KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 220: DIPAKSA KAWIN


__ADS_3

    "Mamah ..., ada sesuatu yang ingin Silvy tanyakan pada Mamah." kata Silvy saat berada di dapur membantu ibunya memasak, menyiapkan makan siang. Waktu yang sangat pas bagi Silvy bisa ngobrol leluasa dengan ibunya, karena Yayan masih sibuk di kebun bersama Mas Trimo.


    "Tanya apa?" sahut ibunya sambil mencuci peralatan dapur di washtafel.


    "Mamah waktu SMA dahulu kan temannya Papah Yudi ...." kata Silvy mulai membuka pembicaraan.


    "Iya .... Kami satu kelas." jawab Rini.


    "Mamah pernah naksir Papah Yudi, nggak?" tanya Silvy selanjutnya.


    "Iih ..., kamu itu apaan sih .... Anak sekolah nggak boleh pacaran ...." sahut Rini yang mencoba mengelak.


    "Mamah bohong ...." Silvy langsung memosi ibunya.


    "Bohong bagaimana ...? Yudi itu waktu SMA orangnya pendiam. Ya, seperti sekarang itu .... Tidak banyak bicara." jawab Rini berusaha mencari alibi.


    "Kok, katanya Papah Yudi, dahulu Mamah selalu berjalan bersama Papah Yudi. Katanya, Mamah sering mengajak Papah Yudi main ke rumah Mamah .... Kalau anak-anak sekarang kan itu namanya apel, Mah .... Orang apel itu berarti pacaran ...." Silvy mulai memaksa ibunya cerita jujur.


    "Ah, kok sampai sebegitunya ...? Siapa yang bilang ...?" tanya ibunya, yang tentu pipinya langsung memerah karena rahasia dirinya sudah diketahui anaknya.


    "Papah Yudi yang cerita ...." sahut Silvy.


    "Cerita apa lagi, dia ...?" tanya Rini yang langsung menatap Silvy.


    "Hehe .... Kena deh, Mamah ...." kata Silvy menggoda ibunya.


    "Iih .... Nggak gitu, ya ...." Rini mencoba mengelak.


    "Ceritanya seru gak, Mah ...?!" tanya Silvy yang masih menggoda ibunya.


    "Cerita apa sih ...?!" sahut Rini.


    "halah .... Mamah malu-malu tapi mau ...." goda Silvy lagi.


    "Iih .... Anak ini, lho ...!" Rini semakin gemas dengan Silvy yang terus menggoda.


    "Eh, Mah ..., ada pesan dari Papah Yudi ...." kata Silvy yang serius.


    "Pesan apaan?" tanya Rini.


    "Papah Yudi bilang, suruh menyampaikan ke Mamah, kalau cinta Papah Yudi pada Mamah tidak pernah luntur." kata Silvy menyampaikan pesan dari Yudi.


    "Benarkah begitu?" tanya ibunya.


    "Iya ..., Mah .... Memang cinta Mamah pada Papah Yudi sudah luntur apa belum?" tanya Silvy yang ingin tahu reaksi ibunya.


    "Kok kamu tanya begitu?" sahut Rini.

__ADS_1


    "Yah ..., Papah Yudi ingin tahu ...." jawab Silvy.


    "Kok bilangnya ke Silvy? Apa Yudi gak berani tanya sendiri sama Mamah?" sahut Rini.


    "Hehe .... Silvy yang ingin tahu, Mah ...." sahut anaknya yang tentu sambil nyengenges.


    "Ih, kamu itu .... Perlu Silvy tahu, ya .... Mamah tidak pernah mengingkari cinta!" kata Rini.


    "Tapi nyatanya, Mamah meninggalkan Papah Yudi dan menikah sama Papah Hamdan ...." sahut Silvy membuka fakta.


    "Kamu tidak tahu ceritanya, Silvy. Mamah itu mencintai Yudi .... Sungguh-sungguh mencintai dia, tapi Yudi diam saja. Dasar laki-laki pendiam ...!" gerutu Rini yang jengkel mengingat kenangan saat itu.


    "Tapi Papah Yudi bilang kalau dia sangat mencintai Mamah, makanya terus menuangkan lukisan-lukisan Mamah, itu sebagai bukti cinta. Begitu katanya, Mah .... Berarti Mamah yang tidak paham dicintai laki-laki ...." bantah Silvy.


    "Waktu itu beda dengan zaman sekarang, Silvy .... Terus terang Yudi itu orang baik. Tentu banyak wanita yang juga naksir dia. Termasuk Mamah. Makanya Mamah sering ngajak Yudi ke rumah itu karena Mamah diam-diam suka sama Yudi. Tapi Yudi tidak paham. Seakan dia tidak membalas cinta Mamah. Makanya, saat Mamah dilamar oleh laki-laki mapan, tentu saya langsung mau. Kala itu bagi perempuan yang penting bisa hidup berkeluarga dengan berkecukupan harta dan uang. Papah Hamdan kala itu adalah pegawai yang sudah mapan. Makanya Mamah langsung mau saja saat setelah lulus SMA harus menikah sama Papah kamu. Namun yang perlu kamu tahu, Mamah masih meninggalkan cinta dalam hati Yudi. Apalagi saat Mamah mendengar berita kalau Yudi tidak menikah, hati Mamah sakit .... Mamah merasa bersalah sudah melukai hati Yudi. Itulah sebabnya, ketika ada acara reuni teman-teman SMA, Mamah memaksa mengajak Papah untuk datang ikut acara reunian. Namun sayang acara belum dimulai, Papah kamu sudah ditelepon dari kantor untuk pulang karena ada tamu dari Jerman. Namun rupanya, itu semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dalam kesempatan itu Mamah kembali ketemu Yudi setelah berpisah sejak lulus SMA. Tentu Mamah meminta maaf dan menceritakan semuanya. Pada saat itulah, Mamah baru tahu kalau Yudi tidak mau menikah karena cintanya kepada Mamah yang tidak mungkin tergantikan. Mamah baru tahu kalau ternyata Yudi sangat mencintai Mamah. Terus terang Mamah menyesal dan kecewa." cerita Rini pada anaknya.


    "Tapi kenapa Mamah malah menyuruh Papah Yudi menikah dengan Mis Yuna?" tanya Silvy, yang sudah duduk di kursi makan bersama ibunya.


    "Papah kamu cemburu. Saya tidak ingin ada cemburu. Mamah tidak ingin keluarga kita pecah. Yudi juga tidak mau menjadi penyebab hancurnya rumah tangga Mamah. Itulah sebabnya saya meminta Yudi agar menikah dengan Yuna. Dan sengaja mengajak Papah kamu untuk menjodohkan. Agar Papah kamu tahu keadaan Yudi. Walau Yudi mau menikah dengan Yuna, tapi Mamah tahu persis kalau Yudi tetap mencintai Mamah. Cuman sayang, saat semua sudah berjalan, rupanya Papah kamu justru memilih jalan lain. Tapi Mamah tahu, Papah sangat sayang dengan keluarganya. Buktinya kita dibelikan homestay dan juga dikasih deposito." kata Rini yang tentu banyak suka dukanya.


    "Iya, ya ..., Mah .... Papah Hamdan itu baik, sayang ada wanita penggoda itu ya, Mah ...." sahut Silvy yang juga sedih mengenang papahnya.


    "Hai .... Makan siang sudah siap ...." tiba-tiba muncul Yayan yang sudah bersiap ikut makan siang.


    "Heh ..., cuci tangan dahulu ...." kata Silvy yang langsung menegur suaminya.


    "Mas Trimo bilangnya mau makan nanti saja, Mah ...." sahut Yayan yang sudah langsung duduk di kursi, bersiap untuk makan.


*******


    Kedekatan Rini dan Yudi sudah bukan rahasia lagi. Setiap orang sudah tahu. Bahkan para karyawan dan penjual-penjual di Taman Awang-awang, setiap kali ketemu Yudi, langsung bertanya "Kapan Mas Yudi menikah sama Ibu Rini?" Tentu hal itu membuat Yudi tidak nyaman untuk bertemu dengan orang-orang se kampung. Maka Yudi berniat untuk menyampaikan masalah ini kepada Rini. Tentu ingin menyampaikan suara warga yang selalu menanyai masalah hubungan mereka.


    Pagi itu, setelah menengok pekerjaan pembangunan Pasar Rakyat, Yudi sengaja menemui Rini. Tentu akan menanyakan masalahnya, yaitu mau menjawab pertanyaan orang-orang. Maka, mau tidak mau, Yudi akan menanyakan terlebih dahulu kepada Rini, agar jawabannya bisa pasti.


    "Kok suntrut, Yud ...?" tanya Rini pada Yudi, sambil memberikan minuman lemon madu.


    "Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan padamu, Rin ...." jawab Yudi yang agak kurang tegas.


    "Tentang apa?" tanya Rini yang langsung duduk di bangku pendoponya, tempat yang biasa digunakan untuk duduk oleh para pembeli anggrek.


    "Ada pertanyaan dari para tetangga begini, "Kapan Mas Yudi menikah sama Ibu Rini?" saya tidak bisa menjawab, kecuali Rini bisa memberikan jawaban." kata Yudi yang pasti agak ragu.


    "Lhah ..., cuman pertanyaan seperti itu kok bingung njawabnya .... Bilang saja sekarang. Begitu ...." kata Rini yang mengajarkan ketegasan pada Yudi.


    "Benar ..., saya harus menjawab seperti itu?" tanya Yudi meyakinkan jawaban Rini.


    "Ya, benar ..., lah ...!" sahut Rini tegas.

__ADS_1


    "Rini mau ...?" tanya Yudi lagi-lagi ingin meyakinkan.


    "Ya mau, lah .... Yudi ..., yudi .... Kamu itu dari zaman SMA sampai setua ini kok tidak pernah mudeng kalau dicintai orang. Jangan terlalu culun begitu to, Yud ...." kata Rini yang tanpa basa-basi, karena terlalu lama menunggu Yudi mengerti isi hatinya.


    Seandainya saja itu ada di dalam kamar, pasti Yudi sudah dibanting sama Rini. Untunglah saat itu mereka berada di pendopo yang terbuka. Pasti Rini masih menahan diri untuk melampiaskan emosinya kepada Yudi.


    Puas hati Yudi mendapat jawaban dari Rini. Yang jelas cinta Yudi pada Rini tidak bertepuk sebelah tangan. Demikian juga Rini yang juga memendam cinta lama, mungkin semuanya itu akan berarkhir saat Yudi mau menikahinya.


    "Ya sudah .... Saya pulang dahulu." Yudi langsung berpamitan kepada Rini. Tentu dengan senyum bahagia.


    "Minumnya habiskan dahulu ...." kata Rini menyuruh Yudi menghabiskan lemon madu yang sudah disajikan.


    "Ya ..., terima kasih." Yudi langsung menenggak habis minuman itu.


    "Hati-hati ...." kata Rini melepas kepergian Yudi. Tentu dengan senyum bahagia.


    Yudi tidak pulang ke rumah. Tetapi ia langsung mencari Pak Modin. Di kantor desa tidak ada. Dicari ke rumahnya juga tidak ada. Ternyata Pak Modin sedang ngopi di warung. Yudi langsung mengajaknya pergi dari warung kopi, yang ada di depan Nirwana Homestay, menuju ke penginapan paling ujung belakang.


    "Ada apa, Mas Yudi ...?" tanya Pak Modin.


    "Pak Modin, saya mau tanya ...." kata Yudi berhenti sejenak.


    "Tanya apa ...? Kok serius banget itu, lo ...." sahut Pak Modin.


    "Begini, Pak Modin .... Orang-orang itu ribut tentang saya dan Rini .... Itu sebaiknya saya harus bagaimana?" tanya Yudi yang ingin tahu jawaban Pak Modin.


    "Oalah .... Itu, to .... Jawaban saya singkat, padat dan jelas .... Mas Yudi harus segera menikah dengan Ibu Rini. Ceto, to ...." jawab Pak Modin.


    "Masalahnya, saya itu belum duda lho, Pak Modin .... Saya masih suaminya Yuna .... Bagaimana ini?" tanya Yudi yang tentu bingung dengan proses pernikahannya.


    "Lhah, Mbak Yuna sekarang sudah tidak ada ....Mas Yudi sudah berpisah hampir setahun .... Apa Mas Yudi betah? Wong saya yang sudah lebih tua dari Mas Yudi saja penginnya setiap malam ...." kata Pak Modin santai.


    "Memang kalau Yuna tidak kembali ke Indonesia boleh saya tinggal nikah lagi?" tanya Yudi yang masih ragu-ragu.


    "Boleh saja to, Mas Yudi .... Itu dulu pernikahan Mas Yudi dengan Mbak Yuna kan pernikahan antar negara, dan saya tahu dari Jepang belum ada surat-surat .... Artinya di negara Jepang pernikahan Mas Yudi dengan Mbak Yuna belum tentu sesuai aturan negara Jepang. Dulu Mas Yudi dan Mbak Yuna menikah itu hanya mengikuti aturan adat di kampung kita. Lhah kalau sekarang Mbak Yuna menghilang .... Ya sudah. Ganti saja sama Ibu Rini .... Lebih cantik dan kaya raya lho, Mas Yudi ...." kata Pak Modin memberi pengertian dan nasehat.


    "Betul begitu, Pak Modin?" tanya Yudi ingin meyakinkan.


    "Iya ...." sahut Pak Modin enteng.


    "Kapan saya bisa kawin, Pak?" tanya Yudi lagi.


    "Lhah, kalau mau kawin sekarang ..., ya ayo ...." kata Pak Modin mulai menggoda.


    "Saya pikir-pikir dulu ya, Pak ...." kata Yudi lagi.


    "Halah .... Kok masih pakai pikir-pikir .... Kelamaan .... Wis, pokoknya besok Minggu legi, hari Minggu besok itu, siapkan selamatan di rumah. Saya akan kawinkan Mas Yudi dengan Ibu Rini. Wis, tidak usah protes." kata Pak Modin yang memaksa Yudi untuk segera kawin.

__ADS_1


__ADS_2