
Rini tidak bisa memungkiri jika dirinya memang jatuh cinta pada Yudi. Meski usia mereka sudah tua, tetapi rasa cinta itu tidak mungkin bisa untuk disingkirkan dari hatinya. Terutama saat tahu betapa Yudi begitu baik terhadap warga Kampung Nirwana. Yudi bukan kyai, bukan pendeta, atau apapun sebutannya untuk orang-orang yang menjadi tangan panjang Tuhan. Tetapi menyaksikan tingkah dan sikap Yudi yang begitu baik, memberikan harta benda serta uangnya untuk kemakmuran orang-orang di sekitarnya, menyejahterakan warga Kampung Nirwana, perlakuan Yudi yang betul-betul tanpa pamrih, siapa orangnya yang tidak setuju kalau Yudi dikatakan sebagai orang baik. Seluruh warga Kampung Nirwana sangat setuju kalau Yudi adalah orang baik.
Ingin rasanya bagi Rini untuk selalu dekat dengan Yudi. Manusia yang tidak butuh harta benda itu, tetapi Tuhan justru melimpahkan rezeki yang sangat berlimpah-limpah dalam kehidupan Yudi. Bukannya Rini berniat atau tertarik untuk memiliki harta Yudi. Bukannya Rini tertarik dengan kemewahan harta Yudi. Toh faktanya, Yudi hidup sangat sederhana. Yudi tidak pernah memamerkan harta kekayaannya. Bahkan Yudi jarang memegang uang dalam jumlah berlebih. Bagi Yudi, tidak pantas pamer harta kepada orang lain.
Rini benar-benar kagum dengan sikap dan perilaku Yudi yang sangat mementingkan kebutuhan orang lain itu. Terutama kebutuhan warga Kampung Nirwana yang memang masih butuh pemberdayaan dari Yudi. Pantas kalau Rini sering mendengar kata-kata Alex, sahabatnya yang sering menyebut Yudi itu sebagai manusia setengah Dewa.
Rini lebih kagum pada Yudi, manakala Rini sudah pasrah saat didekap Yudi, ibarat kata mau diperlakukan seperti apa saja Rini pasti akan menuruti kemauan Yudi, namun ternyata Yudi tidak mau melakukan hal-hal di luar kemauannya. Yudi tetap masih menjaga etika cintanya. Meski sebagai seorang laki-laki yang baru saja kehilangan istri saat asmaranya sedang membara, tetapi Yudi masih sanggup mengendalikan emosi cintanya. Sikap seperti itu yang justru dikagumi oleh Rini.
"Ya ampun ..., Yudi .... Kamu itu laki-laki, tapi kok aneh .... Tidak seperti laki-laki lain yang begitu melihat wanita langsung ingin melampiaskan hasrat laki-lakinya. Ibarat orang bilang, seperti kucing yang melihat ikat asin pasti akan langsung ditubruk. Mas Hamdan yang sudah lebih tua saja masih sanggup mencari daun muda dan sanggup melayaninya, tapi Yudi ini sungguh orang aneh .... Aku sangat kagum pada pendirianmu, Yudi ...." gumam Rini di atas tempat tidurnya, saat melamun menjelang tidur.
"Semoga saja nanti dalam tidurku, saya bisa bermimpi ketemu dirimu, Yudi .... Terus terang saya ingin kamu selalu ada di sisiku, Yudi .... Setidaknya, dirimu bisa menjadi contoh kebaikan dalam hidupku." tentu Rini sangat berharap dapat hidup berdampingan dengan Yudi.
Rini tersenyum. Lagi-lagi lamunannya selalu membayangkan bagaimana dirinya selalu bersama Yudi. Lamunan itu terus terajut dalam angannya, hingga akhirnya lamunan-lamunan itu terbawa dalam tidurnya. Mimpi indah bersama Yudi.
*******
Pagi itu para tukang sudah memulai menggarap Pasar Rakyat. Yudi bersama Pak Lurah sudah hadir di tempat yang akan dibangun Pasar Rakyat tersebut. Tak ketinggalan Pak Modin ikut hadir di situ. Pagi itu akan ada acara selamatan. Adat Jawa yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu melakukan pemanjatan doa, meminta keselamatan dalam melaksanakan pembangunan. Tradisi orang Jawa yang harus dilakukan di setiap memulai pekerjaan. Tidak hanya mendirikan bangunan, bahkan saat mulai mencangkul sawah pun juga ada acara selamatan. Ya, acara selamatan identik dengan permohonan berkah kepada Sang Yang Maha Kuasa, agar nantinya dalam melaksanakan pekerjaan senantiasa dilindungi keselamatannya, serta memperoleh hasil yang baik dan menggembirakan. Itulah makna upacara selamatan yang dilakukan di Kampung Nirwana. Setidaknya, nanti dalam melaksanakan pembangunan Pasar Rakyat, para tukangnya akan selamat, tidak mendapat gangguan, dan besok kalau sudah jadi Pasar Rakyat ini akan memberikan rezeki bagi para pedagangnya.
Tiga orang tukang bersama Wawan sang mandor, menurunkan tumpengan dari dalam mobil Wawan yang baru datang. Ada satu tumpeng besar yang diangkat tiga orang tersebut, langsung dibawa ke tengah, tempat di mana Yudi, Pak Lurah dan Pak Modin sudah bersila di sana. Selanjutnya Wawan meminta para tukangnya untuk mengangkat piring serta minuman dan makanan lainnya, agar dibawa serta ke tengah rencana bangunan. Sedangkan Wawan mengangkat kendi kecil dan bungkusan kembang sesaji.
Setelah cukup, semua yang dibawa sudah berada di tengah rencana bangunan pasar, para tukang pekerja itu semua berkumpul, mengelilingi tumpeng. Tentu bersama Pak Lurah, Yudi dan Pak Modin. Acara selamatan dimulai. Pak Modin yang memimpin doa. Sedangkan Pak Lurah, Yudi, Wawan serta para pekerja bangunan mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan.
"Saudara-saudara semua, dengan kita memanjatkan doa kepada Allah, semoga apa yang menjadi niatan kita semua dikabulkan oleh Allah. Semoga dalam pembangunan Pasar Rakyat Kampung Nirwana ini berjalan lancar, tanpa ada risiko dan halangan dalam bentuk apapun. Semoga semua pekerjaan diberi kemudahan, tukang-tukangnya diberi keselamatan, dan besok kalau sudah jadi, pasar ini akan menjadi sumber rezeki bagi masyarakat di Kampung Nirwana." Pak Modin membeberkan niat doanya.
"Aamiin ...." sahut semua yang ada di tempat itu, berharap doanya akan terkabul.
"Dan tentunya, saya juga mendoakan agar Pak Lurah yang memimpin kampung ini diberikan kesehatan, keselamatan dan kebijaksanaan ...." lanjut Pak Modin.
"Aamiin ...." lagi-lagi yang hadir di situ menyahut dan mengaminkan.
"Terlebih lagi untuk Mas Yudi .... Orang baik yang sudah mendermakan harta kekayaannya, memberikan uangnya untuk membangun Pasar Rakyat ini .... Semoga Allah senantiasa melindungi, menyelamatkan dan memberi umur panjang, serta menambahkan rezeki yang berlimpah." lanjut Pak Modin.
"Aamiin ...." suara amin dari yang hadir di situ terdengar lebih keras.
Setelah selesai memanjatkan doa, Pak Modin membuka bungkusan kembang sesaji dan memagangi kendi bersisi air, lantas komat-kamit seakan membaca mantera. Orang-orang yang hadir diam semua, memperhatikan Pak Modin yang sedang berkonsentrasi dalam berdoa.
"Tolong ini nanti, kendi dan kembang setaman ini ditaruh di tengah-tengah bangunan. Gali tanahnya agak dalam lebih dahulu, lantas dimasukkan ke dalam galian, dikasih tutup, terus diuruk tanah kembali." kata Pak Modin yang menyerahkan kendi dan bungkusan kembang kepada salah satu tukang.
Tukang yang disuruh itu pun langsung melaksanakan tugasnya, tentu mengajak temannya untuk membantu menggali tanah.
__ADS_1
"Tengah-tengahnya di sini?!" tanya tukang yang akan menggali tanah itu.
"Ya, betul ...! Agak dalam, ya ...!" sahut yang lain.
"Siap ...!!" sahut tukang tersebut yang langsung mencangkul tanah yang akan digunakan untuk mengubur kendi dan bungkusan kembang tersebut.
"Ayo ..., ayo ..., ayo .... Ini bancakannya di kepung!" kata Pak Modin yang menyuruh para tukang itu untuk memakan tumpeng secara bersama.
"Ya, Pak .... Ayo, kita sarapan .... Pak Lurah dan Pak Modin diambilkan dahulu, pakai piring ini." kata Wawan menyuruh anak buahnya.
"Mas Yudi juga ...." Pak Lurah menyahut.
"Ya ..., terima kasih. Saya minum dahulu." sahut Yudi yang sudah memegang gelas.
Suasana pun langsung menggembirakan. Para tukang berebut ingkung ayam serta lauk lainnya. Tentu bagi para tukang, makan nasi selamatan ini ada artinya tersendiri, yaitu kepercayaan jika mereka ikut makan nasi selamatan, maka nantinya mereka akan mendapat keselamatan dalam bekerja.
Tidak hanya itu. Masyarakat Kampung Nirwana percaya bahwa nasi atau makanan dari selamatan yang sudah didoakan tersebut, diyakini akan memberi kelancaran memperoleh rezeki dalam hidupnya. Makanya mereka berebut untuk menikmati makanannya.
Tapi Wawan tidak terlalu pelit. Makanya ia sengaja membuat tumpeng selamatan itu cukup besar. Tentu agar semua tukang kebagian. Tidak ada yang kekurangan, bahkan masih berlebihan.
Rini yang mendengar jika pembangunan Pasar Rakyat sudah dimulai, maka pagi itu ia bersama anak-anaknya, Silvy dan Yayan, berniat akan membantu memberi makanan kecil. Maka mereka bertiga dengan berjalan kaki dari rumahnya, membawa kardus berisi kue dan minuman.
"O, iya ..., Ibu Rini .... Terima kasih. Wah, merepotkan Ibu Rini ...." sahut Wawan yang menerima kardus makanan tersebut.
"Sekali-sekali, Mas Wawan .... Cuman kue, kok ...." sahut Rini.
"Oh, iya .... Makan selamatan dulu, Ibu Rini, Mas Yayan dan Mbak Silvy .... Itu ada Pak Lurah, Pak Modin sama Mas Yudi. Ayo, monggo .... Ikut makan bersama, Bu ...." kata Wawan menawari Rini bersama anak-anaknya untuk ikut bergabung.
"Hei ...! Rini ...!! Kemari ...!!" tiba-tiba Yudi berteriak memanggilnya.
Tentu Rini bersama anaknya langsung menuju ke tempat Yudi berada, dan sedang makan nasi tumpeng.
"Mari Ibu Rini .... Makan nasi tumpeng, biar rezekinya tambah lancar ...." Pak Lurah langsung menawari makan.
"Yayan ..., Silvy .... Ayo, ambil piring, makan bersama .... Ini tadi tumpeng selamatan pembangunan Pasar Rakyat." kata Yudi yang langsung menyuruh Yayan dan Silvy untuk ikut bergabung makan.
"Iya, Pah .... Terima kasih." sahut Silvy.
"Papah Yudi tidak ikut makan ...?" tanya Yayan.
__ADS_1
"Lhoh ..., kok panggilnya sudah Papah? Wah ..., Mas Yudi ini diam-diam ...." kata Pak Lurah yang tentu gaket saat mendengar anak-anak Rini memanggil Yudi dengan panggilan Papah.
"Ya ..., itu kan trennya anak muda zaman sekarang ...." sahut Yudi santai.
"Waah .... Jangan seperti itu, Mas Yudi .... Jangan-jangan ini pertanda ...." sahut Pak Lurah lagi.
"Pertanda apa, Pak Lurah ...?" tanya Rini yang penasaran.
"Ya ..., nanti Mas Yudi ini jadi papahnya anak-anak Ibu Rini beneran." jawab Pak Lurah.
"Maksud Pak Lurah ...?" Rini masih penasaran.
"Ya, maksud saya ..., Mas Yudi jadi suami Ibu Rini .... Hehehe ...." jawab Pak Lurah yang tentu sambil senyum lebar.
"Ih, Pak Lurah ...." tentu Rini tersipu malu.
"Iya, Ibu Rini .... Nikah sama Mas Yudi saja ..., biar anak-anak Ibu Rini memanggil sama Mas Yudi papah, itu tidak ragu-ragu dan keliru ...." Pak Modin ikut nimbrung.
Rini semakin malu. Ia membuang muka meski tersenyum, tentu sambil menutup mulutnya karena malu. Demikian juga Yudi yang menundukkan kepala, pertanda malu.
"Memang, Mas Yayan dan Mbak Silvy setuju kan, kalau Ibu kalian menikah lagi sama Mas Yudi ...?" tanya Pak Lurah pada anak-anak Rini.
"Qik ..., qik ..." dua orang yang ditanyai Pak Lurah itu justru tertawa geli.
"Lho, kok malah tertawa .... Itu artinya setuju .... Hehe ...." kata Pak Lurah lagi.
"Setuju, Pak Lurah ...." tiba-tiba Silvy menjawab tegas.
Yayan tertawa, menyaksikan istrinya yang langsung mengatakan setuju dengan wajah bahagia. Itu artinya Yayan pun juga setuju.
"Nah ..., kalau anak-anak sudah setuju ..., nunggu apa lagi .... Ayo Mas Yudi dan Ibu Rini, langsung nikah saja. Makin cepat lebih baik .... Sayang kalau hal yang enak-enak kok ditunda-tunda ...." kata Pak Modin yang menimbrung lagi dengan seloroh yang lucu.
Rini yang kebetulan duduk di dekat Yudi, langsung menoleh ke laki-laki yang sudah memikat hatinya itu. Demikian juga Yudi, yang dari tadi menunduk malu, kini ia melirik Rini yang sudah lebih dahulu memandangnya. Yudi tersenyum menyaksikan Rini yang pipinya merah merona menahan malu. Rini pun tersenyum bahagia karena sudah banyak orang yang berharap ada perjodohan antara dirinya dengan Yudi.
"Semoga saja Yudi langsung setuju dengan kata-kata Pak Modin ...." harap Rini dalam hati.
"Ini acara selamatan membangun Pasar Rakyat apa pada mau meledek saya, to ...?!" kata Yudi pada orang-orang yang masih asyik menikmati nasi tumpeng.
"Acara penjodohan Mas Yudi sama Ibu Rini .... Hehehe ...." Pak Lurah kembali nyengenges.
__ADS_1