KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 179: TAKUT


__ADS_3

    Acara pengiriman doa untuk almarhum Hamdan sudah sampai malam ke tujuh. Hari terakhir doa bersama di rumah Rini. Para tetangga dan sanak saudara, semua ikut doa bersama. Rumah Rini yang besar cukup sesak. Mulai dari ruang keluarga yang dipenuhi saudara-saudara dari keluarga Rini dan Hamdan, sudah penuh. Ruang tamu juga penuh. Di teras juga penuh sesak. Bahkan di tenda yang dipasang di halaman juga penuh oleh para tamu yang ikut berdoa bersama. Malam ke tujuh, biasanya memang semua berdatangan ikut kirim doa.


    Mak Mun di dapur dibantu oleh para saudara Rini, menyiapkan masakan. Sudah memasak berbagai jenis jajanan sejak siang tadi. Tentu untuk menjamu dan sebagai suguhan bagi para tamu. Sedangkan di dalam garasi hingga teras samping dapur, sudah ada orang-orang catering yang mempersiapkan makan besar untuk para tamu. Ya, Rini memesan sate dan gulai kambing, kepada tukang catering. Dua ekor kambing jantan. Tujuannya yang pertama adalah untuk kekah suaminya, sedangkan tujuan yang lain, untuk syukuran selamatan tujuh hari kematian Hamdan, agar dengan selamatan ini dosa-dosa Hamdan diampuni oleh Allah. Dalam adat keluarga Rini dan Hamdan, salah satu bentuk permohonan pengampunan dari segala dosa dan kesalahan, maka selain memanjatkan doa juga harus mempersembahkan korban. Seperti saat peringatan tujuh hari meninggalnya Hamdan, selain pemanjatan doa-doa, keluarga Rini juga memotong kambing. Setidaknya, itulah ucapan syukur dan permohonan doa untuk pengampunan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh suaminya. Setelah pemanjatan doa-doa selesai, para tamu makan bersama menu yang sudah disediakan oleh keluarga Rini.


    Rini duduk di ruang keluarga bersama saudara-saudaranya. Silvy ada di situ. Rini mengenakan gamis warna putih serta berkerudung putih. Dengan pakaian putih itu, Rini terlihat lebih anggun, lebih cantik dan lebih muda. Ada aura yang lebih cerah dari sebelumnya. Demikian juga Silvy, yang juga mengenakan gamis waran putih serta kain kerudung semacam pasmina panjang, yang ditutupkan rambut, lantas sisanya dilingkarkan ke leher. Silvy juga terlihat cantik. Anak dan ibu yang duduk berdampingan, terlihat sama-sama cantik.


    Beberapa kali Yayan, suami Silvy, mengambil foto acara kirim doa itu dengan menggunakan HP-nya. Tidak luput dari jepretan Yayan, tentu ibu mertua dan istrinya. Yayan sendiri mengenakan baju koko warna putih dan peci juga warna putih. Kemudian Yayan ikut duduk bersama dengan kelompok orang laki-laki yang ada di bagian depan. Mulai dari ruang tamu hingga teras dan halaman rumah.


    Bacaan kitab suci mengalun bagai irama syair yang menusuk kalbu. Setiap orang yang hadir di rumah Rini, memanjatkan mantera ayat-ayat suci, yang diyakini akan didengar Sang Maha Penyayang, untuk memberikan pengampunan kepada orang yang didoakan. Gema lafat hafalan doa terus berkumandang, menggetarkan dinding rumah, yang seakan mengatakan bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak sanggup apa-apa, dan hanya kepada-Nya saja manusia meminta pertolongan dan pengampunan.


    Hingga malam, lantunan doa-doa itu dipanjatkan. Dan akhirnya, selesai juga orang-orang membaca ayat-ayat kitab suci, kitab dari segala kitab. Dan selanjutnya, sebagai obat capai, mereka menikmati hidangan dan makan bersama sambil bercengkerama.


*******


    Rini sudah bisa menerima kenyataan takdir yang harus dialami. Yaitu kehilangan suami, yang selama ini menjadi tulang punggung segala kebutuhan dan pemenuhan hidup rumah tangganya. Itulah hidup yang harus dilakoni. Tentu ia mulai berfikir bagaimana nanti untuk mengurus rumah tangganya.


    Setelah saudara dari Hamdan maupun kerabat Rini pada pulang, rumah Rini menjadi sepi. Apalagi Silvy dan Yayan juga berangkat kerja. Rumah itu benar-benar sepi. Tidak seperti dahulu, saat suaminya masih ada. Meski suaminya pergi bekerja, Rini juga hanya bersama Mak Mun yang sibuk di dapur, serta Mang Udel yang sibuk di kebun, tetapi suasana rumahnya masih ada keramaian. Namun, seminggu seminggu setelah kematian suaminya, setelah saudaranya pulang ke rumah masing-masing, setelah di rumahnya sudah tidak ada orang lain, rumah Rini benar-benar sepi. Tidak ada canda, tidak ada tawa. Rumah Rini benar-benar sunyi.


    Ada rasa lain dalam hati Rini. Terutama saat setiap kali masuk ke kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu peristiwa yang menghancurkan keluarganya. Peristiwa yang hingga menewaskan suaminya. Enggan rasanya Rini untuk masuk ke kamarnya sendiri. Ada rasa sesak dalam dada, setiap kali melihat kasur tempat tidurnya. Yach .... Tempat tidur itu sudah bukan miliknya lagi. Tempat tidur itu sudah ternodai oleh pelakor jahanam. Dan akhirnya, Rini tidak mau tidur di kamarnya sendiri. Ia memilih pindah untuk tidur di kamar depan, yang biasa dipakai jika ada tamu.


    "Mak Mun ...!" Rini memanggil pembantunya, yang sekarang dianggap sebagai teman di rumahnya.


    "Iya, Ibu .... Ada apa, Ibu?" tanya Mak Mun yang tergopoh menemui majikannya di ruang keluarga.


    "Mak Mun jangan jauh-jauh dari saya, ya .... Saya takut, Mak Mun ...." kata Rini pada Mak Mun.


    "Halah ..., tidak apa-apa, Ibu .... Tidak usah takut. Nanti kalau perempuan pelakor itu datang kemari lagi, akan saya usir." kata Mak Mun yang sok pemberani.


    "Bukan itu, Mak Mun .... Saya hanya merasa tidak nyaman setiap kali masuk kamar." kata Rini menjelaskan.


    "Ah, Ibu .... Tidak ada apa-apa, Ibu .... Itu hanya halusinasi .... Hehe ...." kata Mak Mun yang sok tahu.


    "Bukan itu, Mak Mun .... Bukan hantu atau memedi .... Tapi perasaan saya setiap kali masuk kamar itu, seakan saya menyaksikan peristiwa pertengkaran Bapak dengan wanita itu, Mak Mun .... Saya jadi jengkel, jadi emosi, ingin marah .... Begitu, Mak Mun ...." jelas Rini pada pembantunya.

__ADS_1


    "Ooo .... Saya kira .... Ya sudah, Ibu tidur di kamar depan saja. Biar tidak emosi .... Hehe ...." sahut Mak Mun.


    "Iya, Mak Mun .... Saya mau tidur di kamar luar saja. Lebih dekat dengan ruang tamu dan ruang keluarga. Biar tidak kesepian, Mak Mun ...." kata Rini.


    "Walah, Ibu .... Biar tidak kesepian nyetel TV saja .... Atau karaokean .... Hehe ...." usul Mak Mun yang senang kalau disuruh nyanyi dangdut.


    "Jangan karaokean dahulu .... Kita masih berkabung, Mak Mun ..., tidak baik didengar tetangga." Rini mengingatkan pembantunya.


    "Lhah, kalau begitu WA-nan saja .... Kan teman Ibu Rini banyak ..., diajak WA-nan, pasti Ibu Rini tidak kesepian." usul Mak Mun yang memang umum sekarang ini. Untuk menghilangkan sepi biasanya ibu-ibu suka WA-nan.


    "Iya, ya .... Betul juga usul Mak Mun." sahut Rini.


*******


    Sore itu, Silvy masih pulang ke rumah ibunya. Meski sudah seminggu, sejak kematian ayahnya, Silvy tidur di rumah ibunya, tetapi ia masih ingin menemani ibunya yang sendirian. Kasihan jika ibunya kesepian. Demikian juga Yayan, suami Silvy yang cukup sosialis ini, tentu juga merasa kasihan jika ibunya di rumah besar sendirian. Ia pun sama dengan pemikiran istrinya, setidaknya lebih sering menemani ibu mertuanya.


    Tentu Rini senang ditemani anak dan menantunya. Setidaknya ada yang diajak bicara, ngobrol-ngobrol sambil cerita macam-macam. Entah itu keadaan di kantor anaknya, maupun berita-berita yang dilihat di televisi. Paling tidak, saat makan malam, Rini ada yang menemani. Tidak hanya makan sendirian terus.


    "Mah ..., sudah ada kabar tentang Mis Yuna apa belum?" tiba-tiba Silvy menanyakan berita tentang Yuna.


    "Kok belum tanya ...?! Kasihan Papah Yudi, Mah ...." sahut Silvy.


    "Tidak enak, Sayang .... Kan kita masih suasana duka." jawab Rini.


    "Kita jangan terburu nafsu, tidak baik dirasa orang." timpal suaminya.


    "Kalau misalnya Mas Bagas yang ngabari, kita tidak masalah .... Boleh-boleh saja membalas atau bahkan menambah cerita maupun tanya. Tapi kalau belum ada berita dari Mas Bagas, jangan tergesa untuk tanya. Toh kalau Yudi sudah balik ke Jogja, sudah dikasih tahu oleh Bagas, pasti akan menghubungi kita." tambah ibunya.


    "Tapi kalau misalnya sudah lama Mas Bagas tidak ngabari kita?" tanya Silvy lagi.


    "Nanti .... Tunggu sampai pemakaman Papah sudah empat puluh hari. Kalau memang sudah lewat empat puluh hari kok Mas Bagas tidak ngasih kabar, kita telepon dia." sahut ibunya.


    "Kenapa harus nunggu empat puluh hari, Mah? Saya itu khawatir sekali dengan Mis Yuna ...." tanya Silvy yang tidak tahu adat.

__ADS_1


    "Ya ..., itu kepercayaan orang Jawa .... Katanya, arwah orang meninggal itu sudah tenang di alam penantian jika pemakaman sudah genap empat puluh hari. Itu kepercayaan, jangan diprotes." jelas suaminya.


    "Iya, saya percaya .... Tapi Mas Bagas itu kenapa ya, kok tidak kasih kabar ke kita ...?!" kata Silvy yang masih khawatir.


    "Mungkin Mas Bagas sibuk ngurusi obyek wisata .... Kalau tidak ada Papah Yudi dan Mis Yuna, semua pekerjaan kan yang ngurusi Mas Bagas ...." sahut ibunya.


    "Iya, ya ..., Mah ...." Silvy yang nyadar kalau Bagas adalah orang kepercayaan Yudi.


    "Sebaiknya kita doakan saja agar Mis Yuna tidak terjadi apa-apa ....." kata suaminya menenangkan hati istrinya.


    Suasana seperti inilah yang ingin selalu ada di rumah Rini. Bisa makan bersama sambil ngobrol. Tentunya akan menambah keakraban dan saling berbagi cerita. Setidaknya, jika ada masalah bisa segera terpecahkan.


    "Ee ..., Silvy, Yayan .... Ini Mamah tidur di kamar depan, lho .... Jadi nanti kalau cari Mamah, ada di kamar depan yang dekat ruang tamu." kata Rini pada anak-anaknya sebelum mengakhiri makan malam.


    "Kenapa, Mah ...? Takut, ya ...?!" tanya Silvy mengejek ibunya.


    "Bukan .... Hanya saja kalau Mamah masuk kamar Papahmu itu, entah kenapa emosi Mamah langsung meingkat. Rasanya mau marah." jawab Rini.


    "Halah .... Paling-paling Mamah takut, kalau malam-malam tiba-tiba Papah datang .... Hehehe ...." goda Silvy mengejek ibunya.


    "Iiih ...! Kamu itu, lho ...!" bantah Rini yang merasa diejek anaknya.


    "Memang perasaan bagaimana, sih ..., Mah ...?" tanya Yayan.


    "Itu .... Di kamar itu kayak ada sesuatu .... Saya terbayang Papah di tikam perempuan nakal itu ...." cerita Rini.


    "Oh ..., itu .... Itu namanya halusinasi .... Bayang-bayang yang terjadi karena pikiran Mamah dihantui oleh perasaan yang tidak karuan. Bisa jadi karena rasa jengkel, dendam atrau perasaan-perasaan yang lain." jelas Yayan, menantunya.


    "Bisa juga karena takut ya, Mas ...." timpal Silvy.


    "Iiih ...! Lagi-lagi godain Mamahnya." kata Rini yang langsung mencubit anaknya.


    "Ya .... Bisa jadi karena takut ...." timpal Yayan yang juga menggoda.

__ADS_1


    Takut. Yach, tentu Rini punya rasa takut. Karena di kamar itu, darah suaminya telah bersimbah, dan mengakibatkan kematian. Pasti, pikiran Rini membayangkan, kalau suaminya di tengah malam akan datang menemuinya. Takut ...!


__ADS_2