
Yayan sudah terlalu cepat saat mengendarai mobilnya. Namun serasa mobil itu masih terasa lambat. Jalan tol yang sudah lebar dan halus itu, seakan masih belum leluasa untuk melajukan kendaraannya. Udara AC yang sudah dibesarkan dalam mobilnya, serasa masih panas, sehingga keningnya masih meneteskan keringat.
"Kurangi kecepatan, Yan .... Tidak usah tergesa." kata Ibunya mengingatkan. Berkali-kali ibu mertuanya mengingatkan Yayan agar berhati-hati.
"Iya, Mah ...." jawab Yayan.
"Memang ngapain sih, Mah ...?! Kok terburu pulang ...?!" tanya Silvy yang duduk di depan menemani suaminya.
"Mak Mun telepon, kita disuruh segera pulang ...." jawab Rini yang sudah mulai tenang.
"Iya ..., disuruh pulang itu ngapain ...?!" tanya Silvy lagi.
"Paling-paling Papah kamu rewel ...." jawab Rini sekenanya.
"Ih ..., dasar laki-laki tua .... Diajak tidak mau, ditinggal marah-marah .... Payah!" Silvy ngedumel. Tentu karena jengkel acaranya diganggu.
"Jangan begitu, Silvy .... Bagaimanapun, dia itu Papah Kamu ...." sahut ibunya.
"Iya, sih .... Tapi kalau begini kan keterlaluan, Mah .... Masak kita baru mau makan-makan hidangan pesta pernikahan yang khas Jogja, malah disuruh pulang." kata Silvy lagi.
"Pelan-pelan, Mas Yayan .... Tidak usah tergesa ...." kata Rini, lagi-lagi mengingatkan menantunya.
"Iya, Mah .... Kalau hanya pulang saja, ya nggak usah tergesa. Saya kira tadi ada apa ...." jawab Yayan.
"Iya ..., santai saja. Ngapain tergesa ...." sahut Rini.
"Mamah, sih .... Tahu begini, tadi gak usah pulang saja. Enakan nungguin doorprize ..., siapa tahu dapat hadiah." protes Silvy.
"Jangan begitu .... Tidak baik. Apapun yang sekarang terjadi pada Papah, kita tetap harus menghormati." kata Rini menenangkan anaknya.
"Iya ..., tapi kan jadi kacau .... Mana upacara pernikahan belum selesai, Mamah juga gak jadi ketemuan sama teman-teman Mamah .... Belum lihat kethoprak, lagi .... Huh ..., menjengkelkan." Silvy merasa kecewa.
"Besok lain waktu kan kitabisa lihat lagi ...." Rini menghibur anaknya.
"Pokoknya, nanti sampai rumah, kita marahin Papah ...!" kata Rini mengancam.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini berdering.
"Ada telepon, Mah ...." kata Silvy memberi tahu ibunya.
"Iya ..., sebentar ...." jawab Rini yang langsung mengeluarkan HP dari dalam tasnya.
"Dari siapa, Mah ...?" tanya anaknya lagi.
"Telepon rumah .... Paling-paling Mak Mun." jawab Rini yang langsung mengangkat panggilan telepon.
"Halo, Mak Mun ...." Rini langsung menyapa penelepon, yang dipastikan Mak Mun, pembantunya.
"Iya, Ibu Rini .... Ibu sudah pulang ...?" suara Mak Mun menanyakan majikannya.
"Sudah .... Ini sudah masuk tol ..., tol mana, ini Mas Yayan ...?" Rini yang tengak-tengok mencari tahu nama daerah.
__ADS_1
"Sudah sampai tol Kendal - Pekalongan, Mah ...." jawab Yayan yang menyetir.
"Sudah mau sampai Pekalongan, Mak Mun .... Tidak usah khawatir ...." jawab Rini setelah tahu lokasinya.
"Iya, Ibu .... Hati-hati, tidak usah ngebut ...." jawab Mak Mun yang malah menasehati majikannya.
"Iya ...." jawab Rini yang selanjutnya mematikan HP-nya.
Rini kembali memasukkan HP ke dalam tas. Lantas mengambil botol air mineral, meneguk cukup banyak. Pasti dalam hati Rini, sebenarnya juga sangat kesal mengalami perlakuan semacam ini. Rini baru sadar, ternyata suaminya sangat cemburu dengan Yudi. Sampai kondangan saja disuruh cepat-cepat pulang. Sungguh keterlaluan.
"Tapi kok aneh ya, Mah .... Papah kok suruhan Mak Mun telepon Mamah. Kenapa Papah tidak ngomong sendiri?" tanya Silvy yang aneh melihat tingkah ayahnya.
"Ya ..., siapa tahu Papah kamu masih marah sama mamah ..., terus, gak mau ngomong sendiri sama Mamah ...." jawab ibunya.
"Iya, juga sih .... Tapi kenapa juga tidak bicara ke Silvy?" tanya Silvy lagi.
"Pasti juga malas ngomong sama Silvy, karena anak kesayangannya sudah berani membantah." sahut Rini.
"Betul juga .... Jadi Papah marah kepada kita semua, sampai tidak mau ngomong sama sekali ...." kesimpulan Silvy.
"Mas Yayan, nyetirnya jangan dipaksa .... Kalau capai atau mengantuk, istirahat dahulu. Bila perlu kita cari hangat-hangat untuk mengisi perut." Kata Rini mengingatkan Yayan yang menyetir.
"Iya, Mah .... Nanti di rest area kita istirahat, sambil mendinginkan mesin." jawab Yayan.
"Kalau capai aku gantiin, Mas ...." sahut Silvy, yang tentu siap menggantikan suaminya kalau cuman nyetir di tol, tidak sulit karena tidak ada macet.
"Sudah, Sayang .... Kamu duduk saja di situ menemani aku." jawab Yayan, yang tentu tidak tega membiarkan istrinya nyetir.
Langit barat sudah mulai berubah warna. Matahari sudah jauh bergeser dari puncaknya. Pertanda hari sudah masuk dalam kategori sore. Yayan sudah melewati gerbang tol Cikampek, selanjutnya memasuki tol Kota. Yayan sudah sampai Jakarta.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini kembali berdering.
Rini kaget. Lantas terbangun dari tidurnya. Lantas tangannya mengambil HP, mengangkat panggilan telepon. Lagi-lagi panggilan dari rumah. Pasti Mak Mun yang kembali memanggil.
"Halo ...." kata Rini saat mengangkat telepon.
"Ibu Rini ..., ini saya, Mak Mun ...." suara Mak Mun menjawab telepon agak grogi.
"Iya, Mak Mun .... Bagaimana ...? Ada apa ...?" tanya Rini.
"Ibu sudah sampai mana ...?" tanya Mak Mun.
"Sebentar ..., sampai mana ini Mas Yayan ...? Kok sudah ramai banget?" tanya Rini pada menantunya yang menyetir.
"Ini kita sudah mau masuk tol kota, Mah .... Sudah masuk Jakarta ...." jawab Yayan.
"Sudah mau masuk Jakarta, Mak Mun ...." jawab Rini pada Mak Mun.
"Ibu ..., ini ada yang mau bicara sendiri dengan Ibu Rini ...." kata Mak Mun.
"Halo .... Ibu Rini ...." suara telepon sudah berubah suara laki-laki. Tegas dan berwibawa.
__ADS_1
"Iya ..., betul .... Ini siapa, ya ...?" tanya Rini yang bingung.
"Halo, Ibu Rini ..., saya petugas dari Kepolisian, tentu menunggu Ibu ...." kata suara laki-laki itu.
"Hah, ada apa ya, Pak ...?" tanya Rini yang tentu menjadi kaget.
"Tenang, Ibu Rini .... Tidak apa-apa, hanya ada sedikit kecelakaan pada Pak Hamdan. Ibu tidak usah khawatir, kami sudah membantunya." suara laki-laki itu memberitahu Rini.
"Terus ..., suami saya bagaimana?! Sekarang ada di mana?!" tanya Rini yang tentu terkejut mendengar berita itu.
"Bapak sudah dirawat di rumah sakit. Kami menunggu Ibu Rini untuk mengajak Ibu melihat Bapak Hamdan di rumah sakit." kata orang yang mengaku petugas Kepolisian itu.
"Kenapa, Mah?" tanya Yayan yang sedikit mendengar suara telepon mamahnya.
"Papah kamu kecelakaan." sahut Rini.
"Kalau begitu, kita langsung ke rumah sakit saja, Mah ...." usul Yayan.
"Maaf, Pak .... Kalau boleh tahu, suami saya dirawat di mana? Saya akan langsung menuju rumah sakit." kata Rini yang menanyakan posisi suaminya.
"Maaf, Ibu Rini .... Ibu tetap harus pulang dahulu. Ada yang harus saya tanyakan dahulu di rumah. Nanti kita berangkat bersama dengan kedua pembantu Ibu." kata petugas kepolisian tersebut.
"Iya, Pak .... Ini kami sudah dekat. Sebentar lagi kami sampai di rumah." kata Rini menurut saja.
"Terima kasih, Ibu Rini. Sampai ketemu nanti." jawab laki-laki itu yang mengakhiri teleponnya.
"Uuhf .... Ada apa sih, ribut-ribut ...?!" Silvy menggeliat, bangun dari tidurnya.
"Bangun ..., sudah mau sampai ...." kata suaminya yang menyuruh Silvy bangun.
"Hah ...?! Sudah sampai ...?! Kok cepat sekali?" Silvy langsung mendongakkan kepalanya, melihat jalanan di depannya.
"Ya cepat lah ..., orang kamu tidur terus ...." ejek suaminya.
"Lhoh, katanya mau mampir rest area ..., mau makan, minum, istirahat .... Gimana, sih?!" protes Silvy.
"Lha kalau Mak Mun telepan-telepon terus ..., kenapa harus berhenti. Apalagi penumpangnya tidur semua .... Selagi bisa jalan cepat, ya jalan terus lah ...." sahut Yayan yang menyetir, tentu dengan kecepatan tinggi.
"Nyopirnya kalang kabut, ya ...?!" tanya istrinya.
"Hehe ...." Yayan nyengenges. Tentu Yayan sudah menyetir kalang kabut kencangnya.
"Mamah juga tertidur, kok Sayang .... Kalau tidak ada telepon, pasti gak terbangun." sahut ibunya.
"Mak Mun telepon lagi?" tanya Silvy.
"Iya ...." jawab ibunya.
"Ngapain sih, telepon melulu ...?!" kata Silvy lagi.
"Papah kamu kecelakaan." jawab Rini yang tetap mencoba tenang. Walau sebenarnya, penuh tanda tanya, karena di rumah sudah ditunggu oleh polisi.
__ADS_1
"Pantesan, nyopirnya jadi kalang kabut." gumam Silvy.