KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 18: OLEH-OLEH YANG TERBAWA


__ADS_3

    RINI baru saja selesai masak bersama Mak Mun, saat Hamdan, suaminya, pulang dari kantor. Bau harum wangi kolak labu tercium oleh suaminya.


    "Hhmmm .... Harum banget baunya, masak apa, Mak Mun?" tanya Hamdan saat masuk ruang keluarga.


    "Yang masak Ibu, Pak .... Bukan saya." jawab Mak Mun.


    "Loh, Ibu sudah sampai rumah? Sudah pulang, Mah?" tanya Hamdan yang langsung duduk di ruang makan.


    "Sudah, tadi siang, Pah." jawab Rini dari dapur sambil menyiapkan dua mangkuk kolak.


    "Siapa yang jemput?" tanya Hamdan.


    "Mas Jo .... Memang gak cerita?" jawab Rini yang balik bertanya.


    "Mas Jo kok diam saja ...." sahut Hamdan.


    "Ini, Pah .... Kolak labu masih hangat. Bisa melancarkan pencernakan dan meningkatkan kemampuan otak dalam berfikir. Labu kuning ini baik untuk kesehatan, Pah. Makanya sampai pesta halloween di negara barat itu pada pakai topeng labu, bahkan ada kontes besar-besaran labu, lho, Pah." kata Rini.


    Rini membawa dua mangkuk kolak labu kuning. Satu mangkuk disuguhkan ke suaminya, satu lagi untuk dirinya sendiri. Lantas menikmati kolak tersebut bersama suaminya.


    "Enak, kan, Pah?" tanya Rini yang sudah menelan satu sendok.


    "Ya, wangi, harum .... Dapat labu dari mana ini?" sahut Hamdan.


    "Mak Mun yang bawa dari kampung." jawab Rini.


    "Oo .... Saya kira oleh-oleh Mamah." sahut Hamdan.


    "Ya gak bisa bawa lah, Pah .... Masak naik pesawat kok disuruh bawa labu ...." sahut Rini.


    "Siapa tahu ...." seloroh Hamdan.


    "Gimana, Pah, hasil pertemuan dengan Mr. Nicolaus yang dari Jerman itu?" tanya Rini pada suaminya.


    "Doakan saja, Mah .... Semoga membawa hasil. Proposal masih perlu perbaikan, besok akan dibawa ke Jerman." jawab Hamdan.


    "Loh, berarti Mr. Nicolaus belum pulang?" tanya Rini lagi.


    "Stafnya masih di Jakarta. Menunggu hasil revisi. Mr. Nicolaus liburan ke Bali." Jawab Hamdan.


    "Ooo .... Papah tidak menemani?" tanya Rini lagi.


    "Sudah diatur oleh Mbak Sarah. Gak usah khawatir. Papah nunggui revisi proposal. Biar anak-anak gak keliru, plus ngasih motivasi yang revisi, biar semangat." jelas Hamdan.


    "Ooo .... Sip lah." kata Rini.


    "Acara reunian Mamah bagaimana?" Hamdan balik menanyakan acara istrinya.


    "Ramai-lah, Pah .... Orang tiga puluh tahun baru pada ketemu. Ya, pada kangen-kangenan, gitu. Eh, ya, Pah ..., dapat salam dari teman-teman. Trus, dokter Handoyo, ketua panitianya menyampaikan ucapan terimakasih pada Papah, sudah banyak menyumbang acara." jelas Rini.


    "Oya .... Banyak yang datang?" tanya Hamdan.


    "Banyak, empat puluh orang ditambah suami istri. Ada juga yang bawa anak, bawa cucu .... Yang tidak hadir cuman yang tinggal di luar negeri, empat orang. Brun tinggal di Belanda, Albert tinggal di Paris, sama ada Eva yang tinggal di Sidney dan Lani yang tinggal di Kanada. Tapi malam temu kangen mereka ditampilkan lewat video conference. Wah, ramai, Pah. Terutama saat diingatkan masa nakalnya teman-teman waktu SMA ..., pada ketawa semua." jelas Rini.


    "Maaf, ya, Mah ..., Papah gak bisa nemani." kata Hamdan menyesal.

__ADS_1


    "Iya, Pah. Saya maklum, Papah harus menyelesaikan urusan kantor. Lain kali kalau ada lagi pasti bisa berangkat bareng, Pah." jawab Rini yang juga terlihat kecewa.


    "Pikniknya ke mana, Mah?" tanya Hamdan lagi.


    "Seharian piknik, Pah. Ya kemana-mana, keliling Jogja. Ini yang ingin saya bilang sama Papah, ada Kampung Wisata, namanya Kampung Nirwana. Keren, Pah, mirip negeri jaman kerajaan kuno, jaman Majapahit. Mirip seperti filem Saur Sepuh itu lo. Bangunannya model-model kuno begitu. Arsitek ala jaman Hindu - Buda. Para turis disuguhi macam-macam kesenian tradisional, termasuk pembuatan kerajinan-kerajinan tradisional dan makanan tradisional, gitu. Ada membatik juga. Produk batiknya bagus-bagus, Pah. Papah saya belikan. Teman-teman senang. Yang lebih menarik, kalau masuk ke kampung itu, kita tidak boleh bawa mobil sendiri, tetapi diangkut dengan mobil-mobil VW kuno, antik gitu, Pah. Kami tidak bayar, rombongan alumnus kami gratis. Usut punya usut, ternyata kampung wisata itu milik teman kami satu kelas dulu, Pah. Wah ..., keren, Pah." jelas Rini yang menggebu-gebu bercerita.


    "Menarik sekali ...." kata Hamdan.


    "Nih, ini, Pah .... Tempatnya kayak gini." kata Rini yang langsung menunjukkan foto-foto di HP-nya kepada suaminya.


    Hamdan melihat foto-foto istrinya, "Waaah ..., bagus banget, Mah. Tapi ada sayangnya ...." kata Hamdan.


    "Sayangnya apa, Pah ...?!" Rini agak bingung.


    "Itu .... Orang-orang yang berfoto di situ sudah tua-tua .... Haha ...." ternyata Hamdan mengejek.


    "Ah .... Papah!" Rini yang diejek, jadi jengkel.


    "Lhah, emang begitu. Sudah tua-tua pada narsis, bergaya kayak anak muda .... Haha ...." ejek Hamdan lagi.


    "Gak lucu!" Rini merajuk.


    "Eh, Mah ..., itu teman-temanmu pada kerja di mana saja?" tanya suami Rini.


    "Ya, dimana-mana, lah, Pah .... Ada yang kerja di Sorong Papua, kalau dokter Handoyo itu jadi kepala rumah sakit di Nusa Tenggara, Yayuk yang dulu bantu kita waktu nikahan, dia jadi kepala cabang bank di Sumatera. Yang jadi ibu rumah tangga juga banyak .... Hehe ...." jawab Rini.


    "Terutama alumnus yang bernama Rini. Hehe ...." Hamdan meledek istrinya lagi.


    "Ya enggak, lah .... Temen-temenku yang jadi istri tentara itu juga ibu rumah tangga semua. Itu jadi Persit apa Bhayangkari itu .... Anik, temenku yang besar itu, dia jadi istri Brimob, tinggalnya berpindah-pindah, gak boleh kerja, Pah .... Harus siap mendampingi suami tugas di mana saja." debat Rini.


    "Iya ..., iya .... Gitu aja ngambek." kata Hamdan.


    "Auch .... Sakit, Mah!" Hamdan menjerit.


    "Eh, Pah ..., kemarin temenku, namanya Yudi, yang punya Kampung Nirwana itu bilang, kalau misalnya Papah berkenan dan bersedia, boleh jadi investor di Kampung Nirwana. Mereka akan membangun Taman Awang-awang, tapi terkendala di modal. Papah tertarik, nggak?" tanya Rini pada suaminya.


    "Jogja Jakarta itu jauh, Mah .... Siapa yang bertanggung jawab?" sahut Hamdan.


    "Eeeh ..., Papah belum lihat, sih. Lihat dulu, Pah ..., pasti tertarik." sanggah Rini.


    "Mah, perusahaan Papah itu kan bergerak di bidang teknik, masak disuruh ngurusi wisata?" kata Hamdan.


    "Bukan perusahaan Papah, tapi kita berinvestasi, Pah. Uang kita yang lebih, kita bangun obyek wisata di Jogja. Ya, bisa jadi sebagai tempat kita refresing, begitu Pah." jelas Rini.


    "Uang kita itu berapa, Mah? Untuk biaya hidup di Jakarta itu besar, Mah .... Coba hitung pengeluaran kita, untuk listrik, air, telpon, kendaraan, kebutuhan dapur, gaji Mak Mun, Mang Udel, Mas Jo dan kawan-kawannya .... Itu gak cukup dua puluh juta, Mah. Belum kebutuhan Mamah dan anak-anak, belum kebutuhan sosial, ada kondangan, melayat, tengok bayi. Belum lagi ada yang minta sumbangan .... Banyak, Mah." jelas Hamdan lagi.


    "Iya, Pah .... Mamah tahu. Maksud Mamah itu, kalau ada sisa uang. Gitu, Pah." sahut Rini.


    "Mamah itu kalau sudah punya mau ..., selalu menggebu-gebu." kata Hamdan pada istrinya.


    "Ya, namanya wanita, Pah. Tapi kalau misalnya di kantor ada yang tertarik dengan investasi itu, dicoba ya, Pah." kata Rini.


    "Iya, iya .... Sekalian cari tempat istirahat untuk pensiun." sahut Hamdan.


    "Ya, Pah .... Tempatnya lebih asyik, gak kayak Jakarta yang bising." kata Rini.

__ADS_1


    "Ini, ngomong-ngomong mana oleh-oleh dari Jogja untuk saya?" Hamdan menanyakan oleh-olehnya.


    "Eh, iya, Pah .... Malah lupa. Mak Mun, tolong oleh-oleh saya yang di koper tadi, Mak." kata Rini meminta tolong pada Mak Mun.


    Rini berdiri, menghampiri belanjaan yang dibawa dari Jogja. Mak Mun membantu menurunkan barang-barang bawaan tuannya.


    "Mak Mun, yang ini kaos Dagadu .... Asli dari pabriknya. Ini untuk Mak Mun, Mas Jo, Mang Udel  dan anak-anak yang lain." kata Rini sambil memberikan kaos oleh-oleh.


    "Iya, Bu ..., terimakasih. Saya yang pink ya, Bu." jawab Mak Mun yang menerima kaos.


    "Ya .... Mak Mun milih sendiri. Mosok Mang Udel dikasih kaos warna pink .... Nanti bisa menyanyi sambil menari di perempatan lampu merah." sahut Rini.


    "Ih, Ibu .... Jangan lah, Bu. Nanti kalau nyanyi, aku tak mau jikalau aku dimadu .... Hihi ..., gitu ya, Bu." kata Mak Mun yang bergurau.


    "Ih, kamu itu, lho .... Yang ini tolong dimasukkan ke tas oleh-oleh, titipkan Mas Jo, besok biar dibawa ke kantor untuk Mbak Sarah dan teman-temannya." kata Rini menyuruh Mak Mun.


    "Di ruangnya Sarah ada sepuluh orang lho, Mah." Hamdan menyaut.


    "Ya, Pah .... Ini sudah saya siapkan." jawab Rini.


    Mak Mun bergegas menuju teras belakang, dekat garasi, memberikan oleh-oleh dari tuannya dan menyampaikan pesan Ibu Rini kepada Mas Jo, untuk membawakan oleh-oleh ke kantor dan menyerahkan ke Mbak Sarah. Lantas kembali membantu tuan perempuannya.


    "Ambilkan tas lagi, Mak Mun .... Yang ini nanti untuk Silvy dan suaminya. Nanti saya telpon, biar besok kemari." perintah Rini.


    "Ya, Bu ...." Mak Mun langsung bergegas menata.


    "Untuk saya mana, Mah?!" timpal Hamdan.


    "Sabar, Pah ...." jawab Rini.


    "Sudah, ini, Bu?" tanya Mak Mun.


    "Sudah .... Sudah kebagian semua, kan?" kata Rini.


    "Teimakasih ya, Ibu yang baik hati dan tidak sombong ...." kata Mak Mun meledek.


    "Iiih ..., kamu itu lho. Kata-katamu kaya anak gaul saja!" tukas Rini.


    "Yang ngajari Mas Jo, Bu. Hihi ...." jawab Mak Mun yang lantas balik ke dapur.


    Lantas Rini mendekati suaminya lagi, sambil membawa tas oleh-oleh.


    "Ini oleh-oleh untuk Papah." kata Rini yang tersenyum sambil memberikan tas oleh-oleh itu kepada suaminya.


    "Terimakasih, Mah .... Kok banyak sekali?" kata Hamdan.


    "Pah, yang ini batik tulis khas Jogja. Sogan asli. Saya beli dua, nanti untuk sarimbit, saya dan Papah." jawab Rini.


    "Lhah, yang ini apa, Mah?" tanya Hamdan yang menanyakan bungkusan satunya.


    Rini tersenyum, lantas berbisik ke suaminya, "Yang ini jamu tradisional Bu Slamet Prambanan. Khusus untuk Papah. Nanti saya seduhkan, minumnya di kamar."


    "Ah, Mamah itu ada-ada saja ...." sahut Hamdan.


    "Eee .... Papah gak percaya. Jamunya Bu Slamet Prambanan itu sangat terkenal, Pah. Orang-orang dari berbagai daerah kalau ke Prambanan pasti mampir ke warung jamu Bu Slamet, di Pasar Prambanan. Teman saya dokter Handoyo saja kemarin memborong." kata Rini.

__ADS_1


    "Mah ..., Mah ...." desah Hamdan.


    "Ayo, Pah, cepetan masuk kamar. Papah minum jamu ini. Biar Papah percaya kasiatnya. Sudah lima hari lho, Pah, kita nggak tidur bersama." kata Rini yang langsung menggandeng tangan suaminya, diajak masuk ke kamar, meminum jamu khas, dari Bu Slamet Prambanan.


__ADS_2