
Kabar berita tentang akan dibangun Pasar Rakyat menjadi topik pembicaraan di warga Kampung Nirwana. Tentu karena berita yang disampaikan oleh Mas Wawan yang sanggup memborong pembangunan proyek Pasar Rakyat itu tersebar dari mulut ke mulut. Terutama adalah para karyawan atau pekerja bangunan yang ikut bekerja bersama Wawan. Mungkin saja mulai dari para tukang bangunan yang ikut Wawan, kemudian disampaikan kepada istri, lantas para istri langsung menyebarkan berita itu kepada setiap orang yang ia temui. Maka tidak bisa dipungkiri, kalau akhirnya berita rencana pembangunan Pasar Rakyat itu sampai juga di telinga Pak Lurah.
Pagi itu, baru saja Yudi selesai mandi, saat Pak Lurah datang di rumahnya. Pasti ada hal yang sangat penting ingin dibicarakan bersama Yudi.
"Mas Yudi ...!" teriak Pak Lurah yang sudah masuk di ruang belakang, memanggil Yudi.
Yudi yang masih berada di ruangannya, langsung keluar dari pintu kamar saat mendengar panggilan dari lurahnya.
"Iya, Pak Lurah .... Duduk dahulu, saya mau pakai baju dulu." kata Yudi dari tengah pintu ruangnya.
Yudi masuk lagi ke ruangnya, untuk memakai baju. Sedangkan Pak Lurah langsung duduk di gazebo. Hanya sebentar, Yudi sudah keluar, dan langsung menuju rak di dapur, mengambil gelas.
"Pak Lurah mau minum teh apa kopi?" tanya Yudi menawarkan minuman untuk Pak Lurah.
"Kopi ..., manis, ya ...." sahut Pak Lurah.
Yudi lantas membuat kopi dua gelas. Satu gelas untuk Pak Lurah, dan yang satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Lantas membawanya memakai baki untuk disajikan di gazebo.
"Monggo, Pak Lurah .... Ngopi dahulu, biar otaknya thok cer ...." kata Yudi yang menawarkan kopinya.
Tanpa basa-basi, Pak Lurah yang ditawari minum kopi, langsung menyeruputnya, meski minuman itu masih panas.
"Sruuupt ..... Aah ...." suara Pak Lurah menyeruput kopi.
"Pelan-pelan, Pak Lurah .... Masih Panas ...." kata Yudi.
"Wuah .... Enak banget, Mas Yudi ...." sahut Pak Lurah.
"Tumben, Pak Lurah .... Pagi-pagi sudah sampai gubug saya. Ada berita apa, Pak Lurah?" tanya Yudi yang tentu heran dengan kedatangan Pak Lurah yang ia anggap masih terlalu pagi.
"Iya .... Penting, ini ...." sahut Pak Lurah.
"Masalah apa yang penting?" tanya Yudi yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Masalah rencana pembangunan Pasar Rakyat ...." kata Pak Lurah.
"Memang kenapa?" Yudi mencoba ingin tahu pendapat Pak Lurah.
"Hlah .... Mas Yudi itu gimana, to ...? Lha untuk membangun Pasar Rakyat itu mau pakai uang siapa? Dana desa sudah habis. Sudah nol .... Desa tidak punya anggaran lagi." kata Pak Lurah yang tentu khawatir kalau pembangunan itu akan meminta uang Pak Lurah.
Yudi diam saja. Ia hanya tersenyum sinis. Tentu sudah menduga kalau Pak Lurah akan mengatakan seperti itu. Intinya Pak Lurah akan berat kalau ditanyai masalah dana.
"Lho, kok malah senyum-senyum sajak ngece .... Nanti itu bagaimana pelaksanaannya?" tanya Pak Lurah yang tentu ingin segera mendapatkan jawaban dari Yudi.
"Pak Lurah itu mendapat berita tentang pembangunan Pasar Rakyat dari siapa?" tanya Yudi pada Pak Lurah.
"Lhoh ..., kamu ini gimana sih, Mas Yudi? Lha wong berita pembangunan Pasar Rakyat sudah santer dan geger di masyarakat, kok ...." sahut Pak Lurah meyakinkan Yudi.
"Sumber berita itu jelas apa tidak?" tanya Yudi lagi.
"Lhah ..., lhah ..., lhah .... Yang jelas gimana, Mas Yudi ...?" Pak Lurah terlihat mulai ragu. Kini sudah mulai meredup wajahnya. Takut kalau memang yang diomongkan itu salah.
"Lhah, kok malah tanya saya .... Gimana to, Sampean ini?" tanya Yudi yang justru membalik pertanyaan Pak Lurah.
Lagi-lagi, Yudi tersenyum menyaksikan tingkah Pak Lurah yang kebingungan. Memang Pak Lurah ini orangnya suka grogi. Tapi sebenarnya baik hati. Terutama dengan Yudi, ia merasa banyak utang budi kepada Yudi. Ia jadi kepala desa, menang dalam pemilihan kepala desa, itu semua berkat Yudi. Makanya kalau Yudi usul ini itu, yang terkait dengan memajukan desanya, Pak Lurah pasti langsung setuju. Apalagi kalau usulan-usulan Yudi itu ada uangnya, pasti langsung disetujui. Contohnya saja seperti pembangunan Taman Awang-awang, karena pihak desa tidak mengeluarkan dana, maka Pak Lurah langsung mengiyakan. Demikian juga saat pihak desa disuruh ikut membangun penginapan Nirwana Homestay, karena nanti akan menghasilkan pemasukan untuk kas desa, maka Pak Lurah juga langsung ACC.
Namun kini, saat mendengar berita terkait rencana pembangunan Pasar Rakyat, tentu Pak Lurah akan memastikan siapa yang akan membangun dan uangnya dari mana.
"Sekarang, mumpung Pak Lurah ketemu saya ..., saya mau tanya, seandainya Pasar Rakyat dibangun apa Pak Lurah setuju?" tanya Yudi.
"Ya jelas setuju to, Mas Yudi .... Itu nanti kan bisa meningkatkan penghasilan rakyat ..., meningkatkan perekonomian kampung kita ...." sahut Pak Lurah.
"Oke .... Setuju, ya ...." tandas Yudi.
"Tapi terus terang desa tidak punya dana untuk membangun lo, Mas Yudi ...." Pak Lurah langsung menegaskan.
"Yang penting setuju apa tidak?" tandas Yudi mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Setuju, Mas Yudi ...." jawab Pak Lurah.
"Nah ..., begitu ...." sahut Yudi.
"Tapi nanti kalau Pasar Rakyat jadi dibangun, siapa yang akan membiayai, Mas Yudi ...?" tanya Pak Lurah yang masih ragu-ragu, khawatir dengan biayanya.
"Nah ..., kalau Pak Lurah sudah setuju, saya mau cerita." kata Yudi mulai mau menjelaskan.
"Gimana ceritanya, Mas Yudi ...?" tanya Pak Lurah yang terburu ingin tahu.
"Memang sebenarnya saya yang merencanakan mau membangun Pasar Rakyat .... Itu karena saya melihat kebun anggrek yang ada di Taman Anggrek Nirwana milik Ibu Rini itu sudah semakin ramai. Saya berpikir kalau rencana tempat Pasar Rakyat itu di bangun, untuk digunakan sebagai pasar kuliner terlebih dahulu, pasti ramai dan dapat menambah ekonomi rakyat." kata Yudi menjelaskan rencananya.
"Lha, terus ..., dananya dari mana, Mas Yudi?" lagi-lagi Pak Lurah menanyakan dana.
"Saya ada sedikit uang .... Daripada uang saya tidak terpakai, maka ingin saya gunakan untuk membangun Pasar Rakyat tersebut. Itu kalau Pak Lurah membolehkan ...." kata Yudi mengutarakan niatnya.
"Walah ..., setuju, Mas Yudi .... Sudah ..., pokoknya saya setuju. Mas Yudi ini terlalu baik untuk kemajuan Kampung Nirwana. Terus kapan mau dimulai pembangunannya?" Pak Lurah yang tahu kalau pembangunannya akan ditanggung oleh Yudi, ia langsung menyetujuinya. Maklum, mendengar penuturan Yudi, berarti desa tidak mengeluarkan anggaran.
"Rencana pembangunannya secepatnya. Kalau Pak Lurah setuju, nanti saya serahkan Wawan, biar diborong dia saja. Kita tidak usah pusing-pusing ikut mikir. Ya ..., sambil bagi-bagi rezeki. Toh karyawan Wawan juga kebanyakan orang dari Kampung Nirwana, kok ...." kata Yudi menjelaskan rencana pembangunannya.
"Tapi untuk seting tempatnya harus kita bahas bersama, Mas Yudi ...." kata Pak Lurah yang tentu ingin tahu rancangannya.
"Kalau begitu, Mas Wawan ditelepon saja, ketemu kita di lapangan rencana bangunan." sahut Yudi meminta Pak Lurah menghubungi Wawan.
"Oke, siap .... Sekarang ya, Mas Yudi ...?" tanya Pak Lurah.
"Iya .... Nanti ke sananya saya membonceng Pak Lurah, ya ...." jawab Yudi.
"Beres ...." sahut Pak Lurah yang langsung menelepon Wawan.
*******
Berita pembangunan Pasar Rakyat kini benar-benar tersebar ke seluruh warga Kampung Nirwana. Tentu masyarakat menjadi senang, karena sebentar lagi di kampungnya akan berdiri Pasar Rakyat. Desas-desus yang tersebar, paling tidak nanti modelnya seperti Pasar Sukowati yang ada di Bali. Masyarakat bisa berjualan berbagai produk hasil kerajinan, serta berbagai kuliner khas Jogja. Pasti orang-orang yang sudah memiliki produk-produk kerajinan langsung ingin mendaftar untuk ikut berjualan di Pasar Rakyat tersebut. Demikian juga bagi masyarakat yang sementara ini masih berjualan secara kecil-kecilan, mereka juga ingin membesarkan usahanya di Pasar Rakyat. Termasuk para pedagang makanan atau masakan khas Jogja. Nantinya Pasar Rakyat akan mewadahi semua hasil produk dari warga Kampung Nirwana.
__ADS_1
Berita tentang akan dibangunnya Pasar Rakyat, yang katanya seluruh biaya pembangunannya akan ditanggung oleh Yudi, sudah tersebar ke seluruh warga Kampung Nirwana. Termasuk didengar oleh Rini. Pasti Rini merasa sangat kagum dengan perbuatan Yudi tersebut. Yudi sudah melakukan hal yang sangat luar biasa. Melakukan perbuatan yang jarang dilakukan oleh orang lain. Sungguh orang baik.
"Ya ampun ..., Yudi .... Kamu sudah memikat hatiku ...." gumam Rini sambil tersenyum, dengan hati yang berbunga. Rini semakin kagum dengan perilaku Yudi tersebut.