
Sore itu, seperti yang dipesankan oleh para pekerja, Bagas ke rumah Yudi, sengaja akan menemui Yudi dan berbincang empat mata. Sambil membawa nasi pecel dan jajan gorengan, Bagas langsung menemui Yudi, duduk di tempat makan.
"Ini, Mas Yudi ..., ada nasi pecel dan gorengan." kata Bagas sambil menaruh bungkusan tas kresek di meja makan.
"Tumben, Gas ...." sahut Yudi tanpa ekspresi.
Bagas tidak kaget. Bawaan Mas Yudi memang sering seperti itu. Tapi Bagas agak keder, karena harus menyampaikan amanah dari para pekerja. Itu yang menjadi beban dalam pikirannya.
"Iya, Mas Yudi .... Ini ada yang mau saya bicarakan dengan Mas Yudi." jawab Bagas agak takut.
"Mau ngomong apa?" tanya Yudi yang sudah mengambil gorengan dan menyantapnya.
"Anu, Mas .... Itu .... Eee ..., para pekerja, Mas Yudi ...." jawab Bagas yang masih bingung cara menyampaikannya.
"Para pekerja kenapa?" tanya Yudi.
"Anu, Mas .... Para pekerja mengeluh." jawab Bagas.
"Mengeluhkan apa?" tanya Yudi lagi.
"Katanya semua pekerjaan dihentikan oleh Mas Yudi .... Malah para pekerja diberhentikan, tidak bekerja lagi ...." jelas Bagas.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" tanya Yudi.
"Begini, Mas Yudi .... Tadi siang para pekerja sudah berembug, istilah kerennya sudah diskusi, yang intinya, mereka itu bekerja bukan sekadar cari uang, Mas ..., tapi mereka berniat untuk membangun Taman Awang-awang itu sebagai ikon bagi kampung kita ini. Sebagai kebanggaan bagi masyarakat Kampung Nirwana. Jadi mereka ini berharap pembangunan di puncak bukit itu tetap menjadi obyek wisata yang terbaik. Kalaupun uang pembangunannya habis, dana yang dibantukan sudah tidak ada lagi, para pekerja ini rela tidak dibayar, Mas ...." jelas Bagas pada Yudi.
"Bagas ..., kamu itu tidak tahu apa-apa, mbok tidak usah ikut-ikutan ...!" kata Yudi pada Bagas mulai tampak tidak senang.
"Maaf, Mas Yudi ..., saya hanya menyampaikan keluhan para pekerja." kata Bagas.
"Urusi dirimu sendiri saja, tidak usah ngurusi urusan orang lain. Ngurus diri sendiri saja tidak becus kok ngurusi masalah orang lain!" lanjut Yudi.
"Maaf, Mas Yudi ..., ini urusan kita bersama. Ini urusan masyarakat satu kampung. Tidak hanya urusan saya, urusan pekerja atau urusan Mas Yudi ..., tapi ini urusan kita semua, Mas ...." Bagas sudah mulai berani membantah.
"Bagas, kamu tahu ..., yang mengusahakan pembangunan Taman Awang-awang itu saya, jadi yang berwenang mengatur ya saya ...!" Yudi mulai berkata keras. Tanda emosinya meningkat saat menghadapi Bagas.
"Tapi, Mas ...." kata Bagas yang terpotong karena Yudi langsung menyerang.
"Tidak usah pakai tapi-tapian! Urusan saya ya biar saya urusi, kamu tidak usah ikut campur!" bentak Yudi.
"Maaf, Mas Yudi .... Mungkin yang ngurusi memang Mas Yudi, tetapi ingat, Mas ..., tanah yang ada di puncak bukit itu bukan tanahnya Mas Yudi. Itu tanah desa, milik kampung, bukan milik perorangan. Itu Mas Yudi harus paham!" sergah Bagas yang berani membantah Yudi.
Yudi terdiam. Benar yang dikatakan Bagas. Ia sudah kalah kosong satu dengan Bagas.
"Mas Yudi ..., mungkin dari segalanya Mas Yudi memang bisa dikatakan sebagai orang sukses, sebagai orang hebat, sebagai orang top .... Tetapi saya mohon Mas Yudi ingat, bahwa kita ini tinggal di kampung bersama orang lain, kita hidup bersama para tetangga, kita butuh bantuan, butuh pertolongan dari para tetangga, dan kita ingin hidup rukun bersama-sama, Mas .... Tetapi mengapa Mas Yudi yang dianggap sebagai orang terpandang di sini, justru menciptakan suasana tidak nyaman?!" Bagas ganti menceramahi Yudi.
Lagi-lagi, Yudi hanya bisa terdiam. Sudah kalah kosong dua. Semoga Yudi cepat sadar dengan kesalahannya.
__ADS_1
"Saya tahu, Mas Yudi sedang ada masalah dengan Mbak Yuna. Tapi bukan seperti ini caranya!" kata Bagas lagi yang menohok Yudi. Tiga kosong untuk kemenangan Bagas.
"Kok kamu tahu, Gas?!" sahut Yudi penasaran.
"Saya tidak mau ikut campur urusan pribadi orang lain, Mas .... Itu Mbak Yuna yang ngomong ke saya. Makanya Mbak Yuna pulang ke Jepang." kata Bagas.
"Seperti itu, Gas ...? Jadi kamu tahu masalah ini? Mbak Yuna cerita apa sama kamu, Gas?" tanya Yudi nerocos. Kini giliran Yudi yang semakin penasaran.
"Kemarin sebenarnya saya mau diajak Mbak Yuna ke Jepang, Mas .... Tetapi karena saya tidak punya paspor, ya akhirnya tidak jadi." Bagas mulai bersandiwara.
"Terus, Mbak Yuna cerita apa lagi?" Yudi mendesak Bagas.
"Tidak banyak, Mas ...., dan itu tidak perlu saya ceritakan ke siapa saja. Ini masalah pribadi yang harus dirahasiakan. Sebenarnya Mbak Yuna memesan ke saya, agar saya mengawasi semua pekerjaan di puncak bukit itu, agar tidak melenceng dari rancangan yang sudah di buat oleh Mbak Yuna. Sebab kalau hasilnya melenceng dengan desain, Mbak Yuna bisa kena penalti. Itu kata Mbak Yuna. Makanya, saat para pekerja laporan ke saya seperti itu, saya berani menghadapi Mas Yudi. Karena yang dapat amanah dari Mbak Yuna itu saya. Apa Mas Yudi tidak kasihan kalau Mbak Yuna kena penalti. Katanya bisa didenda oleh penyandang dana." jelas Bagas yang sekarang sudah berada di atas angin, yang tentu akan mengalahkan pendirian Yudi.
"Seperti itu ya, Gas .... Waduh berarti saya keliru, ya?!" kata Yudi yang sudah menurun tensinya. Ya, Yudi sudah merasa bersalah.
"Makanya sekarang saya menemui Mas Yudi, mau ataupun tidak, boleh maupun tidak, saya minta Mas Yudi menyerahkan pengaturan pekerja kepada saya. Hanya pekerja dan pekerjaannya. Soal uang, itu urusan Mas Yudi. Saya tidak mau ikut campur." tegas Bagas.
"Baiklah, Gas .... Saya mohon maaf. Saya berterima kasih sudah Bagas ingatkan. Dan terima kasih kalau Bagas mau melanjutkan kepemimpinan Mbak Yuna untuk menyelesaikan proyek Taman Awang-awang.
"Baik, Mas .... Saya senang Mas Yudi cepat sadar. Sehingga lebih gampang untuk mengajak dan memotivasi kembali para pekerja." kata Bagas.
"Aku minta maaf ya, Gas .... Ternyata selama ini saya sudah keliru. Tolong dimaafkan saya ya, Gas ...." kata Yudi yang memeluk Bagas. Tentu Yudi meneteskan air mata, tanda penyesalan.
"Sudah, Mas Yudi .... Malu dilihat orang. Nanti kita dikirain homo ..., masak laki-laki sama laki-laki kok peluk-pelukan. Sudah, Mas ...." kata Bagas sambil berusaha melepas pelukan Yudi.
"Iya, Gas .... Terima kasih ya, Gas .... Saya benar-benar minta maaf. Dan tolong tidak usah menceritakan masalah ini ke Pak Lurah. Saya malu, Gas ...." kata Yudi yang tertunduk, karena takut terlihat matanya yang memerah karena menangis.
"Gas, waktu kamu mengantar Mbak Yuna ke bandara, Mbak Yuna cerita apa saja ke kamu?" tanya Yudi menyelidik.
"Tidak banyak cerita, Mas .... Ya itu, Mbak Yuna bilang kalau mau balik dulu ke Jepang, kangen sama orang tuanya. Terus saya disuruh buat paspor, besok mau diajak ke Jepang, Mas Yudi .... Nanti saya diajari caranya buat paspor ya, Mas .... Saya pengin ke Jepang sama Mbak Yuna, he ...." jawab Bagas.
"Halah, buat paspor itu gampang. Pokoknya datang ke kantor imigrasi, nanti kan dilayani. Kayak orang-orang mau pergi haji itu lho ...." jawab Yudi.
"Oo ..., gitu to, Mas .... Besok buat ah .... Mau menyusul Mbak Yuna." sahut Bagas.
"Mbak Yuna tidak bilang kalau marah sama saya?" tanyaYudi lagi.
"Hloh .... Jadi Mbak Yuna pulang ke Jepang itu marah sama Mas Yudi, to? Blais, Mas ...!" sahut Bagas yang kaget.
"Tidak marah, Gas ..., cuma cemburu ...." kata Yudi.
"Cemburu?! Lha cemburu sama siapa to, Mas?!" tanya Bagas yang heran.
"Sama Rini ...." jawab Yudi polos.
"Waduh ...?! Ternyata Mas Yudi ini playboy, to?!" kata Bagas polos.
__ADS_1
"Ya ampun, Bagas .... Playboy apa?! Lha wong istri saja belum punya kok dikatakan playboy .... Playboy cap kadal apa?!" sahut Yudi.
"Lha itu Mas Yudi kok bisa cerita kalau Mbak Yuna cemburu? Lha Mbak Yuna itu apanya Mas Yudi kok cemburu. Terus, cemburunya kok sama Mbak Rini .... Lha Mbak Rini itu siapa? Mbak Rini itu apanya Mas Yudi? Aneh kan?! Seorang laki-laki bisa menggaet dua perempuan, itu kalau bukan playboy ndak bisa, Mas ...!" sahut Bagas.
"Eh, Bagas ..., katanya Mbak Yuna mau balik ke Jogja lagi kapan?" tanya Yudi mengalihkan pembicaraan.
"Lho ..., lho ..., iyo to .... Lha wong ditanyai Mbak Yuna itu apanya Mas Yudi, Mbak Rini itu apanya Mas Yudi ..., lha kok malah nanya yang lain. Ya pertanyaan ini di jawab dulu ...." bantah Bagas.
Ya, dari dulu, sejak pertama kali Yudi membeli tanah dan membangun rumah yang seperti istana di Kampung Nirwana, Bagas sudah akrab dengan Yudi. Bagas sudah sering membantu keperluan-keperluan Yudi. Demikian juga Yudi, baik kepada Bagas. Bahkan sampai mobil stationnya itu disuruh membawa Bagas, untuk mencari tambahan rejeki. Termasuk mengantar dan menjemput orang tua Yudi. Tentu, Yudi sering memberi sedikit rejeki untuk Bagas, setidaknya bisa untuk beli beras. Maka jika sekarang Bagas akrab dan baik kepada Yudi, itu sudah sewajarnya. Kalau Bagas berani gojek atau bercanda dengan Yudi, itu sudah lumrah.
"Ceritanya panjang, Gas .... Tidak bisa saya omongkan sekarang." sahut Yudi yang tidak ingin bercerita.
"Oo .... Pokoknya, Mbak Yuna senang sama Mas Yudi?" tanya Bagas.
"Iya ...." jawab Yudi pasrah.
"Terus, Mbak Rini juga senang dengan Mas Yudi?" tanya Bagas lagi.
"Iya, Gas ...." jawab Yudi lagi.
"Terus ..., masih ada perempuan lain lagi nggak yang senang sama Mas Yudi?" tanya Bagas menyelidik.
"Sebenarnya masih ada, Gas .... Namanya Yayuk. Dia direktur bank. Juga cantik, Gas." jawab Yudi yang jujur.
"Ya ampun Mas Yudi .... Ini benar-benar keterlaluan. Kok saya baru tahu sekarang kalau Mas Yudi ini playboy beneran! Playboy cap kampak ini, Mas .... Haha ...." kata Bagas.
"Bukan, Gas .... Yakin. Saya bukan playboy!" sahut Yudi.
"Lha itu, nyatanya .... Perempuan-perempuan pada terkintil sama Mas Yudi. Pilih salah satu, Mas Yudi .... Langsung diajak nikah, biar hidup Mas Yudi lebih bersinar. Beres!" ucap Bagas.
"Iya, Gas .... Makanya, ini saya sudah memilih. Tapi yang dipilih malah pergi. Kapan Mbak Yuna mau balik ke Jogja lagi?" tanya Yudi ganti.
"Mbak Yuna bilang secepatnya, gitu Mas ...." jawab Bagas.
"Alhamdulillah ...." kata Yudi mulai senang.
"Mas Yudi ..., kalau boleh saya sarankan, Mas Yudi jangan dekati Mbak Rini, dia sudah punya suami. Dosa lho, Mas .... Pilih Mbak Yuna saja yang lebih cantik. Mbak Yuna itu cantik banget lho, Mas. Bener ini, Mas! Tidak ada tandingannya. Pokoknya kalau sampai Mas Yudi menolak Mbak Yuna, waah ..., salah besar, Mas." kata Bagas yang sok bisa menilai wanita.
"Iya, Gas .... Sebenarnya saya juga tidak mau mengganggu istri orang. Tapi Mbak Rini itu ngejar-ngejar saya terus he, Gas ...." sahut Yudi yang sok merasa dikejar wanita.
"Makanya, segera menikah dengan Mbak Yuna. Pasti wanita yang mendekati Mas Yudi akan mundur sendiri." kata Bagas.
"Kok bisa begitu?" tanya Yudi.
"Lha iya, lah .... Lihat Mbak Yuna yang cantik kayak gitu, ya jelas kalah bersaing, lah ...! Terus sambil nyanyi; Aku mundur alon-alon ...." sahut Bagas dengan menggebu.
"Iya, Gas .... Terima kasih nasehatnya." kata Yudi sambil tersenyum.
__ADS_1
Yudi kembali memeluk Bagas. Tentu karena rasa senangnya mendapatkan solusi.
"Iih ..., Ngapain sih Mas Yudi peluk-peluk lagi .... Nggilani! Wiiis ..., ndang dilamar, Mbak Yuna .... Nanti ditubruk orang lagi, kapok kowe ...." kata Bagas yang menyuruh Yudi cepat-cepat melamar Yuna.