
Setelah berkenalan dengan Yuni, para dosen itu berpindah menyaksikan peserta seleksi, seorang pelukis laki-laki, yang juga masih terhitung sebagai anak-anak. Masih remaja kecil. Namun tentu lima orang dosen seni itu lebih terperangah oleh lukisan anak laki-laki itu. Kalau Yuni mengenakan gaun yang indah, anak laki-laki ini mengenakan celana jean, berkaos putih lengan pendek, tetapi luarnya dilengkapi dengan jas warna abu-abu kebiruan. Ya, di dalam ruang aula yang besar itu, dua orang peserta, yaitu Yuni dan anak laki-laki ini.
Bukan pakaiannya yang dikagumi oleh para dosen, melainkan hasil karya lukisannya. Anak laki-laki ini melukis persis seperti lukisan Yuni. Ya, anak laki-laki ini melukis Yuni dengan gaun biru muda yang indah. Dari gaya lukisannya sama persis dengan lukisan Yuni. Bahkan ukuran kanvas yang dipilih pun sama dengan yang digunakan oleh Yuni, yaitu kanvas besar. Yang beda hanyalah cat minyak yang dipakai. Yuni membawa cat minyak secara pribadi, sedangkan anak laki-laki ini mengambil cat minyak serta kuas yang disediakan oleh panitia.
Sungguh aneh. Padahal anak laki-laki ini tidak duduk berdekatan dengan Yuni. Agak jauh dan tidak mungkin untuk melihat wajah Yuni. Kalau Yuni melukis dirinya karena bisa melihat dirinya yang ada di cermin. Tetapi anak laki-laki ini, melihat Yuni dari sisi mana. Kalau pun dapat melihat Yuni, pasti yang terlihat adalah bagian belakang tubuh Yuni. Yang terlihat hanyalah punggung dan rambut Yuni yang teruarai. Itu saja masih terhalang oleh kursi yang diduduki Yuni.
Itulah kenapa para dosen yang melihat lukisan anak laki-laki itu lebih terkesima dan lebih heran.
"Ce tableau est plus spectaculaire ..." kata dosen yang tua, lukisan yang dilihat sekarang ini lebih spektakuler bila dibandingkan lukisan Yuni.
"Ce gamin peint son rival ...." yang muda mengatkan kalau anak ini justru melukis orang yang menjadi saingannya.
"Comment peut-il peindre les gens de dos?" yang lain tidak percaya kalau anak ini bisa melukis orang dari belakangnya.
"Est-il son ami?" yang lain mengira kalau Yuni adalah teman anak ini.
"Wow, c'est vraiment plus génial." tentu para dosen itu mengatakan kalau anak ini lebih genius.
"What's your name?" dosen tertua dari rombongan itu menanyakan nama anak itu, dalam bahasa Inggris.
"Adi .... Yunadi" jawab anak laki-laki itu.
"Where do you come from?" tanya dosen itu lagi, yang ingin tahu asal anak ini.
Anak laki-laki itu bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin tidak tahu maksud pertanyaannya. Lantas ia menjawab, "Nihon kara .... Japan ...." anak itu menjawab sebisanya.
"Japan .... Can you speak English?" tanya dosen itu.
Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala, tanda tidak paham dengan yang dibicarakan oleh para dosen itu.
"Peut parler français?" tanya dosen itu kepada anak yang dari Jepang, apakah ia bisa bahasa Prancis.
Lagi-lagi, anak itu tidak menjawab. Ia kembali menggelengkan kepala, tanda tidak paham dengan yang ditanyakan oleh para dosen itu. Yang jelas anak laki-laki ini tidak bisa bahasa lain selain bahasa Jepang.
"Comment ça, monsieur?" dosen yang muda bingung, ia bertanya kepada seniornya, harus bagaimana dengan anak ini.
Terus terang, memang jika bahasa tidak dikuasai, maka dalam komunikasi pasti akan terkendala. Para dosen itu pasti kebingunan untuk bertanya atau berdiskusi.
"Quelqu'un sait-il parler japonais?" dosen itu saling tanya, apakah ada yang bisa bahasa Jepang. Tentunya para dosen yang sudah dibuat bengong oleh hasil lukisan anak itu ingin sekali berdiskusi dengannya. Namun untuk saat ini, mereka terkendala oleh bahasa.
Yuni rupanya mendengar perbincangan dosen itu, yang bingung untuk mencari orang yang paham bahasa Jepang. Yuni teringat pada ayahnya, yang dulu pernah tinggal di Jepang. Yuni berpikir, pasti ayahnya bisa bahasa Jepang.
"Désolé monsieur, mon père peut parler Japonais." kata Yuni pada dosen itu, kalau ayahnya bisa bahasa Jepang.
"Ah bon? Où est ton père?" tanya dosen itu pada Yuni, tentu ingin ketemu ayahnya.
"Mon père attend dehors. Il s'appelle Yudi." jawab Yuni, yang bilang kalau ayahnya menunggu di luar.
Maka salah seorang dari dosen itu langsung melangkah ke luar, akan mencari Yudi. Tentu ingin meminta bantuan untuk menjadi penerjemah dalam berdiskusi dengan anak Jepang yang lukisannya luar biasa tersebut.
__ADS_1
"Monsieur Yudi .... Est-ce que Monsieur Yudi est là?" dosen itu mencari Yudi.
"Monsieur Yudi ...!"
"Monsieur Yudi ...?!"
"Monsieur Yudi ...!!"
Orang-orang yang ada di luar aula pun ikut memanggil nama Yudi. Tentu untuk membantu dosen yang mencari orang yang bernama Yudi tersebut.
Yudi kaget mendengar namanya dipanggil banyak orang. Ia langsung beranjak dari duduknya bersama Rini, lantas menuju ke arah orang-orang yang memanggil.
"Je suis Yudi, qu'est-ce qui ne va pas?" Yudi yang bertanya, ada apa namanya dipanggil.
"Vous êtes appelé le professeur dans la salle." jawab orang-orang yang ada di sekitar aula, yang memberi tahu kalau Yudi dipanggil oleh dosen di ruang aula.
Tentu Yudi agak khawatir, ada masalah apa ia dipanggil oleh dosen-dosen yang akan menyeleksi para peserta calon penerima beasiswa. Maka Yudi langsung bergegas masuk ke ruang aula tersebut.
"Bonjour monsieur.... Je suis Yudi qui cherchait." kata Yudi kepada dosen yang mencarinya.
"Bonjour, monsieur... Félicitations, votre fille est formidable, La peinture de Yuni est vraiment magnifique .... Est-ce que Monsieur Yudi parle japonais?" dosen itu memuji lukisan anak Yudi, lantas menanyakan apakah Yudi bisa bahasa Jepang.
"Merci Monsieur .... d'accord.... Y a-t-il quelque chose que je puisse vous aider?" Yudi membenarkan dan bertanya apa yang bisa dibantu olehnya.
"Il y a un garçon japonais, il ne parle que le japonais. Merci de nous aider à traduire." kata dosen yang minta dibantu untuk menerjemahkan.
"D'accord, où est le gamin?" Yudi menanyakan keberadaan anak Jepang itu.
Yudi kaget setelah melihat lukisan anak itu. Ini benar-benar lukisan yang luar biasa. Tetapi yang paling mengagetkan Yudi adalah, anak Jepang itu sudah melukis putrinya, yaitu Yuni.
"Yuni ...! Kemari ...!" tentu secara spontan Yudi memanggil anaknya yang juga masih ada di ruang itu, yang duduk di kursi tempat melukisnya.
Yuni langsung beranjak dari kursi, melangkah menuju arah tempat ayahnya berdiri, di dekat anak laki-laki Jepang itu.
"Ya, Papah ...." kata Yuni setelah berada di sisi ayahnya.
"Lihatlah ...." kata Yudi menyuruh anak perempuannya itu menyaksikan lukisan yang dihadapi anak Jepang tersebut.
Tentu Yuni langsung bengong. Pikirannya seakan berhenti. Bahkan jiwanya seakan menghilang dari raganya untuk sementara waktu. Anak laki-laki dari Jepang itu sudah melukis dirinya dengan sangat detail. Tentu Yuni terheran, bagaimana anak ini sanggup melukis dirinya sebagus itu.
"Monsieur Yudi, vous devez être surpris. Il y a deux très belles peintures dans cette pièce. Ce tableau de votre fille et ce tableau du garçon. Votre fille est super. Mais ce garçon est incroyable." kata para dosen yang memuji Yuni maupun anak dari Jepang itu.
"Anata no namae wa nanidesu ka?" Yudi menanyakan nama anak tersebut.
Anak itu menatap Yudi. Memandang dengan penuh selidik. Seakan ada sesuatu yang ia cari pada diri Yudi.
"Adi .... Yunadi ...." jawab anak itu.
"Doko kara kimashitaga?" Yudi menanyakan asal anak itu.
__ADS_1
"Kyōto, Kifune. Nihon." jawab anak itu, tentu masih mengamati Yudi terus.
Yudi tersentak. Jantungnya seakan mau copot. Saat anak itu menyebut daerah Kifune, Yudi teringat banyak hal di tempat itu. Enam bulan lamanya Yudi disembunyikan di kuil yang ada di daerah Kifune. Apalagi saat ia ditatap tajam oleh anak itu, Yudi benar-benar seperti diiris sembilu.
"Adi wa dare to koko ni imasu ka?" Yudi menanyakan anak itu diantar siapa.
"Watashi wa hitori de Furansu ni ikimashita." Anak itu mengaku datang ke Prancis seorang diri, karena ia tidak punya siapa-siapa.
Tentu Yudi merasa kasihan pada anak itu. Usianya hampir sama dengan Yuni, tapi sudah dilepas begitu saja oleh orang tuanya. Maka tentu Yudi menanyakan orang tuanya.
"Anata no chichioya wa doko?" Yudi menanyakan di mana ayahnya.
"Wakaranai. Watashi no akachan ga shinden ni sunde irai." anak yang bernama Adi itu menjawab tidak tahu, sejak kecil dirinya dititipkan di kuil.
"Anata wa anata no ryōshin ga doko ni iru no ka sae shiranai nodesu ka?" Yudi menanyakan lagi apakah anak ini tidak tahu sama sekali orang tuanya.
"Watashinohaha wa chōdo kore o nokoshimashita." Anak bernama Adi itu menyeret kalung yang melingkar di lehernya, lantas menunjukkan cincin yang melingkar di kalung itu, lantas bilang kalau ibunya hanya meninggalkan cincin itu kepada anaknya.
Yudi terkejut saat melihat cincin yang menggantung di leher Adi. Mata Yudi langsung membelalak. Ia mendekat ke anak laki-laki itu, lantas mengamati cincin itu secara saksama. Yudi yakin, itu bukan cincin sembarangan. Hanya dirinya dan Yuna yang memakai cincin seperti itu.
"Anata no hahaoya no namae wa nanidesu ka?" tanya Yudi lagi, siapa sebenarnya ibunya.
"Wakaranai." Anak itu juga menjawab tidak tahu.
Meski Yudi sudah mulai ragu dengan anak itu, namun ia tetap berusaha tabah. Yudi tidak ingin merusak suasana. Tentunya agar anak-anaknya itu tidak menjadi sedih atau ribut. Tetapi Yudi masih menyimpan rahasia, cincin yang ada di kalung anak itu adalah cincin Yuna. Dan satu hal lagi, nama Yunadi, kemungkinan adalah gabungan antara nama Yuna dan Yudi, seperti halnya Yuni, gabungan dari nama Yudi dan Rini. Tapi biarlah hal itu berjalan lancar untuk sementara waktu, sembari menunggu keputusan para dosen yang sedang menilai.
"Naze watashi no musume o kaita nodesu ka?" Yudi kembali bertanya, mengapa Adi melukis Yuni.
"Ano on'nanoko wa totemo utsukushī kara." anak itu menjawab karena Yuni sangat cantik, maka pantas kalau dilukis.
Akhirnya terjadi diskusi dengan para dosen, bahwa proses dan hasil karya lukisan Yuni dan Adi, yang bagaikan lukisan kembar, diterima oleh para dosen. Pasti dua anak itu sama-sama akan diterima menjadi mahasiswa di École des Beaux-Arts dengan beasiswa.
"Félicitations monsieur .... Félicitations Yuni Kartika .... Félicitations Yunadi ...." Para dosen itu memberi ucapan selamat kepa Yudi, Yuni dan Yunadi.
*******
Setelah Yuni diterima sebagai mahasiswa di Paris, Yudi menyewakan apartemen untuk anaknya. Tujuannya agar jika dirinya atau istrinyaingin menjenguk anaknya, maka tidak perlu sewa hotel. Meski Albert menawarkan agar tinggal di rumahnya, namun Rini dan Yudi merasa tidak enak kalau selalu merepotkan temannya itu. Yuni juga lebih senang tinggal di apartemen, lebih leluasa.
Sedangkan Yunadi, akan tinggal di asrama kampus. Meski demikian, hubungan antara Yuni dan Yunadi sudah terlihat akrab. Maklum usianya sepadan. Dan tentunya Yuni agak kerepotan karena harus sering tanya pada ayahnya soal bahasa Jepang yang dipakai oleh Yunadi.
Duduk berdua dengan Yunadi di taman kota, sambil menyaksikan Menara Eifel, Yudi mengelus kepala Yunadi. Tentu Yudi ingin menyampaikan sesuatu, rahasia tentang dirinya, namun belum berani. Khawatir akan mengecewakan anaknya.
"Yunadi, issho ni kita hō ga ī yo. Tsutaetaikoto ga takusan arimasu." Yudi mengajak Yunadi untuk ikut bersama dirinya, tentu dengan alasan ada banyak hal yang harus dipelajari lagi.
"Hai, sā. ... Go seichō arigatōgozaimashita." tentu Yunadi mau dan setuju. Ia pun berterima kasih pada Yudi.
"Indoneshia no joguja ni wa, tsutaetaikoto ga arimasu." Yudi menyampaikan kepada Yunadi ada sesuatu di Jogja yang tentu ingin diperlkihatkan kepada Yunadi.
"Arigatōgozaimasu. Anata kara takusan manabitai" Yunadi tentu mau, dan ingin belajar kepada Yudi.
__ADS_1
Sebelum masuk kuliah, Yudi mengajak Yunadi pulang ke Indonesia. Dan Yunadi bersedia. Tentu karena sudah akrab dan ingin belajar kepada Yudi. Setelah urusan administrasi perkuliahan diberesi, mereka berempat, Yudi, Rini, Yuni dan Yunadi, akhirnya pulang ke Indonesia.