"Wah, si bos ini makin keren saja ..., Kapan nikahnya, Mas Yudi?" celoteh sopir yang lain.
"Ayo, Mas ..., cepetan nikah. Nunggu apa lagi?" yang lain ikut menimpal.
"Pas, Mas Yudi .... Serasi. Aku setuju. Yang penting ramai-ramainya, Mas!" sahut yang lain lagi.
"Heh ..., heh ..., heh .... Kalian ngapain, sih?!" bentak Yudi pada teman-temannya.
Tentu Rini yang mendengar celotehan para sopir VW wisata itu jadi tersipu. Pipinya langsung memarah. Tetapi dalam hatinya merasa senang. Apalagi saat dibilang serasi. Wah, senang sekali rasanya.
"Pokoknya kalau Mas Yudi menikah, kami semua siap melaksanakan pestanya. Tidak hanya semalam, tapi tujuh hari tujuh malam. Begitu, ya teman-teman ...!" kata salah satu sopir yang memprovokator teman-temannya.
"Siaaap ...!"
"Setujuuu ...!"
Tentu, sopir-sopir wisata yang lain langsung setuju. Ya, mereka memang merasa sangat terbantu oleh Yudi. Apalagi Yudi sudah membangkitkan perekonomian mereka. Tentu mereka akan senang jika Yudi mau menikah.
"Hus! Ngaco kalian semua. Ini Ibu Rini, yang mau beli tanahnya Yoga. Mana Yoga?" kata Yudi menjelaskan.
"Ooo .... Maaf, Bu ...." kata para sopir setelah dijelaskan.
"Mas Yoga sedang mengantar wisatawan. Paling sebentar lagi sampai." jawab salah satu sopir.
"Lha, itu mobilnya dah nyampai." kata yang lain setelah melihat rombongan VW muncul dari gang kampung.
Dan benar. Tidak berapa lama, orang yang dicari Yudi sudah datang. Lantas laki-laki yang bernama Yoga itu menemui Yudi. Setelah bicara sebentar, lantas orang yang bernama Yoga itu mengambil sepeda motor, terus melajukan motornya. Yudi mengikuti dari belakang. Tentu bersama Rini.
"Yud, kata orang-orang di lapangan tadi, asyik juga ya, Yud." kata Rini di dalam mobil yang mengikuti motor Yoga.
"Kata-kata yang mana?" tanya Yudi.
__ADS_1
"Itu ..., yang tanya, kapan nikahnya." sahut Rini sambil tersenyum lebar.
"Ach, kamu itu, Rin ...." kata Yudi ringan.
"Penginnya gitu, Yud ...." kata Rini.
"Pengin apaan?" tanya Yudi.
"Pengin mantenan, sama kamu, Yud." kata Rini.
"Hus ...! Jangan ngacau kamu, Rin." sahut Yudi.
"Kalau iya, kamu mau nggak?" tanya Rini.
Yudi diam saja. Tidak menjawab pertanyaan Rini.
"Kok diam? Kalau diam berarti mau .... Hehehe ...." kata Rini sambil tertawa.
"Sudah sampai ...." kata Yudi yang langsung menghentikan kendaraannya.
Yoga langsung masuk ke rumahnya. Sementara Yudi melihat tanah kosong yang ada di samping rumah. Menurut informasinya, tanah itu yang akan dijual oleh bapaknya Yoga. Sebentar kemudian Yoga keluar bersama bapaknya.
"Ini, Mas Yudi, yang akan dijual Bapak saya." kata Yoga pada Yudi.
"Iya, Mas Yudi, minta tolong ya, ini anak saya yang di Kalimantan minta warisan." kata bapaknya Yoga.
"Iya, Pak .... Ini Bu Rini, suaminya ingin punya rumah di sini. Bu Rini biar lihat dulu." sahut Yudi.
"O, ada tamu, to .... Ibu ini yang mau beli ..., monggo, Bu, katuran pinarak." kata si bapak itu.
"Lokasi yang lain mana, Yog?" tanya Yudi pada Yoga, ingin tahu alternatif tanah yang lain.
"Tegalan yang di timur, Mas. Yang di pinggir sungai itu." kata Yoga.
"O, ya sudah. Yang itu besok saja. Pak, rencana mau dijual berapa, yang ini?" tanya Yudi.
"O, njih. Maturnuwun. Nanti biar Ibu Rini yang mutuskan pilihannya. Saya nyuwun pamit, nggih. Aku langsung nengok rumahnya Pak Mandor ya, Yoga ...." kata Yudi yang langsung berpamitan.
Yudi menjalankan mobilnya. Perlahan. Setelah beberapa ratus meter dari rumah Yoga tadi, ia meminggirkan mobil, tetapi tidak turun. Mobilnya pun tidak dimatikan. Ya, Yudi meminggirkan mobil di depan rumah Pak Mandor.
"Lihat rumah itu, Rin .... Tolong difoto. Kalau rumah ini sudah tidak perlu membangun. Sudah jadi dan siap pakai. Bangunannya kayu jati semua. Yang punya namanya Pak Mandor, dia mandor penggergajian kayu. Sesuai namanya, rumahnya bagus dan artistik." kata Yudi pada Rini
"Ya, Yud .... Ini sudah aku foto." kata Rini.
Rini yang disuruh memotret bangunan yang dimaksud, langsung mengambil gambar sebanyak mungkin.
Selanjutnya Yudi menjalankan mobilnya kembali. Kali ini ia melajukan mobil ke pinggir kampung, ke area lahan kosong yang cukup luas.
"Tolong lahan kosong itu juga difoto, Rin. Ini yang rencana ditawarkan untuk hotel, motel dan homestay dengan arsitektur tradisional. Siapa tahu suami Rini bersedia inves." jelas Yudi.
"Iya, ini sudah aku foto semua." sahut Rini yang ceprat-cepret dari tadi.
"Kita pulang, apa makan sekalian?" tanya Yudi.
"Hah, ini surveinya sudah selesai?" Rini balik bertanya.
"Sudah." jawab Yudi.
"Cuman begini doang? Jauh-jauh dari Jakarta saya disuruh ke Jogja?" tanya Rini lagi.
"Iya." jawab Yudi singkat.
"Ya ampun, Yudi .... Ini mah buang-buang waktu." sahut Rini.
"Lah, kalau tidak mau, kenapa kemari? Kalau memang mau balik ke Jakarta, ayo aku antar. Mumpung masih ada penerbangan." kata Yudi yang memancing emosi Rini.
"Gak. Ayo, cepet pulang ke rumahmu. Aku sudah kebelet pipis, nih!" kata Rini yang segera meminta Yudi pulang.
__ADS_1
"Okey, tuan putri ...." jawab Yudi yang langsung memutar mobilnya.
Sesampai di rumah Yudi, Rini langsung lari ke kamar, tentu ke kamarnya Yudi. Rini sudah tidak kuat lagi menahan perutnya.
Yudi yang menyaksikan tingkah Rini menjadi geli. Lucu tapi menggemaskan. Yudi menyeret koper pakaian milik Rini, dan membawanya masuk ke kamarnya. Tentu Yudi sudah menebak, pasti Rini minta tidur di kamarnya, tidak mau tidur di tempat tamu. Yah, namanya juga sedang jatuh cinta, pasti tidak mau dipisahkan. Bagi Yudi tentu juga tidak melarangnya. Toh dirinya juga senang jika bisa tidur bersama dengan orang yang pernah meruntuhkan hatinya itu.
"Hehehe ...." Rini meringis saat melihat Yudi yang memerhatikan dirinya baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa? Kok senyam-senyum sendiri?" tanya Yudi yang menyaksikan Rini.
Rini langsung menubruk Yudi, memeluk erat dan mencium dengan kencang. Yudi pun membalas memeluk tubuh Rini. Melepas rindu mereka berdua.
"Rin, mana HP kamu?" tanya Yudi yang sudah melepaskan tubuhnya.
"Ih, ngapain?! Curiga, ya?!" sahut Rini.
"Ambil gambar fotomu tadi .... Untuk laporanmu pada Mas Hamdan." jelas Yudi.
"Oo .... Nih!" kata Rini yang langsung memberikan HP pada Yudi.
Selanjutnya Yudi sudah duduk mengahadapi laptop, mengambil data foto untuk diubah menjadi gambar laporan. Meski sudah berumur dan hidup menyendiri, tetapi soal kemajuan teknologi, Yudi tidak ketinggalan. Data gambar yang diambil dari HP, diproses dengan desain grafis, lantas diberi sentuhan program autoCAD, munculah gambar desain yang bagus.
"Coba lihat, Rin .... Mana yang kamu sukai?" kata Yudi pada Rini.
"Ih, keren banget, Yud. Semua bagus. Aku suka semua. Kamu benar-benar mengagumkan hatiku, Yud." jawab Rini yang berada di belakang Yudi, tentu sambil memeluknya.
"Kamu itu, lho, Rin .... ke Jogja itu disuruh survei ...." kata Yudi yang menegaskan tugas Rini.
"Lah, iya, aku suka semua." sahut Rini yang justru mencium pipi Yudi dari belakang.
"Maksudku, dari tempat-tempat yang tadi saya tunjukkan ke Rini, yang disenangi yang mana?" tanya Yudi lagi.
"Oo .... Suruh memilih lokasi? Kalau aku memilih di hatimu saja, bagaimana?" kata Rii masih saja menggoda Yudi.
"Rini .... Serius sedikit dong!" tegur Yudi.
"Iih, aku serius, Yud. Aku tetap memilih hatimu. Kalau Yudi memilih hatiku, gak?" Rini semakin menggemaskan.
"Dah, Rini ambil HP, telepon Mas Hamdan, biar aku katakan kalau Rini gak serius!" Yudi mulai jengkel.
"Ih, marah, ya .... Maaf, ya sayang ...." kata Rini yang masih saja menggoda Yudi.
"Nih, gambar sudah aku kirim ke WA Rini. Silakan kirimkan ke Mas Hamdan. Biar Mas Hamdan yang memutuskan pilihannya." kata Yudi yang serius meminta kepada Rini.
Rini membuka HP. Ya, gambar-gambar sudah terkirim. Cukup banyak dan bagus-bagus. Ia langsung meneruskan kiriman Yudi kepada suaminya. Tentu suaminya akan senang melihatnya.
"Sudah, Yud. Semua aku teruskan ke Mas Hamdan." kata Rini yang selesai mengirim gambar.
"Terimakasih, Rini. Semoga Pak Hamdan bisa memilihnya." jawab Yudi.
"Tapi kalau aku, Yud ..., tetap memilih hatimu .... Hehe ...." kata Rini yang tersenyum lebar, langsung menubruk Yudi.
Yudi yang tidak siap saat ditubruk oleh Rini, akhirnya tidak bisa menguasai tubuhnya. Dua orang itu pun terjatuh di atas tempat tidur. Yudi yang berada di bawah, tertindih oleh tubuh Rini. Meski jatuh, Rini tidak melepaskan Yudi, Ia justru menindih lebih kuat, dua tangannya sudah membelit kuat. Yudi terengah-engah, berusaha ingin melepaskan tubuhnya, tetapi semakin ia berusaha melepaskan, yang menindih justru semakin kuat menekannya.
“Tuliliiing tuloliliiiing .... Tuliliiing tuloliliiiing ....” HP berdering.
"HP kamu bunyi, Rin." kata Yudi, yang tentu senang karena Rini bakalan melepaskan tubuhnya.
"Iyah, sebentar. Sudah terlanjur, nih. Nanggung." jawab Rini yang masih menindih tubuh Yudi.
Tangan Yudi berusaha menggapai HP Rini. Dan, kena.
"Rin ..., Mas Hamdan yang telepon!" kata Yudi menunjukkan panggilan HP pada Rini.
"Hah ...?! Waduh?!"
Rini langsung meloncat dari tempat tidur, membuka pintu, keluar dari ruangan Yudi. Mengangkat pangilan video dari suaminya. Beberapa saat Rini dan suaminya bertelepon menggunakan video call.
__ADS_1
"Beruntunglah diriku ...." kata Yudi yang lega terlepas dari serangan maut.