KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 163: MENYAMBANGI TAMU


__ADS_3

    Kembali melihat pesta pernikahan Yudi di Kampung Nirwana. Pesta pernikahan Yudi benar benar meriah. Yang paling ramai tentu pada saat pembagian doorprize. Tidak hanya warga Kampung Nirwana, tetapi juga teman-teman Yudi yang mendapat untaian kembang manggar yang ada nomor undiannya. Tentu harapannya, para tamu itu mendapat hadiah dari doorprize. Hingga siang hari, suasana kemeriahan pesta pernikahan Yudi itu terus ramai dengan gelak tawa dan sorak sorai. Ibarat seperti melaksanakan perayaan agustusan.


    Demikian juga teman-teman seniman Yudi yang berasal dari para seniman Jogja. Semua mengikuti acara ramai-ramai di pesta tersebut. Meskipun para seniman ini tidak satu pun yang membawa kembang manggar yang ada nomor undiannya, tetapi mereka senang menyaksikan warga kampung yang bergembira. Ya, warga kampung yang polos dengan ketulusan hati, tanpa beban dan tak punya tanggungan. Itulah gambarang dari kehidupan masyarakat yang tenteram damai. Tentu kehidupannya aman sentosa. Sebuah gambaran tatanan kehidupan masyarakat yang tidak memikirkan kepentingan duniawi, tidak memikirkan harta benda, melainkan kebersamaan hidup yang madani. Itulah gambaran masyarakat sederhana yang tidak pernah mau meributkan kehidupan. Kuncinya hanya satu, yaitu jangan membuat masalah.


    Para seniman merekam semua itu, sebagai konsep keindahan yang universal. Ya, keindahan hakiki kehidupan masyarakat yang sejahtera. Jadi, gambaran hidup sejahtera bukanlah karena tumpukan harta benda, melainkan kebersamaan hidup dalam sebuah kerukunan.


    Demikian juga Yuna, yang menyaksikan kehidupan masyarakat Kampung Nirwana sangat jauh berbeda demgan kehidupan masyarakat di Tokyo. Ketika setiap hari Yuna hanya menyaksikan kehidupan masyarakat yang egois, masyarakat yang memburu kepentingannya sendiri, masyarakat yang hanya menuntut pemenuhan kebutuhan harta benda. Setiap hari yang ia pahami hanyalah gaya hidup hedonisme. Tetapi ketika hidup bersama masyarakat Jogja, khususnya warga Kampung Nirwana, semua gaya hidupnya yang terbentuk dari budaya masyarakat modern yang hanya mengejar duniawi, semuanya sirna. Semuanya berubah, saat Yuna menyaksikan kehidupan yang mementingkan kebersamaan daripada penghasilan. Bahkan saat mendengar pepatah 'mangan ora mangan asal kumpul', semua angan yang pernah ditempa di Tokyo menjadi hilang.


    Hidup berbulan-bulan bersama masyarakat yang baru, sudah mengubah filosofi cinta. Apalagi saat menyaksikan betapa nilai kebersamaan yang dibangun oleh warga Kampung Nirwana, benar-benar menganggap Yuna sebagai bagian dari mereka. Rasa persatuan dan kesatuan warga masyarakat yang sangat kuat. Rasa kekeluargaan yang dijunjung tinggi, serta kegotong-royongan yang melekat erat dalam bekerja sama. Itulah yang dinamakan paguyuban, yaitu persatuan hidup yang didasari oleh perasaan senasib sepenanggungan, rasa persaudaraan yang kuat, serta rasa saling memiliki. Nilai-nilai kasih sayang yang dibangun dalam masyarakat Kampung Nirwana.


    Apalagi, setelah masyarakat Kampung Nirwana selalu menjodoh-jodohkan Yuna dengan Yudi, terutama para bakul yang jualan makanan tradisional, dan tentu, setelah bekerja bersama Yudi, lama-kelamaan rasa cinta itu pun mulai tumbuh dan berkembang. Tentunya, setelah Yuna menilai Yudi adalah laki-laki baik, maka Yuna tidak ingin melepas kesempatan untuk bisa memiliki Yudi.


    Bagi Yudi, mendapat Yuna adalah anugerah. Wanita yang cantik, cerdas, pintar, rajin dan disiplin. Sulit untuk ditemukan di Jogja, bahkan mungkin di Indonesia. Gaya hidup wanita yang sangat sederhana meski memiliki banyak kelebihan, penceria meski pendiam, dan tidak pernah membeda-bedakan siapapun dan apapun orang yang ditemui. Yuna adalah orang kaya dengan banyak uang, tetapi tidak mau memamerkan kekayaannya, justru memberikan harta kekayaannya itu untuk membantu masyarakat, mengembangkan berbagai bentuk pemberdayaan. Termasuk menambah dana untuk mempercantik Taman Awang-awang. Demikian pula untuk membangun Gua Jepang, semua dananya berasal dari Yuna. Ia hanya ingin hubungan antara Taman Awang-awang dengan Gua Jepang bisa saling melengkapi. Begitu pula saat pembangunan Nirwana Homestay. Ketika pengembang kekurangan dana untuk membangun, maka Yuna pula yang menjadi ujung tombok. Tentu karena Yudi yang butuh tambahan modal. Toh nanti jika uang para penyewa sudah masuk, dana itu akan kembali menjadi milik Yuna. Tetapi, itu yang dibutuhkan untuk membantu warga kampung, saking pinginnya punya penginapan tetapi tidak punya modal.


    Yudi dan Yuna, ibarat seperti dewa dan dewi yang ditakdirkan untuk membangun Kampung Nirwana. Bagi masyarakat Kampung Nirwana, dua orang inilah yang sudah mengubah desa terbelakang menjadi kampung yang maju dan sejahtera. Semua itu sudah dilakukan oleh Yudi hampir dua puluh lima tahun lamanya. Dan saat Yuna datang, dengan membawa uang untuk membangun kampung yang lebih hebat, maka rakyat Kampung Nirwana, mulai dari Pak Lurah, hingga warga yang hanya menjadi buruh, semuanya merasa berutang budi dengan dewa-dwei ini. Tentu tidak banyak yang tahu, jika Yudi maupun Yuna adalah orang kaya. Ya, karena mereka berdua hidup dalam kesederhanaan, sama seperti halnya warga kampung yang lainnya.


    Teman-teman alumni SMA Yudi yang ikut menghadiri acara pesta pernikahan, tentu merasa heran, saat Yudi maupun Yuna tidak mau disumbang uang oleh para tamunya. Tidak mau menerima amplop dari teman-temannya. Padahal pesta pora seperti itu. Banyak makanan dengan berbagai menu, minuman berbagai rasa, bahkan hiburan aneka macam. Sungguh perbuatan yang patut diacungi jempol.


    "Hai, Yudi .... Selamat, ya ...." kata Jojon yang masih berkumpul dengan teman-teman alumni SMA sekelasnya.


    "Hai ..., hai ..., hai .... Gimana kabar semuanya ...?" sahut Yudi yang menyambangi teman-temannya yang berkumpul menjadi satu. Tentu sekalian reunian.

__ADS_1


    "Baik ..., Pak Bos ...." saut Anik cepat.


    "Kamu yang bos .... Lihat saja itu tubuhmu semakin besar .... Hwehehe ...." sahut Yudi menggoda Anik.


    "Ya .... Bilang saja gembrot ..., gitu kan?!" bantah Anik.


    "Hahahaha ...." semua teman-temannya tertawa, tentu menertawakan Anik.


    "Eh, Yudi ..., kenapa sih sumbangan kami kok ditolak? Apa kurang banyak?" tanya Anik yang blak-blakan kepada Yudi.


    "Iya, Yud .... Mosok mantu besar-besaran begini, tidak menyediakan kotak sumbangan?" tanya yang lain.


    "Semua tamu tidak boleh nyumbang ya, Yudi?" tanya yang lain lagi.


    "Iya, Yudi .... Wah, kamu ini keterlaluan. Mosok kami mau menyumbang tidak boleh." kata yang lain lagi.


    "Hehe .... Ndak usah berkecil hati .... Semua tamu tidak menyumbang saya. Pokoknya, saya yang mengundang kalian untuk berpesta, bukan untuk menyumbang. Datang ke sini, menghadiri pesta saya, undangannya hanya makan-makan, sambil kumpul dengan teman, ngobrol-ngobrol, temu kangen. Kan begitu. Tidak saya suruh nyumbang. Kalau mau menyumbang, besok sumbangannya dimasukkan ke kotak amal di rumah ibadah saja." kata Yudi yang tentu sambil tersenyum.


    "Lhah, tapi pesta seperti ini, makanan banyak sekali, apa tidak menghabis-habiskan uang?" tanya temannya.


    "Nah, itu semua yang menyediakan warga Kampung Nirwana. Itu semua masakan para tetangga. Saya tidak tahu, mereka yang mengatur semuanya. Bahkan, arak-arakan maupun semua perlengkapan dan hiburan, itu semua yang mengatur dan mengadakan ya para pemuda dan remaja kampung ini. Nah, kalau semua sudah diatur oleh warga, masak saya masih harus menaruh kotak sumbangan .... Tidak etis, bro .... Memangnya saya mau membangun tempat ibadah, pakai pasang kotak sumbangan segala. Itulah enaknya jadi orang baik .... Hahaha ...." kata Yudi yang menggojeki teman-temannya.

__ADS_1


    "Enaknya .... Jadi ngiri, aku ...." sahut Jojon, yang tentu tahu bagaimana meriahnya pesta pernikahan Yudi sejak hari kemarin.


    "Kamu itu memang lain kok, Yud .... Yang pejabat saja, kalau mantu kotak sumbangannya besar-besar, terus yang datang diabsen satu-satu, terus kalau yang jabatannya tinggi disuruh makan di ruang khusus dengan menu makanan yang khusus pula, Sudah begitu, masih diladeni sama pelayan catering. Tapi yang yang datang krucuk-krucuk, yang dianggap sumbangannya kecil, makannya disuruh ngantri, setelah samapi giliran, wadah makanan sudah kosong. Hahaha ...." seloroh salah satu temannya.


    "Iya, betul .... Di tempatku biasanya juga begitu." sahut yang lainnya.


    "Manusia itu semua sama .... Jangan dibeda-bedakan. Itu semua given dari Yang Maha Kuasa. Mau kulit putih, kulit hitam, rambut lurus, rambut keriting, itu jangan dibeda-bedakan. Apalagi hanya soal jabatan ..., itu tidak langgeng, hanya sekejap. Begitu pensiun, jabatan itu sudah tidak ada lagi. Lantas ..., apa yang mau dibanggakan? Mantan pejabat, gitu ...?! Ini kalau kalian mau tahu, ya ..., banyak mantan pejabat yang begitu pensiun langsung stres, kemudian sakit-sakitan ..., setelah itu, selamat jalan ...." kata Yudi yang berusaha membela orang kecil.


    "Betul juga katamu, Yudi .... Memang banyak yang seperti itu ...." sahut beberapa temannya.


    "Eh ..., teman-teman kita yang lain mana?" tanya Yudi.


    "Rini sudah pulang sejak pagi, habis makan .... Katanya ditelepon dari Jakarta agar segera pulang, ada urusan penting." sahut Jojon.


    "Kalau Alex, tadi sudah ngumpul, sudah ngobrol bareng kita, terus pamitan mengantar istri dokter Handoyo ke bandara. Pesawat jam dua penerbangan pulang ke Lombok." jawab Anik.


    "Ya ..., saya minta maaf sudah mengganggu waktu teman-teman. Saya sangat senang kalian datang ke pernikahan saya. Saya bahagia." kata Yudi.


    "Ee ..., kita foto dahulu bareng-bareng ...." kata Anik, yang tentu langsung minta tolong kepada seseorang untuk mengambilkan gambar foto melalui HP-nya.


    "Maaf, Mas Yudi ..., diminta ke panggung lagi untuk sesi pengambilan foto-foto." tiba-tiba ada seorang pemuda datang menghampiri Yudi, meminta untuk kembali ke panggung pengantin.

__ADS_1


    "Ok .... Maaf, teman-teman, saya harus naik ke panggung lagi. Silakan dinikmati semua yang ada. Gak usah malu-malu ...." kata Yudi yang kemudian meninggalkan teman-teman alumni SMA seangkatannya. Tidak lupa, tentu menyalami satu persatu teman-temannya. Yang penting, semua tamu sudah disambangi. Tidak hanya teman SMA-nya saja, tetapi juga para seniman Jogja, serta para tetangganya yang sudah banyak membantu. Bagaimanapun, Yudi harus berterima kasih kepada semua para tamu yang ikut memeriahkan pesta pernikahannya.


__ADS_2