KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 130: CURHATAN MAMAH


__ADS_3

    Silvy sudah bersama ibunya sejak jam tiga sore. Setelah ibunya menelepon, meminta Silvy untuk datang ke rumah, dan di kantor pekerjaan sudah beres, maka Silvy langsung menuju rumah ibunya. Nanti malam suaminya setelah pulang kerja akan mampir menjemput. Mereka berdua, anak dan ibu itu mengobrol di ruang keluarga, tentu sambil menyalakan televisi agar suaranya tidak didengar oleh Mak Mun maupun Mang Udel.


    "Silvy, kamu sudah dewasa, sudah berkeluarga, sudah punya suami .... Mamah berharap pikiranmu terbuka, tidak sempit. Jangan sampai Silvy kaget dengan suatu kejadian dalam rumah tangga." kata Rini mengawali cerita pada anaknya.


    "Memang ada apa, Mah ...?" tanya anaknya.


    "Silvy, seandainya Papah kamu menceraikan Mamah, kira-kira Mamah harus bagaimana?" kata Rini yang langsung menyampaikan permasalahan dengan anaknya.


    "Lhoh, kok begitu sih, Mah ...? Memangnya ada apa?" tanya Silvy.


    "Huuuhf ...." Rini menghela napas panjang.


    "Memang Papah mau menceraikan Mamah?" tanya Silvy pada ibunya.


    "Seandainya ...." sahut Rini.


    "Kok Mamah berpikirnya yang jelek-jelek? Ganti berpikir yang baik saja, Mah ...." kata Silvy yang memprotes ibunya.


    "Tapi Papah kamu keterlaluan, Silvy .... Masak video call sama Mamah, dia malah pamer disuapin sama si pelakor itu. Dasar wanita kurang ajar ...!" sahut Rini yang tentu dengan nada marah jika ingat kejadian itu.


    "Masak sih, Mah ...?!" kata Silvy yang penuh tanda tanya, dan tentu tidak percaya.


    "Iya .... Tadi siang, saat Mamah video call sama Papah, eeh ..., perempuan pelakor itu nyuapin makan ke Papah kamu ...! Apa itu namanya Papah kamu tidak ingin membunuh Mamah kamu ...!" Rini semakin emosi, kembali terusik dengan peristiwa suaminya disuapi sama perempuan yang tidak lain adalah karyawatinya.


    "Terus ...?!" tanya Silvy.


    "Begitu papahmu saya tegur ..., eee ..., HP langsung dimatikan .... Berarti benar, kan ...?! Saya telepon lagi, terus tidak mau ngangkat. Dasar!!" kata Rini yang jengkel.


    "Yang sabar, Mah .... Kan kita belum tahu yang sebenarnya." kata Silvy menyabarkan ibunya.


    "Itu sudah jelas, Silvy ...!" sergah ibunya.


    "Maaah .... Jangan begitu dulu dong, Mah .... Bisa jadi Papah dijebak. Pelakor itu sengaja memanas-manasi Mamah, biar hubungan Papah dan Mamah retak, lantas dia yang akan memancing di air keruh. Enakan pelakor itu kan, Mah ...." jelas Silvy, lagi-lagi agar mamahnya tenang.


    "Tetapi kenapa Papah kamu tidak mau mengangkat panggilan Mamah lagi?" kata Rini.


    "Mah ..., mungkin Papah sedang sibuk kerja ...." Silvy memberi alasan pada ibunya.


    "Ya nggak, lah ...! Orang tadi pagi baru sarapan, di sana masih jam tujuh. Papah kamu yang pamer makanan .... Ternyata malah pamer suap-suapan. Bikin kesal!" kata Rini yang masih ingat betul peristiwanya.


    "Masak sih, Mah ...?" Silvy masih tidak percaya.


    "Iya ..., bener ...!" sahut ibunya.


    "Terus, Mamah gimana?" tanya Silvy.


    "Ya nangis, lah .... Kalau gak percaya, tanya sana sama Mak Mun ...." kata Rini.


    "Lhoh, memang Mak Mun tahu?!" tanya Silvy.

__ADS_1


    "Nggak, sih .... Tapi waktu Mamah menangis di kamar, yang nolongin Mak Mun .... Memijitin kaki Mamah, sama menenangkan. Untung ada Mak Mun ..., kalau tidak, mungkin Mamah sudah pingsan lagi. Hehe ...." kata Rini yang mulai bisa tersenyum.


    "Ih, Mamah .... Itu namanya manja." ejek Silvy.


    "Habis mau gimana lagi ...? Sakit hati, Silvy ...!" sahut ibunya.


    "Iya, sih .... Tapi kalau seperti itu namanya malah menyengsarakan diri sendiri, Mah .... Mamah harus kuat, Mamah harus tabah, Mamah harus yakin tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Mamah harus tegar." sahut Silvy.


    "Mamah sakit hati, Silvy .... Kamu belum tahu rasanya disakiti orang sih ...." kata Rini.


    "Iya, Mah ..., maafkan Silvy ...." kata Silvy yang langsung nglendot ke tubuh ibunya.


    "Tapi apa  perempuan itu mau, Mah ...? Kan Papah udah punya keluarga, Papah udah tua ...." tanya Silvy.


    "Silvy, perempuan sekarang itu yang penting uangnya, hartanya .... Pelakor itu cuman mementingkan uangnya .... Kalau laki-laki uangnya banyak, meski tua gak urusan .... Bila perlu malah milih laki-laki yang sudah mau mati, nanti dapat warisan banyak ...." kata Rini.


    "Ih, matre .... Masak Papah mau kayak gitu ...." kata Silvy.


    "Tapi faktanya .... Papah kamu berangkat ke Jerman saja minta ditemani pelakor kayak gitu, apa di kantor Papah kamu tidak ada orang lain yang lebih mampu?" kata Rini lagi.


    "Iya ya, Mah .... Kenapa juga Papah memilih perempuan jomblo itu?!" Silvy mulai ragu.


    "Ya, itu ..., Papah kamu sudah mulai macam-macam. Apa Mamah ini sudah membosankan? Sudah tidak cantik? Sudah tua? Sudah keriput semua?" Rini mulai emosi lagi.


    "Apa mungkin begitu? Tapi, tidak ah .... Mamah masih cantik .... Kalau dibanding sama wanita jomblo yang diajak Papah itu, menurut Silvy malah lebih cantikan Mamah ...." puji Silvy pada ibunya.


    "Iya, Mah .... Bener .... Mamah lebih mulus, kulitnya masih halus, tubuh juga masih kencang ..., wajahnya aja lebih glowing Mamah ...." kata Silvy meyakinkan.


    "Kalau misal itu memang benar, terus Mamah harus bagaimana untuk menghadapi Papah kamu?" tanya Rini pada anaknya.


    "Maksud Mamah pelakor itu ...?! Mah, itu kan baru prasangka .... Ya nanti kalau Papah sudah pulang, kita tanyai bagaimana yang sebenarnya. Bila perlu kita sidang." jawab Silvy.


    "Kalau Papahmu mengakui?" tanya ibunya.


    "Ya nanti kalau memang Papah mengakui itu semua, kita eksekusi ..., maunya Papah apa?" jawab Silvy lagi.


    "Kalau Papah kamu maunya kawin lagi sama si pelakor itu?" tanya ibunya lagi.


    "Waduh ...?! Jangan, Mah .... Terus nanti Silvy dapet mamah tiri pelakor itu ..., gak mau ...!!" sahut Silvy yang langsung tidak setuju.


    "Sekarang, caranya bagaimana agar Papah kamu tidak kecantol wanita pelakor itu ...?!" tanya Rini yang semakin khawatir.


    "Kita serang bersama-sama, bila perlu dengan Mas Yayan .... Pasti Papah kalah." kata Silvy yang sudah siap menyerang ayahnya.


    "Betul, lho ya ...." kata Rini yang juga siap melawan.


    "Iya, Mah .... Pokoknya kita harus kompak." jawab Silvy.


    "Tapi kalau kita kalah ...?!" Rini mulai ragu.

__ADS_1


    "Maksud Mamah?!" tanya Silvy.


    "Mamah khawatir ...." kata Rini.


    "Khawatir kenapa?" tanya Silvy.


    "Nanti kalau Papahmu langsung menikah dengan wanita pelakor itu ...?!" kata Rini yang semakin ketakutan.


    "Mah ..., jangan mikirin yang enggak-enggak lah, Mah ...." kata Silvy.


    "Huk ..., huk ..., huk ..., Silvy .... Mamah takut, sayang ...." Rini menangis lagi, sambil memeluk anaknya.


    "Mah ..., jangan gitu dong, Mah .... Silvy jadi ikutan sedih, nih ...." kata Silvy yang ikut menangis menyaksikan kesedihan mamahnya.


    Saat ibu dan anak itu menangis berpelukan, ada orang datang masuk ke rumah yang sampai tidak mereka ketahui.


    "Lhoh, ini pada ngapain, sih ...?! Kok pada pelukan sambil nangis ...?! Memangnya ada apa, Silvy ..., Mamah ...?!" Yayan yang baru datang, tentu kaget menyaksikan istri dan ibu mertuanya berpelukan sambil menangis.


    Yah, Yayan yang masuk tiba-tiba dan langsung menuju ruang keluarga, tanpa diketahui oleh istri dan mertuanya. Tentu dua wanita ibu dan anaknya itu kaget saat tahu Yayan sudah berdiri di hadapannya.


    "Eh ..., Mas Yayan .... Nggak papa, kok ...." Rini yang kaget dengan kedatangan menantunya, langsung melepas pelukannya dengan Silvy, serta mengusap air matanya.


    "Mas Yayan sudah dari tadi? Kok saya nggak tahu kalau Mas Yayan datang?" tanya Silvy pada suaminya.


    "Bagaimana kamu tahu, orang pada berpelukan gitu .... Ada orang masuk ya gak tahu, lah ...." sahut Yayan yang sudah duduk di hadapan istri dan mertuanya itu.


    "Hehe .... " Silvy nyengenges ke suaminya.


    "Memang ada apaan, sih ...?!" tanya Yayan yang juga penasaran.


    "Nggak ada apa-apa, kok ...." sahut Silvy.


    "Yakin nggak ada apa-apa ...?! Ya sudah .... Nanti atau besok, kalau ada apa-apa saya nggak mau ikut-ikutan .... Bener lho ya, nggak ada apa-apa ...." kata Yayan yang mencoba menakuti istrinya.


    "Eh, jangan gitu dong, Mas ...!" sergah Silvy.


    "Lhah, katanya nggak ada apa-apa .... Ya sudah ...." sahut Yayan santai.


    "Begini lho, Mas Yayan ..., Mamah itu kan sudah tua ..., Papah juga sudah tua, malah sebentar lagi pensiun .... Trus kalau Papah kalian tidak betah tinggal di sini, di Jakarta yang biaya hidupnya tinggi banget ..., terus bagaimana? Biaya hidup kami bagaimana?" kata Rini yang berusaha menutupi rahasianya.


    "Iya, Mas ..., Mamah khawatir Papah akan sok .... Pensiunnya Papah itu cuman dapat uang kompensasi saja lho, Mas ...." tambah Silvy yang juga menutupi rahasia ibunya.


    "Halah ..., kayak gitu kok dipikirin .... Burung pipit yang tidak pernah menanam padi saja bisa hidup, kok manusia yang punya akal pikiran malah bingung .... Nggak usah dipikirin .... Kalau nggak betah hidup di Jakarta ya besok pindah ke Jogja, malah lebih mengasyikkan. Mamah bisa buka butik di Pasar Seni. Enak kan ...." kata Yayan yang memberi gambaran kepada mertuanya.


    "Eh, iya ya .... Kenapa nggak kepikiran tadi .... Hehe ..., terima kasih masukannya Mas Yayan ...." sahut Rini.


    "Iya, Mah .... Hahaha ...." timpal Silvy yang langsung tertawa.


    Anak dan ibu itu tertawa gembira. Tentu karena sudah bisa meyakinkan suami atau menantu yang bisa dibohongi dengan menutupi rahasianya. Ini rahasia antara ibu dan anak perempuannya, bukan untuk menantu atau suami.

__ADS_1


__ADS_2