KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 77: JEALOUS


__ADS_3

    Yuna sudah semakin dekat dengan Yudi. Tentu keakraban dua orang ini juga semakin kelihatan. Setidaknya, tingkah laku dan gerak-gerik antara Yudi dan Yuna sudah menunjukkan adanya rasa senang, adanya rasa suka, serta timbulnya kasih sayang. Sudah tidak ada yang canggung lagi diantara keduanya. Istilahnya anak muda, mereka sudah berpacaran. Tentu dengan niat untuk membangun keluarga melalui pernikahan.


    Yuna sudah biasa memanggil Yudi dengan sebutan "my darling". Demikian juga Yudi, sudah tidak ragu lagi memanggil Yuna dengan sebutan "yayang". Yah, keakraban mereka sudah disaksikan oleh para pekerja. Demikian juga orang tua Yudi, maupun Bagas yang sering ke rumah Yudi. Tidak kalah dengan para pekerja, Pak Lurah juga sudah mengetahui gelagat baik dari mereka berdua, yaitu Yudi dan Yuna. Bahkan Pak Lurah juga sudah pernah memanggil dan menanyai Yudi tentang hubungannya dengan Yuna. Dan tentu, Pak Lurah sudah berniat meminta Yudi untuk segera menikah. Tetapi Yudi selalu mengatakan bahwa Yuna belum akan mau menikah, jika proyeknya Taman Awang-awang itu selesai. Pak Lurah memaklumi itu. Tentu itu juga membuat bangga bagi Pak Lurah, karena memang proyek itu yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kampung Nirwana. Setidaknya, semangat kerja Yudi dan Yuna, sudah memberi contoh bagi para pekerja yang lain. Dan Pak Lurah, selalu mengatakan, jika obyek wisata Taman Awang-awang ini selesai, ia akan menanggap wayang untuk peresmiannya. Masyarakat Kampung Nirwana pun sudah tidak sabar untuk menyaksikan ramainya peresmian taman wisata tersebut.


    Akrabnya Yuna pada Yudi yang sudah sangat dekat itu, seakan memberi kewajiban Yuna untuk ikut membersihkan, menata, dan mengatur rumah yang sudah berbulan-bulan ia tempati itu. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Yuna selalu menyempatkan diri untuk menyapu dan membersihkan rumah. Bahkan sudah bisa memasak ala Simbok. Setiap pagi, Yuna ikut-ikutan sibuk di dapur membantu Simbok menyiapkan sarapan pagi. Hari Minggu pun, pagi-pagi sebelum mandi, Yuna sudah asyik merawat tanaman hias yang ada di taman bersama Yudi. Dua orang yang sama-sama rajin dan suka keindahan. Benar-banar seperti sudah menjadi suami istri yang suka menata dan mengurus rumah.


    Hingga suatu pagi, sesaat setelah Yudi berangkat ke kantor kerjanya, Yuna masuk ke kamar Yudi. Meski sudah berbulan-bulan Yuna tinggal di rumah itu, baru pertama kali ini ia masuk ke kamar Yudi. Tentu tujuannya adalah ingin membersihkan kamar Yudi. Namun saat masuk ke kamar tersebut, sesaat Yuna mengamati ruangan milik laki-laki yang sudah menjadi tempat curahan hati, ia dikecewakan oleh lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Yuna mengamati secara seksama. Walau lukisan itu sudah kuno, walau lukisan itu menggambarkan wajah wanita yang masih sangat muda, namun orang yang terpampang dalam lukisan itu, Yuna tahu persis wajah wanita itu.


    "Yah, ini lukisan Rini." batin Yuna.


    Ada dua lukisan naturalis. Semuanya tentang Rini saat masih muda. Yuna yang memiliki jiwa seni cukup tinggi, pasti ia bisa memahami perasaan orang yang menggoreskan cat pada lukisan itu. Yah, ada perasaan cinta saat membuat lukisan ini.


    "Pasti ..., Yudi sangat mencintai Rini saat mereka masih muda." kembali batin Yuna bergumam.


    Yuna mulai berfikir tentang masa lalu Yudi dan Rini. Lantas mengaitkan sikap kedua orang itu di saat akhir-akhir ini, yang sering disaksikan oleh Yuna. Termasuk saat pertemuan pertama Yuna dengan Rini. Yuna ingat betul, saat itu Rini marah kepada Yudi. Pasti Rini cemburu, karena saat itu Yuna mendekati Yudi. Yah, Pasti saat itu Rini takut jika Yudi akan selalu berdekatan dengan Yuna, lantas Yudi tertarik dan jatuh cinta kepada Yuna. Itu berbagai kecamuk dalam pikiran Yuna.


    Meski hati Yuna sudah mulai berdebar, meski pikiran Yuna mulai tidak karuan, namun Yuna tetap mengamati lukisan ke tiga yang tergantung di dinding. Sebuah lukisan abstrak. Orang awam tentu kesulitan menerjemahkan lukisan itu. Namun Yuna, sekejap melihat saja, ia sudah bisa memahami makna yang terkandung dalam lukisan itu. Tentu Yuna akan menerjemahkan jika sang pelukis, yaitu Yudi, sedang frustrasi karena kekasihnya duduk bersanding di pelaminan bersama laki-laki lain.


    "Benarkah ini lukisan tentang Rini yang sedang menikah? Dasar, Yudi laki-laki cengeng .... Masak gadisnya dinikahi laki-laki lain kok frustrasi." begitu gumam Yuna.


    Dari tiga lukisan yang terpampang di dinding itu, Yuna sudah bisa menyimpulkan bahwa Yudi dulu pernah jatuh cinta kepada Rini. Lantas Yudi frustrasi karena Rini menikah dengan orang lain. Tetapi mengapa Rini masih selalu datang kemari, dan masih selalu berdekatan dengan Yudi? Apakah ada janji-janji yang terucap dari dua sejoli ini?


    Yuna semakin penasaran. Tentu hatinya menjadi gusar. Detak jantungnya memompakan darah lebih cepat. Tensinya jadi meningkat, emosinya pun mulai memuncak. Terlebih saat Yuna menuju meja kerja Yudi. Ia melihat ada foto yang berdiri di meja. Yah, foto Yudi dan Rini yang sedang duduk berduaan di tepi pantai.


    Yuna tidak sanggup mengendalikan dirinya. Yuna tidak sanggup lagi menguasai perasaan hatinya yang tidak karuan. Yuna tidak bisa menahan emosinya .... Air mata pun menetes membasahi pipi cantik yang memerah itu. Yuna berlari meninggalkan ruangan Yudi, langsung menuju kamarnya, menutup pintu dan menguncinya. Lantas menjatuhkan diri di kasur. Yuna tengkurap memeluk guling, sesenggukan menangis. Menangisi nasib dirinya yang merasa sudah diperdaya oleh Yudi. Yuna kecewa dengan perlakuan Yudi pada dirinya. Yuna kecewa dengan kata-kata Yudi yang katanya akan menaruh cinta Yuna di relung hati Yudi, tapi pada kenyataannya, semua lukisan yang terpajang di kamar Yudi adalah Rini. Apa artinya cinta jika harus diduakan.


    Kini Yuna hanya bisa menangis. Menangisi nasibnya yang sudah terlanjur percaya kepada laki-laki yang dianggap sangat baik. Terlanjur menanamkan benih cinta di ladang hati Yudi yang ternyata berbatu cadas. Terlanjur memberikan kemesraan yang selama ini belum pernah ia rasakan di negeri sakura. Dan tentu, masih banyak kekecewaan-kekecewaan yang ada di hati Yuna. Hati Yuna benar-benar terluka. Benar-benar sakit.


    "Non .... Non Yuna .... Non .... Non Yuna ...?!" Simbok memanggil-panggil Yuna.


    Tidak terdengar suara dari dalam kamar Yuna. Gadis itu diam tidak menjawab.


    Tentu Simbok menjadi bingung. Ada apa dengan Yuna. Kok diam saja saat dipanggil?


    "Non .... Non Yuna ...?! Non Yuna ada apa? Apa sakit?" tanya Simbok ingin tahu kondisi calon menantunya itu.


    "Eehm .... Maaf, Simbok ..., saya kurang enak badan. Mau tiduran dulu." jawab Yuna dari dalam kamarnya.


    "Oalah .... Sakit, to .... Simbok buatkan wedang jahe, ya .... Biar cepat sembuh." kata Simbok.


    Lantas Simbok menuju dapur, mencari jahe untuk dibuat minuman. Sebentar saja minuman jahe hangat sudah siap. Simbok kembali menuju ruangan Yuna.


    "Non Yuna .... Tolong buka pintunya, ini Simbok sudah buatkan wedang jahe." kata Simbok di depan pintu ruang Yuna.


    "Iya, Simbok." sahut Yuna, yang kemudian membuka pintu untuk Simbok.


    Yuna langsung kembali tengkurap di kasurnya.


    Simbok masuk ke ruang Yuna. Menaruh gelas berisi wedang jahe yang masih hangat di meja Yuna. Lantas Simbok mendekati tubuh cantik itu. Duduk di kasur Yuna, tangannya sudah menyentuh bagian pundak Yuna, Simbok memijit-mijit tubuh langsing itu.

__ADS_1


    "Hwoweek .... Hwoweek .... Hwoweek ...!" Yuna berkali-kali mengeluarkan sendawa. Rasanya Yuna ingin muntah.


    "Wee lha ..., masuk angin ini ...." kata Simbok yang masih memijit bagian tengkuk Yuna.


    "Sebentar, Simbok .... Perut Yuna mual, pengin muntah ...." Yuna bangun dan berlari ke kamar mandi.


    Setelah selesai mencoba memuntahkan, tetapi tidak mau keluar. Selanjutnya kembali ke kasur.


    "Eh, diminumi wedang jahe hangat dulu .... Biar anginnya bisa keluar." kata Simbok yang langsung mengambil gelas dan meminumkan ke gadis yang digadang-gadang menjadi calon anak menantu itu.


    "Iya, Simbok .... Terima kasih." kata Yuna yang sudah menyeruput minumannya.


    "Jangan-jangan lekasan .... Hehe ...." kata Simbok tersenyum lebar.


    "Lekasan?! Apa itu Simbok?" tanya Yuna.


    "Hehe .... Lekasan itu ..., hamil muda, Non ...." sahut Simbok sambil meringis.


    "Ih, Simbok itu ada-ada saja .... Belum menikah kok sudah hamil. Hamil sama siapa?" tukas Yuna.


    "Siapa tahu, Non .... Anak-anak kampung itu, masih kecil-kecil juga banyak yang hamil lho, Non ...." sahut Simbok.


    "Itu namanya kelewatan, Simbok." sahut Yuna.


    "Iya ya, Non ...." jawab Simbok.


    "Mbak Yuna ...!" teriak Bagas.


    "Ee .... Kamu to, Gas .... Mbak Yuna nya sedang sakit. Tidak usah diajak ke puncak bukit, biar istirahat dahulu." kata Simbok.


    "Ooo .... Orang Jepang itu juga bisa sakit to, Mbok?" tanya Bagas.


    "Wee lha ..., dasar bocah kurang ajar .... Yang namanya sakit itu ya bisa menyerang siapa saja to, Gas! Wis kono, mangkat sendiri!" bentak Simbok.


    "Ya, Mbok .... Nanti saya tak telepon Mas Yudi, biar diperiksakan ke dokter. Siapa tahu lekasan." sahut Bagas.


    "Huss! Jangan ngawur kamu, Gas!" bentak Simbok.


    Bagas yang dibentak sudah nggeber motornya, lantas melaju kencang menuju puncak bukit.


    Sesampai di puncak bukit, setelah memarkirkan motornya, yang dilakukan pertama kali oleh Bagas adalah menelepon Yudi. Ya, memberi kabar kepada Yudi kalau Mbak Yuna saat ini sedang sakit.


    Yudi yang dikabari keadaan Yuna yang sakit, tanpa pikir panjang, langsung keluar melajukan mobilnya pulang menuju rumah. Tentu ingin segera mengetahui kondisi gadis yang ia cintai.


    Sesampai di rumah, Yudi langsung mencoba membuka pintu ruang Yuna. Tetapi pintu itu dikunci dari dalam.


    "Yuna ...! Yuna ...! Tolong buka pintunya. Ini aku Yuna ...." kata Yudi di depan pintu ruang Yuna.


    Tetapi yang dipanggil diam saja. Tidak mau menjawab maupun datang membuka pintu. Tidak ada suara sama sekali.

__ADS_1


    "Simbok ..., Yuna kenapa?!" tanya Yudi pada ibunya.


    "Mungkin masuk angin .... Tadi sudah Simbok pijiti." jawab ibunya.


    "Yuna ...! Yuna ...! Tolong buka pintunya. Ini aku Yuna .... Kalau sakit ayo saya antar periksa ke dokter." kata Yudi lagi sambil menempelkan mulutnya di depan pintu ruangan Yuna.


    Yuna yang di dalam kamar, tidak mau beranjak membuka pintu, tetapi justru menutup telinganya dengan bantal agar tidak mendengar suara Yudi.


    Berkali-kali Yudi memanggil, tetapi sama sekali tidak direspon oleh Yuna. Tentu Yudi menjadi kesal.


    Yudi bermaksud mau cuci muka. Namun saat membuka pintu, mau masuk ke ruangnya, kakinya tersandung sapu lantai. Yudi kaget.


    "Kok ada sapu tergeletak di sini?" gumam Yudi sambil memungut sapu yang telah mengenai kakinya.


    Setelah itu, Yudi mengamati ruangannya lagi. Ada sulak pembersih tergeletak di meja kerjanya. Berarti tadi ada yang mau membersihkan kamarnya.


    "Siapa yang menyapu dan membersihkan ruanganku? Apakah Yuna yang masuk kamarku?" Yudi mulai tanda tanya.


    "Simbok ...! Tadi Simbok masuk kamar Yudi?" tanya Yudi pada ibunya.


    "Tidak, Le .... Ada apa?" sahut ibunya.


    "O ya sudah .... Tidak apa-apa, Mbok ...." jawab Yudi.


    Yudi sadar dan yakin. Berarti yang masuk ke ruangnya adalah Yuna.


    "Yuna ...?! Waduh, berarti Yuna sudah melihat semua ini. Mati aku ...!" gumam Yudi pada dirinya sendiri.


    Tentu, Yudi menjadi khawatir, tahu penyebab kenapa Yuna mengunci pintu. Pasti Yuna marah. Pasti gara-gara Yuna sudah melihat lukisan maupun foto-foto di ruang Yudi .... Semua tentang Rini.


      "Yuna ...! Yuna ...! Tolong buka pintunya. Yuna ..., saya minta maaf, saya mau jelaskan semuanya. Tolong buka pintunya, Yuna ...." kata Yudi di depan pintu ruang Yuna, ingin masuk menemuinya.


    Yuna tetap diam. Tidak mau membuka pintu ruangnya.


    "Yuna ...! Aku tahu kamu marah sama saya, tapi Yuna ..., tolong beri kesempatan aku untuk menjelaskan semuanya." Yudi masih merajuk pada Yuna.


    Tetapi lagi-lagi, Yuna tetap tidak mau membuka pintunya.


    "Yuna ..., open the door, please .... I'm sorry, Yuna .... I love you more than I can say. Trust me, Yuna ...." kata Yudi yang sekarang sudah bersila di depan pintu ruangan Yuna, menunggu belas kasihan Yuna.


    "Ono opo to, Le ...?" tanya Simbok pada Yudi.


    "Yuna cemburu, Mbok ...." kata Yudi yang suaranya sengaja ditempelkan di daun pintu agar didengar oleh Yuna.


    "Tidak ...! Saya tidak cemburu, tapi saya marah sama Yudi!" sahut Yuna dari dalam kamar.


    Ya .... Pagi itu Yuna memang sedang cemburu. Cemburu yang teramat sangat. Hingga memunculkan kemarahan. Entah apa yang akan dilakukan oleh Yuna terhadap Yudi.


    Kini, Yudi hanya bisa pasrah. Bukti semua memang nyata. Siapapun pasti akan cemburu dan marah, jika cintanya diduakan untuk orang lain. Yudi memang keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2