
SORE baru saja berlalu. Ruang restoran hotel di lantai tiga, sangat ramai. Pasalnya, ruang restoran tersebut dipenuhi oleh para alumnus SMA yang sudah lama tidak saling bertemu. Ada empat puluh alumnus, ditambah suami atau istri maupun keluarga yang ikut memeriahkan acara. Tentu mereka saling sapa, saling tegur, saling bercerita, tertawa dan bergembira. Duduk pun berpindah-pindah dari satu kursi ke kursi yang lain, menyapa teman yang satu dan berpindah ke teman yang lain.
"Hai ...! Rini ...!" sapa seorang wanita pada Rini yang melintas di depannya.
"Hai ...?! Sebentar, ya .... Gue inget-inget dulu!" sahut Rini yang berhenti di meja tempat wanita yang menyapanya.
"Pasti lupa sama aku ...." kata wanita itu.
"Hah ...?! Astutik, ya?!" sahut Rini yang mulai mengingat.
"Hahaha .... Kamu masih cantik Rin." kata wanita itu, yang bernama Astuti, sambil memegang tangan Rini.
"Hahaha .... Kamu juga tetep cantik. Masih seperti dulu, awet muda." kata Rini yang kemudian duduk satu meja dengan Astuti.
"Kenalin, ini suamiku. Suamimu mana, Rin?" kata Astuti yang mengenalkan suaminya pada Rini.
"O, ya. Maaf, suamiku pulang tadi siang, ada meeting mendadak, balik ke Jakarta." jawab Rini.
"Halah, ya ampun, Rin .... Gak bisa liburan, ya?" kata Astuti.
Mereka pun makan sambil ngobrol.
Rini yang dulu waktu SMA merupakan siswi yang cantik, tentu banyak teman-teman yang dekat, terutama para siswa laki-laki. Tidak hanya teman sekelas, bahkan kakak kelas, dan ada juga guru bujang yang mencoba mendekati. Walau usia sudah hampir lima puluh tahun, tapi kecantikannya tidak berubah sama sekali. Maklum, Rini istri orang kaya, uang untuk merawat kecantikan tidak kurang. Tentu malam itu, Rini kembali menjadi pusat perhatian bagi teman-temannya. Maka pangilan-panggilan dari temannya silih berganti untuk menyapa Rini. Apalagi Rini setelah lulus dan menikah, seakan hilang dari peredaran. Bahkan di WA grup saja, ia jarang nongol. Kangen itu yang membuat temannya ingin langsung menyapa Rini.
"Hai, Rin .... Masih ingat sama aku?" ada laki-laki yang menghampiri duduknya.
"Alex ...!" Rini teriak. Tahu laki-laki yang menghampirinya adalah Alex. Dulu Alex ketua kelas, tentu Rini masih ingat betul.
"Hahaha .... Ayo, sini ..., aku kenalkan istriku." Alex menyeret Rini menghampiri wanita cantik yang duduk bersama beberapa orang teman.
"Kayaknya gue kenal sama istrimu ...?!" kata Rini pada Alex setelah diperkenalkan istrinya.
"Siapa, coba, kalau tahu ...." kata Alex menyuruh Rini menebak.
"Pokoknya aku kenal dia, cuman belon konek ke ingatan." sahut Rini.
"Grace, Rin .... Dia ini Grace .... Sudah ingat belum?" kata Anik yang duduk satu meja dengan Alex.
"Grace ...?! Sebentar, sebentar .... Gue mulai ingat. Adik kelas kita dulu, kan?" kata Rini.
"Betul ...." sahut Anik, "Mereka berdua pacaran sejak Grace masuk di kelas satu. Pertama masuk, saat plocoan, langsung digojlog terus sama Alex." lanjutnya.
"Hahaha ...." mereka berempat tertawa bersama.
Handoyo mendekati Rini. Menyeret kursi, duduk di samping Rini.
"Handoyo ...!" teriak Rini sambil memukul pundak Handoyo yang mengagetkan dirinya.
"Hehehe .... Terimakasih ya, Rin, sudah dibantu penyelenggaraan reuni kita." kata Handoyo perlahan di dekat telinga Rini.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Itu suamiku kok yang kemarin nambah deposit panitia." kata Rini yang juga lirih. Hanya Handoyo yang mendengar.
"Pokoknya terimakasih. Salam saya untuk Mas Hamdan, sampaikan terimakasih kami." kata Handoyo selanjutnya.
"Eh, iya, Han ..., kamar saya jangan dihitung. Mas Hamdan sudah bayar empat hari." kata Rini lagi yang menjelaskan kalau kamarnya tidak menjadi tanggungan panitia reuni.
"Oke, thanks. Sudah saya coret dari daftar pesanan. Makasih ya, Rin." begitu kata Handoyo, yang selanjutnya keliling menemui teman-temannya yang lain, menyapa dan mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya yang sudah membantu pelaksanaan reuni.
"Hai, Rini ...!! Sini, kemari ...!" teriak seorang laki-laki memanggil Rini, berdiri dari meja seberang.
"Hai ... Jojon, ya ...!" sahut Rini sambil melambaikan tangannya. Ia masih ingat teman yang memanggilnya. Ya, Jojon, teman sekelasnya yang lucu dan selalu bikin ulah. Tidak ada guru yang lolos dari tangan jahilnya.
Rini berdiri. Lantas melangkah menuju meja Jojon. Ada tiga orang lelaki di meja itu. Yang paling dihapal oleh Rini cuma Jojon, karena kenakalannya.
"Hai ...." sapa Rini yang langsung duduk menghampiri teman-temannya.
"Masih ingat sama aku, nggak?" tanya salah satu temannya.
"Ya masih, lah. Gepeng, kan ...?1 Kamu kok sekarang gemuk banget? Berarti sekarang nggak Gepeng lagi dong." kata Rini yang meledek temannya. Tapi kalau nama, sebenarnya Rini lupa. Hanya panggilannya waktu SMA saja yang dia masih ingat.
"Hehehe ...." tawa orang yang dipanggil Gepeng.
"Lah, kalau ini siapa?" tanya Jojon memberi tebakan pada Rini untuk mengingat teman yang satunya lagi.
Rini menatap temannya, yang ditanyakan oleh Jojon. Teman laki-laki itu diam saja. Bahkan ia mulai tertunduk saat Rini mendekat, dan duduk di sampingnya. Rini hafal betul dengan laki-laki yang menundukkan kepala itu, dari dulu waktu sekolah, ia memang pendiam. Jarang bicara. Dia adalah Yudi. Murid pendiam, tetapi pintar. Wajahnya juga cakep. Lebih tepatnya, tampan. Sampai sekarang, usianya hampir lima puluh tahun, ia masih terlihat tampan dan gagah. Seakan belum berubah dari masa SMA. Bahkan guratan tua juga belum ada. Yudi, masih seperti dulu saat sering belajar bersama Rini.
"Hai, Yudi .... Gimana kabar ...?" kata Rini menyapa Yudi yang tertunduk itu, serta menanyakan kabarnya. Tapi kata-kata yang terucap dari mulut Rini juga serasa berat. Lirih, seakan ada sesuatu yang menyumpal di tenggorokan Rini.
"Aku ambil minum dulu." kata Gepeng yang meninggalkan kursinya.
"O, iya .... Aku juga mau cari buah ...." kata Jojon yang juga meninggalkan Rini dan Yudi. .
Jojon dan Gepeng seakan tahu, ada perubahan sikap dari Yudi, setelah Rini datang mendekat. Makanya mereka berdua pura-pura mengambil makanan, untuk pergi memberi kesempatan kepada Rini berbincang dengan Yudi.
"Yud ..., kenapa kamu diam saja?" tanya Rini yang juga menunduk, untuk melihat wajah Yudi.
"Tidak apa-apa, maafkan saya." jawab Yudi.
Tiba-tiba Yudi berdiri dari kursi duduknya, juga akan pergi.
"Heh ..., Yud, duduk dulu. Aku mau bicara ...." kata Rini menyeret tangan Yudi agar duduk kembali.
"Aku mau ambil buah." Yudi berdalih.
"Sudah diambilkan Jojon. Jon ...! Buahnya dua, ya ...!" kata Rini sambil melambaikan tangan ke Jojon.
Ada degup kencang di dada Yudi. Demikian juga Rini. Tidak seperti saat bertemu dengan teman-teman yang lain, Rini yang tampak begitu supel dan lincah, kini berubah diam dan memendam sesuatu. Tidak seperti tadi, yang menyapa semua temannya dengan senyum dan riang. Tetapi saat ketemu Yudi, Rini menjadi gugup dan bingung. Ada perasaan salah yang menghantui pikirannya.
Demikian juga Yudi. Saat bersama Jojon dan Gepeng, suasananya biasa saja. Makan pun nikmat. Tetapi saat Rini mendekat, tubuhnya tiba-tiba menggigil. Takut dan cemas.
__ADS_1
"Nih, buahnya ...." kata Jojon yang membawakan buah dua piring.
Untung Jojon segera datang. Ada penawar dari rasa berdebar yang menyerang dua orang itu.
"Terimakasih, Jon." kata Rini yang langsung menyeret piring buah untuk dirinya.
"Ini, Yud ..., buahnya. Ayo dimakan." kata Jojon menyodorkan piring berisi buah ke Yudi.
"Terimakasih, Jon." kata Yudi lirih, yang langsung menusuk buah dengan garpu.
"Kasihan Yudi, lho Rin." kata Jojon pada Rini.
"Kasihan gimana ...?" tanya Rini yang penasaran.
"Yudi belum ...." ucap Jojon terputus.
"Sssttt ...! Diam ...!" sergah Yudi yang menutup mulut Jojon.
"Ada apa, sih?" Rini penasaran.
"Ini .... A ..., i ..., u ....!" kata Jojon ke Rini sambil membuat bahasa isyarat dari tangannya.
"Ah, ngapain sih?!" Rini semakin bingung. Tidak bisa menerjemahkan bahasa isyarat yang disampaikan Jojon.
"Yudi gak mau nikah ...." bisik Jojon pada Rini.
"Hah ...?!" Rini kaget. Matanya terbelalak. Dadanya berdegup kencang. Darahnya seakan naik ke kepala semua.
Yudi langsung menutup mulut Jojon. Ia marah karena Jojon menceritakan kelemahannya.
"Maaf, Yud .... Siapa tahu ...." kata Jojon.
Tapi lagi-lagi, Yudi menutup mulut Jojon. Dia ingin Jojon diam saja.
Rini masih terdiam. Belum bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang memandangi Yudi dengan penuh tanda tanya. Pikirannya terguncang saat mendengar Yudi belum menikah.
"Bapak, Ibu, teman-teman semuanya, mohon acara makan malam dipercepat, ya .... Sebentar lagi kita masuk ke ruang pertemuan di aula lantai satu. Acara temu kangen akan segera kita mulai." begitu seru salah seorang laki-laki yang ditunjuk sebagai panitia.
"Siaaap ...!" serentak para alumnus memberikan jawaban.
Rini terselamatkan oleh panitia yang meminta segera menyelesaikan makan. Demikian juga Yudi. ada rasa plong, bisa segera berpindah tempat, tidak terkekang oleh Rini. Tetapi perasaan mereka tidak bisa ditipu. Mereka masih menyimpan berbagai tanda tanya. Terutama Rini yang ingin mengetahui lebih dalam tentang keadaan Yudi saat ini. Benarkah Yudi belum menikah?
Mereka pun lantas bergegas untuk segera menyelesaikan makan malamnya. Acara makan malam yang meriah. Semua senang, sehingga rasa makanan pun menjadi nikmat, enak, mengundang selera. Tanpa terasa semua makanan pun sudah masuk ke piring orang-orang yang ada di ruang restoran hotel tersebut, semua sudah terambil. Dan tentu semua makanan tercicipi, ternikmati, termakan dan ludes.
"Ayo, acaranya pindah di ruang aula ...!"
"Ayo ..., ayo ..., ayo ...!"
"Siaaaap ...!"
__ADS_1
Seluruh peserta bersiap untuk mengikuti acara reuni malam ini. Mengikuti kemeriahan. Mengikuti kegembiraan.
REUNION, KEKANCAN SELAWASE.