KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 191: SENDIRI NYAMAN


__ADS_3

    Sementara itu, di Jakarta. Setelah Rini memberesi permasalahan di rumahnya, setelah selesai mengirim barang yang diangkut truk, baik ke rumah Silvy maupun ke Jogja, setelah selesai memberikan harta kekayaan suaminya berupa sertifikat rumah beserta isi yang ditinggalkan oleh Rini kepada saudara-saudara dari Hamdan, yaitu kepada kakak ipar dan dua orang adik ipar, yang disaksikan oleh pihak RT dan Kelurahan tempat Rini tinggal di Jakarta, maka Rini langsung meninggalkan rumah itu yang selama tiga puluh tahun lebih ia tempati bersama suami dan anaknya. Rini tidak memberi tahu saat kakak iparnya bertanya ia akan tinggal di mana. Bagi Rini, ketika harta benda suaminya sudah diserahkan kembali kepada kakak dan adik iparnya, Rini menganggap hubungan kekeluargaan telah terputus. Rini sudah menganggap tidak ada saudara ipar lagi.


    Rini memang tidak kuat jika diteror oleh adik-adik iparnya serta istri dari kakak iparnya. Setap hari menelepon Rini menanyakan kapan Rini pergi dari rumah itu. Padahal saat kirim doa pada acara mengenang empat puluh hari meninggalnya Hamdan, Rini sudah mengumpulkan saudara-saudara Hamdan, Rini sudah dengan jelas, tegas dan lantang akan menyerahkan rumah warisan suaminya kepada suadaranya, namun rupanya teror itu tetap terus berlanjut. Ada yang bilang kalau Rini sengaja mengolor-ngolor waktu. Ada yang mengatakan kalau Rini ingin menguasai kembali semua harta Hamdan. Bahkan ada juga yang mengatakan kalau Rini akan menjual rumah warisan Hamdan.


    Tentu Rini semakin lama semakin sakit hati dan tidak kuat untuk menahan emosinya. Maka sesegera mungkin Rini ingin meninggalkan rumah itu. Meski rumah itu pernah menjadi kenangan yang indah bagi keluarganya. Kenangan penuh kemesraan antara Rini dan Hamdan. Kenangan penuh kasih sayang antara Papah, Mamah dan Silvy. Rumah dengan berbagai cerita indah. Tentu Rini sangat sedih meninggalkan rumah itu. Meski dihadapan saudara-saudara iparnya ia terlihat ikhlas dan tidak keberatan, namun sebenarnya batinnya sangat jengkel dengan sikap saudara-saudara suaminya itu. Tapi biarlah, harta tidak akan dibawa mati. Begitu kata-kata Yudi yang selalu diingat saat Rini mengatakan harta Yudi sangat banyak.


    Akhirnya, Rini pun berangkat ke Jogja. Ia benar-benar akan menata hidupnya kembali, meski harus memulai dari awal lagi. Yang jelas Rini tidak ingin diteror oleh keluarga almarhum Hamdan. Maka untuk melepas beban semua itu, Rini memblokir nomor-nomor HP dari kakak dan adik iparnya. Hidup bukan untuk diteror. Begitu batinnya. Rini ingin hidup tenang dengan nuansa alam pedesaan di Kampung Nirwana, kampung yang dirancang sebagai kampung yang penuh dengan keindahan, bak kampung milik para dewa.


*******


    Pesawat penerbangan pertama dari Jakarta tujuan Jogja sudah mendarat. Rini keluar dari bandara, menenteng tas yang menggantung di pundak, serta mendorong koper yang lumayan besar. Rini langsung memesan taksi menuju Nirwana Homestay.


    Sopir taksi langsung mengangkat koper Rini, dibawa menuju mobil mini bus plat hitam yang dijadikan taksi. Lantas sang sopir membuka bagasi belakang, memasukkan koper penumpang. Lantas membuka pintu tengah, untuk penumpangnya.


    Rini yang mengikuti sopir taksi itu, langsung masuk dan duduk di jok tengah, di kursi sisi kiri. Ia tersenyum, teringat kenangan-kenangan manis setiap kali ke Jogja. Ya, kenangan indah bersama Yudi tentunya.


    "Langsung ke Nirwana Homestay ya, Mas ...." kata Rini pada sopir taksi.


    "Iya, Ibu .... Lewat jalur selatan, Bu." jawab sang sopir.


    "Iya, silakan. Mas Sopir yang lebih paham." sahut Rini.


    "Ibu mau berwisata ke Jogja?" tanya sang sopir.


    "Tidak, Mas .... Ke rumah sendiri kok." sahut Rini.


    "Lhoh, memang Ibu asli Jogja?" tanya sang sopir lagi.


    "Tadinya asli Bandung. Berumah tangga di Jakarta, sekarang tinggal di Jogja." jawab Rini.


    "Kok tujuannya ke Nirwana Homestay? Apa mau menginap di sana, Bu?" tanya sang sopir lagi.


    "Rumah saya di sana, Mas ...." jawab Rini.


    "Oo .... " sopir itu tentu melongo, karena penumpang yang ada di dalam taksinya itu pastilah orang kaya.

__ADS_1


    Sang sopir langsung melajukan mobilnya melintasi jalur selatan menuju kota Bantul. Lantas berbelok ke selatan menuju arah Nirwana Homestay.


    Di depan gerbang Nirwana Homestay, mobil taksi itu berbelok ke kiri. Pintu gerbang sudah di buka, hanya ada seorang petugas keamanan yang langsung menghentikan mobil tersebut dan akan menanyakan kedatangan mobil itu.


    "Selamat pagi Pak ..., apakah mau menginap di sini?" tanya petugas security.


    "Mengantar penumpang, Pak ...." jawab sang sopir.


    "Mengantar saya, Pak Min ...." Rini menjawab dari dalam mobil yang dibuka kaca jendelanya.


    "Oh, Ibu Rini .... Monggo, silakan Ibu Rini ...." kata petugas keamanan yang langsung menyuruh sang sopir melanjutkan masuk.


    Sopir itu pun perlahan menjalankan mobilnya. Masuk menuju komplek Nirwana Homestay.


    "Penginapan Unit Tiga, Mas .... Bangunan ke dua di sebelah kanan jalan." kata Rini menunjukkan penginapannya.


    "Yang ini, Bu ...?" tanya sopir yang perlahan membelokkan mobilnya.


    "Ya .... Masuk saja, langsung mendekat ke teras." sahut Rini.


    Setelah Rini turun, dan menurunkan koper dari bagasi belakang, sang sopir langsung memutar mobilnya, pulang ke bandara. Tentu Rini memberi tip untuk sang sopir.


    Pak Min, yang bertugas sebagai security, sudah datang menyusul Rini yang naik mobil carteran itu, menuju penginapan milik Rini. Tentu Pak Min berniat untuk membantu Rini. Apalagi beberapa hari yang lalu, ada truk yang datang mengantarkan barang-barang Rini dari Jakarta. Tentu Pak Min akan menyampaikan laporan barang yang datang tersebut. Cukup banyak barangnya.


    "Ini kunci kamarnya, Ibu Rini." kata Pak Min sambil memberikan kunci pintu penginapan kepada Rini.


    "Oh, iya ..., terima kasih Pak Min." sahut Rini yang menerima kuncinya.


    "Ada yang bisa saya bantu, Ibu Rini?" tanya Pak Min pada Rini.


    "Ada, Pak Min .... Saya butuh bantuan untuk menata barang-barang kiriman kemarin." kata Rini sambil menunjukkan barang-barang yang cukup banyak jumlahnya.


    Ya, dua truk datang dari Jakarta, membawa barang-barang Rini yang jumlahnya cukup banyak. Ada perkakas dapur, kulkas besar dan kompor empat tungku yang juga lumayan besar, termasuk beberapa alat masak. Ada meja kerja suaminya, yang tentu nanti akan dimasukkan dalam kamarnya. Ada juga lemari hias, yang rencananya akan ditaruh di tempat penginapan milik Silvy. Ada meja kursi tamu satu setel, serta sofa besar. Dan yang paling banyak adalah pot-pot tanaman anggrek. Tentu ini butuh penataan dan perawatan khusus.


    "Wah, kalau menata lemari saya butuh teman, Ibu .... Kalau sendirian tidak mungkin bisa, terlalu berat." kata Pak Min pada Rini.

__ADS_1


    "Iya, Pak Min .... Tolong carikan teman. Nanti saya kasih uang lelah." jawab Rini.


    "Ya, Bu .... Siap." sahut Pak Min yang langsung pergi mencari teman. Pasti anak-anak kebersihan yang bekerja di Nirwana Homestay.


    Dan barang-barang Rini pun tertata, sesuai dengan arahan yang disampaikan oleh Rini. Penataan kompor masak, dari pihak pengembang yang hanya kompor gas biasa, sudah diganti dengan kompor Rini yang dari Jakarta. Besar dan bagus. Lemari hias ditaruh pada sisi berhadapan dengan tempat makan. Sedangkan lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati ukir beserta meja kerja yang dahulu dipakai suaminya, di taruh di ruang tidurnya. Tentu lemari yang dari pengembang ia pindah ke kamar lain.


    Demikian juga pot-pot anggrek, sudah tertata. Ada yang digantung, ada juga yang masih diletakkan di atas tanah. Tetapi sudah memudahkan untuk menyirami. Rini pun memesan kepada pegawai taman untuk membantu menyirami anggrek-anggrek tersebut. Kini, penginapan Unit Tiga, sudah terlihat lebih asri dengan tanaman anggrek yang indah dan terlihat segar.


    "Pak Min ..., tolong belikan makan untuk kita, ya ...." Rini meminta tolong kepada Pak Min untuk membeli nasi bungkus buat makan siang. Tidak hanya untuk Rini, tetapi juga untuk Pak Min dan pekerja taman yang sudah membantu tata-tata. Tentu Rini langsung memberikan selembar uang seratus ribu.


    "Ya, Bu Rini .... Lauknya apa, Bu?" tanya Pak Min, yang tentu menawarkan lauk.


    "Sembarang, yang penting enak." jawab Rini santai.


    Pak Min langsung nyetater sepeda motornya, tentu langsung menuju warung makan. Membeli nasi bungkus untuk makan siang.


    Tidak lama. Hanya sebentar, Pak Min sudah datang lagi di penginapan Rini, dengan membawa dua kantong kresek. Yang satu tas berisi nasi tiga bungkus ditambah gorengan. Sedangkan yang satu kresek lagi berisi minuman. Ada es teh dan es jeruk. Pasti Pak Min meminta Rini untuk memilih lebih dahulu.


    Mereka bertiga pun makan bersama di ruang keluarga yang terbuka, yang berada di depan kamar-kamar penginapan. Tentu sambil menikmati makan siang, mereka sambil mengobrol sana kemari.


    "Ini anak-anak kok tidak ikut, Ibu Rini?" tanya Pak Min pada Rini.


    "Anak-anak kerja, Pak Min .... Ini rencananya saya akan tinggal di sini terus. Jadi ya, saya sendiri." jawab Rini.


    "Ah, tidak apa-apa, Ibu Rini .... Toh di sini ramai. Banyak orang. Tamu-tamu wisatawan banyak. Jadi ya tetap ramai, Ibu Rini." sahut Pak Min yang sebagai security di Nirwana Homestay tentu tahu banyak sedikitnya tamu.


    "Iya, Pak Min .... Nanti kalau ada yang mau menginap di Unit Tiga, tolong kalau bisa yang perempuan-perempuan saja. Kalau ada yang bapak-bapak saya tidak nyaman. Nanti kalau pada merokok, saya gak kuat baunya. Hehehe ...." kata Rini yang tentu ingin para penginap di homestay miliknya adalah orang-orang yang baik.


    "Iya, Ibu Rini .... Nanti akan saya sampaikan ke bagian administrasi." kata Pak Min yang tentu nanti akan laporan.


    Makan pun selesai. Pak Min dan tukang taman itu berpamitan. Kini tinggal Rini sendirian yang masih berada di luar. Masih menikmati suasana di penginapan. Terutama memeriksa dan menata bunga-bunga anggrek. Hingga tanpa terasa, waktu sudah menjelang malam.


    Sebuah bus masuk ke Nirwana Homestay, berhenti di ujung penginapan. Anak-anak muda pada turun dari bus tersebut. Ada sekitar tiga puluh remaja. Lantas mereka menyebar ke unit-unit penginapan di Nirwana Homestay. Termasuk masuk ke Unit Empat. Milik Silvy. Rini menyaksikan itu. Sungguh ramai dan menyenangkan. Pasti mereka ini adalah remaja-remaja yang piknik ke Kampung Nirwana. Terutama ke Taman Awang-awang. Semua terlihat senang. Riang dan gembira.


    Rini tersenyum. Pasti tempat ini menyenangkan. Meskipun di rumah penginapan itu Rini hanya tinggal seorang diri, namun ia bahagia bisa menyaksikan para penginap yang senang. Ada banyak teman dari para wisatawan, yang tentu membawa berbagai keunikannya masing-masing. Meski sendiri, Rini tetap nyaman.

__ADS_1


__ADS_2