KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 180: APA ARTI SAUDARA


__ADS_3

    Rini beberapa kali menerima telepon dari saudara-saudara Hamdan. Terutama dari adik-adiknya almarhum suaminya. Ya, Hamdan punya dua adik, satu perempuan dan satu laki-laki, serta punya satu kakak laki-laki. Namun yang sering menelepon Rini adalah adik-adiknya. Intinya, adik-adik Hamdan ini menyalahkan Rini. Karena saat kejadian pembunuhan Hamdan, Rini tidak ada di rumah. Adik-adiknya menganggap bahwa Rini bukanlah istri yang baik. Bukan istri yang setia. Mereka malah menuduh Rini selingkuh. Sama seperti yang pernah dituduhkan oleh suaminya.


    "Mbak Rini .... Pokoknya saya tidak rela atas kematian Mas Hamdan. Itu semua gara-gara Mas Hamdan ditinggal pergi sama Mbak Rini." kata adik perempuan Hamdan yang meneleponnya.


    "Dik ..., kamu kok tega sih menuduh saya seperti itu ...?!" jawab Rini.


    "Ya, iya ...! Coba kalau Mbak Rini ada di rumah, pasti tidak akan terjadi penusukan yang mengakibatkan meninggalnya Mas Hamdan. Coba pikir itu!" kata adik iparnya yang tetap menyalahkan Rini.


    "Ya ampun, Dik .... Saya itu pergi ke Jogja kondangan bersama anak-anak. Mas Hamdan saya ajak tidak mau. Dia bersikeras ngotot tetap di rumah. Sudah saya paksa untuk ikut ke Jogja, Dik ..., tapi Mas Hamdan tetap tidak mau .... Apa itu saya salah?!" bantah Rini.


    "Mestinya ..., kalau Mas Hamdan tidak mau pergi, Mbak Rini jangan pergi, dong ...!" bantah adik iparnya.


    "Lhoh ..., kok jadi kamu yang ngatur ...?!" Rini membantah.


    "Saya tidak ngatur, tapi memang harus begitu ...!" tukas adik iparnya.


    "Yang selingkuh itu bukan saya ...! Tapi Mas Hamdan itu yang selingkuh ..., sampai dipecat oleh perusahaan gara-gara selingkuh itu, dan saya sudah marahi dia .... Tapi kalau saya tinggal pergi kondangan, dia malah membawa selingkuhannya ke rumah, apa itu pantas ...?! Adik masih mau nyalahkan saya terus ...?!" bantah Rini yang tentu tambah marah dan emosi.


    Telepon adik iparnya ditutup. Tentu tidak mau mendengar omelan Rini.


    Di kursi sofa ruang keluarga, Rini menangis. Sedihnya ditinggal meninggal suami belum hilang, kini justru ditambah masalah baru. Masalah dengan adik-adik suaminya.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini berbunyi.


    Telepon dari adik ipar yang satunya lagi. Adik laki-laki Hamdan yang bungsu. Rini enggan mengangkat. Tidak ingin mendengar masalah lagi. Paling-paling mau ngajak ribut lagi. Dia membiarkan HP itu, hingga deringnya mati.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini kembali berbunyi.


    Akhirnya, Rini mengangkat telepon itu. Tentu dengan rasa ogah-ogahan.


    "Halo, Dik .... Ada apa?" tanya Rini di telepon.


    "Iya, Mbak Rini .... Ini saudara-saudara Mas Hamdan mau tanya, saya yang disuruh tanya ...." kata si penelepon, adiknya Hamdan.


    "Iya, Dik .... Menanyakan apa ya?" Rini balik bertanya.


    "Itu, Mbak .... Masalah pesangon pensiunan Mas Hamdan ...." kata si bungsu.


    "Ya ampun ..., Dik .... Mas Hamdan itu dipecat, belum saatnya pensiun sudah dipecat oleh perusahaan. Jangan ungkit-ungkit lagi masalah Mas Hamdan, deh .... Kami masih berduka, Dik ...!" jawab Rini yang tentu jengkel dengan adik-adik Hamdan.


    "Masak kerja puluhan tahun tidak dihargai sama sekali ...?!" adik ipar Rini curiga.


    "Ya ampun ..., Dik .... Kok tidak percaya, sih ...?!" kata Rini yang tidak nyaman dicurigai.


    "Bukannya tidak percaya, Mbak .... Hanya tanya .... Ingin tahu saja ...." kata adik iparnya.


    "Terus, kalau sudah tahu mau ngapain ...?! Minta bagian, kan ...?!" kata Rini yang ketus, langsung menyeplos tanpa ditutup-tutupi.


    "Bukan begitu, Mbak .... Eeh ..., siapa tahu Mas Hamdan masih punya simpanan uang." kata adik iparnya lagi.


    "Simpanannya sudah diberikan kepada selingkuhannya. Malah sudah dibangunkan rumah segala. Sana kalau mau diminta, minta saja ke wanita pelakor itu ...!" tegas Rini yang semakin jengkel.

__ADS_1


    "Maaf, Mbak ..., jika kata-kata saya tidak berkenan." kata si adik ipar tersebut.


    "Ya jelas tidak berkenan .... Punya kakak selingkuh masih dibelani .... Saya itu tahu, paling-paling kalian itu mau minta warisan dari Mas Hamdan, kan ...!!" Rini tegas, kata-katanya langsung menusuk perasaan yang diajak bicara.


    Panggilan langsung mati. Pertanda adik iparnya tidak senang mendengar kata-kata Rini. Pastinya, adik bungsu Hamdan sudah disemes dengan tebakan yang paling menusuk.


    "Pasti, nanti akan lapor kakak-kakaknya ...." gumam Rini menebak adik iparnya.


    Ya, Rini sudah menduga, saudara suaminya akan banyak meneror dirinya. Apalagi kalau bukan karena masalah harta peninggalan Hamdan.


    Rini maklum, memang diantara keluarga Hamdan, kakak dan adik-adiknya, hanya Hamdan yang paling berhasil dan paling mampu dalam hidupnya. Sementara kakak dan adik-adiknya, tentu masih jauh penghasilannya. Apalagi adik perempuan Hamdan, suaminya hanya karyawan biasa, gajinya tidak seberapa. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja hanya pas. Lagi-lagi, Hamdan yang selalu menopang kehidupannya. Bahkan rumah saja, waktu mau pisah dengan orang tuanya, Hamdan yang membelikan perumahan. Hamdan tidak ingin adiknya kontrak sana-sini. Demikian juga adik bungsunnya, walau menempati rumah warisan orang tuanya, ia masih saja sering minta uang ke Hamdan, dengan alasan untuk perbaikan, untuk ini, untuk itu, macam-macam. Hanya kakaknya Hamdan, anak yang paling besar itu saja yang tidak pernah merepotkan Hamdan. Dia sudah mapan dan cukup berada.


    Itulah akibatnya ketika Hamdan memanjakan adik-adiknya. Apa-apa minta kakaknya, apa-apa diberi oleh kakaknya. Kini, ketika Hamdan sudah tidak ada, maunya segala harta kekayaan milik Hamdan akan diminta oleh adik-adiknya. Sungguh keterlaluan.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini kembali berbunyi.


    Kali ini yang menelepon adalah istri dari kakaknya Hamdan, Mas Hamzah namanya. Rini biasa memanggil


Pakde Hamzah, untuk mengajari Silvy saat kecil, dan kini kebiasaan itu terus berlanjut.


    Rini sebenarnya malas mengangkat, karena paling-paling juga akan membahas masalah harta suaminya.


Tapi tidak enak juga jika tidak diangkat.Karena mereka lebih tua. Katanya yang muda mesti menghormati yang tua.


    "Iya, Bude ...." jawab Rini saat mengangkat telepon.


    "Halo, Rini .... Ini tadi saya dihubungi adik-adik ..., kaitannya dengan uang pensiunan Hamdan." kata istri kakak iparnya, belum selesai sudah dipotong Rini.


    "Lhoh ..., lhoh ..., lhoh .... Kok begitu ...?" kata Bude Hamzah.


    "Maaf, Bude .... Mas Hamdan baru tujuh hari lewat sehari, kuburan Mas Hamdan masih basah .... Bude, Pakde, Tante dan Om, baru saja pulang dari rumah saya, mengapa sudah menanyakan harta orang ...? Apa itu hak Bude ...? Apa itu hak Tante dan Om-nya Silvy ...? Kok aneh, sih? Kenapa tidak kemarin saja waktu Mas Hamdan belum dikubur itu ditanyakan ...?" kata Rini judes.


    "Lhoh ..., lhoh ..., lhoh .... Jangan marah to, Rini ...." kata Bude Hamzah lagi.


    "Begini saja, Bude .... Kalau di situ ada Pakde Hamzah, tolong berikan teleponnya kepada Pakde Hamzah, atau Pakde suruh telepon ke saya .... Maaf Bude, pekerjaan di rumah masih banyak. Saya harus menata rumah." berkata begitu, Rini langsung mematikan teleponnya.


    Jengkel dan emosi, berpadu jadi satu di rongga dada Rini. Rasanya ingin marah.


    "Hhaaaaahhh ...!!!!" Rini berteriak keras, untuk melepaskan beban emosinya.


    Mendengar teriakan majikannya, Mak Mun kaget. Ia langsung berlari dari dapur menuju ruang keluarga. Asal suara teriakan itu didengar.


    "Ada apa, Ibu ...?" tanya Mak Mun yang tentu sangat khawatir.


    Rini yang sudah duduk menyandar di sofa, menjawab, "Tidak apa-apa, Mak Mun ...."


    "Ibu ..., kalau ada apa-apa jangan dipendam .... Nanti stres, lho .... Hehe ...." kata Mak Mun yang sok tahu.


    "Nanti malam saja, Mak Mun .... Kita bareng-bareng makan malam sambil cerita." kata Rini.


*******

__ADS_1


    Malam hari, setelah anak dan menantunya pulang, Rini mengajak makan malam anak-anaknya dan tidak


ketinggalan, Mak Mun dan Mang Udel. Tentu Rini ingin menyampaikan permasalahan keluarganya, apa yang sudah terjadi saat ini. Seperti yang terjadi saat siang tadi, telepon berkali-kali berbunyi, yang tentu dari saudara-saudaranya Hamdan, yang sudah menyesakkan dada, kini ingin ia sampaikan kepada semua anggota keluarga dalam rumah itu. Tentu maksud Rini ingin memberikan informasi, dan setidaknya meminta masukan dari anak dan pembantunya. Siapa tahu ada jalan keluar yang terbaik.


    "Mang Udel ..., maaf sudah memaksa Mang Udel untuk terlambat pulang. Mudah-mudahan anak dan istri Mang Udel tidak marah." kata Rini pada Mang Udel di sela makan malam. Beruntung Mak Mun sudah masak enak.


    "Tidak apa-apa, Ibu .... Tadi saya sudah pamitan pada istri untuk pulang terlambat." kata Mang Udel.


    "Iya ..., terus terang saya mau minta pertimbangan dan saran dari Mang Udel, Mak Mun, serta anak-anak saya. Begini, lho ..., masalah harta milik Papahnya Silvy ...." Rini langsung menceritakan apa yang terjadi. Tentu terkait dengan telepon-telepon yang tadi siang sudah meneror dirinya.


    "Memang kenapa, Mah?" tanya Silvy yang tentu bingung.


    "Bude, Tante dan Om kamu mau minta bagian harta peninggalan Papah kamu." jelas Rini.


    "Haah ...?!" semua yang ada di ruang makan itu terkejut. Kaget mendengar penuturan Rini.


    "Ya ampun ..., Mah ...." Silvy langsung tepuk jidat.


    "Maksudnya minta bagian harta bagaimana, Mah?" tanya Yayan.


    "Ya, minta bagian warisan, begitu ...." kata Rini menegaskan.


    "Lhoh .... Kok bisa ...?!" Yayan yang mendengar jadi bingung.


    "Makanya, kita sekarang kumpul semua, Mang Udel, Mak Mun sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, saya ingin saran, bagaimana saya harus menjawab ...." kata Rini yang ingin pendapat keluarganya.


    "Ibu Rini ..., kalau boleh saya bicara, jika memang ada permintaan seperti itu, tunggulah sampai empat puluh hari dari meninggalnya Bapak Hamdan. Kasihan arwah Bapak yang masih menengok kemari." kata Mang Udel.


    "Iya, Ibu .... Masak kuburan masih basah mau diributkan warisannya. Dan rumah ini kan milik Ibu sebagai istrinya yang syah. Masak mau diminta saudaranya ...? Ya, jangan boleh to, Bu ...." kata Mak Mun yang tentu tidak rela jika harta benda Hamdan dibuat rebutan saudara-saudaranya, padahal masih ada ahli warisnya.


    "Sebenarnya kalau menurut ranah hukum, warisan Papah ini jatuhnya menjadi milik Mamah dan atau Silvy. Kalau sudah ada yang di atas namakan Mamah atau anaknya, itu menjadi hak yang menerima warisan. Tetapi kalau masih atas nama Papah, maka itu hak istri dan anak. Bukan haknya orang lain." jelas Yayan yang lebih paham secara hukum.


    "Kok aneh sih, keluarga Papah itu ...."  kata Silvy yang jadi emosi juga.


    "Lhah, kalau Ibu Rini kira-kira bagaimana?" tanya Mang Udel.


    "Kalau saya sih, mau diminta seluruhnya juga gak masalah .... Orang mati juga tidak membawa harta benda, kok ...." sahut Rini enteng.


    "Saya juga gak masalah, saya sama Mas Yayan juga sudah punya rumah ...." sahut Silvy.


    "Ibu Rini sama Neng Silvy itu terlalu baik .... Tapi kalau pun akan diberikan kepada saudara-saudara Bapak, mestinya dibagi secara adil di hadapan notaris. Biar besok tidak terjadi gejolak lagi." usul Mang Udel.


    "Betul yang dikatakan Mang Udel .... Besok kalau memang hal ini benar terjadi, kita harus bawa mereka ke notaris. Biar ada hitam di atas putih. Biar syah." kata Yayan.


    "Mamah sudah telepon Pakde Hamzah?" tanya Silvy.


    "Mamah tidak akan telepon. Biar mereka yang punya niat seperti itu, yang ngomong langsung ke Mamah. Berani apa tidak. Kalau Pakde punya pemikiran yang sama seperti adik-adiknya, setidaknya nanti Mamah bisa nasehati Pakde." jawab Rini yang pasrah tapi tegas.


    "Ya ..., itulah yang namanya saudara, Ibu Rini .... Kadang saat baik, baiknya melebihi malaikat. Tetapi saat kurang baik, wataknya malah melebihi setan ...." kata Mang Udel memberi perumpamaan.


    "Saudara apaan yang sukanya meminta dan merebut harta saudaranya. Kalau saya lebih baik tidak punya saudara, jika ada keluarga saya, darah daging saya yang seperti itu." Kata Rini yang emosi.

__ADS_1


__ADS_2