
Dua hari Rini menata rumah penginapannya. Meski hanya mempercantik ruangannya sendiri, menata ruang dapur, serta menata bunga-bunga kesayangan suaminya, ternyata terasa capai juga. Makanya, begitu malam tiba, Rini langsung tertidur. Meski menyalakan TV, tetapi justru Rini yang ditonton oleh TV. Namun begitu bangun, Tubuh Rini justru terasa enak dan segar. Bisa jadi karena Rini yang biasanya kurang gerak, kini harus bekerja menggerakkan fisiknya. Atau karena udara pagi di alam perkampungan yang masih segar, membuat paru-paru Rini sanggup memompa oksigen secara maksimal ke seluruh tubuh. Yang jelas Rini menjadi lebih nyaman dan senang.
Pagi itu, setelah menggerak-gerakkan tubuhnya, menyiram anggrek ngobrol dengan karyawan kebersihan penginapan, setelah minum segelas susu dan makan roti sesisir, Rini mencoba menghubungi Bagas. Ia ingin ketemu. Tentu ingin memberitahu kalau dirinya akan menetap di Jogja, mengantar ke Kantor Kepala Desa untuk menyampaikan kepindahannya, serta menyampaikan berbagai masalah yang tengah terjadi. Terutama, Rini ingin tahu kabar tentang Yudi dan Yuna.
"Halo, Mas Bagas .... Ini Ibu Rini." kata Rini saat menelepon Bagas.
"Iya, Ibu Rini .... Bagaimana kabarnya?" balas Bagas yang langsung menanyakan kabar.
"Baik, Mas Bagas .... Apakah Mas Bagas bisa ketemu saya di Nirwana Homestay?" kata Rini meminta agar Bagas bisa datang ke Nirwana Homestay.
"Bisa, Ibu Rini. Memang Ibu Rini berada di Nirwana Homestay?" Bagas balik bertanya.
"Betul, Mas Bagas .... Saya perlu minta tolong sama Mas Bagas." sahut Rini.
"Baik, Ibu Rini .... Saya langsung menuju sana." jawab Bagas yang langsung mematikan HP-nya, kemudian menghidupkan sepeda motor dan langsung menuju Nirwana Homestay.
Hanya sebentar. Jarak Nirwana Homestay dengan rumah Bagas tidak terlalu jauh. Makanya dalam sekejap, Bagas sudah sampai di penginapan Unit Tiga. Penginapan milik Rini.
Begitu menghentikan motornya, Bagas kaget dan heran. Tentu karena melihat banyaknya bunga anggrek di halaman penginapan Rini. Tak henti Bagas mengamati. Kapan bunga-bunga ini datang di sini? Siapa yang membawa? Bagas tidak tahu. Makanya dia agak heran.
Rini langsung keluar menyambut kedatangan Bagas.
"Duduk sini, Mas Bagas. Di ruang makan saja." kata Rini yang meminta Bagas duduk di ruang makan dekat dengan dapur. Memang bangunan penginapan milik Rini agak beda, yaitu ada penambahan ruang makan antara ruang kamar dan dapur, serta ada tempat jemuran dan setrika yang berada di sebrang ruang makan. Itu permintaan Hamdan waktu pesan, agar penginapannya dibuat sama dengan model rumahnya Yudi.
Rini bersyukur, waktu itu antara suaminya dengan pihak pengembang langsung sepakat, walau Hamdan harus menambah biaya bangunan. Namun bagi Rini, bangunan penginapannya tidak jauh berbeda dengan rumah Yudi.
"Iya, Ibu Rini." sahut Bagas yang langsung menuju ruang makan. Bagas sendiri merasa nyaman, ibarat berada di rumah Yudi. Tata letaknya sama. Hanya garasi belakang yang tidak ada.
"Mas Bagas mau minum kopi?" tanya Rini kepada tamu yang ia undang.
"Tidak usah repot, Bu Rini ..., air bening saja." sahut Bagas.
Rini langsung mengambilkan segelas air bening untuk Bagas. Lantas katanya, "Mas Bagas ..., bagaimana kabarnya Mas Yudi dan Mbak Yuna?" tanya Rini.
"Saya belum tahu, Ibu Rini. Sampai sekarang belum ada kabar berita, baik dari Mbak Yuna maupun Mas Yudi." jawab Bagas yang terlihat sedih.
"Semoga tidak terjadi apa-apa, Mas Bagas. Semoga mereka di Jepang bersama keluarganya dalam keadaan sehat dan bahagia." kata Rini menenangkan Bagas.
"Iya, Ibu Rini. Kami juga ikut prihatin dan berbela sungkawa atas berpulangnya Bapak Hamdan." kata Bagas.
"Terima kasih, Mas bagas." jawab Rini, yang langsung meneteskan air mata teringat akan suaminya.
"Maaf, Ibu Rini ..., bukan maksud saya untuk membuat Ibu bersedih." tentu Bagas menyesal dengan kata-katanya yang pasti menusuk perasaan Rini.
"Tidak apa-apa, Mas Bagas. Itu biasa. Kami sudah ikhlas kok. Oh, ya ..., ceritanya bagaimana kok Mbak Yuna bisa diculik?" tanya Rini pada Bagas.
__ADS_1
"Seminggu setelah pernikahan, hari senin pagi Mas Yudi berangkat kerja. Mbak Yuna ada di rumah, tentu bersih-bersih dan menata rumah. Tapi ada tamu dari Jepang yang datang dan memaksa Mbak Yuna untuk pulang ke Jepang. Tapi hasil rekaman yang dilihat Mas Yudi, itu katanya Mbak Yuna diculik. Mas Yudi lalu lapor ke kedutaan di Jakarta. Tapi oleh pihak kedutaan, Mas Yudi disuruh menyusul ke Jepang. Pagi harinya Mas Yudi berangkat ke Jepang, dan sampai hari ini tidak ada kabar berita." jelas Bagas pada Rini.
"Tidak telepon sama sekali?" tanya Rini lagi.
"Tidak, Ibu Rini. Mas Yudi maupun Mbak Yuna tidak punya HP." jawab Bagas.
"Lhoh .... Anak-anak kan sudah kasih kado HP kepada Yudi dan Yuna ..., kok tidak dipakai?!" sontak Rini bilang kalau Silvy dan suaminya memberi kado HP pada pernikahannya.
"Semua kado masih utuh di kamar Mas Yudi, belum ada yang dibuka, Ibu Rini ...." kata Bagas menyampaikan keadaan kado yang masih utuh di kamar Yudi.
"Ya ampun Yudi ...." Rini heran dengan sikap dua orang suami istri tersebut. Masak dengan kado pernikahan saja mereka tidak begitu peduli. Dasar orang tidak butuh harta.
"Betul, Ibu Rini .... Mbak Yuna dan Mas Yudi belum sempat menyentuh kado-kado itu, orang habis menikah malah keliling kampung menyampaikan ucapan terima kasih kepada para tetangga yang sudah membantu acara pesta pernikahannya." jelas Bagas kepada Rini.
"Yudi memang orang baik. Saya kenal ia sejak SMA. Semoga saja Tuhan melindungi Yudi. Yuna juga baik, dia tidak macam-macam. Semoga Tuhan juga menyelamatkan Yuna." kata Rini mendoakan Yudi dan Yuna.
"Iya, Ibu Rini. Selapanan acara pernikahan Mas Yudi dan Mbak Yuna, kami orang sekampung mengadakan doa bersama untuk memohon keselamatan." kata Bagas yang menyampaikan acara doa bersama untuk keselamatan Yudi dan Yuna.
"Selapanan itu apa sih, Mas Bagas?" tanya Rini yang tidak paham maksud selapanan yang diceritakan Bagas.
"Selapanan itu acara selamatan pernikahan Mas Yudi dan Mbak Yuna sudah tujuh sepasar, yaitu dari hari Minggu Legi sampai Minggu Legi lagi. Jadi kalau dihitung tiga puluh lima hari. Itu namanya selapan. Harapannya doa selapanan ini bisa membantu permohonan doa untuk keselamatan Mas Yudi dan Mbak Yuna, biar kalis nir hing sambikala." jelas Bagas.
"Apa lagi itu, Mas Bagas?" tanya Rini yang semakin bingung.
"Ya ..., selamat tidak ada bahaya apapun yang mengganggu." jelas Bagas.
"Oh, ya ..., Ibu rini, ini kok banyak anggrek, kapan datang, Bu?" tanya Bagas yang memang tidak tahu datangnya barang-barang yang dikirim oleh Rini dari Jakarta.
"Tiga hari yang lalu. Itu anggrek kesayangan Mas Hamdan, akan saya rawat di sini. Tidak hanya anggrek, kemarin kami juga kirim lemari, meja kursi, serta perlengkapan dapur. Baru kemarin ditata oleh Pak Min." kata Rini pada Bagas.
"Lhoh, kok tidak bilang sama saya? Kan saya bisa bantu, Ibu ...." kata Bagas yang menyesal karena tidak tahu.
"Tidak mengapa ..., Pak Min sudah cukup. Nanti urusan yang lain saya akan minta bantuan Mas Bagas, mengantar saya ke Kantor Kepala Desa, mengurus surat pindah." kata Rini.
"Memang Ibu Rini mau menetap di sini?" tanya Bagas yang tentu kaget, orang Jakarta kok pindah ke desa.
"Iya ...." sahut Rini.
"Lhah, terus rumah yang di Jakarta yang menempati siapa? Mbak Silvy, ya ...?" tanya Bagas ingin tahu.
"Tidak Mas Bagas .... Rumah yang di Jakarta sudah saya serahkan ke kakak dan adik-adiknya Pak Hamdan. Saya lebih senang tinggal di sini. Lebih nyaman dan segar." jawab Rini.
"Diserahkan begitu saja? Ibu Rini rela? Apa tidak sayang, Ibu?" tentu Bagas keheranan mendengar kata-kata Rini.
"Ikhlas, Mas Bagas .... Kan saya sudah punya penginapan ini. Silvy juga punya yang depan itu. Jadi ..., untuk apa kami tinggal di Jakarta. Rumah sebesar ini sudah cukup, bahkan terlalu besar untuk saya sendirian, Mas Bagas." kata Rini menjelaskan kepada Bagas.
__ADS_1
"Ya ampun, Ibu Rini .... Ibu terlalu baik. Semoga dimudahkan Tuhan semua yang Ibu lakukan." kata Bagas.
"Aamiin .... Terima kasih, Mas Bagas." sahut Rini.
"Kalau begitu, ini berarti Ibu Rini akan minta saya mengantar ke Pak Lurah?" tanya Bagas.
"Betul, Mas Bagas .... Setidaknya saya mau laporan ke Pak Lurah, kalau saya pindah ke Kampung Nirwana, menjadi bagian dari warga sini." jawab Rini.
"Sekarang ya, Ibu?" tanya Bagas lagi.
"Iya .... Lha apa tahun depan? Hehehe ...." seloroh Rini yang mencandai Bagas.
"Ibu Rini mbonceng sepeda motor?" tanya Bagas ragu-ragu.
"Tidak apa-apa, Mas Bagas .... Saya sudah biasa, kok." jawab Rini untuk meyakinkan Bagas.
Bagas menghidupkan kendaraannya. Rini membonceng. Kendaraan Bagas melaju, menuju Kantor Kepala Desa. Tidak terlalu jauh dari Nirwana Homstay. Hanya sekitar lima menit. Bagas pun sudah menghentikan kendaraannya di depan Kantor Kelurahan. Lantas bersama Rini masuk ke ruang kantor. Tentu langsung mencari Pak Lurah, karena sudah akrab. Dan kebetulan Pak Lurah ada di ruangan.
"Wee ..., Mas Bagas .... Kalau tidak salah ingat, ini Ibu Rini yang dari Jakarta itu, ya?" kata Pak Lurah menyapa Bagas dan Rini.
"Betul Pak Lurah. Saya Rini." sahut Rini menjawab Pak Lurah.
"Mohon maaf, Ibu Rini ..., kami turut berduka cita atas wafatnya suami Ibu, semoga almarhum husnul khotimah. Maafkan kami tidak sempat melayat." kata Pak Lurah.
"Terima kasih, Pak Lurah ..., tidak apa-apa, kami tahu kesibukan orang-orang di Kampung Nirwana." balas Rini.
"Ini kok dengaren, ada keperluan apa, Ibu Rini?" tanya Pak Lurah pada Rini.
"Saya mau lapor pindah, Pak Lurah." jawab Rini.
"Pindah ...?! Tidak salah dengar ini saya ...." sahut Pak Lurah yang tentu ragu-ragu.
"Tidak, Pak Lurah. Betul saya akan pindah ke Kampung Nirwana. Ini surat pindah saya, Pak Lurah." kata Rini yang langsung menyodorkan surat keterangan pindah dari Jakarta.
"Walah ..., tenanan to ini .... Apa betah tinggal di kampung?" kata Pak Lurah lagi.
"Pasti betah, Pak Lurah. Kalau orang asing saja pada berdatangan piknik ke Kampung Nirwana, kenapa saya tidak senang tinggal di kampung ini." jawab Rini yang sangat politis.
"Tapi di sini kalau malam sepi, Ibu Rini .... Beda dengan Jakarta yang ramai dua puluh empat jam. Butuh apa-apa di Jakarta serba ada. Kalau di sini, Ibu Rini pasti bingung." kata Pak Lurah yang membandingkan kampungnya dengan Jakarta.
"Saya tidak mencari keramaian kok, Pak Lurah. Saya mencari nyaman." jawab Rini.
"Iya ..., Ibu Rini. Kalau Ibu mencari nyaman, Kampung Nirwana tempatnya." timpal Pak Lurah.
"Betul, Pak Lurah .... Di kampung ini saya menemukan kenyamanan. Saya sudah tidak mau apa-apa lagi, Pak Lurah. Usia sudah menua. Hanya nyaman yang saya inginkan." kata Rini yang penuh harapan.
__ADS_1
"Semoga Ibu Rini akan nyaman di Kampung Nirwana, senyaman tinggal di istana para dewa." kata Pak Lurah yang tersenyum senang. Pasti karena Rini adalah orang kaya dan terpandang.
Ya, memang Kampung Nirwana adalah kampung yang dirancang akan memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang tinggal di sana. Kampung yang diadaptasi dari konsep taman nirwana milik para dewa. Inilah rancangan karya seni yang tidak sekadar membuat keindahan saja, melainkan juga mengisi roh dan jiwa dalam tatanan kehidupannya. Lagi-lagi, Yudi adalah perancang Kampung Nirwana.