
Rini sudah pulang, kembali ke Jakarta. Yudi memperkirakan, pesawat Rini akan landing sekitar jam sebelas. Maka Yudi langsung mengirim WA, menanyakan keadaan Rini, apakah sudah sampai di Jakarta. Namun Rini tidak segera menjawab chat yang dikirim Yudi. Low respon. Lama sekali tidak dibalas. Berkali-kali Yudi membuka WA, tidak ada balasan dari Rini. Bahkan chat yang dikirim oleh Yudi hanya centang hitam dua. Artinya pesan itu belum dibaca. Tentu pikiran Yudi bertanya-tanya, "Ada apa dengan Rini?"
"Halo, Rin .... Sudah sampai Jakarta? Rini baik-baik saja, kan?" kembali Yudi menulis obrolan di WA.
Hingga sore, hari sudah mau berganti malam, Rini belum juga membaca pesan yang ditulis Yudi. Tentu Yudi sangat khawatir. Walau bukan istrinya, tapi bagi Yudi, Rini sudah menjadi bagian dalam hatinya.
"Ada apa yang terjadi dengan Rini? Tumben tidak mengangkat HP. Tidak seperti biasanya, Rini aktif menanyakan kabar. Tapi kenapa, WA saja kok tidak dibaca? Jangan-jangan ada sesuatu?" tanya Yudi dalam benaknya.
Yudi pun tidak sabar menunggu balasan chat WA. Kekhawatirannya semakin mendesak untuk segera menghubungi Rini. Maka Yudi tidak segan untuk memencet nomor Rini dan memanggilnya. Yudi menelepon Rini.
"Tuuuut .... Tuuuut .... Tuuuut ...." suara HP Yudi memanggil.
Yudi menelepon Rini. Tidak diangkat. Padahal panggilan masuk, HP Rini aktif. Tetapi Rini tidak mengangkat panggilan Yudi.
"Aah .... Ada apa sih, Rini? Kok panggilanku tidak diangkat?" Gumam Yudi sendiri.
"Jangan-jangan .... Ah, tidak. Tidak terjadi apa-apa. Rini orang hebat. Dia kuat. Tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Mungkin di rumah ada suaminya, jadi tidak berani menghubungi diriku, takut sama suaminya." Yudi berpikir positif.
"Tapi mengapa WA dari saya sejak siang juga tidak dibaca? Ah, aku kok jadi khawatir." gumam Yudi lagi.
"Tuuuut .... Tuuuut .... Tuuuut ...." Yudi kembali menelepon Rini.
__ADS_1
Tidak diangkat lagi, tetapi malah dimatikan. Rini tidak mau menjawab panggilan.
"Ah ..., dimatikan. Berarti Rini ada, tetapi tidak mau menerima panggilan. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Semoga saja ini karena Mas Hamdan ada di sampingnya, sehingga takut mengganggu privasinya. Ya, sudah, semoga dugaanku benar. Toh dari siang, mungkin yang menjemput di bandara adalah suaminya, sehingga Rini sengaja tidak mau saya hubungi agar suaminya tidak marah. Okey lah kalau begitu." demikian pupus Yudi.
Dari pertama semenjak pertemuannya saat reuni, Yudi tidak mau mengganggu keluarga Rini. Tidak baik. Maka Yudi tidak mau menulis obrolan WA maupun telepon, apalagi video call, di saat-saat Rini bersama suaminya. Itu namanya mengganggu privasi suami isteri. Yudi bukan tipe laki-laki destroyer. Yudi adalah laki-laki yang berkarakter, punya etika dan tata krama. Walau banyak yang menyebut dirinya sebagai seniman, tetapi Yudi adalah seniman beneran, seniman yang membela orang-orang lemah, seniman yang menegakkan nilai-nilai kebenaran, seniman yang memperjuangkan kemakmuran rakyat, bukan seniman murahan yang biadab.
Demikian juga Rini, ia bisa membedakan waktu yang pas untuk menemani suaminya ataupun menghubungi Yudi, meskipun terkadang rasa rindu itu sudah teramat berat.Namun suaminya adalah orang yang harus dihormati, dipatuhi dan dijunjung harga dirinya. Sebagai wanita yang sedang dimabuk asmara oleh teman SMA-nya dulu, teman yang pernah menggoreskan kata cinta di hatinya, tetapi suami adalah segala-galanya. Suaminya adalah laki-laki yang memiliki dirinya sepenuh jiwa raga. Maka Rini tidak boleh terganggu oleh siapapun saat bersama suaminya.
"Yah, mungkin Rini belum sempat membuka HP, karena harus mengurus suaminya. Maklum, suaminya jauh lebih tua, setidaknya hampir enam puluh tahun. Maklum akan sensitif jika istrinya tidak mengurusi. Besok atau lusa, pasti juga membalas WA, atau bahkan menelepon. Toh Mas Hamdan juga akan menanyakan rencana investasinya." begitu gumam Yudi untuk melegakan hatinya sendiri, biar tidak kepikiran tetang Rini.
*******
Yudi bangun sangat pagi sekali. Belum terdengar suara kokok ayam jantan. Begitu terjaga, langsung mengambil HP, menggeser layar, melihat WA. Rini tidak juga membalas obrolannya. Tetapi sudah centang dua warna biru, artinya chat sudah terbaca. Yudi sabar menanti. Toh ini masih sangat pagi. Rini masih menjadi milik suaminya sepenuhnya. Tidak boleh ada yang mengganggu.
"Uih, bagus sekali .... Benar-benar bocah jenius." gumam Yudi memuji hasil karya Yuna.
Meskipun belum selesai, Yuna selalu menyampaikan progres kerjanya kepada Yudi, terutama untuk dicermati detail gambarnya. Demikian pula Yudi, selalu mengikuti perkembangan gambar-gambar dari Yuna, terutama untuk penambahan ide-ide agar desain semakin lengkap dan menarik. Jika ada yang kurang pas atau perlu penambahan, maka mereka berdua mendiskusikannya terkait dengan teknik rancang bangun maupun desainnya.
Yuna benar-benar sangat piawai untuk membuat rancangan-rancangan dengan desain eksterior yang menawan. Di Indonesia tidak ada wanita seperti Yuna, atau dengan istilah yang agak baik, belum ditemukan. Pekerja seperti Yuna ini, bukan sekedar menggambar arsitek, bukan sekedar merancang teknik. Tetapi sudah memadukan teknik rancang bangun dengan karya seni. Maka hasilnya benar-benar luar biasa, karya yang fenomenal, karya yang memiliki kekhasan, unik. Di Jepang, orang seperti Yuna mudah mencari uang. Tetapi di Indonesia, belum ada yang berani kontrak. Contohnya saja Yudi, seniman yang pandai melukis serta membuat desain bangunan, tetapi saat ia menjadi pegawai, di kantornya, Yudi hanya mengurusi administrasi yang berupa tumpukan kertas. Ilmunya saat kuliah tidak bermanfaat di tempat kerjanya, bahkan keahliannya juga tidak pernah dipakai di kantornya. Hanya kedekatan Yudi dengan teman-teman dan pimpinan, maka dia bisa mengembangkan Kampung Nirwana. Toh itu tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kantor. Itu saja dulu ada titipan proposal, katanya dari pejabat yang entah apa isinya.
Ya, selama orang-orang dengan potensi istimewa tidak dimanfaatkan, selama orang-orang jenius tidak diberi tempat yang sesuai, selama orang-orang pintar tidak bisa mengembangkan kreativitasnya, maka bangsa kita ini tidak akan maju. Termasuk orang-orang yang memiliki bakat-bakat khusus, mestinya dijaring dan diwadahi secara khusus. Sehingga bakat itu berkembang sesuai talentanya. Semoga saja pemerintah peka terhadap hal seperti ini. Sebenarnya kalau mau, Yudi sudah diajak kerjasama oleh Yuna, untuk mengembangkan kemampuannya di Jepang. Tetapi Yudi lebih memilih hidup bersama rakyat kecil.
__ADS_1
Ada beberapa catatan dari hasil pencermatan Yudi terhadap gambar yang dilihatnya. Tentu catatan-catatan itu nantinya akan didiskusikan dengan Yuna. Itulah sebabnya, mengapa Yuna harus tinggal di Jogja untuk beberapa hari, agar lebih intens dan mudah berkomunikasi. Dan jika butuh pengukuran atau pemotretan ulang, tidak perlu bolak-balik Tokyo - Jogja. Lebih efektif dan efisien.
Keasyikan Yudi mencermati gambar dari Yuna di depan komputer, tidak terasa sudah lumayan lama. Sampai matahari mencorong di langit timur, menembus ventilasi rumah, menyorot ruangannya. Yudi tersadar, hari sudah siang. Ia langsung bergegas mandi, untuk bersiap berangkat ke kantor.
Aktivitas yang sibuk, ternyata sudah melupakan Yudi pada HP. Melupakan obrolan di WA, melupakan dirinya untuk menelepon menghubungi Rini. Saat istirahat, ia baru teringat Rini. Bergegas Yudi mengambil HP-nya, lantas membuka WA. Masih sama. Rini belum menjawab chat yang dikirim.
"Rini, kamu kenapa ya?" gumam Yudi.
"Tuuuut .... Tuuuut .... Tuuuut ...." Yudi menghubungi Rini melalui panggilan telepon.
Panggilan masuk, tetapi Rini tidak mengangkatnya.
"Tuuuut .... Tuuuut .... Tuuuut ...." kembali Yudi menelepon Rini.
Hasilnya sama, panggilan masuk, tetapi Rini tidak mau mengangkat teleponnya.
"Ah, Rini .... Kamu kok bikin saya jadi cemas. Ada apa sih, Rin?! Aku harus tanya ke siapa kalau begini ini? Nomor teman-teman hilang semua, tidak ada lagi teman yang bisa saya hubungi. Aduh, Rini ....!" gumam Yudi.
Ya, kini Yudi tidak mungkin menanyakan kepada teman-temannya. Semua nomor telepon hilang bersama HP-nya yang hilang. Pada kondisi seperti inilah, Yudi sadar, betapa pentingnya pertemanan, betapa bermanfaatnya grup WA. Tetapi Yudi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Rini .... Ayo dong telepon saya, atau balas WA saya. Kamu apa nggak kasihan sama diriku, Rin? Aku sangat khawatir. Ah, Rini ..., Rini .... Tega benar kamu. Aku tidak mungkin ke rumahmu, Rin, malu sama suamimu. Ih, Rini .... Ayo dong Rin, telepon aku!"
__ADS_1
Yudi ingat, saat HP-nya hilang, dia tidak bisa menghubungi siapa-siapa, Rini yang mengkhawatirkannya dibela-belain datang ke Jogja, diantar suaminya, hanya ingin tahu keadaan dirinya. Tentu sama dengan Yudi, saat ini belum bisa berkomunikasi dengan Rini, ia benar-benar khawatir. Tetapi bagi Yudi, tidak mungkin untuk datang ke rumah Rini. Tidak etis. Yudi hanya sanggup menanyakan keadaan Rini melalui pesan di WA, yang tidak pernah terjawab. Sanagat terganggu dan menjenuhkan untuk menunggu berita dari Rini, terlalu berat di pikiran. Ada apa sebenarnya dengan Rini. Yudi benar-benar gundah. Tidak jenak, tidak nyaman. Serba salah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya kini benar-benar stres, memikirkan Rini.
"Rini, hatiku benar-benar gundah, memikirkan dirimu seorang. Balaslah pesanku ini, agar aku tidak khawatir lagi. Apapun yang akan kau tulis, pedih maupun perih, menyiksa batin maupun menyakiti hati ..., aku siap membacanya. Jika itu menyenangkan, tentu aku akan bahagia, tetapi jika itu menyedihkan, aku akan tetap bersyukur. Setidaknya, namamu sudah terukir dalam sanubariku."