
Rasa itu terlalu berat untuk diungkap. Terlalu sulit untuk dikatakan. Terlalu rumit untuk diceritakan. Rini yang harus meninggalkan Yudi, untuk kembali ke Jakarta, pulang menemui keluarga, mengurus suami dan rumah tangganya, benar-benar merasa gelisah. Ada rasa yang membebani dalam dirinya. Ada ikatan yang menahan hatinya untuk tidak pergi. Tentu semua itu karena di rumah Yudi ada wanita cantik berkulit putih, rambut lurus sebahu, bermata sipit. Siapa lagi kalau bukan Yuna, seniman tata bangun ruang, ahli desain eksterior dari Jepang. Wanita yang masih lajang, belum menikah. Dan hari ini, bahkan hari-hari berikutnya, Yuna si wanita cantik itu tinggal di rumah Yudi, bersama Yudi, berdua setiap hari. Wanita mana yang mencintai seorang laki-laki, rela melepaskan kekasihnya itu bersanding dengan wanita lain. Demikian juga Rini. Ia tidak rela jika Yudi akan selalu berdampingan dengan Yuna. Bahkan pernah terbesit dalam pikiran Rini, ingin bercerai dengan Hamdan suaminya, demi bisa menikah dengan Yudi. Tetapi Rini belum gila, ia tidak ingin rumah tangga yang sudah dibangun selama tiga puluh tahun ini hancur gara-gara ada orang ketiga.
"Rini, ayo berangkat. Sudah siang, nanti terlambat." kata Yudi mengingatkan Rini yang akan menuju bandara.
"Hehhh ...." Rini menghela napas panjang.
"Kenapa?" tanya Yudi.
"Aku tidak mau pulang." jawab Rini.
"Lhoh .... Kamu ini bagaimana sih, Rin? Katanya harus segera pulang, sekarang tidak ingin pulang .... Yang benar yang mana?" tanya Yudi yang jadi bingung.
"Aku penginnya di sini terus, nunggui kamu, Yud." jawab Rini.
"Hah?! Rini, kamu punya suami, punya keluarga .... Tidak baik seperti itu, Rin .... Apa kata orang nanti." jelas Yudi.
"Berarti Yudi melarang aku untuk tinggal di sini?!" tukas Rini.
"Bukan begitu, Rin .... Siapa yang melarang? Aku suka, Rin .... Tapi kamu harus ingat, Rin, kamu punya keluarga. Jangan khianati cintanya Mas Hamdan, Rin ...." Yudi semakin bingung dengan sikap Rini.
"Pasti gara-gara wanita Jepang itu!" Rini menuduh.
"Ya ampun, Rini .... Kamu kok seperti itu, sih? Tega ya?" kata Yudi.
Yudi akhirnya pasrah. Diam saja, seperti sikapnya sejak dulu yang pendiam. Ia tidak ingin berdebat dengan Rini. Seperti jaman SMA, setiap kali disuruh-suruh oleh Rini, Yudi selalu menurut saja, tidak protes maupun membantah. Dasar anak pendiam, tidak suka ribut. Tapi kali ini, Rini sudah keterlaluan. Jika Rini belum berkeluarga, masalahnya lain. Tetapi hari ini, saat ini, Rini punya keluarga, Rini sudah bersuami. Yudi tidak mungkin dan tidak ingin merebut istri orang. Yudi tidak ingin menghancurkan keluarga orang lain. Sudah tiga puluh tahun ia memendam cinta yang tidak terkesampaian, tetapi Yudi tidak ingin membiarkan nafsunya menguasai perasaan. Meski Rini sudah begitu dekat, ibarat bunga yang mudah dipetik, tetapi bagi Yudi, ia tidak ingin mengambil yang bukan haknya. Ia tidak mau memanfaatkan kelemahan perempuan. Yudi tidak punya niatan merebut Rini yang pernah tinggal di hatinya. Rini milik orang lain, bukan diperuntukkan bagi dirinya, meski Yudi tetap mencintainya. Seperti itulah baiknya seorang laki-laki yang bernama Yudi. Laki-laki yang sanggup menumbuhkan cinta philia tanpa mengumbar cinta eros. Itulah sebabnya, maka Yudi banyak teman walau pendiam.
"Ah, kenapa juga kemarin ada reuni? Mengapa juga aku ikut-ikutan reuni? Gara-gara reuni diriku jadi terlibat masalah. Ach ..., reuni ..., reuni. Aku benci dengan reuni." begitu yang berkecamuk di benak Yudi.
Akhirnya Yudi meninggalkan Rini sendirian di kamarnya. Yudi jengkel, emosi. Kalau mengurusi Rini terus-terusan yang selalu marah, selalu ngambek, selalu cemburu, tentu mengganggu pekerjaan yang harus dilakukan oleh Yudi.
"Biarlah, Rini marah dulu. Toh nanti kalau sudah sadar juga akan baik sendiri." begitu gumam Yudi sambil pergi meninggalkan Rini.
"Yudi!" Rini memanggil Yudi, setelah tahu Yudi meninggalkannya.
"Apalagi?" tanya Yudi yang sudah tidak terlalu memperhatikan Rini.
__ADS_1
Rini berdiri dari tempat tidur, lantas mengangkat kopernya. Kemudian membenarkan pakaian yang dikenakan agar rapi. Mengambil sisir, lantas menyisir rambutnya di depan cermin.
"Antar aku pulang." kata Rini yang sudah tersenyum pada Yudi.
"Katanya tidak mau pulang ...." ledek Yudi.
"Uuh .... Sebel. Bikin aku jengkel lagi!" sahut Rini.
"Ya, ayo .... Pesawat jam berapa?" tanya Yudi yang siap mengantar.
"Jam sepuluh. Check in sebelum jam sembilan, ya. Masih bisa?" kata Rini.
"Semoga saja jalanan tidak macet. Cepetan dikit. Ini hari senin, ramai. Makanya segera saja. Aku juga mau mampir kantor sebentar, absen dan ijin dulu." jawab Yudi.
"Ih, ke kantor? Kantor apa? KUA?" Rini sempat meledek, tentu sudah tersenyum lebar.
"Memangnya aku ini pengangguran? Walau tampang saya seperti gelandangan, gini-gini pegawai, Rin." kata Yudi sambil menyeret koper Rini.
"Good morning, Yuna ...." sapa Yudi pada Yuna yang sudah menghadapi laptop di gasebo belakang.
"Hi, good morning. Where are you going?" balas Yuna yang melihat Yudi bersama Rini.
"Rini will come home? Ooh .... I will miss you." kata Yuna yang langsung berdiri dan memeluk Rini. Tanda perpisahan.
"Sampai ketemu lagi, Yuna." kata Rini pada Yuna.
Lantas Rini dan Yudi masuk mobil. Menjalankan mobil perlahan, keluar melintasi jalan kampung, menuju Jalan Parang Tritis Bantul. Setelah berhenti sebentar di kantor Yudi, mobil itu berjalan lagi menuju Bandara YIA.
Ya, kebiasaan senin pagi, jalanan macet di mana-mana. Motor maupun mobil memenuhi jalan raya. Semua warga beraktivitas. Mulai dari orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah, pelajar-pelajar yang mengendarai kendaraan sendiri, para pekerja pabrik hingga kantoran, masih ditambah sepeda ontel yang para pedagang sayur yang berlalu-lalang keluar masuk pasar. Ramai. Tapi tentu tidak seramai jakarta yang selalu macet total.
Yudi menyetir perlahan dan hati-hati. Melintas di jalur selatan, musuhnya adalah truk-truk muatan berat. Harus waspada dan sabar. Jangan terburu-buru, nyalip sana nyalip sini, srobot kanan srobot kiri, itu berbahaya, bisa menyebabkan kecelakaan. Orang Jogja harus sabar.
Seperti biasa, Rini adalah ratu, yang harus bermanja pada rajanya. Begitu mobil berjalan, ia hanya memandangi Yudi yang sedang menyopir. Tidak mau melepaskan tatapannya. Tentu wanita itu mengagumi laki-laki kesayangannya. Apalagi menyaksikan Yudi yang bisa berkomunikasi dengan enjoi kepada orang asing, bisa membuat rancangan-rancangan yang menarik, karya-karya seni yang artistik, semuanya membuat Rini terkagum. Sungguh pintar laki-laki itu.
Namun disisi lain, Rini hanya bisa pasrah, manakala ia sadar jika dirinya tidak bisa memiliki Yudi sepenuhnya. Yudi adalah temannya. Yudi adalah anak pendiam yang pernah mengguncang hatinya saat SMA. Yudi adalah anak pintar yang selalu membantu PR dan tugas-tugasnya. Tidak menyangka jika Yudi kini menjadi laki-laki hebat, laki-laki berkarakter kuat, laki-laki yang penyayang tanpa pamrih, laki-laki yang penuh sensasional. Rini jadi merasa bersalah, merasa keliru, merasa kecewa saat harus memilih suami yang kaya raya.
__ADS_1
"Ah, tidak. Aku tetap mencintai suamiku. Aku tidak boleh mengecewakan Mas Hamdan. Aku tidak boleh menghancurkan keluargaku. Benar apa yang dikatakan Yudi, aku harus pulang, tidak boleh berlarut-larut terjerembab dalam pusaran cinta yang tidak mungkin tergapai. Aku miliknya Hamdan, bukan milik Yudi." begitu kecamuk pikiran yang menyadarkan Rini.
"Kok melamun?" tanya Yudi yang sedang menyetir.
"Eh, enggak ...." sahut Rini yang malu ditegur Yudi.
"Kelihatan, kok." kata Yudi.
"Maafkan aku ya, Yud." kata Rini.
"Memang kenapa?" tanya Yudi.
"Aku terlalu memaksamu." jawab Rini.
"Aah, tidak apa-apa ...." sahut Yudi.
"Yudi, boleh aku jujur? Rasanya terlalu berat meninggalkan Jogja. Rasanya terlalu berat meninggalkan dirimu. Tapi apa yang Yudi katakan, aku punya keluarga, aku punya suami ..., itu benar, Yud. Tetapi aku sangat takut kehilangan dirimu. Aku takut jika ...." Rini berhenti, tidak melanjutkan kata-katanya. Lantas meneteskan air mata.
"Rini ..., berapa kali harus saya katakan, cinta itu tidak harus memiliki. Cukup memberikan kasih sayang, itu lebih indah. Jangan ada cemburu, jangan ada dusta. Itu saja. Maka kita akan saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi. Nyaman, tenteram dan damai. Cinta itu indah, Rin. Tidak untuk bertengkar, tidak saling menipu, tidak saling menang, tidak saling menjatuhkan, dan tidak saling menguasai. Buanglah egomu. Bangunlah cinta dengan pondasi kasih sayang, maka dinding kepercayaan itu akan kuat, dan tentunya atap kebahagiaan itu akan langgeng." ceramah Yudi pada Rini.
"Terima kasih, Yud .... Aku akui, diriku benar-benar bernafsu untuk memilikimu, tanpa sadar jika itu akan menyakitimu." kata Rini yang masih meneteskan air mata, lantas membenamkan pipinya yang basah di bahu Yudi.
Mobil Yudi sudah masuk ke gedung parkir bandara. Yudi turun dari mobil, membuka bagasi dan mengambil koper Rini. Demikian juga Rini yang turun. Lantas mereka berdua berjalan menuju pintu pemberangkatan. Ada yang aneh kali ini, yaitu Rini tidak lagi menciumi Yudi. Mungkin dia sadar, jika Yudi memang bukan miliknya.
"Sudah sampai, Rin. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Silakan masuk untuk Check in." kata Yudi di depan pintu keberangkatan.
"Iya, Yud .... Terimakasih sudah mencintaiku. Walau sebenarnya berat bagiku untuk meninggalkan Jogja." kata Rini pada Yudi.
"Rin ...."
Yudi memegang kedua bahu Rini, lantas mencium kening Rini. Lembut dan mesra.
Rini memejamkan mata. Sekali lagi, ia merasakan kasih sayang dari Yudi yang benar-benar tulus.
"Selamat jalan, Rini. Hati-hati, ya." kata Yudi sambil melepas tangannya.
__ADS_1
"Iya, Yud. Aku merindukanmu selalu." sahut Rini yang langsung mendorong kopernya menuju tempat pemeriksaan, kemudian melangkah ke tempat check in.
Rini melambaikan tangan, yang disambut oleh lambaian tangan Yudi.