KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 95: PENGAKUAN SANG KEKASIH


__ADS_3

    Setelah selesai bertelepon dengan dokter Handoyo, Yudi bermaksud akan kembali turun dari puncak bukit, menuju tempat para pekerja yang sedang menyelesaikan tempat parkir. Namun saat ia berdiri dari tempat duduknya, Yudi terkejut, ternyata di situ ada Yuna yang duduk di sebelahnya.


    Ya, sebenarnya Yuna sudah duduk di dekat Yudi, sejak Yudi masih telepon dengan sahabatnya. Hanya karena Yudi sangat serius dalam berbincang dengan Handoyo yang membahas berbagai masalah, maka ia tidak melihat kehadiran Yuna di tempat itu.


    "Is Yudi surprised?" tanya Yuna sambil tersenyum menatap Yudi yang sudah berdiri.


    "Ya ampun, Yuna ...?! Sejak kapan ada di sini? Dirimu bikin kaget saya, Sayang ...." tanya Yudi yang kaget melihat Yuna.


    "Makanya, kalau telepon itu juga perhatikan sekitar .... You don't know if I come here, Yudi." kata Yuna yang menegur Yudi.


    "I'm sorry my dear .... I'm too serious when I take the call." sahut Yudi.


    "Don't be too tense. What is the problem?" kata Yuna yang langsung memeluk tunangannya.


    "Tidak mengapa, Yuna. I'm fine, Yuna ...." sahut Yudi.


    "Tidak, Sayang .... saya tahu kamu ada masalah. Boleh aku bantu mengurai masalahmu, Sayang?" kata Yuna yang masih tersenyum.


    Yudi terdiam. Tidak jadi melangkahkan kaki. Kembali ia meletakkan pantatnya. Duduk berdampingan dengan Yuna. Lantas tangan kirinya merangkul kekasihnya. Mesra.


    "Yuna, tadi yang telepon dokter Handoyo. Sahabatku waktu SMA. Kami dahulu bersahabat empat orang. Yaitu saya, dokter Handoyo yang sekarang jadi kepala rumah sakit di Nusa Tenggara, insinyur Alexander yang sekarang jadi kontraktor, dan Rini yang sering datang kemari itu. Tadi Handoyo telepon, dia cerita kalau Rini, istrinya Pak Hamdan, mamahnya Silvy, dia mengalami gejala skizofrenia, semacam gejala gangguan pada syaraf otak. Dokter Handoyo minta para sahabatnya membantu. Termasuk meminta saya ikut membantu menguatkan psikisnya." cerita Yudi dengan memeluk Yuna.


    "Hehem .... Terus Yudi diminta membantu apa?" tanya Yuna.


    "Teman-teman mau mengajak Rini untuk refresing di sini, di tempat kita." jawab Yudi.


    "Lantas, Yudi setuju?" tanya Yuna lagi, seakan ada rasa kecewa jika Rini datang lagi menemui Yudi.


    "Sayang ..., Yuna jangan cemburu .... Kasihanilah Rini. Dia butuh bantuan kita ...." jawab Yudi.


    "Hhff .... " Yuna menghela napas panjang, pertanda kecewa.


    "Kok gitu, Sayang ...?!" kata Yudi yang juga menyesal dengan sikap Yuna.


    "Yudi, kita baru saja bertunangan. Belum juga menikah. Masak Yudi tega meninggalkan calon istri hanya demi seorang sahabat?" kata Yuna pendek, tetapi maknanya sangat dalam.

__ADS_1


    Kata-kata Yuna memang sederhana. Tetapi itu sangat menusuk hati Yudi. Mengena tepat pada sasaran. Yudi terdiam, tidak bisa beralasan apa-apa. Tidak sanggup menjelaskan niatan baik yang sesungguhnya.


    "Why are you silent? Confused?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Yuna, percayalah bahwa aku sangat mencitaimu. Kita sudah bertunangan, dan sebentar lagi akan menikah. Apa Yuna masih ragu dengan semua itu?" kata Yudi yang masih memeluk tubuh Yuna, menatap tajam wajah wanita cantik itu.


    "Bukannya saya tidak percaya, Yudi .... Tetapi saya merasa ada yang aneh menyaksikan hubungan dirimu dengan Rini." kata Yuna.


    Lagi-lagi Yudi terdiam. Bingung mau menjawab apa.


    "Yudi, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Mau tanya apa?" jawab Yudi.


    "Apakah dulu Yudi pernah jatuh cinta pada Rini?" pertanyaan Yuna yang langsung menusuk jantung Yudi.


    "Kenapa Yuna tidak bertanya, apakah dulu Rini pernah jatuh cinta pada Yudi?" Yudi justru membalik kata-kata Yuna. Dasar laki-laki tua ini ingin memutar balik kata.


    "Yaa ..., terserah Yudi mau jawab yang mana dahulu dari dua pertanyaan itu." Yuna justru meminta Yudi menjawab dua-duanya.


    "Iih ..., itu namanya curang, Sayang ...." sahut Yudi sambil mencubit dagu Yuna.


    "Ya sudah kalau tidak boleh pegang-pegang ...." kata Yudi yang kemudian melepaskan pelukannya, lantas berdiri melangkah maju membelakangi Yuna.


    "Iih ..., kok pergi ...." kata Yuna yang menyeret tangan Yudi, agar kembali duduk di sampingnya.


    "Bagaimana ini? Jadi dijelaskan apa tidak?" kata Yudi, yang sudah kembali duduk di sisi Yuna.


    "Ya jadi, lah ...." sahut Yuna.


    "Sayang, izinkan saya berkata jujur padamu. I will tell you the truth. Dulu waktu SMA, kami berempat bersahabat sangat akrab. Saya, Handoyo, Alex dan Rini. Handoyo sangat pandai di bidang IPA, sedangkan Alex pandai di bidang matematika. Sedangkan saya mampu melukis. Kami sering mengerjakan PR dan tugas-tugas bersama. Diantara kami tidak ada yang pernah jatuh cinta maupun mengatakan suka. Niatan kami adalah belajar, agar nilainya bagus. Hingga suatu hari, saat saya dan Rini hanya berdua, saya merasa ada yang aneh dengan sikap Rini terhadap saya. Saya merasakan ada getaran yang berbeda. Bahkan tingkah Rini serba salah di hadapan saya. Saya sudah menduga, jika Rini pasti menaruh hati pada saya. Semenjak saat itu, saya tidak mau berkumpul jika hanya berdua antara saya dan Rini. Saya hanya mau bertemu jika kami berempat. Semua sahabat kumpul bersama. Karena memang saya tidak ingin ada hal-hal yang tidak kami harapkan. Karena waktu itu rumah Rini sering kosong. Bapak dan ibunya bekerja. Rupanya Rini kecewa dengan sikapku. Dia berusaha untuk menjaga jarak dengan saya. Padahal waktu itu, saya ingin mendekati dia, tentu dengan cinta. Saya sudah membuat lukisan sebagai persembahan, ingin memberikan lukisan-lukisan itu, tetapi Rini justru menjauhiku, tidak mau lagi dekat dengan saya. Setiap berangkat sekolah, saya bawa lukisan itu. Tetapi belum sempat saya mendekat lagi dan menyampaikan lukisan itu, ternyata diam-diam Rini sudah berpacaran dengan laki-laki kaya, dan menikah. Ya ..., dengan Pak Hamdan itu. Terus terang saya kecewa. Saya frustrasi. Saya hanya bisa menyimpan lukisan itu, yang kamu cemburui itu, tanpa bisa mendapatkan orangnya. Makanya, saya malas berdekatan lagi dengan wanita. Takut dikecewakan lagi. Begitu ceritanya, Sayang ...." kenang Yudi yang diceritakan kepada Yuna.


    "Apa para sahabatmu tidak ada yang membantu memecahkan persoalan waktu itu?" tanya Yuna penuh penasaran.


    "Handoyo dan Alex tidak mau membantu kalau urusan cinta. Apalagi Rini sudah dapat orang kaya. Jelas dia akan memilih laki-laki yang kaya dari pada diriku." jawab Yudi.

__ADS_1


    "Terus, kenapa lukisan-lukisan Rini itu tidak kamu berikan?" tanya Yuna.


    "Rini dapat suami orang kaya. Lantas diajak suaminya berpindah ke Jakarta. Saya tidak tahu rumahnya. Tidak mungkin mengirim lukisan itu. Akhirnya saya pasrah, yah, biarlah lukisan itu sebagai kenang-kenangan." Yudi mengenang lukisan Rini yang pernah dipajang di kamarnya.


    "Terus, kok bisa ketemu lagi dengan Rini?" tanya Yuna.


    "Libur akhir tahun lalu, teman-teman sekolah kami mengadakan reuni. Semua murid datang, kecuali tiga teman yang kebetulan tugas di luar negeri. Kami bertemu. Dan mereka semua saya ajak berwisata ke Kampung Nirwana ini. Mereka senang. Termasuk Rini, yang akhirnya tahu rumah saya. Lantas ia menawarkan proyek Taman Awang-awang ke suaminya, tapi tidak disetujui karena tidak sesuai bidangnya. Sebelum taman itu saya tawarkan ke Jepang." jelas Yudi.


    "Lantas, lukisan Rini yang kemarin ada di kamar Yudi, sekarang ada di mana?" tanya Yuna.


    "Lukisan itu saya kirim ke rumah Rini. Rupanya lukisan itu yang menyebabkan Rini mengalami goncangan batin. Rini langsung sakit. Dokter Handoyo yang menangani penyakitnya.Tentu dokter Handoyo menyalahkan saya. Demikian juga Alex. Makanya mereka ingin membawa Rini kemari untuk kembali merefres pikirannya yang sedang mengalami goncangan. Begitu, Sayang ...." jelas Yudi pada Yuna.


    Yuna langsung memeluk erat tubuh Yudi. Wajahnya dibenamkan pada dada Yudi. Ada butiran air mata yang menetes. Tanda empati Yuna pada Rini. Dan tentu penyesalan, karena cemburunya, maka lukisan-lukisan itu sudah dikirim Yudi ke rumah Rini.


    "I'm sorry, Yudi .... Ternyata sangat rumit perjalanan cintamu. Saya menyesal sudah ikut menyakiti Rini." Kata Yuna yang masih mendekap erat kekasihnya itu.


    "Tidak apa, Sayang .... Kita doakan saja semoga Rini lekas sembuh." jawab Yudi.


    "Kapan Rini akan diajak kemari lagi? Saya mau minta maaf." tanya Yuna.


    "Belum tahu, rencananya dua minggu lagi. Apa Yuna mengizinkan?" kata Yudi pada kekasihnya.


    "Kenapa kemarinya tidak menunggu rumah homestay milik Rini dan Silvy jadi dahulu?" usul Yuna.


    "Saya sudah sampaikan seperti itu, tetapi dokter Handoyo minta secepatnya. Coba besok saya akan ke proyek pengembangan homestay, agar para tukang fokus menyelesaikan bagian penginapannya dahulu agar bisa ditempati." sahut Yudi.


    "Baiklah .... Jika memang itu cara untuk menyembuhkan sakitnya Rini, saya tidak masalah." jawab Yuna.


    "Terima kasih, Sayang .... Besok saat ada sahabat-sahabatku, Yuna harus ikut mendampingi diriku, sebagai bukti bahwa saya sudah punya calon istri yang cantik." kata Yudi yang meminta kepada Yuna.


    "Iih .... Maunya." sahut Yuna.


    "Hhmmm ...." Yudi langsung mencium wajah cantik itu.


    Kini Yuna bisa menerima kenyataan. Yuna paham dengan posisi Yudi yang kecewa dengan Rini. Tapi Yuna juga sudah mengira, bahwa antara Yudi dan Rini pasti ada sesuatu dalam hatinya. Itu sudah diamati oleh Yuna sejak pertama kali ketemu Rini. Yuna juga merasa, jika Rini cemburu dengan dirinya saat ia berdekatan dengan Yudi. Tetapi, hati Yuna juga bergejolak saat Rini mendekati Yudi.

__ADS_1


    Tetapi biarlah. Toh Rini sudah berkeluarga. Sudah punya suami, sudah punya anak, bahkan sudah punya menantu. Yuna pun yakin, jika Yudi tidak mau tersakiti lagi oleh Rini.


    "Terima kasih, Sayang .... Pengakuanmu sudah membuatku lega." gumam Yuna di dada Yudi.


__ADS_2