KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 41: TELEPON RAHASIA


__ADS_3

    Setelah Suaminya berangkat kerja, setelah Silvy sudah dijemput untuk berangkat kerja bersama suaminya, setelah Mak Mun selesai memberesi ruang makan dan bersih-bersih, rumah besar itu kembali menjadi sepi. Tinggal Mak Mun yang ada di dapur, dan Rini sendirian yang duduk di ruang keluarga menyaksikan siaran televisi.


    "Tuliliiing tuloliliiiing .... Tuliliiing tuloliliiiing ...." Telepon Rini berbunyi. Anik, teman SMA-nya yang menghubungi.


    "Halo, Anik? Ada apa, ya?" kata Rini saat mengangkat telepon.


    "Hai, Rini .... Bagaimana kabarnya? Sudah sehat, kan?" tanya Anik.


    "Alhamdulillah, sehat Nik. Sudah lumayan." jawab Rini.


    "Eh, Rin ..., ini aku mau tanya, nomor HP Yudi kok tidak bisa dihubungi, ya? Setiap kali ditelepon bisa masuk, tapi gak pernah diangkat." kata Anik.


    "Maaf, Nik ..., iya kata anak saya, HP Yudi itu hilang. Kemarin anakku piknik ke Jogja, termasuk ke kampung wisatanya Yudi. Para sopir wisata yang ada di kampung itu bilang, HP Mas Yudi tidak bisa dihubungi, hilang saat luar kota. Makanya tidak bisa dihubungi." jawab Rini sedikit berbohong.


    "Oo .... Makanya gak pernah diangkat. Ya udah, Rin .... Makasih, ya." kata Anik yang mengakhiri teleponnya.


    Rini lega dari rasa bersalahnya saat memberikan nomor HP Yudi kepada temannya. Ia pun khawatir kalau Yudi marah yang kena sasaran pasti dirinya. Karena hanya dirinya saja yang tahu nomor itu.


    Seperti diingatkan tentang Yudi, tiba-tiba Rini ingin menghubungi orang yang didambakan itu. Tetapi perasaannya takut untuk menghubungi. Ada gemuruh rindu yang ingin diungkapkan, namun dinding malu juga membendung menghalangi luapan rasa kangen. Kuat mana antara rindu dan malu?


    Ternyata kerinduan Rini sudah tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya, jemari lembut itu menyeret layar HP, memanggil nomor orang yang dirindukan. Yudi.


    "Selamat pagi, Rini .... Bagaimana kabarmu, sehat kan?" suara yang sudah lekat di hati itu terdengar di HP yang menempel di telinganya. Teduh rasanya mendengar sapaan itu.


    "Pagi, Yudi .... Syukur atas doa Yudi, saya sudah sehat. Yudi baik-baik saja, kan?" kata Rini menjawab.


    "Syukurlah .... Bagaimana keadaan Silvy?" tanya Yudi.


    "Iih, yang ditanya langsung Silvy. Kangen sama anaknya?" sahut Rini.


    "Ya iya lah .... Cemburu ya?" goda Yudi.


    "Iih ..., ngapain cemburu sama anaknya sendiri." bantah Rini.


    "Ya ..., siapa tahu .... hehe ...." sahut Yudi yang menggoda.

__ADS_1


    "Eh, Yud ..., Rini mau minta maaf, kemarin itu saya keceplosan ngasih nomor Yudi ke Anik. Tapi sudah aku bilang HP Yudi hilang. Semoga gak menghubungi Yudi lagi, ya." jelas Rini.


    "Iya, Rin. Tidak usah dipikirin .... Nanti malah jadi beban pikiran Rini. Aku bisa pilah panggilan, kok." jawab Yudi yang kalem. Sifat seperti inilah yang disenangi Rini.


    "Terima kasih, Yudi .... Kamu selalu penuh pengertian, itu yang membuat hatiku tak berdaya di hadapanmu." kata Rini.


    "Jangan terlalu memuji, Rin ..., nanti aku jadi besar kepala." sahut Yudi.


    "Yudi, boleh aku tanya?" kata Rini.


    "Tentang apa?" tanya Yudi.


    "Benar Yudi menganggap Silvy sebagai anak sendiri?" tanya Rini.


    "Yah ..., kalau itu diijinkan oleh mamahnya. Lhah, sekarang saya yang tanya, mamahnya kira-kira boleh, nggak?" sahut Yudi.


    "Ih, kamu itu memang terlalu baik kok, Yud. Terus kalau sudah dibolehkan jadi anaknya, Yudi dapat mamahnya, gitu?" tanya Rini menggoda.


    "Setidaknya saya bisa dekat dengan anaknya. Yah, untuk ikatan batin, seperti itu kira-kira." jelas Yudi.


    "Semoga saja begitu. Hehe ...." jawab Yudi lebih menggoda.


    "Ih, enaknya ...." sahut Rini.


    "Lha Rini mau nggak?" tanya Yudi menjebak.


    "Ya mau, lah .... Hehe ...." sahut Rini yang gembira.


    "Ternyata ...." goda Yudi.


    "Eh, Yud ..., kemarin Silvy cerita, katanya Yudi bikin lukisan tentang kita berdua, apa benar?" tanya Rini.


    "Maaf, Rin ..., aku terlalu merindukanmu. Lukisan itu adalah pelampiasan isi hatiku. Ekspresi jiwaku. Aku tidak mengira jika ada tamu yang datang ke rumahku, ternyata tamu itu adalah Silvy anakmu. Dan maaf pula ketika aku harus berbohong ketika mengatakan pada Silvy jika lukisan itu adalah pesanan Rini." tutur Yudi.


    "Terus lukisan itu tidak diberikan kepada pemesannya, tetapi untuk dipamerkan dulu?" sergah Rini.

__ADS_1


    "Sekali lagi aku minta maaf, Rini .... Itu hanya alasanku untuk menyembunyikan lukisan itu. Lukisan itu aku simpan. Aku khawatir jika lukisan itu diminta Silvy untuk dibawa pulang, terus jika Mas Hamdan sampai tahu, bagaimana marahnya dia? Aku takut merusak perasaan Mas Hamdan, Rin. Aku tidak mau menghancurkan keluargamu, Rin ..... Jadi terus terang aku tidak mengijinkan kalau lukisan itu dibawa ke Jakarta." jelas Yudi.


    "Iya, Yud. Aku paham maksudmu. Tapi tolong simpan baik-baik lukisan itu ya. Jangan sampai ada orang tahu. Aku tidak ingin ada orang tahu hubungan kita." kata Rini.


    "Hooh, Rini. Oleh sebab itulah saya mohon ijin, biarlah Silvy menganggap aku sebagai papahnya, untuk mempererat rasa kekeluargaan, agar diriku tidak semata-mata dekat denganmu saja. Demikian juga dengan Mas Hamdan, aku akan menjaga hubungan baik dengan beliau. Aku tidak mau rahasia diriku terbongkar oleh siapa saja." kata Yudi selanjutnya.


    "Yudi, besok suatu saat jika ngobrol dengan Silvy lagi, aku mohon Yudi berhati-hati dalam bicara. Anak itu cerdas, Yud. Aku takut dia akan menyelidiki hubungan kita. Kemarin sepulang dari Jogja, dia sudah mencecar saya mengenai hubungan kita. Bahkan ia juga menanyakan apakah kita pernah pacaran. Aku takut, Yud. Jika anak itu tahu pasti akan membenci mamahnya dan papahnya yang baru. Membenci kamu, Yud." pesan Rini pada Yudi.


    "Sama, Rin .... Kemarin Silvy juga menanyakan itu ke saya. Saya hanya menjawab, kami berteman sangat akrab. Semoga Silvy bisa memaklumi." sahut Yudi.


    "Yudi, terus terang aku tidak ingin menyakiti perasaanmu lagi, aku tidak ingin menambah luka di hatimu lagi. Aku tahu betapa besar cintamu padaku. Aku tahu sebegitu banyak pengorbananmu untukku. Aku tahu kegigihan hatimu untuk mempertahankan cinta itu. Aku juga sama sepertimu, Yudi. Tapi ini semua sudah terlanjur. Ibarat kata, nasi sudah menjadi bubur, janganlah kita tambahi permasalahan lagi. Jangan sampai keluargaku tahu hubungan kita. Yudi, aku mohon masalah ini kita rahasiakan bersama. Ini adalah rahasia kita. Aku takut, Yudi .... Takut Mas Hamdan tahu, takut Silvy tahu .... Mereka pasti akan marah pada kita. Tolong Yudi paham keadaanku. Yudi harus tahu posisiku sebagai istri dari suamiku, sebagai ibu dari anakku. Jangan sampai mereka membenci kita, Yud .... Sekali lagi aku memohon padamu, Yud ..., tolong semua ini kita rahasiakan." kata Rini yang kemudian meneteskan air mata.


    Yudi diam tidak menjawab. Bingung mau berkata apa. Lama, lama sekali. Pikirannya sudah tidak sanggup merespon kata-kata Rini. Yudi merasa, kata-kata disengaja agar dirinya mulai menjauh, agar rahasianya tidak terbongkar. Yudi syok.


    Rini juga terdiam. Kata-katanya sudah habis tercurah. Tidak ada lagi yang sanggup diucapkan.


    Dua orang yang berbeda tempat itu, memegang HP masing-masing, menempel di telinga masing-masing, dekat dengan mulut masing-masing. Tetapi pikiran dua orang itu, jauh berada dari tempat duduknya. Jauh dari lokasi mereka masing-masing. Mengembara di awang-awang, tanpa kejelasan apa yang dipikirkan. Kedua orang itu, laki-laki dan wanita setengah abad, sedang merenungi nasibnya, tentang tumbuhnya cinta tanpa asmara yang terbelenggu oleh keadaan.


    "Ibuk .... Ibu Rini ...?! Ibu .... Ibu Rini?!" Mak Mun memanggil-manggil majikannya.


    "Eh, Mak Mun ...?!" Rini terkaget oleh kemunculan Mak Mun di depannya.


    "Ibu tidak apa-apa? Ibu sehat? Apa ada yang sakit lagi? Ada apa Ibu, kok menangis?" tanya Mak Mun yang melihat majikannya sedih meneteskan air mata di sofa ruang keluarga.


    "Tidak apa-apa, Mak Mun .... Hanya agak lemas." jawab Rini.


    "O, ya sudah kalau tidak apa-apa. Sebaiknya Ibu Rini istirahat saja di kamar. Nanti saya buatkan lemon tea hangat, biar segar lagi." kata Mak Mun menganjurkan majikannya.


    "Iya, Mak Mun. Terima kasih, ya." sahut Rini yang langsung berdiri, melangkah menuju kamar.


    Sementara itu, di Jogja, Yudi yang duduk terdiam tidak menjawab teleponnya, tiba-tiba dikejutkan oleh temannya yang duduk di sampingnya jatuh dari kursi tempat duduknya. Teman yang tersungkur itu langsung menubruk kursi yang diduduki Yudi. Akhirnya, Yudi ikut terjengkang dari kursinya. Dua orang yang terjatuh dari kursi itu bergulingan di lantai.


    "Hahaha ...." teman-temannya tidak pada menolong, tetapi malah menertawakan.


    "Apes ..., apes ...." begitu kata Yudi menghadapi kesialannya.

__ADS_1


__ADS_2