KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 242: CONCURRENCE EN SÉLECTION


__ADS_3

    Jam delapan pagi. Kampus École des Beaux-Arts sudah penuh orang. Di dekat ruang aula, sudah banyak remaja yang masih berusia sekitar tujuh belas tahun, tetapi juga banyak orang tua. Mereka tentunya adalah para peserta seleksi beasiswa masuk kuliah di École des Beaux-Arts, dan tentunya para orang tua yang ikut mengantar anaknya untuk mengikuti seleksi beasiswa di perguruan tinggi seni yang paling terkenal di Prancis tersebut. Melihat wajah orang-orang yang ada di situ, bukanlah berasal dari Prancis saja. Tetapi sebagian besar justru warga asing. Wajah anak-anak dari Asia cukup banyak. Yang berasal dari Afrika juga ada. Tetapi memang yang paling banyak berasal dari Eropa. Inilah model penjaringan mahasiswa berbakat yang biasa dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi terkenal di dunia.


    Ada banyak remaja laki-laki. Perempuannya lebih sedikit. Semua sudah tampak besar. Yuni yang paling kecil. Mungkin karena berasal dari Asia, tubuhnya tidak seperti anak-anak Eropa. Buktinya juga ada anak Asia lain yang juga terlihat tidak begitu besar. Tetapi memang Yuni terlihat masih anak-anak. Maklum, usianya baru sembilan tahun. Mungkin peserta seleksi yang lain sudah banyak yang lulus SMA.


    Rata-rata, peserta perempuan yang ikut seleksi, mereka mengenakan celana jean dan kaos T-shirt. Bahkan ada yang mengenakan kaos oblong. Terlihat santai. Tetapi Yuni, ia sendiri peserta seleksi yang mengenakan gaun, layaknya seperti akan pergi ke pesta. Tentu banyak peserta seleksi yang memandang aneh terhadap Yuni. Tetapi itulah, Yuni yakin dan mempercayai kata-kata ayahnya, bahwa penampilan akan menjadi bahan penilaian. Maka Yuni sangat pede dengan gaun biru muda yang dikenakannya itu.


    Jam delapan tepat, pintu aula dibuka oleh petugas. Aula yang sangat luas dengan atap yang cukup tinggi. Namun jendela-jendela kaca serta bagian atap yang ada fentilasi kaca hias, masih memberi penarangan yang sangat bagus di aula tersebut. Di ruang aula itu sudah tertata kursi dengan jarak yang cukup longgar. Tentu agar satu peserta dengan peserta seleksi yang lain tidak terganggu. Di depan kursi itu terdapat easel atau tiang tempat menaruh kanvas. Tetapi masih kosong.


    Di pinggir pintu masuk bagian dalam, terdapat tumpukan kanvas dalam berbagai ukuran. Ada tumpukan yang berukuran kecil, sedang dan besar. Yang paling banyak berukuran kecil, sedangkan yang berukuran besar hanya beberapa saja. Kanvas ini disediakan untuk para peserta.


    Selain kanvas, di situ juga ada meja yang di atasnya terdapat kotak-kotak dari plastik. Kotak-kotak itu berisi cat lukis dan kuas. Semuanya masih baru. Cat dan kuas ini juga disediakan bagi para peserta seleksi.


    Anak-anak yang akan ikut seleksi mulai dipanggil masuk. Urut sesuai nomor pendaftaran. Mulai dari nomor satu. Peserta tidak boleh membawa kanvas dari luar, namun diperkenankan membawa cat lukis sendiri. Setiap peserta yang dipanggil masuk, langsung mengambil kanvas, dan juga boleh mengambil cat, sesuai dengan yang diinginkan. Kemudian peserta diminta untuk duduk di kursi sesuai dengan nomor pendaftarannya. Peserta yang masuk dahulu, lantas mencari kursi yang pada bagian belakang sandaran kursi itu ada nomornya. Ya, nomor kursi harus sesuai nomor pendaftaran. Tentu yang masuk lebih awal lebih leluasa untuk memilih ukuran kanvas, maupun memilih cat serta kuas. Sedangkan yang nomor-nomor akhir, pilihannya tinggal sedikit. Kanvas yang ukuran kecil sudah habis. Itulah risiko dari pendaftar yang datangnya lebih lambat.


    Yuni ternyata adalah pendaftar terakhir. Nomor seratus satu, kursinya tidak ada urutan ke belakangnya. Begitu Yuni masuk, kanvas yang ada di pinggir pintu itu tinggal yang berukuran besar. Mau tidak mau, Yuni mengambil kanvas berukuran besar tersebut. Kanvas yang berukuran kecil rata-rata sudah dipilih oleh nomor seleksi yang kecil. Apa boleh buat, Yuni mengangkat kanvas berukuran satu meter kali delapan puluh senti. Yuni tidak mengambil cat maupun kuas yang disediakan. Ia sudah membawa perlengkapan lukisnya sendiri. Lantas ia berjalan menuju kursi nomor seratus satu. Sesuai yang ditunjukkan oleh panitia. Satu-satunya kursi yang masih kosong, belum diduduki peserta lain, yang tentu terletak paling jauh dari pintu.


    Setelah semua duduk, panitia seleksi menyampaikan beberapa pengumuman. Ada yang menyampaikan dalam bahasa Prancis, tetapi juga kemudian diulang dalam bahasa Inggris. Tentu itu diberikan agar peserta yang belum begitu paham bahasa Prancis, mereka bisa memahami dengan menggunakan bahasa internasional.


    "Il est encore temps de commencer, veuillez d'abord chercher l'inspiration. Montrez vos compétences." kata panitia, yang meminta para peserta untuk mencari inspirasi terlebih dahulu, sembari menunggu waktu.


    Tentu semua peserta mulai membayangkan lukisan apa yang akan ia tampilkan dalam kanvas yang sudah dihadapinya. Demikian juga dengan Yuni, yang kebetulan memperoleh kanvas dengan ukuran besar, pasti harus memilih objek yang paling tepat untuk dilukisnya. Tentu dalam ruang aula itu tidak seperti kalau di luar. Jika di luar ruang, pasti Yuni akan mudah mencari objek. Tetapi di dalam aula, ia mulai menoleh ke kanan. ke kiri, ke depan, ke belakang, bahkan ke atas. Ia masih belum mendapatkan objek lukisan. Yuni kesulitan mencari ide.

__ADS_1


    "Désolé Monsieur ..., puis-je déplacer un peu ma chaise?" Yuni menunjukkan tangannya, mohon izin untuk menggeser sedikit tempat kursinya.


    "S'il vous plaît." jawab panitia yang membolehkan Yuni menggeser kursinya.


    Tentu Yuni langsung menggeser arah kursi dan easelnya. Sebenarnya ia hanya ingin mencari cahaya yang lebih terang, yaitu mendekat ke jendela kaca. Meskipun di ruang aula itu lampunya cukup terang, namun akan berbeda dengan cahaya dari matahari. Tentu dengan pencahayaan yang alami dan lebih terang, nanti warna lukisannya akan lebih bagus.


    Namun saat ia berdiri untuk menggeser kursi, Yuni justru melihat bayangan dirinya pada kaca cermin yang menghias dinding aula. Ia melihat dirinya yang mengenakan gaun warna biru muda itu sangat cantik. Yuni justru mulai menata diri bergaya di depan kaca. Lantas duduk, menata posisinya, mencari sudut pandang agar bisa melihat dirinya pada posisi yang tampak indah dan cantik. Ya .... Yuni menemukan objek lukisan. Ia akan melukis dirinya sendiri, seperti yang ia lihat dalam kaca cermin yang ada di dinding aula tersebut.


    "Il est temps de commencer à peindre. Une fois terminé, le tableau est laissé à sa place." kata panitia yang menyatakan waktu melukis dimulai. Kemudian juga menjelaskan, jika sudah selesai, boleh langsung ditinggalkan.


    Tentu para peserta langsung mulai menorehkan cat-cat pada kanvas mereka masing-masing. Semua mulai melukis. Semua mulai sibuk. Semua mulai mencurahkan kemampuannya untuk bersaing dengan peserta yang lain. Ada yang tetap duduk, ada pula yang sambil berdiri. Tentu berlomba untuk menghasilkan lukisan terbaiknya, agar mereka bisa lolos memperoleh beasiswa kuliah di perguruan tinggi seni terkenal itu.


    Lantas Yuni mulai menggoreskan kuas di kanvasnya. Goresan demi goresan. Warna demi warna. Hingga terlihat sebuah bentuk.


    Waktu sudah berjalan satu jam. Ada seorang peserta seleksi yang sudah keluar meninggalkan lukisannya. Pasti ia yakin lukisannya adalah yang terbaik. Tentu dengan keluarnya salah satu peserta itu akan membuat grogi peserta-peserta yang lain. Dan ternyata benar, ada yang menyusul keluar. Hingga akhirnya, di dalam aula itu hanya tinggal beberapa orang peserta seleksi saja.


    Jam dua belas, lima orang dosen dari perguruan tinggi terkenal itu, masuk ke ruang aula. Pasti mereka akan melihat dan menilai hasil lukisan para peserta seleksi. Meski panitia tidak membatasi waktu dalam melukis, namun kenyataannya, setelah tiga jam menghadapi kanvas, para peserta rata-rata sudah tidak tahan untuk menunjukkan kinerja yang terbaiknya. Di ruang aula itu hanya tinggal dua peserta yang masih fokus melukis. Satu perempuan dan masih bocah, dan satu lagi anak laki-laki yang menurut ukuran badan juga masih terlihat anak-anak.


    Lima orang dosen seni rupa itu tidak berkeliling untuk menilai karya-karya yang sudah ditinggalkan. Tetapi mereka justru tertarik dengan gadis kecil yang asyik melukis di pojok dekat dengan jendela. Ya, lima orang dosen itu langsung mengamati Yuni yang tetap asyik melukis saat didatangi orang.


    "Belle peinture ..." kata salah seorang dosen yang terlihat masih muda. Ia mengatakan lukisan yang indah saat menyaksikan hasil karya Yuni.

__ADS_1


    "Cette fille se peint ...." yang tua mengatkan kalau gadis ini bisa melukis dirinya sendiri.


    "Comment a-t-il pu se peindre?" yang lain tidak percaya kalau gadis ini bisa melukis dirinya sendiri.


    "Regardez, il utilise le miroir pour se voir comme l'objet de la peinture." yang lain tahu kalau Yuni melihat dirinya di cermin untuk dijadikan obyek lukisan.


    "Wow, c'est vraiment génial." tentu setelah tahu kalau Yuni memanfaatkan cermin yang ada di dinding, yang lain mengatakan bener-benar genius.


    Ya, lukisan Yuni benar-benar seperti foto dirinya sendiri. Sangat jarang pelukis yang sanggup menggambar dirinya sendiri. Dan di usia yang baru sembilan tahun, Yuni sanggup mewujudkan lukisannya yang luar biasa. Lukisan gadis bergaun biru muda, dengan senyum indahnya, terlihat sangat cantik, seperti layaknya lukisan Monalisa. Tentu para dosen itu ingin segera punya murid yang seperti Yuni ini.


    "What's your name?" dosen tertua dari rombongan itu menanyakan nama Yuni, dalam bahasa Inggris. Pasti mereka mengira Yuni tidak bisa bahasa Prancis.


    "Yuni .... Yuni Kartika, from Indonesia." jawab Yuni.


    "Yuni ...? Are you the one who painted the Rare Black Orchid Flower?" tanya dosen itu lagi, yang tentu ingin tahu apakah dia yang melukis lukisan Rare Black Orchid Flower.


    "Yes, right. That's my painting." jawab Yuni membenarkan.


    "Wow.... What a stroke of luck. We will accept you to study here. We are delighted to have you here on campus." kata para dosen itu yang tentu langsung menyalami Yuni. Dosen itu benar-benar merasa senang bisa bertemu Yuni. Tentu karena lukisan Yuni yang sudah dipajang di Louvre Museum. Bahkan para dosen itu langsung mengajak foto selfi dengan Yuni, yang tentu dengan hasil lukisannya. Selanjutnya para dosen itu meminta panitia mengambilkan foto-foto mereka bersama Yuni.


    Sungguh luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2