KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 140: HARI YANG MENYENANGKAN


__ADS_3

    Yuna masih senang bermain di pantai pasir putih yang ada di Kampung Karang. Tentu ditemani anak-anak yang masih berlompatan menghindari kejaran gelompang Laut Pantai Selatan. Sebuah pantai yang sangat indah dengan hamparan pasir putih yang landai dan sangat luas. Sangat mengasyikkan untuk berkejar-kejaran dengan anak-anak. Terutama berlarian mengejar dan dikejar ombak. Berlarian menjauh dan mendekat ke air laut. Sungguh piknik yang mengasyikkan. Yuna pasti betah tinggal di Kampung Karang. Anak-anak pun senang bisa bermain dengan orang asing yang akrab dan menyayangi anak-anak.


    Sementara Yudi, memilih jalan-jalan di sepanjang pantai itu. Mengamati bukit yang ada di sisi barat dari Kampung Karang, kemudian berjalan ke timur, mengamati perahu-perahu nelayan yang bersandar di muara sungai. Yudi menyaksikan para nelayan yang turun dari perahunya. Kebetuan ada beberapa nelayan yang sedang menurunkan hasil tangkapan ikan dari tengah laut.


    "Dapat banyak, Pak ...?" tanya Yudi pada dua orang yang sedang menurunkan keranjang plastik berbentuk kotak tempat ikan dari perahunya.


    "Lumayan, Den Mas Yudi ...." sahut salah seorang yang mengangkat keranjang ikan itu. Dia mulai kenal nama Den Mas Yudi, dari Pak Kadus yang saat membagi sarung tadi pagi.


    "Den Mas Yudi ..., terima kasih sudah dikasih sarung. Semoga berkah." sahut yang satunya lagi.


    "Ngih, sami-sami .... Dapat ikan apa saja ini, Pak?" tanya Yudi lagi.


    "Ini, Den Mas ..., ada cumi-cumi, udang, ikan dorang juga ada. Lumayan, Den Mas Yudi ...." jawab yang mulai menurunkan keranjang ikan dekat dengan Yudi.


    Yudi menyaksikan hasil tangkapan nelayan itu. Ya, banyak cumi-cumi yang ukurannya besar-besar. Ada udang batu yang berukuran sangat besar, biasanya orang menyebutnya sebagai udang lobster. Banyak pula ikan laut seperti ikan dorang, ikan tongkol dan berbagai jenis ikan yang lain.


    "Ini nanti mau dijual, Pak?" tanya Yudi pada dua nelayan itu.


    "Iya, Den Mas .... Ini akan kami bawa ke TPI situ .... Nanti ada pembeli yang datang." jawab salah satu nelayan.


    "Lha, kalau ikan sekerangjang ini, biasanya dihargai berapa?" tanya Yudi lagi, yang tentu ingin tahu pendapatan nelayan satu hari itu berapa.


    "Kalau segini ini, paling-paling dua ratus ribu, Den Mas Yudi .... Ini yang mahal hanya udang batunya. Tadi dapat lima ekor, lumayan besar, paling-paling dihargai seratus ribu." jawab salah satu nelayan itu.


    "Ibu-ibu di kampung sini ada yang bisa memasak ikan-ikan ini, tidak?" tanya Yudi lagi.


    "Ya ada to, Den .... Tapi kan eman-eman. Mending dijual dapat uang." jawab orang itu lagi.


    "Ya sudah, kalau begitu ikan ini saya beli semua ..., tapi saya minta tolong ada yang memasakkan. Kalau bisa, yang udang sama ikannya kita bakar di sini. Nanti saya kasih upah. Bagaimana?" kata Yudi yang akan membayar ikan sekeranjang itu.


    "Boleh, Den .... Lha tapi ikan sebanyak ini kalau dimasak semua apa habis nanti ...?" tanya nelayan itu.


    "Nanti kita makan bareng-bareng. Biar ramai, biar meriah, biar akrab. Untuk pesta orang sekampung." jawab Yudi.


    "Wah, kalau begitu juga harus ada yang masak nasi, Den ...." kata yang satunya.


    "Ada yang membuat sambal juga .... Hehe ...." sahut yang lain.


    "Sudah, begini saja ..., pokoknya ikan ini diolah, diserahkan ke ibu-ibu, ada yang disuruh masak nasi, ada yang disuruh buat sambal, pokoknya bagian olah-olah dipasrahkan pada ibu-ibu semua. Nanti kalau sudah matang, kita bawa kemari, kita makan bersama dengan orang sekampung. Soal butuh belanja, nanti saya kasih uang .... Bagaimana?" kata Yudi yang merancang acara.


    "Waaah .... Setuju banget, Den Mas Yudi .... Cocok itu .... Saya setuju, Den Mas ...." sahut dua orang nelayan itu.


    "Nah, kalau setuju, sekarang ibu-ibu dikasih tahu, agar segera belanja dan masak." kata Yudi.


    "Siap, Den Mas Yudi ...." jawab yang muda, dan langsung berlari. Pasti akan memberi tahu ibu-ibu.


    Laki-laki nelayan setengah baya tadi langsung menuju kampung, dan tentu langsung menyuruh ibu-ibu untuk masak. Ia mengabarkan kalau Yudi akan mengajak orang sekampung makan-makan bersama di pinggir TPI. Ia juga menyampaikan kebutuhan belanjanya akan dibiayai oleh Yudi.


    Sontak kabar laki-laki itu membuat kampungnya ribut. Terutama kaum ibu-ibu, yang tentu gembira akan masak-masak besar. Senang akan diajak makan bersama. Suasana kampung berubah menjadi hiruk pikuk. Semua orang terlihat sibuk. Terutama ibu-ibu yang langsung mengumpul menjadi beberapa rumah. Ada yang masak nasi, ada yang masak ikan, ada pula yang membuat sambal.

__ADS_1


    Pak Kadus yang juga mendengar berita itu, tentu ikut bingung.


    "Benar apa tidak, ini ...?" tanya Pak Kadus.


    "Benar, Pak .... Tadi Mas Yudi sendiri yang langsung menemui nelayan, dan ikannya langsung dibeli. Terus minta dimasakkan untuk makan bersama." jawab salah seorang warga.


    "Lha terus ..., Mas Yudi sekarang mana?" tanya Pak Kadus.


    "Di sana, Pak .... Dekat TPI, sedang bakar-bakar." jawab laki-laki itu.


    Bagas yang mendengar berita itu, langsung keluar dari ruang tamu Pak Kadus. Tentu akan mencari Yudi yang sedang bakar-bakar ikan. Mendengar bakar-bakar ikan, perut Bagas langsung lapar.


    Remaja-remaja pun ikut sibuk membantu. Ada yang membawa tikar, digelar di bawah rimbunan pohon kelapa. Tentu biar tidak kepanasan. Para remaja putri membantu membersihkan ikan. Semua terlibat, kerja bersama-sama, untuk acara makan-makan bersama. Ramai sekali.


    "Yang udang batu mau saya bakar sendiri, ya .... Biar di sini, nanti kita buat api di sini untuk bakar-bakar." kata Yudi yang meminta udangnya buat bakar-bakar.


    "Njih ...." sahut gadis-gadis yang membersihkan ikat tersebut.


    "Den Mas ..., kalau ini acaranya untuk makan bersama orang sekampung, apa tidak kurang ...?" kata nelayan yang masih bersama Yudi.


    "Masih ada ikan lagi apa tidak ...?" tanya Yudi.


    "Itu di tengah masih ada dua perahu yang akan menepi." jawab nelayan itu.


    "Ya sudah, nanti ikannya sekalian di masak .... Biar tidak kekurangan."


    Yudi sudah membuat bara api. Udang batu yang besar-besar itu tidak dikupas kulitnya, hanya dibelah bagian punggungnya, sehingga terlihat dagingnya. Lantas dicepit dengan bilah bambu, dan dibakar di atas bara api. Asap mengepul, mengeluarkan bau harum dan nikmat.


    "Saya minta udang bakarnya, Mas .... Hehe ...." Tiba-tiba Bagas sudah berada di samping Yudi yang sedang membakar udang, dan langsung meminta sambil nyengenges.


    Tentu Yudi kaget ada orang yang tiba-tiba langsung minta udang bakar. Dan saat menoleh, ternyata Bagas.


    "Enak saja minta .... Bakar sendiri ...." sahut Yudi yang langsung menutupi udang yang sedang dibakarnya dengan telapak tangannya.


    "Uwiiih ..., mantap, Mas .... Gede-gede banget udangnya .... Wao ...." kata Bagas yang keheranan melihat udang yang besar-besar.


    "Enak, Gas .... Nih, nyicipi sedikit." kata Yudi yang sudah mencoba makan daging udang bakar tersebut.


    "Ah, enggak, lah ..., cuman dikasih sedikit tok. Mending membakar sendiri ...." sahut Bagas yang langsung menjepit udang besar tersebut dengan bilah bambu, terus memanggang di atas bara api.


    Yudi dan Bagas, keduanya menikmati udang bakar.


    "Mas Yudi ..., Mbak Yuna nggak dikasih?" tanya Bagas pada Yudi.


    "Waduh ..., saya lupa, Gas .... Tolong panggilkan Mbak Yuna, saya membakarkan udangnya dahulu ...." sahut Yudi yang baru ingat belum membakarkan udang untuk kekasihnya. Ia pun langsung menjepit dua ekor udang yang sudah dibelah punggungnya, lantas menumpangkan di atas bara api.


    "Lha, Mbak Yuna di mana to, Mas ...?" tanya Bagas.


    "Itu ..., di sebalah barat sana .... Itu sedang bermain sama anak-anak ...." sahut Yudi sambil menunjuk ke arah Yuna.

__ADS_1


    "Walah, berarti Mbak Yuna sudah kepingin punya anak itu, Mas .... Hehe ...." cengenges Bagas.


    "Wooo .... Dengkulmu apek kui ...!" sahut Yudi yang merasa digoda.


    Bagas langsung menemui Yuna yang sedang bermain air di pantai. Dan tentu, saat diiming-imingi udang bakar, Yuna langsung tergiur dan berlari ke tempat Yudi membakar udang. Tentu anak-anak yang bermain bersamanya juga ikut berlari ke tempat orang bakar-bakar.


    "Asyiiiik ...." teriak anak-anak, ramai sambil berlarian.


    "Aku mau ...."


    "Aku mau ...."


    "Aku juga mau ...!"


    Anak-anak berteriak meminta udang bakar kepada Yudi.


    "Sabar ..., sabar ..., sabar ..., sabar." kata Yudi yang memegang udang bakar dalam jepitan bambu.


    Lantas tangan Yudi mencuil daging udang yang masih panas itu, sedikit-sedikit disuapkan ke mulut anak-anak yang meminta.


    "Aku juga minta ...." kata Yuna yang juga minta disuapi, tentu sudah dengan membuka mulutnya yang mungil itu.


    "Hah ..., yang ini juga minta disuapi ...? Nih .... Enak kan ...?!" kata Yudi yang langsung menyuapi Yuna dengan daging udang.


    "Ih, enak sekali ...." kata Yuna yang sudah menikmati suapan udang bakar dari Yudi.


    Yudi langsung memberikan udang bakar yang dipegangnya, kepada Yuna. Lantas kembali membakar udang yang lain. Kini, giliran Yuna yang menyuapi anak-anak. Betul-betul penuh kasih sayang.


    Sementara itu, beberapa remaja sudah menggelar tikar di tempat yang teduh, yaitu di bawah pohon-pohon kelapa. Beberapa bapak-bapak sudah membawa lembaran daun pisang yang diletakkan di atas tikar. Beberapa saat kemudian, dua orang ibu membawa panci besar, berisi cumi-cumi yang dimasak oseng cabe hijau pedas manis. Lantas panci besar itu, yang oleh orang Kampung Karang disebut baskom, ditaruh di tengah gelaran tikar. Bau masakan oseng cumi itu betul-betul menggoda perut lapar.


    Pak Kadus datang bersama istrinya. Mereka dibantu tiga remaja, membawa dunak besar berisi nasi yang masih mengepul asapnya. Tentu itu baru saja diangkat dari dandang. Mereka kelihatan keberatan menjunjung dunak nasi. Maka ada beberapa orang laki-laki yang langsung berlari membantu.


    Ada lagi tiga ibu-ibu yang menjunjung panci besar dari dapur salah satu warga. Panci itu berisi ikan goreng. Banyak sekali jumlahnya.


    "Ini belum semua ..., di dapur masih ada ..., nanti tolong dibantu." kata wanita yang menjunjung panci itu.


    Selanjutnya, terus dan terus, masakan-masakan yang diolah oleh ibu-ibu itu terus keluar. Sudah banyak panci dan baskom yang tertata di atas tikar. Hingga yang terakhir, panci sangat besar, digotong lima orang laki-laki. Uap yang mengepul dari panci itu menyebar bau sangat sedap. Ya, panci itu berisi panggang tongkol dengan kuah santan dan bumbu pecel jeruk wangi. Panas, pedas, lezat. Benar-benar menggoda lidah yang langsung mengeluarkan liur.


    "Ayo ..., ayo ..., ayo .... Sini kumpul semua, kita makan bersama, menikmati hasil tangkapan kita, menikmati hasil masakan kita. Monggo ..., monggo ..., monggo ...." sambutan Pak Kadus yang mengajak makan bersama kepada seluruh warga.


    Mereka pun berpesta, makan bersama-sama, menikmati hasil laut mereka, yang dimasak oleh mereka sendiri. Kebersamaan itulah yang membuat makanan mereka menjadi terasa enak dan nikmat.


    Bagas menjadi gelap mata. Semua masakan dilahap. Dasar perutnya sangat lapar, maka ia makan tanpa ukuran. Hingga akhirnya, ia hanya duduk berselonjor sambil memegangi perutnya.


    Yudi senang menyaksikan kegembiraan warga Kampung Karang. Tentu merasa senang karena bisa membahagiakan orang-orang yang pernah menyelamatkan dirinya.


    Dan yang tidak kalah senang adalah Yuna, yang bisa menikmati masakan khas warga Kampung Karang. Tentu rasanya juga khas. Enak dan lezat.Yuna mencicipi semua jenis masakan. Tak heran kalau perutnya kekenyangan.


    Hari yang benar-benar bahagia. Semuanya senang dan gembira.

__ADS_1


__ADS_2